
...πΌπΌπΌ...
Lapangan sekolah SMA Gemilang Cahaya mulai ramai dipadati oleh beberapa siswa/siswi dari kelas sepuluh, sebelas, dan dua belas. Ini adalah hari terakhir mereka menyelesaikan ujian tengah semester, tentu mereka semua antusias berkumpul. Kepala sekolah SMA Gemilang Cahaya berdiri ditengah-tengah setelah 20 menit membiarkan para muridnya berjemur dilapangan. Sontak saja mereka semua terdiam ketika melihat sosok pemimpin disekolah mereka sudah berdiri didepan memegang mic.
"Selamat siang untuk seluruh siswa dan siswi tercintaku di SMA Gemilang Cahaya ini."
"SELAMAT SIANG PAKKK!!!?!?!" Teriak serempak seluruhnya.
"Selamat untuk kalian yang sudah mengikuti ujian tengah semester dari hari pertama sampai sekarang. Seperti biasa, kita akan libur besok hari minggu dan masuk seperti biasa hari senin." Suara semakin riuh, mereka ingin libur. "Kita akan mengadakan lomba antar kelas, sampai hari kamis ya pak Joko." Pak Joko yang berada dibelakang kepala sekolah mengangguk kecil. "Dan hari Jum'at pembagian rapot tengah semester lalu akan ada pengumuman libur setelahnya."
Mendengar kata libur membuat seluruh murid bersorak bahagia. Ini yang mereka inginkan.
Kanya menyikut lengan Clarissa, "inget janji lo."
"Iya. Gue udah bilang nyokap kok."
"Serius?"
Clarissa mengangguk. "Mama bilang ada teman SMA mama yang punya vila, jadi kita bakal dipinjemin."
"Asekkk... Gratis Ca?" Vina menoleh kebelakang, dia berani ikut campur karena mengingatkan Clarissa pernah mengatakan bahwa dia akan diikut sertakan.
Clarissa menggeleng. "Enak aja, dapet diskon doang. But it's okey lah, uang gue masih cukup."
"Boleh ikut Ca?" Clarissa dan Kanya sama-sama melebarkan mata ketika laki-laki tinggi menunduk ditengah-tengah antara mereka.
"Ini itu khusus perempuan." Kanya yang menjawab, toh dia tidak akan pernah sudi membiarkan Putra apa lagi semua anggota gengnya ikut dalam liburan yang dia dan Clarissa rencanakan dari tahun lalu. "Mending lo mundur, sesak napas gue."
Putra menegapkan tubuhnya lagi.
"Ca, berarti sabtu depan dong ya kita perginya."
"Iya."
Kepala sekolah memberikan intrupsi kepada seluruh murid untuk kembali kerumah masing-masing memberikan otak mereka istirahat.
"Ca pulang bareng yuk."
Clarissa menggeleng, dia meraih plastik yang ada diatas mejanya. Plastik berisi susu kotak rasa oreo dan roti isi selai cokelat. Putra masih saja melakukan hal ini, padahal dia bisa membelinya sendiri.
"Gue pulang sama Vina." Clarissa berjalan menjauh sembari mengangkat plastik ditangannya. "Btw, makasih yaaa..."
__ADS_1
Putra hanya menganggukkan kepala lalu hanya memperhatikan kepergian perempuan mungil itu.
...πΌπΌπΌ...
"Ca, katanya besok pas lomba antar kelas, setiap murid harus kudu ikut lomba loh. Lo mau ikut apa?" Vina bertanya sembari mengikuti langkah Clarissa menyusuri rak buku. Perempuan yang senantiasa mengikuti Clarissa tanpa pikir panjang itu, meraih buku yang Clarissa pilih sedari awal. "Gue mau ngajak lu ikut tarik tambang, mau gak?"
"Gak ah, gue kan penyakitan, tinggal bilang suka kambuh aja."
"Dih," Vina nyengir kuda sembari mengacungkan jari jempolnya. "Pandai bener lu Ca? apa gue bilang juga ya kalau gue sakit biar bisa bolos bareng lo."
"Apaan sih lo, gak sakit jangan bilang sakit. Nanti lo beneran sakit gimana?" Clarissa menatap Vina sekilas sebelum kembali pada buku yang dia cari selama ini. "Gue dari kelas satu gak pernah ikutan karena emang suka kambuh, makanya gue gak antusias sampai sekarang."
"Ohhhh... Gue gak tahu."
"Kita gak pernah saling kenal Vin,"
"Sekarang saling kenal."
"Hmm..."
Vina melangkah mendekat. "Ca, gue boleh mampir ke rumah lo?"
