Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
01:17


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Anita Tiara Adietama memang suka berlebihan terhadap sesuatu, apalagi mengenai teman-teman dekat putranya. Bukan hanya pada orientasi seksual Erlangga saja, Rinda juga pernah dicurigai karena dia selalu berdua dengan Noel kemanapun, bahkan terkadang jika mereka berlibur bersama Rinda akan merengek ingin sekamar dengan Noel, padahal itu dilakukan karena Noel lebih perhatian dibandingkan yang lainnya. Putra lebih sibuk sendiri, Daze akan sering telat bertemu karena prioritasnya adalah Marisa, Erlangga? tidak perlu ditanya, dia akan berbicara jika ditanya saja dan Rinda tidak suka laki-laki itu.


Tapi semua tuduhan Anita mereka tepis, dengan Noel yang mengaku menyukai Delisa sejak masuk SMA dan Rinda sudah lebih dulu berpacaran dengan kakak kelas-putus-dan membuat laki-laki itu kabarnya gagal move on sampai saat ini. Erlangga sudah membuktikan bahwa dia normal, berpacaran dengan teman les bahasa inggrisnya, kabarnya putus karena Erlangga terlalu cuek, dan laki-laki itu hanya menanggapi dengan satu kata yaitu 'yaudah' simple dan menyakitkan. Banyak yang bilang mantannya itu belum bisa melupakan Erlangga, dan Erlangga terlihat biasa saja.


Entahlah, mungkin hanya Anita saja yang terlalu parno kepada sahabat putranya, dia bahkan tidak memeriksa kesehatan purranya sendiri karena tidak memiliki kekasih selain Marisa dahulu, dia juga terlihat cuek saja ketika tau kalau Putra tidak benar-benar menyukai Marisa. Bisa-bisanya Anita perduli kepada seluruh sahabat anaknya tapi tidak pada anaknya.


"Tante itu sayang sama kalian, wajar dong kalau tante perduli secuil apapun itu." Jelas Anita pada saat Rinda menyela ucapan kecurigaannya. "Memangnya kalian tidak suka kalau tante perduli seperti ini?"


Waktu itu tidak ada yang berani menjawab, karena memang hanya Anita yang perduli, orang tua mereka semua terlalu sibuk. Untuk Erlangga, jelas membutuhkannya karena dia hanya hidup dengan oma yang super sibuk sampai tua.


Noel mengelus punggung Delisa lembut. "Tapi udah lewat juga, Erlangga emang gak minat pacaran katanya sebelum lulus SMA, takut ganggu belajar."


"Gue setuju," Rinda mengacungkan jempol. "Masalahnya emang terlalu ribet kalau pacaran."


"Ya lo aja, gue gak nih." Sindir Noel sembari bermain mata pada Delisa, kekasihnya itu malah cekikikan karena Rinda hanya menatap datar dengan menggeleng malas.


"Kalau gue karena takut sama bokap gue, makanya gak berani pacaran."


"Sabar Vin, tapi ada benernya juga kan?"


Vina mengangguk. "Dulu gue iseng backstreet ehh ketahuan terus gue dipindahin sekolah."


Ayah Vina memang terkenal galak, tegas dan menyeramkan. Delisa mengakui hal itu karena setiap bertemu dengan ayah Vina hanya menyapa sekilas lalu berlari masuk kedalam kamar Vina karena tidak berani menjawab jika saja ayah temannya itu bertanya banyak. Masalah soal percintaan semasa sekolah memang bermacam-macam, untung saja Clarissa dapat kekasih hebat yang mampu melindunginya sekarang, meskipun sebelum mendapatkan Putra, dia harus bolak-balik masuk rumah sakit karena perlu dirawat. Clarissa mengusap pipi Putra yang masih bersandar pada bahunya, sebenarnya bahunya cukup pegal tapi dia tidak berani bilang, dan lagi beban ditambahkan dengan Meysa yang masih bersandar.


"Put, kekelas yuk." Ajaknya,


Dengan ajakan itu membuat Putra mengangkat kepalanya dan mengguncangkan lengannya yang masih ditempeli oleh Meysa. "Mey, pegel, mau kekelas nih."


Meysa tidak menjawab, dia hanya berdiri dan melenggang lebih dulu.


...🌼🌼🌼...

__ADS_1


"Berapa lama Erlangga izin?"


"Lusa balik." Jawab Daze yang berjalan dibelakang Putra. "Tadinya gue yang nawari buat pergi, tapi kata dia mau pergi sendiri."


"Emm,"


Sebetulnya Clarissa penasaran kemana perginya Erlangga, tapi mereka tidak begitu dekat jadi untuk apa dia tau kan? Putra membuka pintu mobil untuk Clarissa dan dia berjalan menuju pintu kemudi setelah memastikan Clarissa duduk dengan benar menggunakan sabuk pengaman.


