Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
01:19


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Kopi yang disuguhkan mulai mendingin, tidak ada lagi kepulan asap diatasnya. Bintang duduk menunduk, tidak bergerak sejak tiga puluh menit yang lalu diajak duduk oleh seseorang yang dia hindari beberapa minggu terakhir. Dia sedang menjaga perasaan sang papa, lalu kenapa pria dihadapannya datang? bukankah dia pergi untuk waktu yang lama.


Bintang merasa tidak nyaman ketika para staf kantor berjalan melewati mereka dan menatap kebingungan karena anak magang yang baru berjalan belum dua minggu sudah duduk berhadapan dengan pemimpin tertinggi, pemiliknya. Sial, Bintang tidak tau kalau perusahaan ekspor-impor yang dia kagumi adalah milik Darmo Sudrajat Adietama.


Pantas saja CEO mereka kemarin begitu menyapanya dengan ramah, ternyata ini alasannya.


"Kan tadi sudah saya ajak untuk keruangan saya, kenapa menolak?" Tanya Darmo, menangkap gerak-gerik tidak nyaman dari Bintang karena diperhatikan, mereka tidak sengaja bertemu dilobi saat Bintang hendak mengcopy tugas yang diberikan oleh atasannya, mendadak Darmo menghampiri dan menyerahkan berkas ditangan Bintang kepada salah satu pegawai yang lewat. Hal itu tentu saja membuat semua orang kebingungan termasuk Bintang. Lebih bingung lagi ketika Bintang diajak untuk naik kelantai atas tapi dia menolak dengan wajah tidak senang ditambah nada suara yang meninggi. Menarik kembali dokumen yang Darmo serahkan pada orang sembarang secara kasar lalu menunduk minta maaf pada orang itu. Semua orang panik tapi tidak berani menegur Bintang karena didepan mereka masih ada Darmo yang hanya menatap tersenyum pada Bintang.


"Untuk apa bapak kemari?"


"Tidak boleh saya melihat perusahaan sendiri?" Bintang tidak menjawab. "Bagaimana magangmu?"


"Akan berantakan?"


"Kenapa bisa?"


"Bisa tidak usah menyapa, masa magang saya akan berantakan kalau anda begini!!!" ungkapnya kesal. "Saya bisa menjadi pusat perhatian."


"Saya tidak masalah."


"Saya yang bermasalah." Bintang berdiri, "saya permisi."


"Tidak bisakah kita bicara sebentar nak,"


Bintang menghentikan langkahnya, mundur dan menatap Darmo kesal. "Cukup saya bilang," menoleh pada staf yang berjalan lewat dan tidak sengaja menatap kearahnya, Bintang merubah ekspresinya agar tidak dinilai tidak sopan pada atasan tertingginya. "Silahkan pergi. Tidak ada yang perlu dibicarakan antara saya dan bapak. Permisi."


Darmo mengelus dagunya lembut, tersenyum dibalik tangan yang hampir menutup mulutnya. "Dia keren sekali."


"Pak," sekertarisnya memanggil pelan.


"Hmm.."


"Pak Gio menelpon ingin bertemu bapak dirumah utama."


"Hais," Darmo mendesah kesal. Dia berdiri pelan. "Kenapa sih anak itu selalu ikut campur. Ayo kesana."

__ADS_1


...🌼🌼🌼...


Bintang berusaha mengontrol emosinya ketika ditanyai oleh salah satu staf bagian photocopy soal kenapa dia duduk bersama Darmo tadi, bahkan Darmo santai ketika tadi Bintang menatap tidak suka padanya. Bintang berjalan menuju pintu lift, ikut mengantri dengan para staf tetap yang sedang berkeliaran dibawah. Semua menunduk pada CEO yang hendak ikut naik pada lift VIP, pak Rofi menahan pintunya saat matanya menatap Bintang yang berusaha sembunyi dikerumunan staf tetap.


"Bintang," sapanya. Semua staf mencari dimana letak laki-laki yang dipanggil oleh Rofi. "Ayo masuk,"


Bintang menampilkan diri karena sudah ketahuan telah bersembunyi. Bintang semakin mundur ketika dua bodyguard disisi Rofi dan sekertarisnya menunduk pada Bintang. "Tidak usah pak, saya naik lift sini saja."


"Hais, ayo." Ajaknya lagi.


"Tidak usah." Bintang mengerjap matanya, kenapa dia mengatakan itu dengan nada tinggi, dia melirik semua staf yang menatap kaget. "Ma-maaf pak, bukan maksud saya membentak, saya disini saja."


Bodyguard Rofi masih berusaha menahan pintu lift agar tidak tertutup. Aryo, keluar sembari membenarkan kacamatanya. "Mas Bintang, masuk saja,"


Dengan sangat terpaksa Bintang menurut, dia bersandar pada dinding lift, masa magangnya masih lama. Belum ada satu bulan, bahkan mungkin dua minggu belum sampai, semua sudah kacau balau. Dia bisa menepis karena tidak mengenali CEOnya, tapi ini, Darmo, sang pemilik perusahaan. Ayah kandungnya. Bagaimana semua akan baik-baik saja setelah ini.


Kehebohan kemarin sudah dia tangani dengan mengatakan kalau mungkin pekerjaannya bagus, makanya CEOnya mengajaknya makan siang bersama, lalu ini? apa yang harus dia jawab jika semua bertanya soal hubungannya dengan pemilik perusahaan.


"Bertemu pak Darmo?"


