Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:59


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Selama dalam perjalanan menuju tempat yang Gio maksud untuk makan siang bersama, Clarissa hanya diam mendengarkan pembicaraan antara Gio dan Erlangga yang duduk dikursi belakang. Ia juga tidak paham apa yang mereka bicarakan, tentang bisnis keluarga yang seharusnya anak seumurannya belum mampu mengerti dan Erlangga terlihat santai dalam pembahasan itu. Clarissa melupakan Putra, dia lebih paham soal bisnis sejak sekolah menengah pertama, menghandle seluruh pekerjaan ringan milik Gio Adietama perihal Rumah Sakit yang pria gagah itu dirikan.


Mobil sudah dua kali berhenti dipersimpangan, tapi Clarissa masih tidak tahu kemana mereka akan makan siang bersama. Arah yang Gio kemudikan tidak memperlihatkan jalan menuju kediaman Adietama, menandakan bahwa mereka tidak akan makan siang disana.


"Oh iya, Om dengar Ica sempat naik keatas panggung ya sewaktu konser Bad Omens?" Gio mendadak bertanya padanya setelah beberapa menit menghentikan pembicaraan antara dirinya dan Erlangga. "Wahh, beruntungnya."


Clarissa tersenyum tipis. "Sepadan om sama Ica yang bergadang buat dapetin tiket VIPnya."


"Benar juga, harus diberikan dedikasi yang tinggi ya?" Gio tertawa, Clarissa tersenyum malu dan Erlangga diam tidak menanggapi. "Sama siapa kesana?"


"Sama Kanya Om, tapi cuma diantarkan sampai depan loket."


"Lalu kamu?"


"Sendiri."


Guo menoleh menatapnya. "Keren, berani?"


"Berani dong." Clarissa menyelipkan rambutnya kebelakang. "Soalnya sudah nekat, mau bagaimana lagi."


"Tapikan disana juga bertemu teman banyak ya."


Clarissa mengangguk. "Iya. Walaupun umur jauh diatas Ica,"


Gio tertawa. "Ya memang, namanya konser bergenre seperti itu. Kalau mau bertemu teman sebaya ya harus nonton konser idol Korea dong." Gio melirik Erlangga yang duduk tepat dibelakangnya, memakai sabuk pengaman yang benar dan memainkan ponsel dengan duduk tenang. "Kamu juga bukannya suka Bad Omens ya Er? nonton tidak?"


"Tidak Om. Oma kan sakit, lagian terlalu buang-buang waktu hanya untuk menonton konser."


Gio tersenyum tipis. Jangan kaget jika kalimat Erlangga menyakitkan, apalagi untuk Clarissa yang berjuang untuk menonton konser band kesukaannya. Pria gagah itu menoleh kearah Clarissa membuat perempuan itu juga menoleh karena merasa Gio tengah melihat kearahnya. Tatapan Gio seperti mengisyaratkan Clarissa agar tidak memasukkan perkataan Erlangga kedalam hatinya.


"Rinda yang menonton." Sambung Erlangga setelah sekian lama terjeda dari kalimat menyakitkannya diawal.


"Oh ya?" Gio melihat kekaca tengah lagi untuk mencari keberadaan Erlangga, lalu melihat Clarissa. "Kamu tidak bertemu dengannya?"

__ADS_1


"Tidak Om."


"Padahal kalau bertemu, lumayankan untuk menjagamu sebentar." Clarissa tidak menanggapi, tiba-tiba saja dia malah terpikirkan soal Rinda, apa mungkin laki-laki yang ada dipohon itu adalah Rinda mengingat sikap aneh laki-laki itu selama bertemu tadi disekolah. "Pulang jam berapa?"


"Sampai rumah sekitar jam sebelas kurang Om." Clarissa menatap Gio yang mulai melajukan kemudi mobilnya setelah macet berhenti lama. "Oh iya Om, sewaktu itu Om pergi bisnis sama Putra kan?"


"Iya benar."


"Pulang kapan Om?"


"Malam minggu sih, lupa ya Om jam berapa." Gio menoleh sekilas. "Kenapa?"


"Dari Bandara langsung pulang kerumah Om?" tanyanya lagi.


"Siapa? Om atau Putra yang kamu tanyakan."


Clarissa tersenyum malu, sepertinya dia tertangkap basah telah mencari jawaban atas Putra dengan memutar-mutar pertanyaan. "Om."


Gio mencubit pipi Clarissa yang tebal dengan sangat gemas. "Langsung pulang, soalnya kami sangat penat hari itu, tapi tidak tahu sih kalau Putra, soalnya setelah kami sampai dirumah, Om langsung mandi dan tidur dikamar."


...🌼🌼🌼...


Mobil berhenti tepat dihalaman restoran ala Jepang, Clarissa keluar setelah Gio mengintrupsikan dia dan Erlangga untuk keluar. "Om kekamar mandi dulu, kalian langsung kedalam ya, bilang saja cari Anita Adietama."


