
...ALHAMDULILLAH, KERJA UDAH SELESAI. SEMOGA BISA KEMBALI UPDATE SETIAP HARINYA π...
...MAAF YA, TYPO BERTERBANGAN DISINI....
...πΌπΌπΌ...
Pertengkaran antara Putra dan Erlangga masih tetap bertahan hingga acara lomba antar kelas di SMA Gemilang Cahaya berakhir mereka tetap masih tidak menegur. Masih belum ada yang paham kenapa Putra semarah itu saat tahu Meysa sudah dicelakai oleh Erlangga, padahal semua orang tahu jika orang yang berani menyakiti Clarissa tanpa pandang bulu dia akan tetap menghajar, tapi Putra kali ini bukanlah Putra yang biasanya. Apalagi, Erlangga yang terlihat enggan sedari dulu soal masalah seperti ini, sekarang tampak lebih sering menunjukkan sisi dia yang lainnya.
Sudah diadakan pertemuan antara keduanya dikediaman Adietama, bahkan Daze, Noel, Rinda datang sebagai saksi. Namun, Putra terlihat malas berbaikan berbeda dengan Erlangga yang terus mengucapkan kata menyesal sudah ikut campur pada urusan Putra.
Seluruh murid SMA Gemilang Cahaya berkumpul dilapangan seperti biasanya, mereka sedang memberikan pengumuman tentang juara lomba yang diadakan beberapa hari yang lalu. Kelas dua belas IPA satu mendapatkan juara umum satu karena mendapatkan poin lebih banyak dari kelas lain, dan juara umum dua diraih oleh kelas sepuluh IPS satu, lalu juara umum tiga diraih oleh kelas sepuluh IPA tiga. Daze maju mewakili kelasnya untuk menerima hadiah.
Setelah selesai membagikan hadiah dan menyebutkan juara untuk semua kelas dengan hadiah kecil berbeda dengan yang didapat oleh juara umum satu, dua dan tiga. Kepala sekolah maju dan meminta waktu untuk memberikan pengumuman penting bagi seluruh siswa, soal juara dan nilai mereka diujian tengah semester serta pengumuman mengenai libur sekolah. Seluruh siswa bubar dan masuk kedalam kelas masing-masing.
"Duhh deg-degan gue nilai berapa, dapet juara enggak." Ucap Vina sembari merangkul lengan Clarissa.
"Kalau gue yang penting nilai diatas rata-rata aja, gak perduli soal juara. Palingan juga Clarissa sama Putra yang saingan soal juara." Delisa menimpali.
"Bener banget tuh," Daze ikut menimpali. "Yang penting tuntas semua dehh."
Tidak menanggapi ucapan mereka, Kanya menyikut lengan Clarissa. "Fix nih kita liburan."
Clarissa mengangguk. "Kunci sudah ditangan gue."
"Asikk..." Delisa dan Vina bersorak bersamaan. Ini yang mereka tunggu-tunggu dari lama.
"Sayang aku ikutt yaa..." Noel tiba-tiba merangkul Delisa dengan manja. Mengguncang pelan hingga membuat sekeliling mereka merasa kesal bercampur iri.
Delisa melepaskan rangkulan itu dan melotot tajam. "Please deh baby, kan aku udah bilang, ini khusus perempuan. Kamu kan laki-laki."
"Iihh, lama gak? nanti aku kangen." Ucap Noel lagi.
Rinda berekspresi muntah. "Please deh No, lo anjir, geli banget lihat lo kayak gitu."
Noel hanya menjulurkan lidahnya.
"Arnold, lo kan bisa liburan besoknya, gue cuma bawa Delisa dua atau tiga hari aja kok."
Noel menggeleng. "Clarissa, tolong panggil gue Noel aja, kenapa lo selalu manggil nama lengkap sih."
"Enak aja, Arnold, Arnold, Arnold." Ucap Clarissa berulang membuat Noel menutup kedua telinganya.
__ADS_1
Clarissa terkekeh.
"Trauma Ca, panggilan itu yang sering mantannya panggil." Ucap Delisa dengan nada tidak senang.
"Iyakah?" Kanya ikut menimbrung.
"Iya." Daze yang menjawab. "Mantan waktu....."
"Heh..." Noel meninggikan suaranya. "Bubar, waktunya bagi rapot."
Laki-laki itu melesat jauh, dia tidak suka jika membicarakan soal dirinya dan masa lalunya. Delisa hanya tertawa melihat kekasihnya sudah lari menuju kelas, Rinda langsung menyusul Noel setelah melambaikan tangan kearah teman-teman yang dia akan tinggal.
...πΌπΌπΌ...
Kelas cukup tenang, wali kelas membagikan rapot beserta juara dengan damai tanpa beliau perlu berteriak. "Selamat siang anak-anak."
"Siang buu...." Sorak mereka bersamaan.
