Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
01:27


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Ujian berlangsung dengan tenang, meskipun perasaan salah satunya sedang diaduk, dia tetap tenang mengerjakan setiap lembar ujian. Clarissa menghela napasnya ketika tidak sengaja pikirannya terlintas Putra, laki-laki itu tidak menghubunginya, bahkan tidak datang mengikuti ujian. Clarissa dengar, Putra mengerjakan ujian akhir semester secara online.


Teng.... Teng.....


Waktu sudah berakhir, para murid dipersilahkan keluar setelah menata rapi lembar soal dan lembar jawaban.


"Gimana? bisa???" Kanya mengangguk, menatap Edo yang merapikan poninya, Kanya baru memotong poni minggu kemarin, Clarissa sebagai hair style. "Kantin?"


"Boleh." Kanya menatap Clarissa, perempuan itu sudah sibuk memainkan ponselnya dibawah pohon rindang bersama beberapa teman sekelasnya. Mereka duduk dimeja bundar dengan bangku semen. "Sebentar, aku ajak Ica."


Kanya berjalan menghampiri Clarissa. "Ca, kantin?"


Clarissa menggeleng, melihat sahabatnya sudah memegang tumpukan kertas dan dikelilingi beberapa teman membuat Kanya paham, Clarissa sudah biasa menjadi tahanan anak-anak kelas jika ujian berakhir, seperti menjelaskan bagaimana cara penyelesaian rumus ujian mereka tadi, mereka cocokkan dengan milik mereka masing-masing. Clarissa memang pendiam dan tidak bisa bersosialisai, tapi dia banyak disukai teman-teman sekelasnya.


Clarissa hanya melambaikan tangannya saat Kanya pergi, berlari kecil meraih tangan Edo yang mengulur padanya. Clarissa tersenyum tipis, hubungan Kanya dan Edo sangat menggemaskan.


"Jadi Ca, cara lo sama gue beda, tapi jawaban kita sama."


Clarissa menatap sebentar. "Ya gakpapa, kan yang dinilai jawabannya, yang penting besok lo kalau ngerjain soal semacam ini, pakai rumus yang gue kasih."


Sekitar lima orang disekeliling Clarissa beserta dirinya mendongak, melihat seorang laki-laki berdiri didekat mereka. Laki-laki itu menyodorkan bungkus plastik, matanya menatap ponsel disatu tangannya tanpa melihat kearah Clarissa saat memberikan bungkus plastik tersebut. Saat Clarissa menerimanya, dia langsung pergi tanpa mengatakan apapun. Teman-teman yang duduk didekat Clarissa turut melongok ketika Clarissa membuka bukus plastiknya.


Susu kotak rasa Oreo dan roti isi selai cokelat.


"Semua temen Putra baik semua sama lo ya Ca??" Ucap Ririn yang duduk tepat disebelahnya. "Apa lagi Erlangga, sering banget nganterin kamu ini."


Clarissa menoleh. "Kok tau,"


"Aku pernah lihat Erlangga masukin plastik ke laci meja kamu, awalnya aku gak tau isinya apa tapi sewaktu kamu buka aku baru tau apa itu." Clarissa menatap datar, berarti selama ini Erlangga menuruti semua perintah Putra, pantas saja laki-laki itu membencinya karena ia menjadi beban untuknya. Clarissa menatap punggung tinggi Erlangga yang masih berjalan dengan menatap layar ponsel.


...🌼🌼🌼...

__ADS_1


"Pulang sama siapa Ca?" Rinda berdiri didekatnya, bel pulang sudah selesai, ujian hari ini sudah berlalu. Kanya meminta maaf karena tidak bisa pulang bersamanya karena sahabatnya itu berangkat bersama Edo.


Dan tadi, Clarissa diantarkan oleh Bintang.


Mendengar pertanyaan Rinda, Clarissa menggeleng. Dia tidak tau akan pulang bersama siapa, ponselnya mati dan tidak bisa memesan taxi online. Sedangkan ketiga temannya sudah pergi, lalu dia ingin meminta tolong siapa?


Tapi, dia menatap Rinda dan membuat laki-laki itu menatapnya bingung.


"Boleh minta tolong pesankan taxi online, hp gue mati." Ungkapnya pada Rinda, sahabat Putra itu pasti dengan suka rela membantunya.


Mereka berjalan beriringan menuju gerbang, "bareng gue aja ya? gue dijemput papa kok."


"Gak usah."


"Gak apa-apa, please yaa..." Rinda tampak memohon, sejak malam itu dengan kondisi mengenaskan mereka, Rinda hanya memberi pesan singkat menanyakan keadaannya dan menelpon sekali tapi tidak ada yang Clarissa tanggapi. Mereka bertemu lagi dihari ini, saat ujian berlangsung, dan Rinda bersikap biasa saja.


Rinda melambaikan tangannya pada sosok pria gagah yang bersandar dimobil. "Papa...."


