
...MEYSA ADELIA...
...πΌπΌπΌ...
"Bintang apa kabar?"
"Kenapa enggak tanya sendiri?" Perempuan di dekatnya itu tersenyum tipis. "Padahal tinggal samperin, tuh lagi sendiri."
"Enggak berani."
"Kenapa?"
"Cebol," Meysa memiringkan tubuhnya. "Gue masih ngerasa kalau gara-gara gue, Bintang enggak sempet nemenin Tante Dinda di saat terakhirnya."
"Kak Bintang gak temenin mama juga karena dia lagi main basket, kemungkinan kalau lo gak minta dia buat temenin lo bisa aja kak Bintang gak tau soal mama." Meysa hanya menunduk. "Kak Bintang kalau lagi main basket suka gak perduliin ponselnya, tapi mungkin karena telepon lo makanya dia langsung berangkat dari tempat."
Mereka berdua sama-sama menatap ke arah Bintang, laki-laki itu menunduk menatap sepatu luncurnya dan hanya menghela napas lalu menatap ke arah lain lalu kembali menatap ke bawah. "Kak Bintang lagi pusing soal posisi dia."
"Soal dia anak kakek Darmo?" Clarissa mengangguk. "Gue turut gak nyangka sih."
"Semuanya juga kaget, bahkan mama memendan rahasia itu sampai dia meninggal."
Meysa menatap Bintang lagi, laki-laki itu merubah dirinya semakin dingin. Dia berdiri membuat Clarissa mendongak melihatnya. "Lo gak bosen cuma jalan-jalan di sini aja."
"Ini rute terakhir kami, sebentar lagi pulang."
"Jalan sama gue yuk, ke mana gitu?"
"Hah?" Mulut Clarissa menganga, yang benar saja, Meysa sang ratu pertama di sekolah, yang selalu membuat hari-harinya sulit telah mengajaknya pergi, bersama?? "Yang bener aja."
"Kenapa? gue lagi pusing juga nih."
"Harus izin sama bokap gue dulu."
"Gak susah kalau itu," kepalanya melongok mencari keberadaan Doni. "Nah itu calon mertua gue. Yuk ke sana,"
"Hah? Apa? calon mertua? sejak kapan?"
"Lo gak mau punya kakak ipar kayak gue."
"Gak mau ah!!" tolaknya mendadak.
Meysa terkekeh lalu dia mencubit pipi Clarissa. "Dih, belom di coba udah main tolak aja lo."
"Jangan berharap tinggi sama kak Bintang." Dia berdiri lalu berjalan perlahan diikuti Meysa. "Dia udah mau nikah."
"Lo udah pernah ketemu sama pacar kakak lo?"
Clarissa menggeleng. "Mama sama papa aja, papapun sekilas gak bicara banyak, kalau mama iya karena selalu nemenin check-up kandungan. Mungkin bakal gue yang gantiin mama nanti."
__ADS_1
"Lo beneran belum pernah ketemu? fotonya?"
Clarissa menggeleng lagi.
"Gue saranin ya sama lo, sebelum semuanya terlambat, ketemu dulu deh sama calon kakak ipar lo itu."
"Terlambat?"
Meysa mengangguk. "Nanti kalau lo berubah pikiran, lo bisa temuin gue, gue siap kok jadi kakak ipar lo."
Ekspresi Clarissa menahan tawanya. "Lo tahu kan kalau kak Raisa itu lagi hamil?"
"Gak mungkin gue gak tahu."
"Kok lo nekat?"
"Halah, cuma hamil doang? sudah nikah aja gue masih bisa nekat kalau Bintang kasih kesempatan."
Clarissa menghentikan langkahnya. "Meysa, lo gak bercanda sama omongan lo kan? jangan, jangan jadi seperti Clara."
"Clara? siapa itu?" Tanyanya saat ikut menghentikan langkah, selangkah di depan Clarissa.
"Selingkuhan papa?"
"Oh, jadi j*lang itu namanya Clara?"
Meysa ikut melanjutkan langkahnya mengikuti Clarissa, dia akhirnya tahu siapa penyebab papanya meninggal. Clara. Mereka berjalan menuju Doni yang tengah mengantre untuk memesan minuman. "Pokoknya jangan ganggu rumah tangga siapapun."
"Ehh," Doni tampak berpikir. "Meysa bukan? Putrinya Jeri?"
"Iya, benar."
"Wah... Kamu di sini bersama siapa?" tanyanya sembari menoleh mencari sosok Jeri atau istrinya.
"Sendiri Om, ketemu ceb.........Clarissa," sial, dia lupa mama asli teman satu sekolahnya yang sering dia bully. "Om masih mau jalan-jalan kemana?"
"Rute terakhir, sudah mau pulang nih."
"Boleh pinjam Clarissa, ada film yang mau kami tonton."
"Eih, Ica tidak bilang kalau kalian dekat? lagi pula kenapa tidak bilang juga kalau kamu mau main dengan Meysa?" Doni menanyakan hal beruntun pada putrinya yang tidak bisa menjawab. "Ya sudah sana pergi, pulang naik apa?"
"Mey bawa mobil kok Om."
"Oh, itu bagus, Clarissa di ajarkan naik mobil tidak mau, makanya dia suka nebeng dengan Kanya."
