
Anita menatap lurus kepada wanita yang tengah duduk santai didepan ruangan VVIP milik Dinda. Senyumnya ia simpulkan tipis, dan langkahnya kembali bergerak menuju wanita itu. Ia berdiri tepat dihadapannya, membuat wanita itu mendongak dan melebarkan mata. Kemudian berdiri, setengah gemetar wanita itu menatap Anita sombong.
"Apa kabar?" tanya Anita lebih dulu. Ia tidak suka jika ikut bergaya sombong.
"Baik." Jawab wanita itu singkat.
Anita bersidekap setelah menaruh satu rambutnya yang menjuntai didepan kebelakang. "Aku tidak menyangka bahwa kamu setidaktahu malu seperti ini."
"Aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun disini." Angkuhnya.
Anita mengangguk. "Tidak masalah, toh aku juga tidak ingin berbicara dengan wanita penghancur rumah tangga orang."
Wanita itu terbelalak, kemudian tersenyum tipis. Dia mengikuti gaya bersidekap Anita diatas perutnya yang sudah membesar. "Apalagi aku, siapa yang ingin berbicara dengan wanita yang meninggalkan suami dan anaknya demi pria yang lebih kaya."
Anita tidak tampak terkejut, dia hanya tersenyum dan tidak menanggapi kalimat wanita itu. Dia bergerak maju dan mengelus perut besar wanita itu hingga membuat wanita itu tersentak kaget. "Sudah berapa bulan?"
Wanita itu menghempaskan tangan Anita secara kasar. "Jangan sentuh, tanganmu itu beracun."
"Tapi tidak seberacun rayuanmu, Clara." Anita tersenyum tipis lagi. "Apa Dokter Doni tahu tentang kebenarannya?"
"Tutup mulutmu Anita?" Clara menatapnya tajam. "Jangan sampai aku menyebarkan kebenaran tentang anak kandungmu itu."
"Sebarkan saja, toh suamiku sudah tahu keberadaan anakku, bahkan dia dengan sangat baik membantu mantan suamiku untuk tetap hidup."
"Tidak tahu malu."
"Sedang membicarakan diri sendiri ya?" Anita tertawa kecil. "Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan punya muka untuk duduk santai didepan ruangan wanita yang suaminya kamu ambil."
"Aku sama kamu itu sama busuknya, Anita." Dia tertawa. "Cuma jalannya saja yang berbeda."
Anita mengalihkan pandangannya, dia berjalan mengganti posisi tepat didepan pintu ruang inap Dinda. Tangannya dia taruh pada handle pintu dan berekspresi kaget saat pintu itu terbuka. "Eh, Dokter Doni, kaget saya."
Clara tersenyum tipis, Anita sedang berakting.
"Dokter Anita. Mau jenguk Dinda? sudah lama diluar?" tanya
"Iya Dokter. Saya baru saja sampai. Sehabis periksa Dokter Dinda yaa?"
Doni mengangguk, dia mempersilahkan Anita untuk masuk dan berjalan keluar menghampiri kekasihnya lalu mereka pergi.
...πΌπΌπΌ...
"Bagaimana keadaanmu Dokter Dinda?"
"Ya ampun mba." Dinda tersenyum tipis. "Kenapa repot-repot kemari sih?"
"Sekalian." Menaruh papper bag diatas nakas. "Mau kami ganti Dokternya?"
"Sudahlah mba, biarkan saja. Itung-itung membantuku atas penyesalannya." Dinda memperhatikan Anita duduk didekatnya. "Selesai memeriksaku, dia terus mengatakan maaf. Aku merasa, kalau dia bersikap kasar saat bersama wanita itu saja. Tapi jika mereka tidak bersama, Doni akan memberikan perlakuan yang lainnya."
__ADS_1
Anita meraih tangan Dinda dan tersenyum tipis. "Yang kuat ya, kamu harus tetap semangat demi Bintang dan Clarissa."
Dinda mengangguk. "Maaf, kalau aku harus merepotkan mba lagi."
"Sebetulnya aku lebih suka Clarissa tinggal dirumah, jadi lebih leluasa untuk menjaganya. Tapi, Clarissa bilang, dia menyukai rumahnya." Dinda tertawa menanggapi ceritanya. "Anehkan jawabannya? apa dia tidak mau ikut papanya."
