
...πΌπΌπΌ...
Putra tau. Menatap Clarissa lama adalah hal terlarang dalam hidupnya, memandang Clarissa lebih dari lima menit mampu membuatnya gila karena ingin terus menatap perempuan mungil itu. Clarissa sendiri tidak sadar telah ditatap lama oleh Putra, dia asik memainkan game dalam tablet Putra. Mengisi suntuk karena macet yang belum kunjung selesai, entah macet karena apa, keduanya tidak benar-benar perduli.
Menghubungi Doni adalah kepentingan utama Putra, meminta izin untuk pulang terlambat karena jalanan mereka terhalang macet. Doni mengiyakan karena dia mendengar ada kasus tabrakan besar yang membuat Rumah sakit milik Gio Adietama mendadak sibuk, Doni sempat melihat, tapi sepertinya kecelakaan besar itu membuat lalu lintas macet dan akan memakan waktu yang cukup lama.
Setidaknya ini waktu untuk Putra berduaan bersama Clarissa.
Sekitar pukul empat sore Clarissa harus berangkat les musik, permintaan dari mamanya dulu, masih ada dua jam lagi dari sekarang untuk bersama, dan sekitar pukul lima, Clarissa kembali dari less. Lalu pukul delapan malam Clarissa sudah membuat janji untuk mengerjakan tugas kelompok bersama kelompoknya di sebuah Cafe. Putra ingin ikut, tapi papanya sudah mengabarinya untuk membantu masalah dirumah, Putra belum tahu apa yang sedang terjadi dirumah sekarang.
Tangannya meraih jari mungil Clarissa, responnya tidak segugup dulu, mungkin Clarissa sudah menguasai bagaimana dirinya harus bersikap pada Putra yang bukan lagi laki-laki dambaannya, melainkan kini menjadi kekasihnya. Clarissa tersenyum tipis, melepaskan pandangan matanya dari layar tablet milik Putra berganti kepada sang pemilik.
"Why??"
Tangan mungilnya ditarik oleh Putra dan ditaruh pada pipinya, dibuat dengan pola mengelus. "Ca, minggu besok date yuk? aku mau aja kamu jalan-jalan, kemana enaknya Bali, lombok,"
"Nooo.." Mungkin Putra pikir hari minggu waktu yang panjang ya? bisa seenaknya terbang ke Bali hanya dalam sehari, ya bisa saja sih, tapi tidak semudah itu. Belum lagi meminta izin pada papanya, "jangan aneh, minggu tugas kelompok sejarah loh, kelompok kamu gak sibuk ngerjain ya? kelihatan santai gitu."
"Um, lusa kami mau kerja kelompok geography dulu, kesel." Bersadar menatap Clarissa, kurikulum baru mengharuskan mereka mengerjakan tugas dalam berkelompok, sialnya, kelompok yang dibentuk pertama kali adalah kelompok yang harus mereka gunakan selama kurikulum baru digunakan. "Aku mau ubah kelompok, biar satu kelompok sama kamu."
"Dih,"
"Siapa dikelompok kamu yang suka tidak mengerjalan tugas? ganti denganku, aku akan ngerjain tugas semuanya."
Clarissa terkekeh, elusan yang Putra buat pada pipinya berganti Clarissa sendiri yang menggerak mengelus. "Kelompok kami rajin semua, memangnya ada yang berani bermalas-malasan dihadapan Erlangga,"
Putra menatap datar, dia belum pernah satu kelas dengan temannya itu. Memang yang beberapa orang bilang, Erlangga selalu serius dalam belajarnya. "Okey, dipahami, nanti malam berangkat sama Erlangga kan?"
"Dianter papa,"
"Kalau aku masih sibuk dan gak bisa jemput, biar Erlangga yang antar kamu pulang."
"Gak usah, nanti aku minta tolong papa atau kak Bintang jemput aja."