"Kan rumah gue sama lo dari sini lebih deket rumah lo Vin, kenapa lo mau mampir kerumah gue??" Vina tidak menjawab, tapi semua jawaban itu ada pada ekspresinya. "Lo mau lihat kak Bintang? dia mah belum pulang pasti."
"Kenapa Vin?"
Tarikan tangan Vina membuat Clarissa ikut berjongkok dengan sangat kasar, dua novel ditangannya berserakan dilantai diikuti dengan tiga novel yang ada pada Vina.
"Vin...."
"Sshhhhh...." Jari Vina sudah ada pada bibirnya, memintanya untuk diam.
Clarissa sih ikut terdiam mengikuti arahan Vina, kepalanya gerakkan untuk bertanya pada Vina apa yang terjadi. Dan Vina hanya menunjuk-nujuk rak sebelah, dengan sangat pelan tanpa suara Clarissa berdiri, rak hanya setinggi dagunya, jadi dia terpaksa membungkuk dan berusaha mencari apa yang Vina maksudkan.
Ekspresi wajahnya benar-benar berubah, yang semula dia menunduk berubah menjadi tegap dan menatap. Kenapa mereka harus bertemu disini? Clarissa hanya dapat memantau, beruntungnya kedua orang yang dia lihat tidak melihatnya.
Dan, sial...
Pria gagah yang dia rindukan berbalik dan tidak sengaja mata mereka bertemu.
"Ica,,,, sayang...."
Langkah kaki Clarissa tercekat, Vina yang mendengar itupun hanya dapat memejamkan matanya karena tidak kuasa menahan perasaan sakit sahabatnya. Kenapa juga tadi dia beritahu bahwa papanya ada disini juga bersama wanita yang akan menjadi istri baru papanya.
__ADS_1
"Jangan mendekat...." Suara Clarissa parau, dia sempat berdehem untuk menetralkan. "Lanjutkan saja, permisi."
Vina berdiri pelan dan menatap dua orang yang menjadi objeknya untuk mengajak Clarissa sembunyi, dia tersenyum tipis dan mengangguk kecil. Lalu berlari mengejar Clarissa yang mendadak pergi setelah memungut novel-novel pilihan Clarissa diatas dan menaruhnya sembarang. Mana bisa dia membayarnya dengan keadaan Clarissa yang entah lari kemana.
...πΌπΌπΌ...
"Dekk....." Bintang diam, Clarissa masuk melewatinya tanpa menyapanya. Laki-laki menatap perempuan yang diam menatapnya dengan saksama. "Teman Clarissa??"
"Iya kak, saya Vina." Sangat disengaja Vina mengulurkan tangannya yang langsung diraih oleh Bintang.
"Saya Bintang, kakaknya Clarissa."
"Iya, tahu kok kak."
Bintang tersenyum. "Ica suka cerita."
"Bukan. Kanya yang suka cerita."
"Gak heran sih." Bintang melangkah keluar dan menutup pintunya. "Kenapa sama Clarissa?"
"Anu,,, tadi...." Sedikit dorongan Bintang, membuat Vina akhirnya menjelaskan kenapa Clarissa bersikap seperti itu dengan sangat hati-hati, dia juga gemetar bukan karena tidak nyaman, tapi karena dia berbicara pada Bintang. Ahh, benar kata Kanya, kalau kakaknya Clarissa sangat tampan, beruntungnya Kanya bisa dekat dengan laki-laki didepannya.
"Ummm..." Bintang meniman penjelasan Vina. Sedangkan Vina menatap laki-laki itu dengan lapar. "Maaf, kayaknya Vina nggak bisa mampir dulu, Ica suka gak mau diganggu kalau moodnya kurang baik."
"Enggak apa-apa kok kak, Vina langsung pamit aja."
"Dan lagi, maaf kak Bintang gak bisa anterin kamu pulang."
Dengan cepat Vina melambaikan tangannya. "Ehh gak apa-apa kak, Vina mau main tempat Kanya dulu kok kak. Permisi."
"Iya. Hati-hati ya..."
"Iya kak."
Melihat kepergian Vina yang sudah keluar gerbang, Bintang langsung masuk kedalam rumah dan menaiki tangga. Berhenti tepat didepan pintu kamar adiknya, mengetuk pelan.
"Kak Bintang boleh masuk?"
Tidak ada jawaban.
Mungkin, kesakitan ini akan terus melekat pada memori Clarissa. Bagaimana goresan yang diberikan oleh pria superheronya kepada hatinya. Clarissa masih kecil, dia belum bisa memahami situasi yang sedang dialami oleh keluarganya dan Bintang coba pahami itu, dia pergi meninggalkan pintu kamar Clarissa menuju kamarnya.
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ
__ADS_1