
...πΌπΌπΌ...
"Gak usah bercanda pak," ucap Bintang menegaskan, meskipun bercanda mereka adalah kebenarnya, Bintang tidak suka. Ini menyangkut hidupnya, sesuatu hal seperti itu tidak untuk mainkan. "Kan sudah tertulis, saya anak Doni, direktur Rumah sakit keluarga Adietama."
"Iya Bintang, saya cuma bercandaaa....." Pak Rahmat terkekeh.
"Papa kamu direktur?"
Bintang mengangguk. "Mama saya sebelum meninggal juga dokter kandungan dirumah sakit mereka."
"Wah, pak, ya gak usah kita pusingin lagi dong." Staf perempuan yang terkenal cerewet itu berdiri. "Pantas saja semua perhatian pada Bintang, orang Bintang ini anaknya direktur dirumah sakit mereka. Wajarlah."
"Saya setuju," semua orang bangkit. "Kamu seperti namamu, Bintang."
Bintang mengerti maksudnya. Dia hanya terkekeh saja, yaa, cukup seperti saja membuat semua orang paham maksud dari kebaikan mereka. Jangan ada pikiran lainnya. Pak Rahmat menepuk bahunya, "kamu anak magang yang terkeren selama saya menjabat, Bintang."
"Terima kasih pak,"
Pembicaraan selesai. Semua bubar dan kembali pada meja mereka masing-masing, sudah pukul tiga sore, satu jam lagi mereka akan pulang. Semua harus semangat.
...πΌπΌπΌ...
Lobi perusahan menjadi ramai jika jam pulang sudah berdentang, banyak yang bergegas pergi karena rumah mereka pasti jauh. Bintang berjalan beriringan dengan salah satu teman magangnya dan dua staf kantornya.
"Bintang,"
Bintang menoleh, Rofi berjalan lebih cepat hanya melambaikan tangan pada Bintang, sekertaris pria itu menunduk padanya, Bintang hanya menghela napas. Semua orang menunduk pada Rofi, dan sekertaris hanya menatap datar pada sapaan sopan para bawahan, tapi sekertaris itu memberikan hormat baik pada Bintang saat bertemu dengannya. Kenapa harus bersikap seperti itu? Bintang tidak suka saat orang-orang menatapnya heran.
"Bintang kerenn." Ledek salah satu teman kantornya. "Belum pernah saya lihat pak Aryo menunduk sama orang lain. Sekertaris kan sebagai jantung dari perusahaan juga, yang menangani semua hal sebelum tanda tangan petinggi. Bahkan bisa dibilang pak Aryo yang paling dihormati, bahkan dia lebih galak dari pada pak Rofi, tapi beliau menunduk saat bertemu denganmu."
"Kebetulan saja," jawabnya datar.
"Bintang," staf laki-laki dihadapannya berdiri, umurnya lebih tua dari Bintang sekitar lima tahunan. Matanya tegas, sebelum berbicara dia selalu membenarkan kacamatanya. "Kami akan simpan rasa penasaran kami sampai kami tau siapa kamu sebenarnya,"
"Betul," dukungan datang dari yang lainnya.
"Kamu hanya kenalan mereka yang kebetulan dekat, tapi kamu sangat dispecialkan. Saya punya loh paman yang memiliki perusahan besar, meskipun tidak sebesar perusahaan ini jauh lebih kecil malah, tapi saya tidak pernah dihormati sedikitpun disana saat saya berkunjung, padahal saya keponakan satu-satunya. Lantas kamu? hanya kenalan, tapi pemiliknya sampai datang dan menyapa."
"Terserah mas saja, saya memang hanya kenal mereka dekat saja. Tidak lebih."
Laki-laki dihadapan Bintang menepuk kedua hanya pelan. "Baik. Kami coba percaya hal itu,"
Bintang mengangguk, semoga saja masa magangnya tidak akan runyam, memperingatkan Darmo sudah baguskan? semoga pria itu mengerti seperti apa posisinya sekarang, mengungkapkan bahwa dia adalah ayahnya bukanlah waktunya. Bintang juga sudah menolak, sampai kapanpun tidak akan menerima. Terlalu egois jika masuk kedalam ruang lingkup keluarga Adietama, bukan pasion Bintang.
__ADS_1
Parkiran sudah hampir kosong, menyisakan beberapa kendaran bermobil dihalamannya. Satpam yang tidak sengaja Bintang lihat berlari menghampirinya. "Mas Bintang ya?"
"Iya, saya. Ada apa pak?" Tanyanya kaget.
"Anu, saya diberitahu kalau besok mas Bintang tidak bisa parkir disini?"
Bintang mengerutkan dahinya. "Kenapa? saya pikir ini parkiran khusus pegawai, ya memang sih saya cuma magang, tapi apa masalahnya....."
"Pak Aryo tadi datang, memberitahu saya kalau katanya mulai besok mas Bintang parkir didalam saja, ini untuk para staf." Kurang ajar!! benar kata senior dikantornya tadi, bahwa semua menjadi kendali pak Aryo, bahkan parkiran.
"Ya sayakan staf juga pak."
"Untuk staf tetap maksudnya."
Sialan. Mereka semua menginginkan Bintang menjadi sorotan ya, Bintang tidak menjawab, dia hanya mengangguk dan masuk kedalam mobil lalu melajukannya dengan cepat menuju rumah. Bintang ingin mengumpat, tapi pada siapa? dia hanya mengeram kesal sembari memukul kemudi, tapi dia mengeluh karena tangannya terasa sakit. Dia terlalu keras memukul.