"No no no, aku gak setuju. Kak Bintang sama papa kamu pasti lelah, Ca." Mengelus punggung tangan Clarissa dengan ibu jarinya. "Biar Erlangga antar ya, atau Daze? dia satu kelompok sama kamu juga."
"Aku gak mau repotin temen kamu, Put."
"Gak mau repotin atau kamu gak mau dekat-dekat Erlangga?" Pertanyaan Putra membungkam Clarissa, masalahnya, Clarissa memang menjauhkan diri dari hal yang merepotkan. Diantarkan pulang itu sudah sangat merepotkan baginya, dan Clarissa tau kalau Erlangga adalah satu-satunya teman Putra yang benci direpotkan. Jika Daze selalu mereka baik-baik saja direpotkan, tapi tetap Clarissa selalu merasa tidak enak.
Klakson dibelakang mereka membuyarkan lamunan Clarissa, membuat Putra melepaskan tatapannya serta genggamannya untuk kembali pada kemudi sebelum pengendara dibelakangnya menyala. Clarissa belum menjawab pertanyaan Putra, mereka bahkan tidak membicarakan hal lain, Clarissa tidak melanjutkan permainan game pada tablet Putra lagi.
Sampai didepan rumahnya, Clarissa menatap Putra sebelum membuka sabuk pengaman. "Aku bukannya gak mau deket-deket sama Erlangga, tapi sepertinya aku harus jauh sama dia. Dia satu-satunta teman kamu yang tidak suka aku repotkan."
"Dia pernah ngomong gitu sama kamu?"
Entah perlu mengatakan hal ini atau tidak, Clarissa memilih tidak menjawabnya.
"It's okey kalau kamu gak mau kasih cerita ke aku, tapi Erlangga memang seperti itu. He doesn't really like things to keep him busy selain dia sendiri yang ingin melakukannya." Putra mengelus puncak kepala Clarissa, "tapi aku mohon, jangan repotkan papa sama kak Bintang ya, kalau aku bisa jemput aku akan jemput, aku gak akan minta Erlangga ataupun Daze buat antar kamu pulang. But promise me. Kalau salah satu dari mereka menawarkan tumpangan, kamu harus terima, don't refuse, you are with them I am calmer."
"O-okey." Jawab Clarissa terbata-bata.
__ADS_1
"Bukan berarti aku tidak percaya pada om Doni atau kak Bintang ya. Tapi disini aku coba pahami kelelahan mereka."
Clarissa terkekeh. "Iya. Terima kasih, even now, I still feel like dreaming has made you mine.""
...πΌπΌπΌ...
Doni gemas, dia lupa bagaimana bisa dia mendapatlan keturunan semenggemaskan ini, tangannya terus bergerak mencubit pipi Clarissa. Mereka berdiri didepan Cafe tempat Clarissa akan mengerjakan tugas kelompok. Clarissa sudah merengek karena malu jika teman-temannya melihatnya dalam posisi ini, Doni terkekeh, melepaskan kegemasannya.
"Papa lembur, sekalian jamuan makan malam bersama petinggi rumah sakit, kamu pulang sama siapa?"
Mengingat Putra melarangnya untuk mengganggu kakak ataupun papanya, Clarissa tersenyum tipis. "Kalau sempat, nanti Putra yang jemput Ica."
"Duh, ternyata tidak sia-sia ya rasa suka kamu itu dipendam selama itu, sudah terbayar." Maksud dari terbayar adalah sikap yang diberikan Putra untuknya sekarang, mungkin selama masih menyukai Putra, Clarissa selalu mendapat kesakitan-bullying-Dan Putra membalas semua rasa sakit itu menjadi kebahagiaan untuknya.
"Hallo om,"
"Eh Daze," Doni menyapa anak dari teman satu kerjanya. "Kelompok sama Clarissa??"
"Iya."
"Titip ya,"
"Siap."
Doni mengelus puncak kepala Clarissa. "Papa berangkat, semangat belajarnya, jangan pulang terlalu malam."
