Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:78


__ADS_3


...(Pict by Pinterest)...


..."Bahkan mungkin kehidupan yang membahagiakan tidak akan pernah lepas dari apa itu kesedihan. Aku kehilanganmu."...


...🌼🌼🌼...


Drrttt..... Drrrttt......


"Bintang...."


"Um.."


"Ponsel lo nyala terus tuh."


Bintang mencari keberadaan ponselnya, dia lupa menaruhnya dimana hingga salah satu temannya menunjuk ponselnya yang tergeletak diatas meja sedang terhubung dengan charger. Ponselnya terus berkedip pertanda ada notifikasi masuk, memang sengaja dia bisukan. Bintang meraihnya, melepaskan ponselnya dari kabel pengisi daya dan mendengus kesal melihat banyak panggilan tidak terjawab dari Meysa, lagi-lagi perempuan itu mengganggunya.


"Gue pulang duluan ya.."


Bintang hanya menoleh lalu mengangguk saat temannya itu berpamit pergi. Dia duduk pada bangku yang ditaruh ditengah-tengah loker yang mengelilingi. Dia baru selesai tanding Basket, baru selesai membersihkan diri langsung disuguhkan oleh panggilan menyebalkan ini. Apa lagi yang Meysa butuhkan kalau bukan ingin mengganggunya.


Sembari membersihkan rambutnya yang basah menggunakan handuk yang bertengger dilehernya, satu tangan lainnya sibuk menekan setiap huruf pada layar ponselnya untuk menanyakan apa kepentingan perempuan itu. Belum selesai dengan ketikannya, layarnya sudah menampilkan panggilan dari perempuan itu lagi.


Bintang menerima panggilan itu dengan malas.


"Apa sih? aku lagi......"


"Bintang....." Suara sumbang Meysa terdengar, Bintang mengurungkan niatnya untuk memarahi perempuan itu. "Bintang, halo Bintang... Kamu dengar aku?"


"Hem..."


Isakan terdengar dari speaker yang langsung menjurus pada gendang telinga Bintang. Membuatnya membeku-Meysa menangis-Bintang tidak berani bertanya. Dia hanya mendengarkan dan masih membeku dalam duduknya. "Papa.... Bintang, papaku...."


Bintang berdehem, menetralkan kembali suaranya. "Ada apa?"


"Papa...." Meysa kembali menangis, dia terdengar tidak kuat kembali melanjutkan kata-katanya. "Papa meninggal."


Mata Bintang melebar, dia mematikan sambungan telepon. Dia terburu-buru berjalan menuju lokernya dan langsung meraih bajunya, memakainya dengan sembarangan. Saat ini bukanlah perkara dia masih memiliki perasaan pada Meysa atau tidak, dia hanya memikirkan bagaimana nasib Meysa, dia hanya seorang diri dan tidak memiliki satupun keluarga yang mampu melindunginya. Papanya, adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki dan kini telah meninggalkannya. Kacau, otak Bintag tidak lagi dapat berpikir jernih tentang keadaan Meysa saat ini, pasti dia sendirian di Rumah Sakit dengan kabar menyakitkan tentang papanya dan tidak ada tempat bersandar untuknya menangis.

__ADS_1


Sesampainya dihalaman Rumah Sakit, Bintang memarkirkan mobil dengan sembarangan tanpa memikirkan tempat untuk mobil lainnya nanti. Kaki panjangnya berlari menyusuri koridor, mencari letak ruangan Raka, papa Meysa. Tapi, deguban dan rasa panik ini membuat ruangan yang seharusnya dekat menjadi sangat jauh dan tidak terlihat.


Langkahnya dia pelankan ketika melihat Meysa duduk dipojokan, berjongkok memeluk kedua lutut dan menenggelamkan wajahnya disana. Memang terlihat diam tidak bersuara, tapi Bintang yakini, pundaknya yang bergetar telah memberikan tanda bahwa dia sedang menangis. Bintang tetap dalam posisinya, dia tidak berani mendekat atau sekedar memanggil untuk memberitahu bahwa dia telah datang. Sampai salah satu perawat keluar dari ruangan Raka, menghampiri Meysa dan mengelus pundak perempuan itu hingga membuatnya mendongak, menampilkan wajah paling menyedihkan yang belum pernah Bintang lihat. Perawat itu bergerak memeluk erat Meysa, mengelus punggungnya memberikan kekuatan pada perempuan itu.


Bintang merasa dia adalah laki-laki pengecut. Seharusnya dia yang berada disana untuk memberikan kekuatan pada Meysa.


"Sudah Mey... Sudah...." Ucap perawat perempuan itu berulang kali. "Pak Raka sudah tidak sakit lagi."


Meysa tidak mengeluarkan sepatah katapun, tapi air matanya terus jatuh. "B-Bintang....."


