
...πΌπΌπΌ...
"Lo sengaja apa gimana sih Ca?"
Clarissa berdiri, menghentikan aksi Kanya untuk bergerak bolak-balik, dia juga sempat memijit kepalanya karena pusing. "Enggak, gue mana tahu kalau Vila ini punya kakeknya Putra."
"Bohong banget lo. Capek gue, sampai kapan sih lo itu mau ngejer dia? gak capek lo, udah gak maju tapi ngintilin dia kemanapun." Ucapnya menusuk.
Clarissa menahan napasnya. "Sumpah Nyak, gue sama sekali gak tahu soal pemilik Vila ini. Kalaupun gue tahu ya mending gue cari Vila lain aja."
"Halah halah..."
"Nyak udah dong." Delisa berdiri, dia menatap mata Clarissa yang sudah berkaca-kaca. "Sesuka apapun Ica sama Putra, dia gak mungkin hancurin acaramya sendiri buat sama temen-temen. Lagiankan dia udah ngomong kalau dia gak tahu soal ini. Gak mungkin dong Ica bohong sama kita."
"Rasa percaya lo sama gue udah mulai hilang ya Nyak, padahal sekalipun gue gak pernah berniat bohong sama lo."
Kanya berdecih. "Gak pernah berniat? jadi kesempatan bohong lo itu ngalir gitu aja, iya?"
"Gue gak pernah bohong sama lo Nyak?" Clarissa menghapus air matanya yang keluar, jika beradu argument dengan seseorang apalagi dengan Kanya, dia memang sangat tidak bisa untuk menahan air matanya.
"Ya udah. CEPET LO JUJUR SOAL SWEATER ITU SAMA GUE." Kalimat terkahirnya meninggi, "gak berani kan lo."
"Kenapa sih sama sweater itu? lagi-lagi lo bahas itu."
"Ngalihin topik kan lo?"
"Nyak udah dong." Vina ikut menahan bahunya agar tetap tenang. "Please, kalian jangan berantem."
"Gue udah jujurkan sama lo."
"Halah halah, bacoot loh."
Air mata Clarissa jatuh lagi. "Terus gue harus cerita gitu sama lo tentang pemilik sweater yang gue gak tahu siapa tiba-tiba nyium gue?"
Ekspresi emosi Kanya berubah, Vina dan Delisa juga ikut terdiam mendengar kalimat Clarissa diselingi isak tangis.
"Gue malu.." Air matanya terus jatuh, padahal dia sudah berulang menghapusnya. "Malu Nyak, gue ngerasa cewek gampangan banget diem aja waktu ada cowok yang gak gue kenal dan gak gue tahu wajahnya tiba-tiba bawa gue jauh dari kerumunan terus asma gue kambuh yang inhaler gue gak tahu dimana. Mendadak dia deketin gue terus ngasih napas yang malah kearah lain, bahkan sweater dia gue bawa."
"Ica.." Delisa menghampiri Clarissa. "Udah cukup ya, lo gak gampangan kok, mungkin kami gak paham posisi lo saat itu. Udah ya," Delisa menenangkan dengan menghapus air mata Clarissa.
"Del," Clarissa menatap Delisa dengan mata berkaca-kaca. "Sumpah gue gak tahu soal ini Vila punya kakeknya Putra, sejak kejadian cowok asing itu rasa suka gue ke Putra tiba-tiba memudar. Walaupun sesekali gue berharap cowok asing itu dia, tapi rasanya mungkin mustahil. Maka dari itu gue selalu berusaha menghindari Putra, dan mungkin kali ini kebetulan yang gak disengaja nyokap gue aja."
"Iya Ica, gue percaya sama lo kok." Delisa mengelus bahu Clarissa.
"Gue aja sampai gak kepikiran lagi soal give dari Nick Folio dan Album terbaru Bad Omens, gue dari kemaren nyari tahu siapa yang nemuin give itu bukan mau barangnya, tapi gue mau orangnya." Masih dengan sesenggukan dia mengatakan semuanya, semua yang ada pada otaknya. Seharusnya liburan ini menjadi liburan yang menyenangkan bukan?
__ADS_1
Sekali lagi Delisa mengelus dengan lembut, mengangguk setiap kata yang Clarissa lontarkan. "Iya iya Ca, gue percaya sama lo. Sekarang, lo masuk kamar ya, istirahat sebentar sebelum kita jalan-jalan nyusuri danau dibawah."
Clarissa mengangguk, dia berjalan menaiki tangga tanpa melihat para sahabatnya.
Delisa menghampiri Kanya. "Gue gak tahu Nyak, lo sebenernya tahu soal sweater itu atau enggak? tapi udah dong, Ica kelihatan tertekan banget lo sudutin kayak gitu."
"Capek aja, dia selalu nyembunyiin masalahnya sendiri."
"Ya mungkin Ica belom siap cerita aja sama lo." Timpal Vina karena sejak tadi dia hanya menyimak.
Kanya melirik Vina. "Gue tahu dia suka sama Putra aja gue sendiri yang cari tahu, bukan dia yang bilang Vin. Jadi ya kalau gak disudutin kayak tadi mana dia jujur sih."
