
...πΌπΌπΌ...
"Emang beneran Ca, kalau si Erlangga kecelakaan?" Kanya menaruh potongan ayam kedalam mangkuk Clarissa. Perempuan itu tidak begitu menyukai ayam, tapi selalu memesan mie ayam dan berakhir didalam mangkuk Clarissa. "Gue kata si Delisa, semalem dia diajak sama papanya Noel buat jenguk di rumah sakit gitu."
"Iya," menyantap potongan ayam yang diberikan oleh Kanya. Delisa tidak terlihat karena sedang diminta tolong oleh guru bahasa indonesia untuk mengarahkan adik kelas merangkai puisi, dan Vina menemaninya.
"Kok bisa sih?" Menyeruput es tehnya. "Parah ya? sampai dioperasi gitu kan?"
"Iya,"
Kanya menggeleng. Mendengar tentang operasi membuat bulu kuduknya berdiri. "Hih, serem gue dengernya, tapi Erlangga udah sadar kan Ca?"
"Udah."
"Syukur deh." Dia menusuk bakso milik Clarissa. "Katanya itu kecelakaan disengaja sama seseorang loh Ca."
"Iya, katanya."
"Musuhnya Erlangga gitu, tapi parah gak sih kalau sampai bawa-bawa nyawa kayak gitu?" Kembali menusuk bakso, "jangan terlalu deket sama dialah, yang ada nanti kena ancaman juga kan?"
"Iya."
"Ehh Ca, Ca..." Bibir Kanya memanyun menunjuk arah pintu masuk. "Putra...."
Clarissa menoleh kebelakang, laki-laki itu berjalan masuk kearea kantin sekolah tapi seakan-akan sedang berjalan disebuah karpet merah. Tanpa diduga, Putra menghentikan langkahnya tepat dihadapannya.
"Geser Nyak."
"Ngapain lo, banyak meja kenapa musti disini."
Putra mendengus. "Gue lagi males berdebat. Please biarin gue duduk disini."
"Gak!!!"
"Ca," Putra menatap Clarissa, dan tatapan itu membuat Clarissa tersadar dari pandangannya yang terkunci, dia menatap Kanya.
"Gue gak mau," padahal Clarissa belum mengatakan apapun kepadanya.
Clarissa berdiri dan berpindah duduk disebelah dinding, membiarkan kursinya kosong dan diisi oleh Putra. Kanya hanya nyengir saat mendapatkan sikap aneh Clarissa, ya walaupun dia sudah tidak heran lagi perubahan sikap itu.
Putra duduk dan mulai membuka laptopnya, entah apa yang dia lakukan, Kanya atau Clarissa tidak perduli. Laki-laki itu mendengus kesal saat sebuah tangan lembut merangkul bahunya, bersandar dan ikut menatap layar laptop.
"Mey, pegel."
Meysa menegakkan tubuhnya, menarik kursi dari meja lain dan dia duduki disebelah Putra. Setelahnya dia merangkul lengan laki-laki itu dan bersandar. Kanya yang melihat jelas didepan matanya menelan saliva, mengelus kedua lengannya karena merasa geli dengan sikap perempuan yang dia tahu selama ini mengincar Putra. Dan Clarissa tampak diam tidak perduli, atau bisa saja diamnya dia saat ini karena sedang menahan rasa tidak sukanya.
"Itu CCTV apaan sih??"
Putra tidak menjawab, dia fokus menatap setiap detik pergerakan dari layar yang terputar dilaptopnya.
"Hah? itu kecelakaan kemarin bukan sih?" tanyanya, masih tidak mendapat respon. Namun dia memang tidak membutuhkan jawaban. "Erlangga? dia kecelakaan?"
"Mey," Putra menggerakkan lengannya. "Leher gue pegel lo senderin."
Bukannya melepaskan, Meysa malah semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Putra. "Sebentar aja, aku butuh asupan."
"Gue bukan Vitamin." Melepaskan tangannya secara paksa, tapi tetap tidak terlepas.
__ADS_1
Clarissa berdiri membuat Putra dan Kanya menatapnya. "Geser dikit dong, gue mau lewat."
"Kan lewat bawah bisa," timpal Meysa tanpa menatap Clarissa, Kanya yang mendengar hal itu segera bangkit dan menarik rambut Meysa dengan kuat.
Teriakan kesakitan Meysa membuat seluruh pengunjung kantin menoleh, menghentikan aktivitas mereka sejenak untuk menonton adegan drama action ini.
"Lo kira Clarissa apaan sampai harus lewat bawah." Ucapnya terdengar emosi.
"Akkk.!!!! Sakit b*tch, Putra tolong...." Tangannya meraba meminta siapapun yang lewat membantunya. Tubuhnya sudah tertarik menjauh dari meja tempatnya duduk karena perbuatan Kanya.
"Gak ada capek-capeknya ya lo nyari masalah mulu." Kanya menahan pukulan kuat bahkan cakaran kuku panjang Meysa.
"Kanya udahhh,,,," Clarissa menarik tangan Kanya untuk menghentikan aksinya. Putra juga bangkit dari duduknya dan melepaskan jambakan tangan Kanya, menyembunyikan Meysa dari balik punggungnya setelah jambakan kuat itu terlepas.
"Sekali aja lo ngomong aneh-aneh gua tampar mulut lo."
Putra menahan Kanya agar tidak mendekati Meysa yang bersembunyi dipunggungnya. "Sudah dong Nyak, toh Meysa cuma bercanda bukannya beneran."
"Kok lo belain dia sih Put."
"Bukannya belain, tapi lo kelihatan sensitif banget padahal juga gak dilakuin sama Ica kan?"
