
Tidak ada yang mampu menghangatkan ruangan ini lagi, semua tampak saling bertatap dingin. Dinda yang terkenal ramah dan selalu mengembangkan senyuman tampak diam menatap tajam lurus kedepan. Doni tengah duduk dihadapannya dengan gagahnya, bahkan dengan bangganya dia membawa wanita yang menyebabkan kekacauan semua ini masuk kedalam ruang mediasi. Semula Dinda menginginkan wanita itu tidak perlu masuk, namun Doni menentang keras jika wanita itu harus ada disampingnya.
"Apa tidak ada kebaikan hatimu?" Doni menatap Dinda nanar. "Mereka juga anakku, aku ingin salah satu dari mereka ikut denganku."
"Semua anak-anak sudah menjadi hakku, kalau kamu ingin salah satu dari mereka, tanyakan saja sendiri. Apakah mereka ingin tinggal dengan seorang penghianat?" Dinda menatap kearah lain.
"Bicaramu terlalu kasar Dokter Dinda." Ujar Doni.
Dinda menutup telinganya, dia berusaha tidak mendengar wanita yang duduk disamping Doni. Jengah rasanya, "kamu cukup urusi calon bayimu saja, jangan mengurusi soal anakku yang pastinya tidak akan kehilangan kasih sayang."
"Aku akan tetap menyayangi mereka, Dinda. Mereka anak-anakku."
"Cih, baru berselingkuh saja kamu sudah melupakan hakmu sebagai ayah, bagaimana jika kamu menikahinya, kamu tidak akan menatap ramah pada anakku. Kamu tau Dokter Doni, Ica masih butuh perhatian,"
"Jangan membuat Doni goyah jika kamu membawa-bawa anak penyakitan itu."
BRAK?!!!
Dinda berdiri, menatap tajam kearah wanita disamping Doni sekali lagi. "Tutup mulut kotormu itu, kamu pikir kamu siapa berani mengatakan hal semacam itu tentang anakku."
"Tapi itu faktanya..."
"Cukup sayang, Clarissa itu anakku,"
"Tapi, Don..."
Gebrakan meja berasal dari jaksa yang berada ditengah-tengah mereka. "Bisa tolong hentikan?"
Dinda kembali duduk dengan perasaan semakin kesal dan marah. Doni tampak menunduk karena dia tidak bisa membela Dinda ataupun memarahi kekasihnya-tidak, calon istrinya.
"Sebetulnya mediasi ini tidak perlu lagi diadakan, kaliankan sudah resmi bercerai. Untuk urusan rumah, apalagi yang perlu dikatakan? rumah itu adalah hak sah dari bu Dinda karena rumah itu warisan dari mendiang bapak Tama Adams Jaya yang berarti untuk anak satu-satunya yaitu bu Dinda Eri Adams." Jelas jaksa ditengah-tengah amarah keduanya. "Bisa turunkan ego anda pak Doni dan bu Dinda? untuk anak-anak, jaksa sudah menentukan hak atas Bintang Angkasa Adams dan Clarissa Fatiyah Adams jatuh kepada bu Dinda Eri Adams. Itu tidak perlu lagi kita bicarakan."
"Tapi bu...."
Jaksa menatap Doni. "Hak memang diberikan kepada bu Dinda, untuk pilihan itu terserah pada kedua anak kalian. Bahkan bu Dinda tidak melarang itu bukan? yang terpenting tidak ada paksaan untuk kedua anak kalian." Emma menyesap teh yang sudah dingin dihadapannya. "Kalian boleh egois, tapi pikirkan tentang anak-anak."
Doni berdiri meraih pergelangan tangan kekasihnya, "baiklah, beri waktu sampai besok untukku mengemas semua barang-barang milikku dirumah itu, rumahmu."
"Don..." Wanita itu menatap Doni, dia enggan untuk berdiri.
"Tolong pahami, aku tidak punya hak atas rumah itu."
"Tapikan...."
"Ayo berdiri." Wanita itu berdiri, dia menatap kesal kearah Dinda dan berjalan cepat diikuti oleh Doni.
Dinda menghembuskan napasnya pelan ketika kedua orang mengesalkan itu keluar dari ruangan. Dia tersenyum tipis menatap jaksa yang mendadak meraih tangannya dan mengelus pertanda menguatkan.
__ADS_1
"Terima kasih."
"Jangan sungkan, kalaupun bukan saya yang menangani kasus ini, semua tetap menjadi milik anda."
"Rasanya sangat menyesakkan,"
"Anda harus kuat bu Dinda, ingat tentang anak-anak, jika anda jatuh mereka akan turut jatuh."
"Padahal, kemarin baru saja kami merasakan kebahagiaan yang benar-benar bahagia. Saya sangat tidak menyangka jika papa yang dibanggakan malah membuat mereka terluka." Air matanya jatuh, kecewanya begitu dalam tentang Doni, mantan suaminya.
Emma, semakin mendekatkan diri kepada Dinda, mengelus kedua bahunya untuk menguatkan dan sesekali memeluk erat. "Semangat ya, makan teratur dan lupakan semuanya karena ini sudah berakhir. Anda terlihat kurusan dari terakhir kita bertemu pada sidang waktu itu."
Dalam pelukan itu, Dinda hanya mengangguk.
