Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
01:26


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Clarissa terengah-enggah, napasnya terasa berat, namun dia tidak bisa berhenti begitu saja. Dia berlari menuju pangkalan ojek. Masih dalam menangis dia meminta salah satu ojek untuk mengantarkannya.


"Neng, kenapa nangis."


"Tolong, antarkan saya ke bandara pak."


"Eih, jauh neng."


"B-berapa akan saya bayar..." Masih dengan sesenggukan, memilih ojek untuk mengantarkannya adalah pilihan tepat. Motor dapat melaju dengan mudah diarea macet dan hujan deras seperti ini. "Saya mohoonnn..."


"I-iya neng," mendengar salah satu ojek mengiyakannya, Clarissa menarik kuat, melarang keras pria paruh baya itu untuk memakai mantel hujan. "Haduh, yasudah.."


Didalam perjalanan Clarissa menangis kencang, setengah perjalanan dengan ngemetar dia memakai helm. Kepalanya sudah pening, ini kedua kalinya dia menggunakan motor. Papanya akan marah jika mengetahui hal ini, untung saja penyakitnya tidak membuat ulah.


Clarissa mengeluarkan beberapa lembar uang dan dia berikan secara sembarang kepada supir ojek yang masih merapikan helm yang dikenakan Clarissa ditangannya. Tanpa mengatakan terima kasih atau apapun, Clarissa langsung berlari kedalam.


"Eih neng,, uangnya kebanyakaannn."


Clarissa menulikannya, dia tetap berlari masuk.


Bandara sudah pasti sepi, ini sudah pukul sepuluh malam. Tangisannya masih belum mereda, dia tidak memperdulikan tatapan para petugas bandara yang melihat aneh dengan pakaian basah kuyup, rambut tidak beratusan, tangisan yang terus mengeluarkan suara, kepala yang terus mencari kemana orang yang dia tuju.


Clarissa terjatuh, dia duduk dihadapan pengumuman semua pesawat yang sedang beroperasi maupun tidak. Nama-nama penumpang yang sudah berangkat juga tertera dilayar besar. Clarissa menangis, menunduk dalam dengan kedua tangan yang menumpu dilantai.


Bodoh.


Tentu saja dia tujukan pada dirinya sendiri.


"Clarissaa...."


Clarissa tidak mendongak, dia tau siapa yang berdiri tidak jauh darinya. Noel berjongkok, memegang kedua bahunya kuat, membuat Clarissa terpaksa mengangkat kepalanya, menatap sahabat kekasihnya.


"Arnold...."


Noel tersenyum tipis. "It's okey, Putra cuma dapat panggilan kesana, nanti pulang."


Clarissa kembali menangis. Masalahnya, hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana bisa mereka berpisah seperti ini sekarang.

__ADS_1


"Ya ampun," Noel menangkup kedua pipi Clarissa, satu tangannya merapikan rambut Clarissa yang menutupi wajahnya. "Kenapa basah-basah gini sih, astaga, kamu bisa sakit Clarissa."


Daze berlari kearah mereka berdua dengan kaget, melihat kondisi Clarissa saat ini.


"Ze, ambilin handuk gih, Clarissa bisa sakit nanti, kedinginan dia."


"Oke, sebentar." Daze langsung berlari mendengar perintah Noel, Clarissa membiarkan mereka melakukan hal sesukanya, kepalanya masih diaduk-adukkan oleh Putra yang mendadak pergi. Bukan tanpa kabar, laki-laki itu sudah menghubungi dirinya banyak sekali, tidak ada yang dia tanggapi. Clarissa terlalu fokus mencari laki-laki misterius dan tidak memperdulikan ponselnya. Sampai dimana Noel menjadi panggilan pertama yang dia angkat dan memberikan informasi kepadanya mengenai kepergian Putra yang mendadak ini. Entah mendadak atau memang karena mereka yang tidak saling menguhubungi kemarin.


Noel berdiri, membuat Clarissa kembali menunduk dan menangis sesenggukan.


"Kalian kemana aja sih? sudah gila ya, gue hubungi kalian berdua tapi gak ada yang angkat telepon gue." Noel tampak marah, dengan gemetar Clarissa menatap kebelakangnya. Ada Erlangga dan Rinda yang berdiri sedikit berjauhan, napas mereka tidak teratur, keduanya menatap Clarissa dengan tatapan menyedihkan. Pakaian mereka sama buruknya seperti dirinya, basah dan berantakan. "Kalian kenapa pada basah kuyub gini?"


Noel menghentikan omelannya ketika melihat Daze berlari dan memperlambat larian sembari melihat aneh kearah Erlangga dan Rinda yang mematung tidak jauh dari Noel dan Clarissa.