"Jangan ditanya. Kemarin menjawab pertanyaan papanya saja perlu meminta izin Bintang. Padahal aku sama sekali tidak memberikan batasan kepada mereka untuk berbicara pada papanya." Dinda menatap langit-langit ruangan. "Tapi mungkin, mereka sudah paham apa itu sakit, dan apa itu kecewa."
...πΌπΌπΌ...
Clarissa mengeluarkan seluruh perlengkapan untuk mamanya selama dirumah sakit dari dalam mobil dibantu oleh Bintang. Jarang sekali mereka terlihat bersama, setidaknya ini dijadikan momen yang berharga. Bintang membawa beberapa tas pada satu tangannya dan tangan lainnya menggenggam tangan Clarissa, mengajaknya untuk masuk bersama setelah menutup bagasi mobil.
"Gagal liburan deh."
"Anya sama yang lainnya tetep kok kak, besok pas hari terakhir aja Ica kesana lagi." Senyumnya tipis. "Soalnya liburan kesana emang dikhususkan untuk Anya, karena Ica janji buat ajak dia liburan sewaktu Ica bisa dapetin tiket VIP dikonser Bad Omens."
Bintang mengangguk. "Toh, anak itu emang jarang liburan kan? orang tuanya suka berantem hal-hal sepele, jadi Ica yang harus mengerti dan perhatian sama Anya."
"Iya kak."
Langkah kedua dihentikan oleh seorang perempuan yang terus saja menatap tersenyum pada Bintang.
Bintang tidak menanggapi, dia menarik Clarissa yang sudah tertunduk dalam untuk melewati saja. Melanjutkan perjalanan mereka. Namun tekat perempuan itu bulat ternyata. Dia kembali mengejar keduanya dan berjalan bersisihan didekat Bintang.
"Bintang, kemarin kamu keruangan papa aku ya?" tanyanya dengan senyum yang benar-benar indah. "Kenapa gak bilang, biar aku temenin."
"Mau mampir lagi, biar sama aku ya. Sudah lamakan kamu gak ngobrol sama papa."
Meysa kelebihan langkah, karena Bintang berhenti dan membuat Clarissa ikut berhenti. Perempuan itu berbalik, masih dengan senyum yang sangat ramah, tidak pernah Clarissa lihat sebelumnya. "Bisa kamu gak usah ngikutin."
"Aku gak ngikutin, rumah sakit ini udah seperti rumah kedua aku."
"Cari jalan lain."
"Kak...." Clarissa mengeratkan genggaman mereka, Bintang terdengar kasar.
Bintang tidak perduli dan tetap menatap tajam Meysa. "Kamu itu mengganggu, jangan pura-pura bodoh. Orang gila mana yang ngoceh sendirian sama orang yang sudah seperti mayat hidup."
"Kak....." Clarissa tidak tega, kenapa Bintang berbicara sekasar itu. Ia mencoba melihat Meysa dan perempuan itu hanya memudarkan senyum manisnya hanya beberapa menit kemudian kembali dia tampilkan.
"Ada. Orang gila itu ya aku." Tunjuknya pada dirinya sendiri. Meysa tampak menatap kebawah dan beberapa menit ia mendongak melihat Clarissa. "Salam buat tante Dinda ya, cepat sembuh, maaf gak berani nemuin beliau."
Clarissa mendengarkan itu dan melihat kepergian Meysa dengan punggung kehampaan.
"Kakak kok ngomong gitu sih?"
Bintang merasa kecewa pada dirinya, tapi ini yang perlu dilakukannya. "Kamu mau kakak bagaimana dek? kamu tahu kan, kalau lihat dia kakak masih merasa kakak harus selalu ada disampingnya. Padahal disatu sisi, kakak sudah harus benar-benar fokus sama Raisa. Mau sampai kapanpun, kakak gak akan bisa kembali sama dia, itu keputusan yang sudah dia ambil sendiri sejak awal meminta mengakhiri semuanya."
Kepergian Meysa membuat rasa sedih Bintang muncul, memang kata-katanya terlalu menyakitkan. Tapi ini yang harus dia lakukan agar bayangan Meysa tidak lagi berputar pada kepalanya.
