
...πΌπΌπΌ...
Pandangannya meneliti setiap sudut rumah yang sedang dia masuki. Masih sama seperti saat dirinya berkunjung sewaktu kelas enam sekolah dasar tempo dulu. Dinda menarik koper milik putrinya dan dia taruh didekat anak tangga.
"Ica mau istirahat dulu?"
Clarissa melepaskan pandangan menelitinya beralih menatap sang mama. "Nanti saja ma, Ica mau lihat-lihat dulu."
"Rumah ini belum berubah sama sekali, nenek dan kakekmu pasti membiarkan seperti ini." Angguk Clarissa tanpa melihat kearah Dinda, dia masih menatap foto-foto yang terpajang didinding. "Sepertinya kak Bintang sibuk sekali ya?"
"Hm.." Clarissa tidak ingin menanggapi terlalu panjang untuk alasan Bintang, dia tidak ingin mamanya terlihat kecewa karena kakaknya itu tidak menyempatkan untuk berkunjung walau sebentar.
"Kenapa tidak ajak Kanya?"
Clarissa menatap sang mama. "Malam minggu ma, dia masih berjuang pendekatan sama laki-laki yang dia sukai."
"Kenapa Ica gak malam mingguan juga?"
"Kenapa pakai tanya, kan Ica ada disini mau nemuin mama karena rindu."
"Gimana pendekatan sama Putra? ketemu tiap hari pasti ada kemajuan dong ya?" Clarissa mengerucutkan bibirnya, dia berjalan menghampiri Dinda dan memeluk erat. "Ih kok cemberut gitu?"
"Mama masak apa?"
Dinda mencubit pipi Clarissa dengan gemas. "Duhh, ngalihin pembicaraan."
"Ica gak suka bahas Putra, mama." Merebahkan kepalanya dipundak mamanya. "Dia itu nyebelin, gak seperti bayangan Ica kalau deket sama dia."
"Tapi dia masih tetap menjadi pemacu sel-sel kamu berhenti beraktivitas kan?" Menatap putrinya, Clarissa tampak berpikir. Putra memang masih menjadi orang yang mampu membuat dirinya hanya terfokus kepada laki-laki itu sepenuhnya, bahkan tubuhnya selalu sulit bergerak jika Putra sempat menyentuh dirinya. "Iyakaannn."
Clarissa merengek mendengar mamanya menyadarkan dirinya lagi soal Putra.
"Iya. Tapi Ica kesini itu kangen sama mama, bukan mau membicarakan soal dia." Eluhnya terdengar kesal. Apalagi mengingat dia tidak sempat berpamitan dengan Putra karena terburu-buru berangkat ke stasiun diantarkan oleh Kanya.
...πΌπΌπΌ...
Pipinya terus mengembang, Clarissa tidak menyangka kalau mamanya akan memasak begitu banyak.
"Mama kenapa masak banyak banget??" tanyanya disela ia menelan makanan yang ada dalam mulutnya. "Walaupun Ica kelaperan tapi ini gimana Ica habisinnya."
"Mama tidak mau tau,," balasnya ketika menaruh potongan buah keatas meja, Dinda kembali menuju rak meraih gelas dan ia tuang susu cokelat dan dia seduh menggunakan air panas. "Kalau tidak habis, nanti kita bungkus dan kita bagikan ke para tetangga ya??"
Clarissa mengangguk masih dengan mengunyah ayam panggang.
"Ica bener-bener kangen sama masakan mama." Ungkapnya setelah menelan.
"Makanya mama masak banyak, pasti dirumah Adietama kamu tidak menemukan rasa yang mama buat, yakan?"
Clarissa mengangguk. "Chef Aldo selalu masak makanan khas luar, Ica kurang suka."
Dinda menghela napas dan menatap buah pear yang dia pegang untuk dimasukkan kedalam kulkas. "Tante Anita memang tidak pernah memasak sendiri, maklum dia kan sibuk."
"Mamakan juga sibuk, tapi masih sempat membantu bi Siti masak didapur." Tanggapnya.
"Iya memang, tapikan tidak sesibuk tante Anita, sayang. Lebih banyak yang dia urus mengenai Rumah Sakit bukan? mama hanya datang dan mengechek pasien saja," Dinda berdiri dan duduk didekat Clarissa, mengusap kecap di pipi putrinya yang mengembang karena terlalu banyak menyuapi mulutnya. "Kamu ingat sama Oji tidak? teman kecil kamu sewaktu liburan kesini."
"Gak." Tanpa menatap mamanya.
"Iya, cuma Putra aja yang kamu ingat."
"Ih mama apaan sih, kenapa bahas Putra terus dari tadi." Dinda hanya tersenyum setiap Clarissa menanggapi ucapannya dengan kalimat yang terdengar kesal. Tapi tetap saja, pipi Clarissa sudah bersemu merah menahan ledekan mamanya. "Oji siapa sih?"