"Okey, ibu akan bacakan nama sesuai juara yang didapat dari urutan palinga bawah. Jangan berkecil hati, jadikan sebagai pelajaran untuk kalian tetap semangat meraih kemenangan." Ucap wali kelas dengan sangat ramah dan pelan. Selama dibacakannya urutan juara dan mereka maju satu persatu, ada yang merasa kecewa, dan ada juga yang merasa santai karena sudah biasa mendapatkan peringkat bawah. Peringkat satu masih dipegang oleh Putra, peringkat dua masih diraih oleh Clarissa, dan peringkat tiga diambil alih oleh Edo.
Mereka semua bertepuk tangan memeriahkan peringkat ketiganya.
"Selamat ya Ca?" Edo menyalami Clarissa dan perempuan itu tanggapi.
"Em, selamat juga buat kamu Ed."
Lalu mereka berpisah untuk kembali duduk ditempat masing-masing.
"Selamat untuk juara satu, dua dan tiga. Untuk yang juara terakhir, semangat yaa.." Wali kelas mengangkat tangannya untuk menyemangati. "Untuk pengumuman liburnya, kalian bisa masuk senin depan ya. Gunakan liburan sebaik mungkin, sampai bertemu semester depan."
"Yey.... Selamat berlibur buu..." Sorak mereka bersamaan lagi.
"Yuk Ca," Vina memasukkan rapotnya kedalam tas.
"Gue ke toilet dulu," Kanya dan Delisa sama-sama menatapnya. "Toilet sebelah kelas IPA 2." Dia tahu, teman-temannya masih khawatir soal kejadian kemarin saat dia terkunci didalam toilet.
...πΌπΌπΌ...
Toilet sepi. Dalam hatinya berdoa agar kejadian kemarin tidak terjadi lagi. Sampai dia selesai dalam urusannya, beruntung tidak terjadi apapun. Clarissa dengan langkah cepat langsung keluar dan kakinya berhenti saat Putra berdiri tepat dihadapannya.
"Ke-kenapa?"
Putra tersenyum. "Pulang sama siapa Ca? bareng yuk?"
__ADS_1
"Sama Vina,"
"Kok gue ngerasa lo semakin jauh ya?"
"E-enggak, perasaan lo aja kali."
"Kita jadi jarang ngobrol bahkan pulang bareng." Datar, tapi terdengar kecewa. "Padahal gue seneng banget kalau ketemu sama lo. Tapi kayaknya lo gak pernah seneng kalau ketemu gue ya?"
Clarissa mendongak menatap Putra. Ini pertama kalinya dia dapat bertahan menatap mata laki-laki yang dia sukai tanpa beralih. "Apaan sih Put? bukannya emang dari awal gue sama lo gak pernah deket ya? selama ini kan deket karena gue tinggal dirumah lo aja."
"Jadi,,,"
Mata Clarissa menurun, menatap sebuah tangan yang tiba-tiba memeluk Putra dari belakang. Tidak. Kenapa mata Clarissa memanas, dia paham itu tangan siapa.
"Lepas...." Ucap Putra pelan, tapi tidak ditanggapi. Putra menatap Clarissa. "Ca, dia mau ngomong sesuatu sama lo, dia takut makanya gue.."
"Aku gak takut..." Potongnya.
Putra tersenyum lagi pada Clarissa. "Lo tahu kan? Kanya, Vina, sama Delisa selalu ada disekitar lo dan dalam mindset mereka dia itu selalu jahatin lo. Makanya gue temenin,"
"Gak ada yang perlu diomongin lagi. Gue udah okey kok." Clarissa menunduk, dia dapat melihat eratnya pelukan itu tanpa memperlihatkan wajah pemiliknya. "Gue duluan ya..."
"Ca,," masih dalam pelukan, Putra meraih tangan Clarissa memintanya untuk tidak pergi. "Sebentar aja."
Clarissa bersitatap dengan perempuan yang memeluk Putra dari belakangan dengan posesif, wajahnya tampak seperti biasa. Tanpa rasa bersalah.
"Jadi gini," melepaskan pelukannya. "Gue beneran berniat nolongin lo kok, sama sekali gak ada niatan gue buat jahatin lo lagi. Gue udah janji sama Putra untuk gak ganggu lo, tapi selagi inget sih, cuma yang kemarin emang gue beneran gak ikut camour soal itu."
"Gak apa-apa, lupain aja."
Perempuan itu tersenyum sumringah. "Gak apa-apa? jadi gue boleh gangguin lo?"
"Mey....." Putra menegur pelan, yang ditegur hanya tertawa kecil lalu kembali menatap Clarissa.
"Jadi gimana?"
Clarissa menunduk, otaknya berputar mengingat tadi tidak sengaja melihat garis merah panjang oada leher Meysa. Apa itu bekas cekikan? "Gue maafin. Permisi."
Clarissa berlari meninggalkan lorong toilet dan berlari menghampiri Vina. Ia langsung meraih tangan Vina untuk segera pergi dari area sekolah.
"Kenapa Ca?"
"Laper."
__ADS_1
Matanya masih memerah, siapa yang menghindari siapa? padahal perubahan Putra yang mendadak lebih sering terlihat terbuka terhadap Meysa yang membuatnya ingin menjauh. Putra terlihat sudah membuka diri pada Meysa, atau pada akhirnya mereka menembus dinding pembatas yang seharusnya tidak mereka lewati?
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