Kanya duduk, dia menatap keluar dinding kaca tempat mereka berada. Otaknya mencoba mencerna. "Ica memang gak pernah bisa jujur sama perasaannya. Dia seperti terlahir tanpa perasaan, diam, simpan, tidak peka."
"Sebagai sahabatnya Clarissa, sebagai orang yang mengerti sifatnya dia, seharusnya lo yang lebih peka Nyak. Lo harus bener-bener pahami dia, tapi akhir-akhir ini lo kelihatan malah sering emosian sama dia, sering bentak dia bahkan sempat nyudutin dia."
"Iya Nyak. Kenapa sih lo?" Vina kembali bersuara, perubahan emosi Kanya lebih naik akhir-akhir ini.
Kanya menggeleng kecil. "Gak apa-apa, gue cuma ngerasa harus didik dia lebih keras lagi, biar kalau gue gak ada dia udah bisa jaga diri sama jaga perasaannya. Dia sama sekali gak kenal emosi."
"Mau matii lo?"
"Vin.." Delisa melotot. "Sembarangan."
...πΌπΌπΌ...
"Tidur." Vina turun dari lantai atas. Kanya tidak berani memastikan keadaan Clarissa karena takut akan berdebat lagi. "Kasian, tidur masih sesenggukan gitu."
"Gue keluar dulu."
"Mau kemana?" Delisa menaruh novelnya. "Ikut Nyak,"
"Lo mau ikut juga Vin?"
Vina menggeleng kecil. "Gak deh, gue disini aja, takut kalau Ica bangun malah gak ada orang disini."
Kanya mengangguk, dia keluar Vila diikuti Delisa. Menapaki jalan lurus dan menuju sebuah Vila lainnya. Sebelum mengetuk, Ia menghembuskan napasnya kuat-kuat.
"Ehh Nyakk!!!!" Delisa menahan kepalan tangan Kanya saat mengetuk pintu Vila berkali-kali dengan kuat dan terburu-buru, "lo mau robohin ini pintu apa gimana sih?"
Pintu terbuka.
"Eh sayang." Noel muncul dari balik pintu, dia melebarkan senyumnya ketika melihat Delisa dan Kanya berdiri didepan pintu Vila mereka.
Delisa tersenyum kikuk, dia tidak tahu kalau ini adalah pintu Vila kekasihnya.
"Ada apa?" Delisa tidak menjawab, matanya beralih pada Kanya. "Kenapa?"
__ADS_1
"Panggil Rinda keluar."
"Kita lagi main game nih, gabung yuk." Kepalanya melongok kebelakang. "Clarissa sama Vina mana?"
"Suruh dia keluar sekarang."
"Ada apa sih? kok lo kayak marah gitu."
"Bego banget sih." Geram. Kanya mendorong pintu dan membuat Noel tersentak kebelakang. Perempuan itu menerobos masuk dan langsung berlari mencari tempat dimana mereka berkumpul.
Putra, Rinda dan Erlangga menatap kearahnya.
"Sini lo bangsat."
Dahi mereka sama-sama berkerut. Putra berdiri, menghapus coretan diwajahnya karena kalah dalam bermain. "Bangsat yang mana nih?"
"Bacot lo." Kanya menatap Rinda. "Ikut gue."
Rinda menatap bingung, dia juga melihat kearah Putra yang diam dan Erlangga yang mengangkat bahunya. Dia bergerak kiku dan mengikuti langkah Kanya.
Mereka berjalan menyusuri danau, berhenti pada pahon besar yang rindang. Kanya berbalik, bersidekap menatap Rinda. Tatapan Rinda masih menatap kebingungan tapi tidak berani bertanya karena ekspresi Kanya terlalu mengerikan.
"Minta maaf sama Ica."
"Ke-kenapa...."
"Lo budek? Gue bilang minta maaf sama dia,"
"Kenapa gue harus minta maaf?"
Kanya tersenyum tipis. "Lo bangs*t bener ya."
"Maksud lo apaan sih?"
PLAK....
"What the..... Hell..." Rinda melebarkan matanya, mengelus pipi bekas tamparan Kanya. "Apa-apaan sih lo, anj. Gilaa lo main tampar aja."
"Lo yang gila." Kanya maju, mencengkram kerah Rinda kuat dengan mata menyala. "Banci lo. Kalau lo emang suka sama Ica, maju bukannya malah buat dia binggung."
Rinda menelan salivanya. "Gue...."
"Clarissa emang gak pernah perduli sama sekitarnya, tapi gue tahu sweater siapa yang ada dikamarnya. Bahkan gue, Vina atau Delisa buat nyentuh aja gak boleh." Kanya melepaskan cengkramannya. "Dia tadi nangis kalau dia bimbang sama perasaannya itu, gak ada yang gak tahu kalau Ica suka sama Putra. Tapi semenjak ada kejadian sweater itu dia jadi semakin bimbang sama perasaannya dan otaknya terus berharap kalau pemilik sweater itu si Putra."
Kaki Rinda bergetar melangkah mundur.
"Kalau lo gak berani sama Putra karena punya poin lebih di perasaannya Clarissa, setidaknya jelasin sama Clarissa apa yang terjadi."
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