"Kamu lupa? Anaknya penjual sayuran, sekarang dia kerja dipeternakan sapi, mama selalu beli susu olahan pabrik itu setiap hari. Baru kemarin nanyain kamu, ternyata masih ingat." Ceritanya dengan semangat. "Kalau sore dia keliling jualin sayuran orang tuanya lumayan masih segar-segar, nanti disapa ya kalau mampir kesini."
"Iya."
Selesai makan, Clarissa membersihkan meja makan dan mencuci piring bekasnya makan. Mamanya sudah pamit kembali ketempat kerja dan memintanya untuk istirahat saja ketika dia meminta untuk ikut.
Clarissa duduk dibalkon kamarnya, semua pemandangan desa terlihat menyegarkan walaupun dengan cuaca terik. Dia duduk dikursi dengan memeluk lututnya, melupakan perintah mamanya untuk istirahat barangkali dia merasa lelah karena pergi menggunakan kereta. Ponselnya berbunyi dengan notifikasi khusus untuk grup beranggotakan empat orang.
Kanya Dealova
__ADS_1
Sumpah, siapa yang
belum lihat postingan
Putra harus lihat
sekarang!!!
Delisa Andira
Gue udah, parah!!
Putra beneran punya
pacar dong (β₯οΉβ₯)
^^^Clarissa F. Adams^^^
^^^??^^^
Delisa Andira
Ca, lo harus lihat.
Lagi rame instagram
si Putra.
Alis Clarissa berkerut, apa yang membuat kedua temannya itu heboh, tapi dia urungkan untuk membuka aplikasi yang dimaksud oleh teman-temannya ketika notifikasi grup masuk lagi.
Alvina Anggraeni
Gila sihh,,,
Mampus deh yang
berharap sama Putra.
Btw, gue gak asing sih
^^^Clarissa F. Adams^^^
^^^Kuku????^^^
Alvina Anggraeni
Buru liat Ca,
lagi rame banget..
Delisa Andira
Gue juga sempet
ngerasa kayak siapa
gitu itu kukunya.
Kanya Dealova
Apa cuma gue yang
ngerasa itu kuku Ica!!
^^^Clarissa F. Adams^^^
^^^Kuku gue? ini maksudnya^^^
^^^apaan sih?^^^
Kanya Dealova
Bego banget lo Ca,
__ADS_1
LIAT ITU IG PUTRA, Anjiir.
Clarissa hanya menghela napas pelan, dia membuka aplikasi yang dimaksud teman-temannya, dan matanya membulat sempurna ketika melihat layar beranda utamanya menampilkan unggahan Putra.
"Ini kan......."
Lagi-lagi Clarissa menghela napasnya, sudah kedua kalinya laki-laki itu mengunggah foto tentang dirinya, tanpa izin. Namum senyumnya mengembang ketika membaca caption.
Notifikasi grupnya berdenting lagi, membuat Clarissa bergegas membukanya.
Kanya Dealova
Udah liat Ca?
^^^Clarissa F. Adams^^^
^^^Udah.^^^
Alvina Anggraeni
Beneran gak asing kan??
Kanya Dealova
Itu Ica...
^^^Clarissa F. Adams^^^
^^^Sok tau!!!^^^
Jawabnya dengan tersenyum tipis dan melihat kearah sepuluh jarinya yang dia cat sebelum pergi menemui mamanya. Notifikasi pesan pribadinya berbunyi, menampilkan layar pop-up bertuliskan 'Putra'. Clarissa segera membukanya.
Putra R. Adietama
Sudah sampai?
^^^Clarissa F. Adams^^^
^^^Udah.^^^
Putra R. Adietama
Kapan pulang?
^^^Clarissa F. Adams^^^
^^^Gue baru aja nyampe,^^^
^^^udah lo tanya ^^^
^^^kapan pulang? ^^^
Pesan tidak lagi terbalas, dan kepalanya melongok ketika mendengar suara panggilan dari pintu utama lantai bawah. Clarissa berdiri dan menghampiri pagar, seorang laki-laki dengan celana pendek berwarna abu-abu serta kaos hitam yang terlihat sudah pudar.
"Assalamualaikum...."
Clarissa masih membisu, dia hanya menjawab salam didalam hatinya, berulangkali laki-laki itu mengucapkan salam dan Clarissa masih diam. Dia tidak mengenali itu siapa, bagaimana kalau dia orang jahat yang kebetulan tahu kalau dirumah ini hanya tinggal dirinya seorang.
"Ehhh.... Kamu sudah datang???" Clarissa melihat kebawah lagi, mamanya berjalan menuju rumah dengan senyum yang mengembang.
...πΌπΌπΌ...
BEBERAPA HARI YANG
LALU AKU SIBUK BANGET,
BIASALAH, LEMBURAN KERJA
πππ
SEHAT SELALU
__ADS_1
UNTUK KALIAN SEMUA π