"Iya pa, hati-hati dijalan." Melambaikan tangannya ketika Doni melangkah menuju mobil dan melajukannya pergi, berselisihan dengan Erlangga yang datang dengan berjalan sendiri.
"Udah pada kumpul?" Tanpa basa-basi Erlangga bertanya pada Daze yang masih menunggunya, Clarissa ikut menunggu.
Ketiganya masuk kedalam cafe, Daze masuk lebih dulu dan membuat Clarissa kaget karena Erlangga membukakan pintu untuknya, menunggu Clarissa masuk lebih dulu baru laki-laki itu masuk dan menutup pintu cafe dengan pelan.
Tiga anggota kelompoknya sudah duduk dengan makanan serta minuman dihadapan mereka, tangan mereka melambai tinggi ketika melihat Erlangga, Daze serta Clarissa menghampiri meja mereka.
"Cepat sekali?" Daze menoleh kearah Clarissa, pertanyaan Clarissa sama seperti Erlangga tanpa basa-basi. Daze hanya menggeleng, untung ketiga anggota kelompok mereka paham dan langsung menjawab, mereka datang cepat karena takut pada Erlangga yang tidak suka jam karet.
Sekitar dua jam mereka selesai mengerjakan tugas kelompok mereka. Satu jam yang lalu juga Rinda bergabung bersama mereka, dia tengah duduk bersama gerombolan laki-laki dewasa, sepertinya anggota club motor, pembicaraan mereka seputar kelebihan motor milik masing-masing. Rinda diantar oleh papanya, kebetulan mereka sedang pergi berdua dan papanya mendadak mendapat panggilan penting dari bawahan dan membuat Rinda meminta diturunkan disini. Tidak dia sangka malah bertemu teman club dan tidak sengaja melihat Clarissa yang memesan cemilan dibar.
"Ya Er, anterin gue sih,"
"Berisik."
Sudah lebih dari sepuluh kali Erlangga menolaj dengan cuek saat Rinda meminta untuk diantarkan, Rumah Rinda dan Erlangga berbeda arah, tentu saja Erlangga menolak, kalau masih ada Daze mungkin laki-laki baik itu mau mengantarkannya meskipun arah rumah mereka sama saja bedanya. Daze sudah meminta izin pulang lebih dulu beberapa menit yang lalu karena harus menjemput Marisa diacara ulang tahun temannya, seharusnya Daze menemani Marisa disana, tapi dia tidak bisa karena harus kerja kelompok malam ini sesuai permintaan Erlangga sang ketua kelompok.
"Jahat lo," menatap Clarissa yang duduk disebelah anggota kelompoknya yang lain. "Ca, lo gak bawa mobil?"
"Gak bisa bawa."
"Kalian?" Menatap dua perempuan dan satu laki-laki anggota kelompok Erlangga dan Clarissa. Ketiganya menggeleng, mereka menggunakan kendaraan umum kesini, dan lagi, mereka tidak semampu itu untuk membawa mobil sendiri.
"Hadeh," Rinda menghela napas kesal, teman tongkrongannya tadi sudah berpamit pulang semua.
Erlangga menutup laptopnya, menatap keempat anggota kelompok. "Biar gue yang copy, kalian cukup pelajari yang kalian catat sekarang, besok gue bagiin hasil copy-annya."
__ADS_1
Keempat anggotanya mengangguk, Erlangga hanya meminta mereka datang dan mencatat saja. Tidak perlu berpikir keras, dia tidak suka jika anggota kelompok ada yang tidak mengerjakan dan hanya numpang nama saja. Jadi cukup datang sudah membuat Erlangga menghargai itu.
"Pulang sama gue," ucap Erlangga pada Clarissa, Clarissa langsung mengangguk, dia sudah berjanji pada Putra kalau kekasihnya itu tidak bisa menjemput, dia harus menerima teman-temannya saat ada yang menawari dan tidak boleh menolak.
