
...πΌπΌπΌ...
Clarissa menolak saat Erlangga menawarkannya untuk ke ruang UKS, bukan menawarkan sih, lebih seperti membawa tanpa menanyakannya terlebih dahulu. Clarissa hanya meminta laki-laki itu untuk menemaninya ke toilet, menunggu didepan pintu agar tidak ada hal buruk yang akan menimpanya kembali. Dia ingin membersihkan diri, membasuh wajahnya serta merapikan rambutnya yang berantakan. Clarissa membuka ponselnya dan ternyata mati mungkin karena terjatuh tadi, dia masih sesenggukan setelah menangis saat membasuh wajahnya menatap pantulan cermin yang menampilkan dirinya.
Kejadian tadi kembali terlintas, mengingat Meysa yang begitu tegas mengatakan bahwa dia membantunya, ada sedikit kepercayaan Clarissa tentang yang dikatakan Meysa adalah kebenaran. Tapi, dia masih merasa ragu kalau itu hanyalah sandiwara Meysa agar Putra tidak menyakiti perempuan itu.
Satu kalimat nyata yang Meysa ucapkan membuat Clarissa kembali berpikir. Soal Meysa berjanji pada Putra untuk tidak menyakitinya. Perjanjian apa yang mereka buat sampai Meysa yang keras kepala itu mau menurut.
Pintu diketuk membuat Clarissa tersadar dari lamunannya. Pasti Erlangga telah bosan menunggu. "Sebentar." Membuat Clarissa bergegas menyelesaikan urusan membersihkan diri lalu pergi keluar, melihat Erlangga yang duduk dipembatas dinding. Mereka berada ditoilet lantai atas.
"Sorry lama."
Erlangga tidak menjawab, melihat Clarissa sudah dalam urusannya, dia langsung turun lalu pergi meninggalkan Clarissa dengan langkah yang cukup pelan. Clarissa hanya memperhatikan dan dia agak kaget ketika Erlangga menatapnya, mungkin meminta Clarissa untuk ikut pergi juga dari sana.
Mereka berpisah saat memasuki area lapangan sekolah, Clarissa juga sudah dihampiri oleh Mira, membuat Clarissa lupa mengucapkan terima kasih pada Erlangga.
"Clarissa, kamu kemana aja sih? ya ampun aku cari-cari juga."
Clarissa ditarik menuju lapangan dengan sebuah garis memanjang. Berdiri dengan beberapa pasang yang kakinya sudah terikat sebuah tali.
"Sudah mau mulai jalan santainya?"
"Iya," kepala Mira menoleh kesana kemari, "duh Azka mana sih?" Mira sempat menyenggol beberapa teman sekelasnya yang lewat dan menanyakan soal Azka, anak bandel dikelasnya itu.
"Kenapa nyari Azka?"
"Dia pasangan jalan santai kamu Ca."
Clarissa membelalak kaget, dia tidak tahu kalau jalan santai ini dipasangkan oleh Azka. Tapi sepertinya Azka tidak muncul dan malah hadir Putra diantara mereka, please, jangan biarkan Putra yang menggantikan Azka untuk menjadi pasangan jalan santai Clarissa, kelas mereka akan benar-benar kalah jika Clarissa berpasangan dengan laki-laki itu.
"Eh Putra..."
"Kenapa Mir?"
"Ini, Azka seharusnya jadi pasangan Clarissa untuk jalan santai, tapi malah gak kelihatan."
Mendadak tangan Putra mengelus puncak kepala Clarissa membuat semua yang melihat kearah sana menatap kaget, serta ikut terbawa perasaan, dan ada juga yang melihat tidak suka. "Pengen deh gantiin Azka, tapikan gue panitia."
Clarissa melepaskan tangan Putra dari atas kepalanya. Dia sedang tidak nyaman.
"Terus gimana nih."
"Gantiin yang lain aja."
__ADS_1
"Kan udah pada dapet bagian lomba lainnya." Jawab Mira.
Putra memutar kepala, mencari beberapa teman dekatnya yang senggang. "Kita cari dari kelas lain aja lah ya Mir? gak usah diburu menang juga."
"Iyalah, seenggaknya kelas kita harus ikut semua lomba yang diadain." Kepala Mira juga ikut mencari sosok yang dia kenal, barangkali bisa dimintai tolong.
Clarissa tidak berniat mencari siapa yang dia mintai tolong, dadanya terus berdetak, Putra didepannya dan memainkan salah satu jarinya tanpa sadar mungkin. Clarissa ingin pingsan tapi ini bukan waktu yang tepat.
"RIINNN...." Putra berteriak melihat Rinda diantara beberapa siswi yang menempel padanya. Tangan Putra dilambaikan untuk laki-laki itu mendekat.
Rinda setengah berlari menghampiri lapangan. "Kenapa Put?"