"Gue udah bilang kalau ada apa-apa telepon bokap gue kok," Noel menimpali sebelum Putra masuk kedalam mobil, Putra mengangguk dan melambaikan tangannya sebelum melesat pergi.


"Memangnya Erlangga kemana?" Akhirnya lepas juga kalimat tanya yang Clarissa pendam. Sembari melajukan pelan dan memakai sabuk pengaman Putra menoleh pada Clarissa.


"Ngurus kasus tabrakan dia dulu, katanya pelakunya ketangkep dipulau sebrang. Jadi Erlangga pergi kesana buat mastikan." Jelas Putra. "Ya semoga aja bukan yang dia harapkan pelakunya."


"Emang siapa?"


"Erlangga itu punya musuh, aku kurang tau masalah apa yang jelas mereka saling tidak suka." Ujar Putra, "padahal dulu mereka berteman gitu sebelum akhirnya Erlangga lebih sering ngumpul bareng kami."


"Tapi bukannya dari dulu Erlangga emang deket sama kamu?"


"Aku kira kalian emang deket dari dulu."


Putra tersenyum tipis, "kenapa? kamu penasaran gitu sama Erlangga."


Clarissa menoleh pada Putra, apa maksud pertanyaan itu? dia hanya bertanya yang perlu ditanya, bukan pertanyaan lebih seperti yang dipikirkan oleh Putra. Apa Putra salah paham padanya? ohh jangan, Clarissa belum siap memiliki masalah.


Secara tiba-tiba Putra terbahak dan menatap Clarissa sembari mengeleng kecil. "Ya ampun kamu gemesin banget," mengetuk kepala Clarissa. "Pasti kamu lagi mikir apa aku salah paham sama kamu?"


"Um, kok tau?"


"Iyalah, suka banget overthinking gitu."


Clarissa tersenyum tipis. "Aku malah seneng kamu cari tau soal temen-temen aku, paling enggak kamu harus mengerti kondisi semua temen aku kan?"


"Um, soalnya mereka suka aku repotin juga sewaktu dulu setiap kamu pergi."

__ADS_1


"Aku khawatir kalau gak ada yang jagain kamu pas aku pergi," jantung Clarissa sudah beradaptasi dengan kalimat manis dari Putra. "Jadi wajar kan kalau aku minta sama temen-temen aku untuk jagain kamu."


"Iya, wajar kok." Clarissa memaklumi. Dia. tersenyum tipis, mungkin saja saat itu Putra sudah menyimpan rasa padanya, jadi wajar kalau Putra memberikan sikap posesif padanya. "Put, mau mampir."


Putra menggeleng, "lain kali aja deh, soalnya mau kerja kelompok lagi."


"Mau aku bantu,"


"Gak usah," Putra merentangkan tangannya, "kamu kapan kerja kelompok lagi? kenapa sih kemarin gak pilih masuk kelompokku aja?"


Putra protes mengenai Clarissa yang lebih memilih kelompok Daze dan Erlangga ketimbang kelompoknya saat Kanya dan Meysa berdebat kemarin. Clarissa melepas sabuk pengaman dan mendekat kearah Putra, masuk kedalam pelukan laki-laki itu yang sudah lama merentangkan tangannya.


"Sorry, aku asal pilih aja tempat yang kosong karena pusing lihat mereka berdua berdebat."


Masih dalam pelukan itu Putra melihat Clarissa yang bersandar nyaman pada dadanya. "Kayaknya lebih enak lihat mereka berantem serius karena kamu dibully dari pada mereka berantem gemes rebutin kamu gitu."


"Um, hidup aku berunah 180 derajat Put, setelah resmi jadi pacar kamu."


"Senang tidak?"


"Sedikit."


Putra melepaskan pelukan itu. "Kok sedikit?"


"Malesnya, semua orang jadi berlagak sopan padahal dulu ada yang dukung sewaktu aku dibully, ada yang pura-pura gak tau, tapi sekarang malah pada ramah gitu."


"Ya ampun," Putra mengacak-acak rambut Clarissa gemas. "Kirain hal yang lebih aneh, kamu itu gemesin banget sih Caa..."


Mereka kembali berpelukan, Clarissa heran, sejak mereka resmi pacaran. Putra selalu menempelinya dengan manja, sangat berbeda dari hubungan mereka dahulu, sikap Putra benar-benar seperti seseorang yang susah untuk didekati. Tapi ini, Clarissa tersenyum tipis. "Menggemaskan."


"Apa Ca?"


Clarissa menggeleng ketika Putra bertanya, hanya menggerakkan tangannya untuk melingkar dipunggung Putra.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2