
"DORRR!!!!?!?!"
Seluruh pengunjung menoleh kesumber suara, perempuan manis dengan seragam SMA yang mengenakan rok diatas lutut berbalut blezer berwarna merah. Senyumnya mengembang sempurna, menatap laki-laki tinggi berkemeja flannel merah kombinasi abu-abu, ekspresi laki-laki itu datar seperti menyesal sudah masuk kedalam Cafe ini.
"Aku mau pesen itu juga," ucapnya tanpa memperdulikan ekspresi aneh laki-laki didepannya.
Seakan tuli, dia pergi dari bar tanpa mengindahkan permintaan perempuan dibelakangnya. Dia berjalan mencari tempat untuknya duduk, mengeluarkan laptop dari dalam tas serta kertas-kertas yang menumpuk. Ekspresi wajahnya masih datar, semakin datar ketika perempuan yang dia temui dibar Cafe mendadak duduk dihadapannya. Dari puluhan meja kenapa harus dimejanya?
"Ngerjain tugas ya?"
Laki-laki itu tetap membungkam mulutnya rapat-rapat, menjawab pertanyaannya atau sampai memulai obrolan akan membuat perempuan itu melunjak dan akan berharap lebih padanya.
"Inget gak minggu depan aku ulang tahun," perempuan itu mengeluarkan sebuah amplop berwarna hitam kombinasi abu-abu dari dalam tasnya, menaruh amplop itu didekat gelas ice coffe miliknya. "Datang ya, gak ramai kok, masih seperti dulu beberapa teman dekat aja."
"Sibuk."
"Oh, gak apa-apa kok." Menggeleng kecil. "Kamu datang sebisa kamu juga gak apa-apa, pintu rumah aku terbuka untukmu."
Perempuan itu langsung mendongak ketika laki-laki dihadapannya berdiri, memasukkan seluruh peralatan yang baru dia keluarkan dari dalam tas. Tatapannya masih meneliti setiap gerakan laki-laki didepannya, dia tahu bahwa laki-laki itu tidak nyaman berada didekatnya. Tapi demi dekat dengannya ia akan melakukan apapun.
"Sudah mau pergi? padahal baru buka laptop."
"Jangan ganggu."
"Bintang..." Perempuan itu berdiri, mencoba menghentikan langkah Bintang yang ingin pergi jauh. "Kartu undanganku enggak kamu bawa."
Bintang menatap kartu undangan yang ada pada genggaman perempuan itu yang disodorkan kepadanya. Malas. Tapi dia harus mengambilnya sebelum perempuan itu mengejarnya terus menerus. Bintang meraih dengan kasar lalu keluar Cafe dengan langkah terburu-buru, membawa ice coffe yang memang dia minta untuk dimasukkan kedalam Cup.
Berjalan cukup jauh, Bintang melihat kekiri dan kekanan, tangannya berulang kali melambaikan mencari taksi untuk dia tumpangi. Bahunya ditepuk, membuatnya menoleh lalu menghela napas kesal.
"Aku bilang, jangan ganggu."
"Cuma penasaran aja kok kamu mau naik taksi? kemana mobil kamu?" tanyanya, lalu melihat kekiri kekanan mencari jejak mobil Bintang yang mungkin saja laki-laki itu lupa dimana memarkirkannya. "Kamu....."
Bintang berjalan menjauh, membuat perempuan itu menghentikan kalimatnya. Tidak pantang menyerah, dia mengejar Bintang dengan berlari kecil.
"Bintang tunggu...."
"APA SIH!!?!?!" Dia setengah berteriak, membuat pejalan kali lainnya menoleh kaget. Nafasnya dia atur kembali untuk menenangkan diri. "Meysa please, what do you want?"
__ADS_1
"Biarkan aku mengantarmu pulang," keras kepalanya lebih besar dari kerasnya teriakan Bintang tadi.
"Jangan perdulikan aku."
"Kemanapun." Meraih lengan kemeja Bintang. "Please, biarkan aku mengantarmu kemanapun."
...πΌπΌπΌ...
Semoga saja, Bintang menerima ajakan Meysa untuk diantarkan pulang tidak membuat Meysa menaruh harapan padanya. Dia tidak akan menyetir, membiarkan Meysa mengemudi dengan bibir yang terus mengembangkan senyuman termanisnya tanpa menatap Bintang. Perjalan tidak terlalu jauh, hanya kemacetan ibu kota yang membuat mereka berjam-jam didalam mobil. Tidak ada percakapan. Meysa ingin, tapi Bintang terlihat menjauh dari tatapannya.
Meysa menghentikan mobilnya tepat didepan pagar rumah Bintang, dia menoleh namun Bintang sudah membuka sabuk pengaman dan pintunya.
"Bintang tunggu...."