Meysa tersenyum, "serahkan pada Mey. Nanti Mey antar Clarissa pulang dengan selamat."
"Om percaya, kamu anak baik. Ya sudah papa mau samperin kak Bintang dulu, mau ajak dia pulang." Doni berjalan menjauh sembari melambaikan tangannya pada Clarissa. "Have fun ya sayang. Telepon papa kalau ada apa-apa."
...πΌπΌπΌ...
__ADS_1
Depan kelas dua belas IPA satu telah ramai, Meysa berdiri sendiri di hadapan lima siswi lainnya, dua di antara mereka adalah sahabat dekatnya, Tias dan Jesika. Mulut keduanya saling memburu mencerca Meysa yang sendirian di ikuti tiga siswi lainnya yang hanya mengangguk atau menjawab 'iya' jika Tias dan Jesika menatap mereka.
"Lo mulai aneh Mey."
"Gue gak ngerasa gitu, kalian bisa pergi gak sih? sebentar lagi bel masuk."
Jesika berdecak. "Lo sudah perduli soal itu? biasanya bodo amat kan? selesaikan pembicaraan kita dulu baru kami pergi."
"Apa lagi yang mau di jelasin sih?" Meysa tampak jengah, tapi kelompok dadakan ini tidak dapat dia hindari. "Kan udah jelas, gue emang pergi tapi gak bisa sama kalian."
Putra datang di ikuti Erlangga, tangan kekar Putra meminta kelimanya untuk minggir. "Ini lagi ada apaan sih? pagi-pagi udah teriak-teriak sampai parkiran."
"Diem dulu deh, Putra. Kita lagi ada urusan sama Meysa."
Putra bersandar di pintu, dia bersidekap menatap Tias. "Kayaknya lo perlu tahu deh, kalau ada apa-apa sama Meysa bakal berurusan sama gue."
Tias turut bersidekap menatap Putra. "Sejak kapan lo perduli sama Meysa?"
"Sejak dia masuk ke sekolah ini dan bergaul sama kalian." Kalimat itu membuat Tias menurunkan tangannya. "Jangan kira gue gak tahu, pergi sana, pusing gue lihat kalian pagi-pagi." Ucap Putra lalu pergi dari hadapannya, Erlangga yang masih berdiri di sana juga langsung ikut masuk karena Putra tidak lagi menghalangi jalannya.
"Jawab jujur kenapa lo harus pergi hangout sama cebol?"
Tidak hanya bagi yang terdekat terkejut mendengar pertanyaan Jesika. Tapi seluruh teman sekelas mereka yang sudah hadir ikut terkejut.
"Jawab Mey pertanyaan Jesika."
"Bukan urusan kalian." Meysa berbalik tapi gagal karena Jesika menariknya sampai dia meringis kesakitan. "Lepas Jess."
"Lo gila ya, gue ada, Tias juga ada, kenapa lo harus pergi sama cebol yang selalu lo bully itu."
"Yang bully dia itu kalian bukan GUE!?!?! yang terus memprovokasi gue buat jahatin cebol ya kalian!?!?" Meysa menahan amarahnya. "Kalian ngerasa gak sih? selama kita jalan-jalan bareng yang menikmati kesenangannya itu ya kalian, gue enggak!!"
"Terus maksud lo, lo ngerasa bahagia waktu jalan-jalan sama dia??"
Meysa menarik lengannya jari genggaman kuat Jesika. "Kalau iya kenapa?"
"Jangan bego Mey, dia itu manfaatin lo aja!!" Tias ikut meninggikan suaranya.
"Gue gak bego-bego banget Yas, kalian juga manfaatin kartu kredit gue kan? setiap hangout di mall juga semua gue yang bayar, bahkan shopping kalian gue yang bayar!!!" Meysa mengusap air matanya yang jatuh. "Sedangkan kemarin gue ajak dia nonton aja, dia yang bayar.."
"Itu cuma basa-basi dia aja!!!!" Tias berteriak kesal.
"Jadi lo gak ikhlas shopping bareng kita?" Jesika ikut menimpali.
"Salah gue ngomong sama kalian berdua, kalian emang gak punya perasaan."
"MEY!!!" Tias berteriak keras lagi. Kali ini teriakannya mengundang simpati dari kelas lain dan bahkan dari siswa atau siswi yang tidak sengaja lewat. "Mikir, kita yang selalu ada buat lo. Cuma ditemenin nonton sama di bayarin aja lo seneng banget anj*ng, lebay banget."
"Selalu ada?" Meysa menunduk, dia mengangguk sebelum kembali mendongak menatap keduanya dengan tatapan tajam. "Bokap gue meninggal ada gak yang dateng? kalian ngucapin belasungkawa aja gak ada, apa gue harus jelasin sekali lagi sewaktu bokap gue operasi apa kalian ada di samping gue. Temen gue itu cuma Rosita, gara-gara lo berdua dia menjauh dari gue, *****."
"Brengs*k lo!!?" Tias mendorong Meysa hingga terjatuh. "Masih juga lo ungkit soal itu, gak tahu diri banget lo jadi orang. Lo pikir gue mau temenan sama sikap sok baik lo itu, najiss."
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG ππππππππ