
Siang ini, Bintang bersama semua rekan kerjanya makan bersama direstoran yang cukup terkenal. Pak Rahmat mentraktir semua staf karena kantor mereka sedang berada dipuncak penjualan tertinggi, pak Rahmat berulang kali membanggakan ketiga anak magang karena telah membantu banyak.
"Saya sangat bangga kali ini, para anak magang dapat diandalkan dengan baik." Ucap pak Rahmat bangga sembari menepuk salah satu anak magangnya. "Ayo, semua makan."
Teriakan pak Rahmat menguasai ruangan yang dia pesan khusus sebelum berangkat kesini. Ruangan yang hanya terdiri satu meja panjang dengan banyak kursi. Namanya juga restoran mahal, pasti sudah ada tempat khusus untuk para tamunya yang ingin memiliki privasi.
Setelah makan selesai, mereka kembali lagi ke perusahaan karena pekerjaan selanjutnya telah menunggu. Disepanjang lobi, pak Rahmat bercerita dengan semangat, pria itu memang suka sekali bercerita dengan nada tinggi dan bersemangat, beberapa staf menanggapi dengan semangat pula dan ada juga yang hanya mengangguk-angguk, dan ada juga yang hanya diam, Bintang contohnya.
Bintang berjalan paling belakang, tanpa ingin ikut menimbrung, dia lupa caranya berbasa-basi. Pak Rahmat dan lainnya mendadak menunduk pada salah satu pria paruh baya yang berdiri tegap. Bintang berjalan melewati saja, yang langsung membuat pak Rahmat beserta teman satu kantornya, dan staf perusahaan lainnya memandang kaget.
"Tidak ingin menyapa..." Ucap pria itu,
Bintang yang sudah berjalan cukup jauh menghentikan langkahnya, dia menatap semua teman kantornya yang berdiri mematung, dan menatap pria yang berdiri tidak jauh dari teman-teman dan atasannya. Bintang membungkuk pada pria yang langsung berjalan mendekatinya, Bintang kembali mengangkat punggung menatap pria itu dengan datar. "Maaf...."
Darmo tersenyum tipis, "kenapa cara menyapamu seperti itu?"
"Maaf, tidak melihat anda." Pak Rahmat meremas lengan salah satu stafnya yang berdiri tidak jauh darinya. Tatapan Bintang menakutkan, lalu kenapa dia berani pada pria penguasa perusahaan. Bintang melihat kearah pak Rahmat dan lainnya. "Ayo pak, katanya kita ada pekerjaan lain?"
Darmo menatap pak Rahmat, yang langsung membuat pak Rahmat kembali menelan saliva takut-takut. Wajar Darmo kesal menatapnya, belum pernah Bintang menatap dirinya seperti menatap pak Rahmat, sejak fakta terungkap.
"Ee...." Jangankan staf ataupun teman magangnya, pak Rahmat sebagai atasan saja tidak berani bergerak dari tempatnya.
"Belum pernah saya lihat kamu tersenyum seperti itu pada saya." Semua tau yang dimaksud oleh sang penguasa, senyum Bintang pada pak Rahmat.
Bintang menatap Darmo lagi dengan tatapan datarnya. "Kenapa saya harus melakukan itu?"
Darmo kembali menatapnya, kali ini tatapannya tajam. Beberapa pegawai perusahan berhenti, penasaran pada apa yang terjadi dengan pemilik perusahaan dengan anak magang.
"Pak...." Darmo mengangkat tangannya ketika suara sekertarisnya memanggil lirih. Darmo masih menatap Bintang.
"Kenapa kamu harus melakukan itu?" Tanya Darmo, mengulangi pertanyaan Bintang. "Apa harus ada alasannya untuk kamu melakukan itu?"
"Ya." Bintang meluruskan posisinya untuk lurus melihat Darmo. "Pak Rahmat atasan saya, jadi saya harus hormat padanya....."
"BINTAAAAANGGGGG!!!!!!!!" Darmo tidak tahan. Dia berteriak sangat kencang, kali ini semua staf perusahaan mengalihkan perhatian mereka hanya untuk pemilik perusahaan dengan anak muda yang berpakaian celana dasar hitam dan kemeja putih, khas anak magang. Napas Darmo naik turun menatap Bintang, yang ditatap hanya santai dengan kembali menatap menantang. "Bisa turunkan egomu?"
"For what?"