Kanya mengerutkan dahinya. "Maksud lo? lo bakal marah kalau aja tadi Ica beneran ngelakuin itu?"
"Bukan gitu Nyak,"
Clarissa hanya menarik Kanya, membawa sahabat baiknya itu untuk pergi dari kantin sebelum emosinya membeludak saat beradu argument dengan Putra.
"Loh, udah siap makan?" Delisa dan Vina terdiam ketika dua sahabat itu melewatinya tanpa mengatakan apapun.
...πΌπΌ...
"Kenapa sih?" Meysa menatap Putra yang duduk menyilangkan kedua tangannya. "Papa gue udah bilang kan kalau dia bakal kasih hadiah kalau aja lo gak gangguin Clarissa."
"Clarissa...."
Meysa mengerutkan dahinya. "Apa???"
"Namanya Clarissa kalau lo mau tau, bukan cebol." Meysa mendongak menatap Putra. "Selama beberapa hari ini gue sama Clarissa udah baik-baik aja. Jangan buat gue marah, karena perbuatan lo ini bisa membuat kami gak baik-baik lagi."
Putra pergi meninggalkan Meysa. Dia melakukan ini karena merasa kesal dengan Clarissa, seluruh orang yang dia harapankan malah berpihak kepada Clarissa. Dari Putra, mamanya bahkan sampai Bintang, tidak ada satupun yang dapat menolong kebahagiaannya. Meysa meghembuskan napas, bahkan nyawa papanya saja menjadi ancaman jika dia melakukan kesalahan pada Clarissa.
Kenapa rasanya menyesakkan dada menyaksikan Clarissa menempati posisi yang seharusnya menjadi miliknya bahagia.
...πΌπΌπΌ...
Selama pelajaran Fisika berlangsung, Putra tidak pernah fokus dalam belajarnya, yang dia pikirkan adalah tentang Clarissa. Perempuan itu fokus menatap papan tulis dan menulis semua yang sudah diterangkan oleh guru. Terkadang perempuan itu mengangkat tangannya ketika merasa ada kesalahan dalam penerangan sang guru.
Putra merebahkan kepalanya pada lipatan kedua tangannya. Menatap lama Clarissa, hingga membuat perempuan itu merasa diperhatikan dan menoleh kearahnya. Clarissa yang menyudahi untuk memutuskan kontak mata mereka, Putra tahu pasti kalau Clarissa tengah kesal karena dirinya membela Meysa.
Tusukan pena dipunggungnya membuat Putra menegakkan tubuh dan melihat pelakunya. Daze menggerakkan telunjuk meminta Putra untuk lebih dekat, dan ia turuti. "Denger-denger Meysa sama Kanya berantem dikantin tadi?"
"Iya,"
"Kenapa?"
"Rumit."
"Mereka berdua ini kenapa sih???"
__ADS_1
"Gak tau gue,"
"Gue tebak." Putra mengangkat dagunya, menyuruh Daze melanjutkan. "Kalau lo tadi bela Meysa makanya raut muka lo sekarang ini lagi merasa bersalah sama Clarissa."
Putra hanya mengacungkan jempol dan kembali lurus menatap kedepan. Dia lupa kalau Clarissa sangat sensitif ketika sesuatu mengganggu sahabatnya.
Saat bel berbunyi dan guru sudah pamit keluar, Putra bergegas memasukkan semua bukunya dan melihat Daze.
"Ze gue duluan."
"Okey."
Putra berlari mengejar Clarissa yang sudah berjalan jauh, perempuan itu berjalan sendiri.
"Ca, caa, tunggu....."
Dengan meraih pergelangan tangan perempuan itu barulah Putra dapat menghentikannya. "Sebentar,"
"Kenapa?" menarik tangannya.
"Lo kan pulang sama gue, kenapa buru-buru pergi."
"Gue mau bareng Vina sama Kanya, gue udah bilang sama om dan tante kok kalau gak bisa makan siang dirumah." Clarissa berjalan mundur sebelum benar-benar melangkah pergi. "Gue duluan ya..."
"Sebentar Ca,," Clarissa membatalkan niat untuk berlari meninggalkan Putra. "Lo gak marah kan sama gue?"
"Marah untuk apa?"
"For the mistakes I made while defending Meysa."
Clarissa mengangkat bahunya. "Bukan urusan gue, kan hak lo mau membela siapa."
Putra meraih tangan Clarissa lagi saat perempuan itu hendak berbalik pergi. Kanya berjalan mendekati mereka karena memang berniat menghampiri Clarissa.
"Ehhh apa nih tarik tarikan tangan?"
"Nyak, lo marah gak sama gue soal tadi?"
"Yang mana?"
Putra berdecak. "Gak usah pura-pura gak tau, yang dikantin tadi."
"Soal lo yang bela Meysa waktu nyuruh Ica merangkak dari bawah."
"Lo buruk dalam pengambilan kata, Nyak."
"Itu faktanya sih." Putra tidak menjawab karena Kanya sudah maju mendekatinya. "Walaupun Meysa kelihatan gak beneran sama ucapannya. Tapi sikap lo sama dia itu bisa membuat Ica beneran merangkak buat keluar dari tempat itu. Lo tau kan posisi lo dikantin itu buat Ica gak bisa keluar karena dia duduk mepet sama dinding."
Putra mendengus. Tatapan keduanya saling melempar tidak suka.
"Ca, please pulang sama gue."
"Sorry, gue mau pergi sama sahabat gue." Clarissa menarik tangan Kanya. Lagi-lagi Putra berdecak sebal saat Kanya menatapnya sembari menjulurkan lidah pertanda mengejek.
πππππ BERSAMBUNG πππππ
KANYA DEALOVA
__ADS_1
MEYSA ADELIA