Pria gagah yang masih mengenakan seragam kerjanya tersenyum sembari melambaikan tangannya. Clarissa menatap keren pada papa Rinda, seorang perwira tinggi, tapi dia terlihat ramah dan sangat menyayangi putra satu-satunya, Clarissa dengar mama Rinda telah meninggal ketika Rinda berumur lima tahun, katanya sakit, tapi sepertinya sampai saat ini pria itu tidak berminat untuk menikah lagi.


"Halo om," sapa Clarissa.


"Hallo sayang," mengusap pipi Clarissa bekas cubitannya. Padahal Clarissa tidak merasa sakit.


Rinda membuka pintu mobil dan menaruh tasnya. "Pa, anter Ica sekalian ya?"


"Siap bos." Memberi hormat pada Rinda, dan mengelus puncak kepala Clarissa. "Yuk masuk."


"Hei Bram...." Suara besar terdengar berteriak tidak jauh dari mereka. "Mau kamu bawa kemana menantuku."


Bramantio menggeleng pelan, menatap sinis pada pria yang tidak kalah gagah darinya. Mengenakan celana dasar berwarna hitam dan kemeja biru muda. "Haduh, janur kuning belum melengkung sudah melabeli segala." Bramantio mendesah kesal, dia menahan Clarissa agar tidak berlari kearah Gio Adietama. "Biarkan putraku PDKT pada Clarissa dong."


"PDKT PDKT, husss..." Mengibas tangan Bramantio yang bertengger dibahu Clarissa. "Enak saja, this girl is mine."


Clarissa terkekeh, masih seperti pertama kali ia dijemput oleh Gio, saat dia menginap dikediaman Adietama. Gio dan Bramantio berdebat untuk memilikinya saat itu. Dan kini terjadi lagi.

__ADS_1


"Anak sama bapak sama saja, tidak mau mengalah." Ucapan Bramantio bernada bercanda, tapi Clarissa merasa ada kata sindiran disana.


Gio malah terkekeh saja. "Tidak mau mengalah? kamu tidak tau saja kalau kami selalu mengalah."


Bramantio hanya mengangguk, entahlah, terkadang keluarga Adietama bersikap seakan-akan mereka ingin menguasai segala hal bahkan hal sepele sekalipun. Namun terkadang mereka juga mampu mengalah dalam hal yang lebih besar.


"Kamu mau pulang bersama mereka?" Clarissa mengangguk. "Jangan, om merasa ada firasat buruk jika kamu bersama mereka."


"Jaga bicara anda Adietama."


"Berisik sekali Agatha." Gio menatap Clarissa lagi yang ada pada rangkulannya. "Mereka berdua berbahaya, kamu sebaiknya pulang bersama om."


Clarissa mengangguk. "Siapa saja Ica ikut om,"


Clarissa melambaikan tangannya pada Rinda yang langsung dibalas oleh Rinda, tatapan laki-laki itu membuat Clarissa mengerut bingung sebelum dia berjalan mengikuti Gio.


Masih dengan keadaan bingung, Clarissa duduk disamping kemudi, dengan Gio sebagai supirnya. Mobil sudah mulai berjalan, Rinda dan papanya masih berdiri diluar sembari melambaikan tangan kearahnya. Tidak paham dengan ekspresi Rinda, Clarissa membuang wajah menatap Gio. Dia ikut saja ketika Gio mengajaknya untuk makan siang bersama tanpa siapapun. Anita sedang sibuk dengan teman-teman arisan minggu pertamanya, dan Putra, masih berada di Amerika Serikat.


"Putra sudah menghubungimu?"


"Belum."


"Yah, om tau kalian sedang ada masalah."


"Om tau?"


Gio mengangguk, "Putra tidak menjelaskan rincinya, tapi om menghargai pemikiranmu, terkadang Putra memang selalu menyimpan semuanya sendirian. Om hanya berharap hubungan kalian baik-baik saja."


Clarissa tidak menjawab, dia masih berharap ada sesuatu yang dapat membuat hubungannya membaik. Tapi Clarissa masih kesal karena Putra tidak memberikan penjelasan rinci, dan itu pertama kalinya dia mendengar keluhan Putra karena pertanyaannya. Clarissa tidak salah jika ingin mencampuri urusan Putra pergi bersama siapa dan kemana, benarkan? Clarissa memang tipe anak yang tidak perduli, tapi setidaknya dia ingin menjadi perhatian dengan menanyakan kegiatan Putra. Apa lagi, kegiatan laki-laki itu membuat janjinya kepada Clarissa batal.


Gio melirik kearahnya, mungkin dapat memahami jika saat ini Clarissa sedang memikirkan tentang hubungannya.


"Kamu mau makan junkfood?" tanya Gio, membuat Clarissa melupakan sejenak pikirannya. Clarissa mengangguk, Gio langsung memutar kemudi dan mencari restoran yang dia inginkan.


Sebaiknya dia lupakan pikiran mengenai Putra. Terlalu lelah jika memikirkan sesuatu yang sudah pasti dia akan mengalah akhirnya.

__ADS_1


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2