"Apa lagi sih..." Melihat Meysa, perempuan itu masih manis seperti dulu saat mereka saling menyukai. Tatapan Bintang beralih kearah lain, dia tidak ingin melunak hanya menatap mata sayu itu. "Makasih.."
Meysa tersenyum puas, "sama-sama, tapi sepertinya aku gak bisa mampir soalnya aku mau ke Rumah Sakit nemuin papa."
"Gak ada yang minta kamu buat mampir."
"Kamu gak mau nemuin papaku?" tanyanya tanpa memperdulikan kalimat pedas lagi dari Bintang.
"Gak minat,"
"Mey please." Bintang melihat Meysa dengan tatapan kasihan. "Aku tahu papa kamu gak mungkin cari aku, papa kamu itu...."
"Aku kangen sama kamu,," Bintang terdiam.
"Kak Bintang,,"
Keduanya menoleh, melihat kearah Clarissa dan Putra yang berdiri tidak jauh dari mereka. Melihat adiknya berjalan perlahan membuat Bintang menggeser badan untuk memberi jarak pada Meysa.
"Put.." Sapa Bintang yang diberikan lambaian tangan kecil oleh Putra. "Kakak masuk dulu,,"
Meysa cemberut melihat kepergian Bintang, lalu tatapan tajamnya dia berikan pada Clarissa yang langsung ditutupi oleh Putra secepat mungkin hingga Meysa tidak dapat melihat diri perempuan kecil itu dibalik tubuh tinggi Putra.
Clarissa mundur selangkah ketika tubuh Meysa mengabrukkan diri memeluk Putra erat, dia melihat jari-jari Meysa tertawa menatapnya dengan mengacungkan jari tengah padanya.
"Kamu kok disini baby??"
__ADS_1
Putra tampak berusaha melepaskan pelukan itu namun tidak dapat terlepas karena Meysa sudah menguncinya sangat erat. "Lepas Mey..."
"Kok pulang sama cebol?"
"Clarissa." Ucap Putra memperingatkan tentang nama Clarissa.
"Kenapa bisa pulang sama dia?"
"Mey lepas..."
"Put, thank you udah dianterin pulang. Gue masuk duluan." Clarissa berlari tanpa menoleh kepada keduanya, dia tahu kalau Meysa tidak akan dapat bersatu dengan Putra. Namun melihat itu membuatnya berpikir seribu kali bahwa bisa saja mereka bersatu jika terus bersama, bertemu dan saling berinteraksi dekat. Apa lagi Putra selalu memberikan sisi lain kepada Meysa diluar lingkungan sekolah, seperti saat dia melihat Meysa bertekuk lutut dihadapan Gio Adietama.
Meysa melepaskan pelukannya lalu tertawa mengejek melihat Putra. "Puas?"
"Ya dong, aku udah diacuhin sama Bintang, seenggaknya kamu juga harus diacuhkan sama Clarissa."
"Up to you,"
Putra berbalik dan masuk kedalam mobil mamanya, melewati Meysa yang masih berdiri menatap kepergiannya. Perempuan itu tersenyum tipis lalu melambaikan tangannya kelantai atas dirumah Clarissa, melihat Bintang yang tengah mengintip dari balik gorden. Mendapat respon Bintang dengan menutup kembali gorden dengan kasar membuat Meysa berjalan masuk kedalam mobil dan meninggalkan kediaman rumah mantan pacarnya itu.
...πΌπΌπΌ...
"Mobil kakak dimana?"
"Bengkel."
"Kenapa enggak naik taksi?"
Bintang mendongak, menghentikan aksi makannya setelah Clarissa dengan baik memperhatikannya makan. "Jangan pernah berpikir kakak jalan sama dia tadi dan minta diantarkan pulang."
"Ica gak mikir gitu."
"Gak sengaja ketemu dan terpaksa ikut sama dia." Bintang menghela napasnya pelan, meneguk air putih dingin lalu kembali menatap adiknya. "Tidak pernah sedikitpun kakak berniat kembali sama dia, kamu tahu kan kalau kakak akan jadi ayah sebentar lagi, gak mungkin kakak nyakitin Raisa yang sedang mengandung anak kakak."
"Siapa yang tahu,"
"Dek."
Clarissa berdiri meninggalkan Bintang yang mematung, menghilangkan mood makan laki-kaki itu. Clarissa memang tidak seharusnya bersikap seperti itu, mau kakaknya bersama siapa bukanlah urusannya. Tapi kenapa? kenapa harus Meysa, sepertinya perempuan itu telah merebut seluruhnya, merebut Bintang dan merebut Putra. Seperti wanita jahat itu, yang sudah merebut papanya.
__ADS_1
Kekesalannya memuncak ketika mengingat semua yang sudah menyakiti dirinya.
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