"Gantiin Azka buat jadi pasangan jalan santai, Ica."
Rinda melangkah mundur. Dia menatap Clarissa lalu mengalihkan tatapannya. "Gak ahh, lo aja."
"Gue panitia bego."
"Erlangga aja tuhh..." Dagunya terangkat saat Erlangga terlihat keluar dari gedung laboratorium. Clarissa melihat kearah sana juga, matanya menatap ke atas roftop gedung laboratorium, jadi diroftop itu mereka bertemu, kira-kira apa yang mereka bicarakan? dia tidak dapat menebak karena Erlangga tidak pernah merubah ekspresinya, mau marah, senang, ataupun sedih.
"Gak," jawab Putra. "Lo aja yang senggang."
"Lah, gue ikut jalan santai juga."
Mira melihat daftar peserta dan dia mengangguk. "Iya, ada nama Rinda sama Yuanita dari kelas IPS satu."
"Nah kan?"
"ERLANGGAAAA...." Teriakan Putra membuat Erlangga menoleh, Erlangga yang baru saja masuk kedalam arena lapangan langsung berlari menghampiri mereka.
"Kenapa?"
"Lo ikut tanding basket kan?"
"Hemm..."
"Gantiin Azka bentar jadi pasangan jalan santai Ica."
Erlangga menatap Clarissa lalu menatap Putra lagi. "Lo?"
"Gue panitia."
"Lo?" menatap Rinda.
"Gue ikut lomba ini juga." Sembari menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"Daze?"
Putra menepuk bahu Erlangga. "Jangan tanya, dia pasti lagi nempelin Marisa, gak usah tanya Noel, dia pasti juga lagi mojok sama Delisa."
"Tinggal tersisa lo." Rinda memotong.
"Yaudah,"
Erlangga mengambil posisi disamping Clarissa dan menerima tali pita dari Marisa, laki-laki itu langsung berjongkok dan mengikat antara kaki kirinya dan kaki kanan milik Clarissa.
"Rangkul Ica boleh kan Put?" Rinda bertanya disela mereka melihat Erlangga sedang mengikat talinya.
"Hemm...." Tanggapan Putra datar, dia tersenyum manis pada Clarissa saat Erlangga berdiri. "Semangat Ica, jangan ngebut-ngebut ya, kan jalan santai. Thank you dude."
"Hem..." Jawab Erlangga saat Putra menepuk bahunya lalu pergi menuju stand panitia.
...πΌπΌπΌ...
Sorak semakin kencang ketika lomba jalan santai diadakan, Rinda dan Erlangga saling bersaing, membuat Clarissa dan Yuanita sebagai pasangan mereka kewalahan mengimbangi. Wajah kedua laki-laki itu tidak seperti sedang bersenang-senang, mereka lebih terlihat benar-benar serius dalam melakukan perlombaan ini. Rangkulan Erlangga mengencang pada bahu Clarissa, membuat perempuan mungil itu sesekali menahan sakit. Clarissa tidak berani protes, dia tetap berjalan dengan tertatih berusaha mengimbangi langkah Erlangga yang lebar.
Troootttttt!!!!!!!
Suara terompet berbunyi, Clarissa berjingkrak senang karena menjadi juara pertama. Dia tidak melihat bagaimana keadaan Yuanita yang sempat terseret Rinda karena ingin mengejar dirinya dan Erlangga tadi. Senyumnya mengembang, dia tidak pernah mengikuti perlombaan disekolah barang sekalipun, ini adalah kali pertamanya dan malah mendapatkan juara pertama.
Clarissa menatap Erlangga lekat, laki-laki itu sedang menunduk melepaskan tali yang mengikat kaki mereka berdua, Erlangga juga membersihkan bekas pijakan yang tidak laki-laki itu sengaja injak dipermukaan sepatu milik Clarisaa.
Tali terlepas diikuti Erlangga yang tersungkur jatuh, semua orang terkejut dan ada yang berteriak karena kaget. Erlangga sempat berdiri dan hendak melawan tapi dia terdiam, apalagi orang yang memberikan bogem mentah secara mendadak padanya sudah mencekram kerahnya.
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ
GUYS GUYS GUYSSS....
HAHAH, AKU SUDAH BELI EARPHONE.
SEPERTINYA AKU MULAI SEMANGAT DAN MALAH MELEBIHI TARGET UNTUK POST SETIAP HARINYA.
SELAGI SEMPAT AKU BAKAL TERUS MENULIS, KARENA SEPERTINYA BEBERAPA HARI KEDEPAN MUNGKIN SAMPAI SEMINGGU LEBIH AKU BAKAL OFF ATAU AKU BAKAL UPDATE SELAGI SEMPAT.
SOALNYA AKU HARUS LEMBURR...
SEMANGAT UNTUK KALIAN SEMUA.
SEHAT TERUS YA.
LOVE YOU ALL ππ
__ADS_1