Bintang menegapkan diri, ketika Rofi membuyarkan lamunannya. "Iya pak,"


Pintu lift terbuka, Bintang yang sudah keluar menahan salah satu bodyguard yang mengikutinya keluar. "Jangaaan, tidak perlu antar saya, merepotkan saja."


Entah sadar atau tidak, Bintang mengatakan hal itu dengan nada biasanya yang terdengar cukup keras. Menatap CEOnya, dia menunduk kecil, Rofi mengangguk dan sekertarisnya serta dua bodyguardnya membalas menunduk dalam pada Bintang.


Benarkan? belum sampai didalam kantor, semua staf berkumpul menatapnya masuk.


"Ini apa lagi sih Bintang?"


Bintang menaruh hasil Fotocopy keatas meja dan duduk disalah satu bangku kosong. Menatap atasannya datar. "Kenapa didalam perjanjian magang tidak ada nama bapak Darmo?"


"Kan memang begitu, cukup nama saya dan nama CEO saja." Jawab pak Rahmat. "Kenapa? kamu siapa sih? kenapa bisa kenal pak Darmo, heran saya, kemarin pak Rofi sudah buat kehebohan dan sekarang pak Darmo yang bahkan bisa satu tahun sekali kekantor, ini tiba-tiba kekantor duduk santai dilobi dengan KAMU." Pak Rahmat menekan kata terakhir yang menyindir keanehan pada Bintang. "Jawab. Bahkan katanya pak Darmo sekarang sudah pergi tanpa masuk keruangannya, berarti beliau kemarin hanya bertemu denganmu bukan?"


"Saya merasa ditipu." Para staf saling melirik, dan membiarkan pak Rahmat yang bertanya dari kalimat Bintang. "Tidak bisa ya pak saya batalin kontrak magang disini?"


"Katanya senang disini, belum ada sebulan kok sudah mau batalin kontrak? banyak loh yang mau magang disini," Bintang tidak menanggapi. Sejujurnya, magang disini juga menjadi salah satu impiannya sejak lama.


"Kamu kenal pak Darmo?"

__ADS_1


Bintang menatap staf perempuan yang duduk didekatnya. "Tidak kenal."


"Bohong,"


"Kenal biasa aja, tidak akrab."


"Nah, pasti kenal." Bangga pada tebakannya. "Berarti kamu kenal pak Rofi dong."


"Tidak, belum pernah bertemu sebelumnya, tahu perusahaan milik pak Darmo saja baru tadi." Jelasnya. "Memang pak Rofi itu siapa? kenapa beliau CEO?"


Semua menyerahkan jawaban pada pak Rahmat. "Sebenarnya pak Darmo sudah menyerahkan semuanya pada pemilik saham tertinggi pada anak laki-lakinya yang terakhir."


Deg


Seketika jantung Bintang berhenti berdetak, anak laki-laki terakhir? bukan dirinya kan?


"Tapi setau saya anak terakhirnya itu perempuan yang ngajar di SMA Gemilang Cahaya, tapi entahlah, banyak yang bilang anak terakhirnya itu laki-laki dan katanya masih belum bisa menjabat. Berita masih simpang siur." Jelasnya lagi. "Pemegang saham tertinggi kedua, anak keduanya, pak Jeri, tapi beliau menolak, kalau yang saya dengar memang pak Jeri menolak semua pemberian pak Darmo karena yang saya dengar pak Jeri itu anak dari istri kedua."


"Baik banget pak Jeri, saya pernah bertemu sekali." Ucap salah satu staf.


"Memang, beliau bilang tidak ada hak menerima semua itu."


"Kenapa bukan om Gio yang pegang."


"Om?" Pak Rahmat menatap Bintang. "Kamu saja sudah panggil om pada anak pertama pak Darmo, berarti dekat sekali ya."


"Tidak." Bantahnya lagi,


Karena malas berdebat, pak Rahmat kembali melanjutkan ceritanya. "Pak Gio tidak mau ikut campur, beliau sudah sibuk dengan Rumah sakitnya, jadi jabatan dipegang oleh pak Rofi pemegang sahan tertinggi nomer tiga, sepupu pak Gio. Anak dari adik pak Darmo yang ada di Jerman."


Mereka semua mengangguk paham, sebenarnya mereka tidak terlalu perduli pada urusan siapa CEOnya, selagi mereka memberikan hasil yang baik untuk setiap staf, mereka mendukung saja.


"Jadi, semua orang masih menebak siapa pemengang saham pertama. Kabarnya pak Rofi ingin pensiun dan menjadi ayah rumahan saja, banyak para petinggi yang kurang terima jika diserahkan pada pemegang saham keempat, itu anak angkat dari orang tua pak Darmo. Sedikit serakah." Bisiknya pada kalimat terakhir. "Banyak yang memohon pada pak Jeri untuk menerima, tapi dia kekeh menolak, bahkan petinggi perusahaan banyak yang memojokkan pak Jeri dan pak Gio agar membongkar siapa pemegang saham pertama agar langsung diserahkan tugas, tapi semua menolak. Mereka bilang belum waktunya."


"Kalau saya tebak sih, Putra, anak pak Gio." Celetuk sekertaris pak Rahmat.


Pak Rahmat menggeleng. "Kalau kata pak Rofi, bukan, Putra lebih tertarik pada Rumah Sakit, dan pak Gio tidak melibatkan dirinya, istri, dan anak terlibat pada perusahaan pak Darmo."


"Jangan-jangan, kamu Bintang."

__ADS_1


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2