Astaga Bintang. Pak Rahmat dan yang lainnya saling memandang takut, tidak tau apa yang terjadi pada Bintang hingga berani menatap nyalang pada pemilik tahta tertinggi diperusahaan yang mereka pijaki ini. Tidak ada yang tidak tau siapa Darmo? semua orang menunduk saat pria blasteran itu berjalan, tidak ada yang berani menyela atau menatap matanya langsung.
"Pakde...." Pak Rofi datang, berlari diikuti sekertaris dan dua bodyguardnya. CEO mereka saja sudah mengganti panggilan sopannya dengan panggilan keluarga. "Sudah ya, semua staf melihat."
Darmo menepis tangan Rofi yang hendak meraihnya. Dia menatap marah pada Rofi dan kembali menatap Bintang marah. "Hentikan sikap menyebalkanmu, Bintang."
"Keluargamulah yang menyebalkan."
"Bintaanggg...." Bintang menatap pak Rahmat yang memanggilnya lirih, pria itu tampak frustasi karena sikapnya. Pak Rahmat berbisik. "Minta maaf,"
__ADS_1
"Tidak perlu pak Rahmat," Bintang berjalan kearah atasan dan teman satu kantornya. "Ayo, kita kembali ke kantor."
"Urusanmu denganku belum selesai Bintang,"
"Apa lagi sih,,," Bintang menatap jengah, dia menarik tangannya dari genggaman pak Rahmat yang memintanya untuk berhenti dari sikapnya yang tidak biasanya ini. "Kan sudah saya bilang, tidak ada apapun yang perlu dibicarakan."
"Kamu masih keras kepala."
"Kalau iya kenapa?" Bintang menantang, pak Rofi bahkan sudah mendekatinya, memintanya untuk meminta maaf saja agar selesai. Bintang melepaskan tangan pak Rofi dari lengannya secara perlahan. "Cuma cara menyapa saja dipermasalahkan."
"AKU PAPAMU BINTAANG!!! Begitu caramu menghormatiku?"
DARR. Semua mata membelalak kaget, Bintang menggeram menatap Darmo marah. Bintang sudah menebak kalau semua staf perusahaan dari atasan, senior, junior bahkan anak magang dari kantor lain sedang menatap kaget kearah mereka. "Aku bukan anakmu."
"Pakde, sudah, tidak baik didengar semua staf."
"Lalu aku harus bagaimana Rofi? membiarkan putraku bersikap seperti itu padaku?"
"Aku bukan putramu," elak Bintang lagi. Bintang kembali menghampiri pak Rahmat dan menarik tangannya. "Ayo pak, naik keatas,"
Dengan gemetar pak Rahmat melepaskan tangannya. "Bintang,,,,"
Bintang menatap seniornya, "mas, mba, ayo kembali ke kantor..."
Tidak ada yang menanggapinya, semua teman satu kantor menjadi segan saat tangannya meraih mereka untuk dia ajak kembali naik menuju kantor mereka. Bintang kembali menatap marah pada Darmo. "Terus saja buat hidupku tidak nyaman...."
"Kamu harus tau posisimu,"
"Batalkan saja kontrak magangmu."
"Dengan membayar denda 1M?" Bintang kembali menatap Darmo.
"Sekali lagi saya peringatkan padamu Bintang, kamu harus tau posisimu disini. Berhenti menjadi anak magang....."
"Shut the hell up," Bintang merubah dirinya menjadi pembangkang. "Siapa yang mau berada dineraka ini?"
"Terima kenyataanmu, ini perusahaanmu."
"Tidak sudi," Bintang berjalan melewati semuanya.
"Berani pergi dari sini akan aku hancurkan hidupmu, Bintang." Terlihat pak Rofi menutup matanya, mengusap wajahnya gusar. Dia melirik sekertarinya dan memberikan kode pada kepercayaannya itu.
Bintang berbalik, dia tidak perduli jika saat ini masih menjadi pusat perhatian. "Setelah menghancurkanku dengan membuat mamaku tiada, sekarang apa? anda mau membuat papaku tiada?"
"AKU PAPAMU BINTAAANGGG!!!!" Beberapa tersentak kaget saat suara Darmo menggelegar lobi perusahaan. Pria itu berjalan mendekati Bintang dengan menepuk dadanya kuat, menahan kepedihan. "Aku papamu, aku papamu, aku papamu. Tidakkah kamu paham."
Bintang melebarkan matanya saat Darmo berdiri tepat dihadapannya. "Papaku Doni,"
__ADS_1
"PAPAAA!!!!!!!!"
Darmo menggeram kuat, berbalik melihat Gio yang berdiri didekat sekumpul teman sekantor Bintang. "Astaga, berapa kali Gio bilang jangan ganggu Bintang,"
"Diam kamu Gio, kamu tidak tau."