Perawat perempuan itu melepaskan pelukannya, menatap arah mata Meysa yang menemukan keberadaan Bintang. Perawat itu berdiri, tersenyum hampa pada Bintang yang berjalan ragu mendekat.


Meysa berdiri, menatap nanar pada Bintang. Dia berjalan mendekati Bintang dan memeluk erat laki-laki itu. Bintang sendiri tidak menepis, dia membalas pelukan itu dan terus mengelus puncak kepala Meysa. "Tenang ya... Aku disini..."


"Papa..." Lirihnya.


"Iya Mey iya, tenang ya. Aku disini." Ucap Bintang berulang kali sembari terus memeluk Meysa erat, mengelus puncak kepala perempuan itu dan sesekali mengecup kilas.


Bintang membalikkan posisinya, mereka tetap berpelukan. Bintang tidak membiarkan Meysa melihat brankar, tempat papanya dipindahkan dari ruang rawat VIP menuju kamar mayat. Meysa menangis sampai mengeluarkan suaranya ketika mendengar setiap roda kecil yang keluar dari ruangan papanya, dia semakin memeluk erat Bintang, mencoba menutupi suara menyakitkan itu dengan tangisnya.


"Kak......."


"Anya.... Kamu kena......" Kalimat Bintang menggantung, matanya menangkap ruangan lainnya yang terlihat sedang ramai. Dadanya kembali berdetak lebih cepat, mulutnya terkunci, air matanya mendadak runtuh. Dia tidak tahu apa tapi dapat merasakannya, dilepasnya pelukan Meysa dan Bintang berlari meninggalkannya.


Tidak.......


Tidak mungkin........


Kakinya melemas, Bintang menangis didepan diruangan mamanya. Dia terduduk lemas tepat disebelah kaki Clarissa yang menangis kencang dalam pelukan Gio.


"Mama......" Matanya memburam, melihat sebuah brankar yang keluar dari ruangan Dinda. Bintang berdiri, menghentikan brankar itu lalu membuka kain putih yang menutup sekujur tubuh seseorang. Air matanya kembali jatuh. "Enggak... Mama..."


"Bintang... Stop kak, mama harus dipindahkan.."


"Paa... Ini gak mungkin mama kan?"


"Maafkan papa."


"Enggak."

__ADS_1


"Bintang, come on." Doni melepaskan tangan Bintang dari tubuh Dinda yang tidak lagi dapat bergerak, wajahnya tetap cantik walau tanpa polesan makeup. Bibirnya melengkuk indah diatas wajahnya yang pucat.


Clarissa tidak berani melihat, dia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Gio. Dan terpaksa dibawa oleh pria gagah itu keruangan lain karena asmanya mendadak kambuh. Doni hanya fokus pada perawatan terakhir untuk mendiang mantan istrinya dan menguatkan anak pertamanya. Pria itu sempat menitihkan air matanya ketika melihat ketidakberdayaan Bintang melihat jasad Dinda dibawa ke kamar mayat.


"Bintang...." Doni berjongkok dihadapan Bintang yang berleseh dilantai. "Berdiri kak..."


"Apa yang papa lakukan?"


"Apa maksud kamu?"


Bintang mendongak, matanya sudah memerah. "APA YANG PAPA LAKUKAN PADA MAMA!?!?!?!?"


"Papa melakukan yang semestinya."


Bintang berdiri diikuti oleh Doni, mata Bintang menatap benci pada sang papa. Dia bahkan mendorong Doni dengan sangat kuat, untung tidak membuat superhero-nya terjatuh. "BOHONG!?!?! KALAU SAJA PAPA TIDAK SELINGKUH, MAMA TIDAK AKAN SEPERTI INI."


"Kak,,, tenang..." Doni berusaha meluk putranya.


"PAPA TAHU, MAMA SETIAP MALAM MENANGISI PAPA, MENYALAHKAN DIRINYA ATAS PENGKHIANATAN PAPA!!?!?!" Bintang mengusap air matanya. "SEKARANG PAPA PUAS?!?!"


"Papa tidak pernah......"


"BINTANG MENYESAL......"


"Bintang...." Doni menghela napas, dia tahu dia bersalah, tapi kepergian Dinda bukanlah kuasanya. "Papa minta maaf."


"BINTANG MENYESAL TELAH MENGANGGAP PAPA ADALAH PAPA TERBAIK DIDUNIA INI."


Doni menggeleng. "Jangan katakan seperti itu."


"Bintang tenang...." Gio datang, menghentikan perdebatan anak dan ayah itu. "Kamu harus tenang."


"Tenang melihat kepergian mama, Om?"


Gio menahan bahu Bintang kuat. "Tidak ada yang rela dengan kepergian mamamu, tapi jangan seperti ini, kamu harus menjadi penguat bagi Clarissa."


Bintang menunduk, kekuatannya telah pergi hingga dia pasrah saat Doni memeluknya. "Maafkan papa kak, maafkan papa."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2