"G-gue???" Rinda menunjuk dirinya. Tangannya berganti menunjuk keluar. "Hujan Er, lo tega sama gue?"
"Hmm..." Erlangga menatap datar kearah luar, lalu kembali fokus pada peralatannya. "Bayar ni semua,"
"Okey..." Rinda berdiri, mengibas tangannya agar anggota kelompok tidak ada yang mencegahnya untuk membayar semua cemilan serta minuman mereka. Menggoyahkan hati Erlangga sudah yang terbaik.
...πΌπΌπΌ...
"Kalian naik apa?" Tanya Erlangga pada teman lainnya.
"Sudah pesan taxi online kok," jawab salah satunya. "Tuh, udah dateng. Kita duluan ya."
"Clarissa, kami duluan ya..." Ucap salah satu perempuan pada Clarissa yang bengong menatap air hujan.
Clarissa menoleh. Dia mengangguk. "Hati-hati ya, kabari kalau sudah sampai rumah."
Mereka berlari menuju mobil yang sudah menunggu mereka bertiga, dengan menaruh tas mereka keatas kepala. Membuat mereka agar tidak kehujanan. Aneh, cuaca sangat cerah sejak siang tadi, tapi mendadak hujan deras malamnya.
"Kalian tunggu sini, gue parkir disebrang."
"Aneh aja lo, ngapain parkir jauh disana padahal yang lo sambangi disini." Protesnya. Rinda sudah paham, Erlangga tidak akan menjawab ocehannya. "Gue ikut,"
"Clarissa sama siapa?" Tegurnya. Rinda menggaruk tengkuknya.
"Iya sih."
"Dissident base." Ketus Erlangga.
"Yaudah kita kesana sama-sama aja, lo juga perlu muter kan Erlangga? ribet entar." Clarissa menengahi.
"No, gak ada payung disini." Bantah Erlangga.
"Gue setuju padahal sama Clarissa." Rinda membuka jaket levis miliknya. Menyisakan SweaterHoddie. Style Rinda memang ribet.Rinda menaruh jaket levis diatas kepala dengan kedua tangan masih bertengger disisinya. "Ayo lari, sini Ca sama gue..."
Erlangga sudah lebih dulu lari dengan tas yang sudah dia pakai pengaman anti air, Rinda menarik Clarissa masuk kedalam pelukannya dan membawanya berlari mengejar Erlangga yang mulai menyebrang.
Deg.....
Deg.....
Clarissa menatap Rinda yang lebih tinggi darinya, lumayan jaug. "Lariiii...." Rinda bergumam namun tidak terdengar karena suara hujan lebih mendominasi. Satu tangan Rinda merapat pada bahunya agar menempel padanya, dan satu tangan lainnya menyanggah jaket levis miliknya agar tetap menutupi mereka. Clarissa meremas dadanya. Wangu segar dari John Varvatos Artisan menyeruak kedalam hidungnya. Mereka kini sudah menyebrang jalan dan Rinda sebagai pemandu mengikuti langkah Erlangga yang sudah menghidupkan alarm mobil agar tidak bingung dimana dia memarkirkan.
Clarissa menghentikan langkahnya, membuat Rinda panik. "Ca, kenapa?"
Clarissa tidak menjawab, napasnya tercekat, dadanya sesak dan seakan tidak mendengar panggilan ulang dari Rinda. Mereka mulai basah, jaket levis Rinda tidak seratus persen dapat melindungi mereka dari air hujan yang semakin banyak menghujam mereka.
"Clarissa...."
Clarissa mendongak, suara Rinda membuatnya hilang fokus. Mata laki-laki itu membelalak kaget, dengan sangat terpaksa Rinda mengeratkan pelukan mereka dan membuka pintu belakang lalu mendudukan Clarissa didepan.
__ADS_1
"ASMA CLARISSA KAMBUH ERRR!!!!!!!" Teriak Rinda, membuat Erlangga yang sudah menghidupkan lampu tengah belakang, menoleh panik.
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