"Gio tau, paa, Gio tau...." Gio menggeleng kuat. "Bukan ini waktunya, sikap papa seperti ini akan membuat Bintang semakin membenci papa,"
"Dia tidak bisa membenci takdir Tuhan."
"Pa.." Gio berjalan mendekat, berdiri didekat Rofi yang tampak frustasi. "Bintang menyukai pekerjaannya, Bintang suka teman-teman kantornya, sikap papa sekarang membuat Bintang tidak bisa lagi merasakan kebahagiaannya."
"Akan aku beri kebahagiaan lainnya."
"Papa tidak tau seberapa bahagianya dia berada dikantornya."
"Itulah sebabnya aku tidak ingin dia berada disana." Darmo berjalan mendekari Gio. "Dia tersenyum pada Rahmat."
"Karena pak Rahmat atasannya."
"Then, what about me?" Darmo menepuk dadanya. "Aku papanya."
Gio tidak bergerak. "Hentikan pa, kebahagiaan Bintang bisa hilang karena papa."
"Aku bilang, aku akan memberikan kebahagiaan lainnya padanya."
Gio menggeleng. "Kebahagiaan yang papa berikan tidak akan membuat Bintang bahagia." Darmo terdiam, dia masih menatap Gio kesal. "Siapa yang menyuruh papa kembali? Gio sudah bilang akan membicarakan semua ini secara baik-baik dengan Bintang dan Dokter Doni."
Disela perdebatan antara Gio dan Darmo, ponsel Bintang berdering, membuatnya membuka dan mengangkat panggilan itu. Matanya melebar, dia berjalan melewati semua pejabat tertinggi diperusahaan tanpa rasa hormat untuk menghampiri pak Rahmat. "Pak, saya izin sebentar."
"Ee... Ya Bintang, ada apa?"
"Ada masalah," Bintang berlari kecang. Meninggalkan kerunyaman perusahaan dengan orang-orang yang menatapnya dengan berbeda. Sial. Semua karena Darmo.
"BINTAAANGGGG... HEIII...."
"Pa..." Gio menahan papanya kuat, dia menatap sekertaris Darmo. "Bawa bapak naik ke ruangannya."
Gio menatap Rofi, membuat Rofi paham dengan tatapan itu. Saat Darmo sudah masuk kedalam lift, Rofi masih memegang kuasa, dia menatap seluruh staf disekelilingnya, terlebih pada kantor yang dipegang oleh pak Rahmat. "Semua kembali bekerja, jangan bergosip apapun. Untuk kantor pemasaran ekspor-impor, tetap bekerja seperti biasa saat Bintang datang. Jangan sungkan atau segan padanya setelah tau siapa dia, tetap menjadi atasan, senior dan teman magangnya yang biasa."
Semuanya mengangguk paham.
"Pak Rahmat..." Pak Rahmat menghentikan langkahnya, membuat seluruh staf ikut berhenti, menatap Gio yang memanggil. Gio tersenyum tipis. "Terima kasih sudah membuat Bintang senang berada dikantor anda."
"S-sama-sama pak." Pak Rahmat berucap gugup.
Hal ini tidak bisa ditutup begitu saja, meskipun sudah dilarang untuk tidak bergosip, siapa juga yang akan mengikuti perintah itu. Semua kembali bekerja dengan bergosip mengenai Bintang, meskipun anak magang, perawakan Bintang memang terlihat berwibawa. Tidak ada yang menyangka jika Bintang adalah anak terakhir Darmo, si pemilik nama pertama yang memegang saham tertinggi diperusahaan ini. Itu berarti Bintang adalah penguasa selanjutnya setelah pak Rofi berhenti seperti kabar beritanya.
__ADS_1
Bagi yang pernah memarahi Bintang karena tidak tau caranya memfotocopy sedang menangis dipojok ruangan. Dengan seribu kalimat penenang dari teman-temannya, jika dia tau Bintang adalah anak dari pemilik perusahaan, dia tidak akan memarahi Bintang karena masalah sepele. Untuk yang pernah membentak Bintang karena tidak sengaja menyenggolnya, sedang merutuki kebodohan, seharusnya dia tidak boleh angkuh pada siapapun mentang-mentang dia adalah staf tetap. Dan untuk salah satu petinggi yang pernah protes pada pak Rofi karena mengajak anak magang makan siang bersama, kabarnya sedang izin cuti karena ketakutan.
💜💜💜💜💜💜💜 BERSAMBUNG 💜💜💜💜💜💜💜