
Doni berteriak kencang didalam mobilnya, mengusap wajahnya gusar, air matanya sudah jatuh. Dia telah menyesali semuanya. Bagaimana bisa dia sebodoh ini. Kini posisinya berubah, tadinya dia ingin membantu Clara untuk bebas karena kandungannya yang semakin membesar, sayangnya fakta baru telah terungkap. Doni menjadi menginginkan Clara membusuk didalam penjara, jahat bukan? tapi itulah ganjaran yang pantas didapatkan oleh Clara.
Meminta maaf pada anak-anaknya adalah jalan yang harus dia awali. Membuka lembaran baru bersama Bintang dan Clarissa. Doni menghidupkan mesin mobilnya, dia bawa keluar dari perkarangan rumah pengacara besar yang mampu menjatuhkan Clara secepatnya tanpa ampun. Dia bawa melesat mobil hitam legamnya menyusuri jalanan kota Jakarta yang hampir macet, beberapa kali dia terkena kesialan itu.
Sampai dirumah milik mendiang Dinda yang sempat dia singgahi tadi malam, dia keluar membawa beberapa cemilan kesukaan Bintang dan Clarissa untuk dimakan bersama.
"Papa pulang..." Teriaknya, tidak ada sambutan atau sautan dari kedua anaknya.
Doni melangkah menaiki anak tangga menuju kamar Clarissa, dibukanya dan kamar terlihat sangat gelap, mungkin Clarissa berada dikamar Bintang. Doni menutup kembali pintu kamar Clarissa dan berjalan menuju kamar Bintang dan membukanya, kosong dan terlihat lebih gelap dari kamar putrinya.
Napas Doni tercekat. Dia berjalan cepat menuruni anak tangga dan begerak ligat menuju kamar pelayan rumahnya. Diketuknya dengan kuat. "Bii... Bi Siti.... Ini saya bi..."
Pintu terbuka. "Ehh iya pak? Bapak sudah pulang?"
"Anak-anak dimana?" tanyanya panik tanpa mendengarkan pertanyaan bi Siti.
Bi Siti menggaruk pelipisnya. "Anu pak, tadi bu Anita datang dan membawa mas Bintang sama non Ica keluar, katanya ingin mengajak jalan-jalan."
"Bi Siti bagaimana sih? kok tidak bilang saya."
"Maaf pak. Saya tidak tahu, masalahnya kan itu bu Anita,"
"Ya mau siapapun tetap izin sama saya dong Bi." Kesalnya.
"Maaf pak." Bi Siti menunduk, dia tidak tahu kalau hal itu akan menjadi amarah bagi mantan suami bosnya itu.
Doni bergegas pergi, dia berlari menuju mobilnya dan melesat kencang membawa kemudinya. Dia tahu dimana keberadaan anak-anaknya, kediaman Adietama.
Pintu gerbang tidak lagi sulit, mobilnya masuk dengan mudah dan tidak membuat Doni bertele-tele lagi. Dia mengencangkan kecepatannya dan langsung menghentikan tepat didepan rumah Adietama. Tidak lagi dia pikirkan soal memarkirkan mobil yang sering tamu lakukan.
__ADS_1
Satu kali bel berbunyi, pintu sudah dibukakan. Doni masuk dan langsung dapat melihat anak-anaknya disana, bersama semua keluarga Adietama.
"Papa...." Panggil kecil Clarissa ketika kaget melihat kedatangan papanya.
Doni maju lebih dekat. "Kak, kok gak bilang papa kalau mau pergi. Papa kan sudah bilang kemanapun kalian pergi harus izin sama papa. Dan lagi, kenapa disini? kalian butuh istirahat."
"Maaf." Jawab Bintang tanpa melihatnya.
"Ayo pulang." Ajaknya, tapi tidak satupun dari anaknya bangkit menurutinya. Mereka tetap duduk pada tempatnya. "Ica, Bintang.... Ayo pulang."
"Biarkan Ica sama Bintang menginap disini ya Dokter Doni?" Anita berdiri, menatap Doni dengan senyum yang.... Entahlah, Doni kesal. "Mereka akan nyaman tinggal disini..."
"Dokter Anita, saya mohon. Mereka anak-anak saya, saya yang akan menjaga mereka. Jadi tolong, kembalikan mereka kepada saya." Mohonnya.
Wanita yang menjadi tamu selain Doni di kediaman Adietama terkekeh disana menatap Doni. "Sudahlah, mereka sendiri tidak ingin ikut denganmu, Doni. Aku sudah mengatakannya pada mereka, kalau aku akan membawa mereka."
"Come on, Mika. Kamu tidak ada hak untuk mengambil anak-anakku, hentikan omong kosongmu tentang penyesalan itu. Aku yang harus bertanggung jawab disini, aku akan menebus semuanya." Ucap Doni menyala, dia harus berjuang mempertahankan Bintang dan Clarissa bagaimanapun caranya. "Tolong yaa, mereka anak-anakku."