__ADS_1
Mereka masuk kedalam ruangan mamanya setelah mengetuk pintu, dan seketika aura didalamnya mendingin karena adanya orang berpengaruh pada rumah sakit itu. Tengah duduk disofa panjang.
"Kalian sudah sampai?" tanya Dinda yang terduduk diatas ranjang, dengan tersenyum senang melihat kedatangan anak-anaknya. Walaupun wajahnya pucat sama sekali tidak meruntuhkan wajah cantiknya. "Ayo kak, sapa pak Darmo."
Bintang maju dia menunduk kecil pada pria berperawakan besar dan gagah, umurnya mungkin sudah kepala enam hampir tujuh. Tapi tidak meruntuhkan kewibawaannya dan kedermawanannya. Clarissa mengelus kedua lengannya. Darmo Sudrajat Adietama, terlihat seperti kakek-kakek yang ada pada film Mafia, tontonannya. Duduknya tenang dan tatapan matanya tajam, namun seketika runtuk ketika Bintang berjalan mendekat untuk menyapanya.
"Kemarin tidak sempat menyapa karena pak Darmo pamit saat kalian masuk, bukan?" Bintang menatap mamanya dan mengangguk. "Ica, sapa pak Darmo juga, itu kakek Putra."
Clarissa menelan ludahnya dan berjalan ragu. "Kamu Clarissa?" Clarissa tersentak ketika mendengar suara berat pria itu, benar-benar seperti kepala Mafia yang ada pada film. Clarissa mengangguk. "Kemarii..."
Sebelum menuruti Darmo, Clarissa lebih dulu melihat mamanya untuk meminta izin. Dinda mengangguk memberi izin.
Clarissa hampir mengelak ketika Darmo meraih tangannya dan memintanya untuk duduk. Bintang ikut duduk didekat mamanya.
"Jadi ini, gadis kecil yang membuat pewaris Adietama kehilangan akal?" pria itu terkekeh. "Kamu tahu Dinda, cucu tunggalku sudah hampir kehilangan akalnya. Dia selalu merengek kerumah jika menginginkan sesuatu yang berhubungan dengan Clarissa."
"Benarkah?" tanya Dinda.
"Ya, dia selalu berkata 'kakek, biarkan aku sekelas dengan Clarissa' besok datang lagi 'kakek biarkan aku ujian sekelas dengan Clarissa' besoknya datang lagi 'kakek serahkan sekolah padaku, aku mau mengurus Clarissa' benar-benar sesukanya." Darmo menggeleng. "Memangnya segampang itu, aku hanya mendirikan sekolah. Urusan selebihnya kan ada pada mamanya."
"Maaf kalau Ica suka merepotkan," ucap Clarissa dengan wajah datar. Padahal Bintang dan Dinda mendengar penjelasan itu sedang tertawa.
"Wow, tidak masalah." Darmo mengelus puncak kepala Clarissa. "Liburanmu terpaksa dihentikan ya, padahal pemandangan di Vila baguskan?"
"Um." Clarissa mengangguk. "Terima kasih sudah memberikan gratis."
"Tidak masalah." Darmo menatap Bintang. "Tinggallah dirumahku, dari pada kalian dirumah hanya berdua. Tidak ada orang dewasa."
"Ada bi Siti kok,"
Jawaban Clarissa membuat Bintang terkekeh. "Tidak apa-apa pak Darmo, saya bisa menjaga Clarissa. Kebetulan sedang libur, kami juga bisa menginap disini."
"Mau aku pesankan hotel disebelah."
"Tidak perlu."
"Tidak masalah. Aku kenal dengan pemilik hotel Vara." Jawab Darmo sembari meraih ponselnya.
"Pak, jangan.." Bintang memohon sembari mendekati pria itu. "Tidak terlalu jauh untuk pulang-pergi dari rumah ke rumah sakit."
"Kamu membesarkan kedua anakmu dengan baik, Dinda."
"Tentu."
Auranya benar-benar berbeda. Percakapan terakhir mereka membuat semuanya menjadi canggung.
"Kakek....." Putra masuk. "Kakek disini?"
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ
__ADS_1