Keduanya mengangguk, melihat Gio pergi menuju tempat yang pria itu katakan tadi, Erlangga jalan lebih dulu yang langsung diikuti Clarissa. Erlangga memang benar-benar tidak bisa ramah padanya. Mereka dihentikan oleh satu pelayan yang menyapanya setelah masuk.


"Mau cari nyonya Adietama."


"Oh, bu Anita?" Erlangga mengangguk. "Mari ikuti saya."


Wanita yang mengenakan rok hitam selutut berbalut blezer senada berjalan dengan cepat didepan mereka. Menuju sebuah lorong dan membuka salah satu pintu setelah diketuk olehnya, pintu terbuka memperlihatkan Putra yang tengah merebahkan diri dipangkuan Anita yang berleseh dilantai beralas bantalan tipis. Senyum perempuan itu mengembang sangat cantik ketika melihat Clarissa yang masuk mengikuti Erlangga.


"Tanteee..." Bisik Clarissa dengan girang, Putra tertidur membuatnya harus menggunakan suara kecil agar laki-laki kesukaannya itu tidak terbangun.


"Om mana?" tanyanya dengan ikut memelankan suara.


"Masih kekamar mandi tadi."

__ADS_1


"Berdua saja? Daze, Noel sama Rinda mana?" menatap Erlangga yang memainkan ponsel.


Erlangga menaruh ponselnya diatas meja, melepas tas dan bersandar lagi. "Enggak ketemu Noel sama Daze tante, tapi Rinda gak mau ikut karena mau ada pertandingan game onlinenya."


"Ujian-ujian kok main game sih?" Anita menatap Clarissa,


"Noel sama Delisa mau mengantarkan mamanya Noel ke Bandara tante. Kalau Daze tadi Ica lihat sudah pergi bersama Marisa duluan." Clarissa menjelaskan apa yang dia saksikan tadi disekolah.


Anita mengangguk. Dia sudah tidak heran lagi, jika mereka sudah punya pasangan masing-masing, pasti mereka akan sibuk sendiri-sendiri. Pintu tergeser lagi setelah ada ketukan, memperlihatkan Gio yang masuk dan tersenyum lebar diikuti beberapa pelayan yang masuk membawakan makanan yang akan mereka santap. Anita menepuk pipi Putra dengan lembut untuk bangun, matanya mengerjap dan melihat Clarissa, Erlangga serta papanya yang sudah duduk menghadap meja seperti siap menyantap.


"Cuci muka dulu." Ujar Gio setelah memilih duduk disebelah Erlangga, bersebrangan dengan Anita dan Clarissa.


Mereka makan dengan tenang, sesekali suara keluar dari arah Erlangga dan Gio yang kembali membicarakan perihal bisnis, Anita juga terkadang menimpali, hanya Clarissa yang diam tidak paham dan Putra yang sepertinya lebih berminat pada makanan dipiringnya.


Tangan Clarissa berulang kali mengambang untuk meraih gelas yang tidak dapat dia gapai karena satu tangannya juga sibuk memegang poci berwarna perak. Kepalanya mendongak karena merasa Putra dan Erlangga sama-sama menyodorkan gelas, cukup lama dia terdiam sampai akhirnya memilih gelas kosong yang ada dihadapan Anita tanpa membuat wanita cantik itu dan Gio merasa terganggu dengan sikapnya dan sikap dua laki-laki diruangan mereka.


...🌼🌼🌼...


"Papa mau anter Ica kan? mama ada pertemuan 30 menit lagi sama temen-temen." Anita menatap Clarissa. "Maaf ya tidak bisa mengantarkan kamu."


"Enggak apa-apa kok tante."


"Eih, searah tidak? papa mau langsung ke Rumah Sakit karena ada janji temu dengan bapak Walikota." Mengetuk jam ditangannya. "Jadwal Check-up seperti biasanya."


"Tidak apa-apa Om-Tante, Ica naik taksi aja."


"Jangan, biar Putra yang anter aja Ma-Pa."


Gio menahan bahu Putra. "Papa tidak izinkan jika naik motor."


Mereka melihat Erlangga mengulurkan tangannya pada Putra, membuat laki-laki itu paham dan menyerahkan kunci motornya. "Mama sama pak Budi juga kan? mana kunci mobil mama." Anita menyerahkan kunci mobilnya. "Papa sama mama searah kan? biar Erlangga yang bawa motor Putra,"


Kedua orang tuanya mengangguk dan menyerahkan semua urusan kepada Putranya, mereka pergi dengan tenang tanpa memikirkan kekhawatiran tentang keadaan Clarissa. Clarissa menunduk kecil kepada Gio dan Anita, dia juga sempatkan untuk memeluk sekilas kepada Anita. "Terima kasih Om-Tante atas jamuan makan siangnya, Ica seneng."


"Tante lebih senang." Jawabnya lalu mengecup kening Clarissa dan melambaikan tangan melihat Clarissa berjalan menjauh.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2