Doni menatap kearah lain. Darmo duduk disofa besar yang hanya pria itu sendiri yang dapat menempati. "Ayolah, pak Darmo. Bintang anak kandungku. Aku yang berhak atas Bintang."
"Aku adalah ayah biologis Bintang. Mau bukti?"
Air matanya jatuh lagi. Tidak ada yang membelanya disini, Doni berlutut tepat dikaki Darmo, dia menangis disana. "Saya mohon pak Darmo, saya harus menebus kesalahan saya pada anak-anak. Saya adalah ayah Bintang, saya adalah ayah Clarissa. Mereka adalah anak-anak saya. Tidak akan ada perubahan." Dia terisak disana. "Anda memang ayah biologis Bintang, ya, saya akui. Tapi sayalah yang mengajarinya berjalan, saya yang menemani Dinda berjuang untuk melahirkan Bintang. Kata pertama yang Bintang ucapkan adalah memanggil saya dengan sebutan papa. Saat Bintang terjatuh ketika belajar mengendarai sepeda roda tiga, sayalah yang harus disalahkan karena tidak menjaga Bintang dengan baik. Jangan ambil Bintang pak, jangan ambil Bintang ataupun Clarissa, hanya mereka yang saya miliki sekarang. Saya butuh mereka, tidak perduli mereka membutuhkan saya atau tidak. Saya hanya menginginkan mereka, saya akan membuat mereka kembali menerima saya."
"I don't care about your bullshit. He's still my son, and I'll get him." Darmo masih tidak ingin mengalah, walaupun setelah mendengar kalimat panjang Doni yang berusaha mempertahankan anak-anaknya. "Go. You are not needed."
"PAPA!?!?!" Gio berteriak, dia berjalan cepat mendekati Doni yang masih berlutut untuk segera berdiri. "Masih juga papa bersikeras untuk mengambil Bintang?"
"He is my son."
__ADS_1
"Ya ampun. Jangan bertingkah kekanak-kanakan, papa." Gio menghela napasnya kesal, dia menatap Mika yang duduk santai disana. "Apa anda juga masih bersikukuh untuk mengambil Bintang dan Clarissa, nyonya Mika?"
"Masih." Jawabnya singkat.
"Bintang, Clarissa berdiri." Ucap Gio membuat keduanya berdiri. Pria itu tidak mendengarkan teriakan Darmo yang melarangnya memerintah Bintang ataupun Clarissa. "Suka atau tidak suka, pulang, ikut papa kalian."
Clarissa yang sudah menangis disana menggenggam erat tangan Bintang.
"Untuk nyonya Mika dan Bapak Darmo Sudrajat Adietama yang terhormat." Gio menatap tajam papanya. "Mau seberjuang apapun kalian. Hak asuh tetap jatuh pada tangan Doni Andrian Bintara, ayah sah mereka."
"Berani-beraninya kamu GIOOO!?!?!" Darmo berdiri, menatap marah pada putra sulungnya. "Sekali lagi kamu bertindak sesukamu."
"Pa.." Gio mendekati papanya. "Bukan seperti ini caranya untuk mengambil Bintang. Gio bukannya tidak suka. Gio malah senang akhirnya bisa memberitahukan kepada seluruh dunia kalau Bintang adalah adik Gio setelah Jeri, dan Siska memiliki darah yang sama dengan Gio. Tapi tidak seperti ini Pa.."
"Lalu seperti apa??"
Gio tidak menjawab pertanyaan Darmo, dia kembali mendekati Doni untuk memintanya berdiri. "Pulanglah Dokter Doni, bawa anak-anak."
"GIOO!!!!" Teriak Darmo.
"Jer, pulanglah." Gio tidak mendengarkan teriakan Darmo yang semakin menggema ruang tamunya yang luas. Mereka semua berdiri ketakutan. "Alia pasti sudah cemas menunggumu, tolong sekalian antarkan nyonya Mika ketempat yang ingin dia tuju."
"BERANI KAMU MENULIKAN PENDENGARANMU?"
Gio berjalan mendekati Anita. "Naik, papa perlu bicara dengan mama. Putra juga naik, masuk kekamar, besok sekolah."
"GIO!?!" Darmo terus berteriak kencang, mereka bergerak dengan langkah yang ketakutan.
Gio menghampiri telepon rumahnya, menekan tombol panggil pada seseorang. "Deon, keruang tamu, antar pak Darmo pulang."
__ADS_1
Setelah sambungan itu terputus, Gio menghampiri papanya. "Pulang, dan kembali ke italy besok. Setelah pikiran papa tenang, papa boleh kembali kesini menemui Bintang. Kita akan bicarakan ini lagi."
💜💜💜💜💜💜💜 BERSAMBUNG 💜💜💜💜💜💜💜