...πΌπΌπΌ...
"Ca, gimana? seneng banget pasti?" Kanya, Delisa dan Vina berkumpul dimejanya, menatap Clarissa dengan bahagia. Mereka selalu cepat membereskan peralatan mereka setelah guru keluar, sedangkan dirinya baru saja mengemas belum memasukkan kedalam tas.
"Ca..." Vina memanggilnya ulang.
"Hm..."
"Gimana?"
"Gimana apanya?"
"Senenglah." Jawabnya, siapa yang tidak senang ketika mendapat undangan dari band yang dikaguminya.
Vina menyikut Delisa. "Pastinya bahagia bangetlah, bahkan mungkin lebih bahagia dari sekedar diajak Putra berangkat sekolah bareng."
Clarissa mendelik melihat Vina, dan matanya melirik Kanya yang hanya mengangkat bahu. Sepertinya, rasa sukanya terhadap Putra bukan lagi rahasia antara dirinya dan Kanya.
"Mau ngajak salah satu diantara kalian gak mungkin. Kalian pasti gak suka atau mungkin hal yang lebih parahnya kalian gak tau tentang Bad Omens?" Ketiganya mengangguk menjawab kalimat Clarissa. "Apalagi konsernya itu hari sabtu malam, kalian pasti sibuk jalan sama crush kalian masing-masing kan??"
"Tau aja si Ica," Delisa mencubit pipi Clarissa gemas. "Bay the way Ca, Crush bukan Clus.."
Napasnya berhembus pelan mendengar Delisa menjelaskan huruf yang kurang saat dia ucapkan. Melihat respon Clarissa malah membuat ketiga temannya tertawa. Namun tawa itu berhenti mendadak ketika Erlangga datang, menaruh satu kotak susu rasa oreo dan satu bungkus roti berisi selai cokelat dengan ekspresi khasnya.
"Ke-kenapa?" tanyanya gugup. Semua tau kalau satu teman digeng Putra memiliki keramahan yang tidak pernah terlihat, wajahnya selalu serius dan tatapannya selalu tajam. Bagaimana mungkin tidak membuat Clarissa takut untuk sekedar bertanya urusan laki-laki itu ada dihadapannya, apalagi interaksi yang terjalin antara laki-laki itu dan dirinya selalu tidak baik jika bertemu.
"Disuruh Putra." Jawabnya, lalu pergi meninggalkan kelas.
Tidak ada yang ingin menanyakan lebih lanjut, menurut Erlangga, jawabannya sudah mencangkup seluruh pertanyaan.
...πΌπΌπΌ...
Clarissa dan Vina berjalan beriringan menuju parkiran, Kanya sudah berjanji untuk pulang bersama dengan calon pacarnya dan Delisa tentu pulang bersama Noel, pacarnya.
__ADS_1
"Ca, lo pulang dijemput siapa? atau bareng Putra?"
Clarissa melirik Vina. "Dijemput om Gio,"
"Ciee, papa mertua." Vina menghentikan aksi mengejeknya dan menghentikan langkahnya ketika Clarissa tidak melanjutkan perjalanan mereka. "Kenapa Ca?"
"Gue gak tau apa yang sudah dikatakan sama Kanya, yang jelas, jangan katakan apapun didepan gue menyangkut Putra."
"Ke-kenapa?"
"Lo tau kan?" Mata Vina mengikuti lirikan mata Clarissa yang melihat beberapa siswi yang melewati mereka dengan tatapan tidak suka.
Vina menatap datar, lalu menganggukkan kepala. "Paham."
Clarissa tersenyum, mengulurkan tangannya yang langsung diraih oleh Vina. Mereka melanjutkan perjalanan. "Sampai kapan tinggal dirumah dia?"
"Ini terakhir, kata nyokap gue sore ini kalau jadi kami bakal balik kerumah."
"Bokap lo?"
"Mama belum kasih kabar soal itu,"
Vina tersenyum dan langsung menyikut lengan Clarissa ketika melihat Putra bersama Erlangga jalan menghampiri mereka.
"Ca, papa ada meeting mendadak. Gue disuruh pulang bareng lo. Tapi, kebetulan ada urusan mendesak, jadi lo pulang bareng Erlangga gak apa-apa kan?" Ucapnya tanpa jeda. Kalau bertele-tele takut membuat Clarissa pergi tanpa mendengar penjelasannya.
Clarissa melihat kearah Erlangga, laki-laki itu masih tidak berekspresi. "Gue pulang sama Vina aja."
"Naik apa lo Vin?"
"Taxi."
"Gak usah, lo pulang sekalian sama Erlangga."
"Hah?" Vina mengerut heran.
"Lo gak denger? jangan naik taxi, pulang bareng Erlangga sama Ica. Okey."
Perlahan Vina mengangguk, mengacungkan jari jempolnya.
Putra beralih melihat Erlangga. "Titip Ica ya Er, kalau kenapa-kenapa lo abis sama nyonya Adietama."
Erlangga berdecih. "Hmm...."
"Lo ada urusan apa?" pertanyaan Clarissa membuat Putra membatalkan niat untuk pergi.
"Cie, keppo." Mencubit pipi Clarissa lalu mengelusnya setelah dia melepaskan cubitan. "Urusan sama pak Joko, soal kuliah, ada yang mau kami bicarain."
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