Sampai dirumah, Bintang berlari masuk, menghampiri suara gaduh didapur. Dilihatnya Putra dan dua teman lainnya duduk disana dengan Clarissa yang menyajikan makan siang.
"Halo kak," sapa Putra dan lainnya.
Bintang hanya mengangguk dan menatap Clarissa. "Papa mana dek? ada mobilnya."
"Dikamar kak,"
Tanpa berpamit, Bintang berjalan menuju tangga dan naik kelantai atas. Letak kamar papa dan mamanya dulu ada dilantai atas, satu lantai dengan kamar Clarissa, sedangkan kamarnya terletak dilantai dasar dikamar utama. Bintang sendiri yang meminta karena dia malas naik-turun hanya untuk mancari makan dimalam hari.
"Emm," Bintang masuk, ruang kamar masih seperti dulu, sekali dirombak saat setahun sebelum mamanya meninggal, sepertinya papanya tidak berniat merubah apapun. Bintang menaruh tas laptop yang dibahunya diatas sofa. "Pahh,"
"Iya," menanggapi sapaan Bintang dengan pelan. Bintang duduk dikursi, dihadapan meja kerja papanya, Doni sudah duduk dibalik kursi kebesarannya. "Kenapa kak?"
"Papa tau? kalau perusahaan yang Bintang jadikan tempat magang adalah perusahaan Darmo,"
"Kak, yang sopan."
"Perusahaan pak Darmo," Bintang mengulangi kalimatnya, papa dan mamanya selalu menegur saat Bintang berucap tidak sopan. Katanya, bisa ditiru adiknya, dan itu tidak baik. "Papa tau?"
"He'em,"
"Kenapa papa tidak bilang?"
"Setelah kamu kuliah satu tahun, kamu selalu mengagumi perusahaan besar itu kan? jadi sewaktu papa tau kamu mau magang disana, papa tidak ingin menghancurkan impian kamu." Jelasnya pelan, Bintang selalu bilang ingin magang atau sampai bekerja disana bila perlu, dengan usaha apapun. "Ayah mana yang ingin menghancurkannya."
"Masalahnya ini hancur pa?"
Doni kaget sampai menegapkan dirinya. "Ada masalah?"
__ADS_1
"Banyak,"
"Kak...."
"CEO disana menyapa Bintang, mengajak makan siang bersama dengan para petinggi perusahaan. Bahkan kata atasan Bintang, beliau tidak pernah datang atau sekedar lewat kantor mereka. Dan parahnya, pak Darmo mendatangi Bintang," Bintang menghela napas pelan sebelum melanjutkan, Doni juga tidak menyerca pertanyaan atau pernyataan untuk Bintang agar tidak kesulitan. "Bintang ingin marah, tapi Bintang harus menahannya karena tidak ingin dinilai tidak sopan."
"Kalau itu buat kakak tidak nyaman. Besok, urus surat pembatalan kontrak ya kak? tanya berapa kerugiannya, papa akan carikan perusahaan lain, teman papa banyak."
Bintang terdiam, lalu dia mengangguk. "Iya pa, Bintang akan ajukan surat pemberhentian kontrak."
...πΌπΌπΌ...
Clarissa mundur terkejut, baru saja dia hendak mwngetuk pintu kamar papanya tapi kakaknya sudah lebih dulu membuka. "Eh, kenapa dek?"
"Kakak mau Ica buatin makan?"
"Gak usah, mau istirahat aja dulu."
Clarissa mengangguk dan ikut turun kelantai bawah. Bintang menoleh kearah dapur. "Putra sama temen-temennya sudah pulang?"
"Udah kak, baru aja."
"Oh ya udah."
Clarissa mengikuti Bintang sampai masuk kedalam kamar, membuat kakaknya bingung. "Kamu kenapa ikut masuk?"
"Itu kak,,,"
"Apa?" Menaruh tasnya diatas meja kecil.
"Ini kak," Clarissa menyerahkan map cokelat, sebetulnya Bintang sudah lihat tadi, tapi dia tidak terlalu perduli apa yang dibawa oleh adiknya. "Tadi Ica ketemu sama kakek Darmo, beliau menyerahkan ini,"
Bintang menatap datar dan langsung membuat Clarissa menggeleng kuat. "Ica sudah nolak kok, bahkan Ica bilang gak berani ambil kalau itu untuk kakak, tapi beliau maksa, jadi Ica ambil,"
Bintang meraihnya. "Ketemu dimana?"
"Di sekolah, kakek kesekolah tadi nemui Meysa," mendengar nama Meysa membuat Bintang melirik sedikit sembari membuka map tersebut. "Meysa masih menolak untuk tinggal dirumah om Gio, mungkin om Gio minta bantuan kakek Darmo makanya beliau kesekolah tadi."
"Gak tanya sih,"
"Ica tau kakak masih perduli sama Meysa." Bintang tidak menjawab. "Meysa lebih baik sekarang, dia suk ganggu Ica karena dua temannya yang memprovokasi dia, sekarang lebih suka nempelin Ica."
Clarissa berdiri, meninggalkan kakaknya sendiri dikamarnya, percuma juga. Dari tadi dia bicara hanya dibalas anggukan dan lirikan saja, tidak ada balasan apapun. Mungkin kakaknya masih memiliki pikiran yang penuh.
πππππππ **BERSAMBUNG πππππππ
__ADS_1
ANEH BANGET ELAHHH, BISA-BISANYA AKU SEMANGAT NULIA KISAH BINTANG ππππ**