"Kalian dari mana?" Tanyanya datar, tidak ada yang menjawab. Daze menyodorkan satu bungkus berisi handuk, langsung dibuka oleh Noel dan dia keringkan rambut Clarissa secara perlahan. Daze membuka pembungkus beda yang ada ditangannya, sebuah selimut kecil dan langsung dia balut pada tubuh Clarissa. "Pulang sana, Putra udah pergi dari satu jam yang lalu."


Mendengar itu membuat Clarissa kembali terisak. "Sshhh, it's okey Clarissa." Noel kembali berucap.


Noel membantu Clarissa berdiri, sedangkan Daze memunguti sampah bekas handuk dan selimut dilantai. Daze mengikuti Noel yang menuntun Clarissa pergi.


"Ica...."


Clarissa tidak menoleh ketika suara Rinda memanggilnya. Noel yang menoleh. "Clarissa biar bareng gue sama Daze, kalian berdua pulang sana. Gak bawa mobil ya? awas senin gak masuk, ujian."


...🌼🌼🌼...


Kanya menghela napas pelan, menatap seseorang yang tidak terlihat dibalik selimut tebalnya, sudah berulang kali dia coba buka, tapi entah kekuatan dari mana seseorang itu dapat mempertahankan selimut untuk menutupinya. "Ca, gue gak akan tanya soal apapun. But, please, buka selimutnya, lo bisa sesak napas karena kepanasan."


Masih tidak ada tanggapan. Dia coba lagi untuk membuka selimut, tapi kali ini dengan pelan, tidak seperti sebelumnya secara kasar.


"Buka Ca, gue gak akan tanya apapun. Janji."


Tidak ada tanggapan, tapi tangan mungil seseorang muncul dari balik selimut, tetap tidak memperlihatkan wajahnya. Jari kelingking dibiarkan berdiri dan jari lainnya menggenggam rapat.


"Janji," gumamnya dari balik selimut.


"Iya, janji." Kanya menautkan jari kelingkingnya disela jari kelingking sahabatnya.


Setelah prosesi penautan itu, barulah selimut terbuka pelan. Kanya sempat melebarkan matanya melihat kondisi Clarissa, mengenaskan, matanya bengkak dan hidungnya merah.


Oke. Kanya sudah berjanji untuk tidak bertanya apapun. Jadi dia hanya duduk disisi ranjang, menatap Clarissa sembari menyibakkan anak rambut yang bertengger bebas diwajah Clarissa. Tangannya meraih mangkuk berisi bubur dan dia taruh didekat tubuh Clarissa yang masih tertutup selimut. Belum membuka semuanya, hanya kepalanya saja yang terlihat.

__ADS_1


"Mama buat bubur kacang, lo kan suka, tidak pakai santan." Jelasnya. Mamanya selalu membuat bubur yang lain untuk Clarissa.


Clarissa masih tidak menanggapi, tapi dia mengangguk saja.


Terdengar suara mobil masuk, membuat Kanya berdiri. "Kak Bintang pulang, goda ahh..."


"Nyakk....."


Kanya menghentikan langkahnya, dia baru sampai dipintu dan hampir menyentuh knop pintu. Mendadak berhenti ketika sahabatnya baru membuka suara.


"Hm..." Jawabnya datar. Dia masih berdiri ditempatnya berhenti, tapi sudah berbalik. "Apa?"


"Putra..."


"Tau.." Potongnya, dia tidak akan membiarkan Clarissa menceritakan semuanya dengan wajah akan menangis. Kanya sebal.


"Gue..."


"Udah ya Ca, dia itu cuma seminggu disana, gak usah kayak orang gila yang ditinggal selamanya deh." Ucapan Kanya terdengar kasar, tapi ada benarnya, saat mamanya meninggal, asma Clarissa hanya sekali kambuh dan dia terlihat mati rasa karena tidak menangis sama sekali setelah mamanya dimakamkan. Lalu kenapa sekarang dia menangis? padahal hanya ditinggal sebentar. "Soal cowok misterius itu, Lo udah ketemu?"


Clarissa mengangguk, dia ingin cerita tapi malu.


"Udah tau siapa?"


"Gue sial terus, gak pernah bisa nangkep wajahnya."


"Ada clue lain?"


Clarissa menggeleng, menatap mangkuk berisi bubur. Dia meraih sendoknya dan.... Terdiam, menatap ibu jarinya, dia mendongak menatap Kanya.


"Ada bekas luka ditangannya," Clarissa ingin menangis, tapi Kanya mengeram membuatnya membatalkan niat. "Gue pikir Putra, gue seneng karena akhirnya emang beneran Putra."


"Terus...."


"Arnold nelpon dan bilang kalau Putra terbang setengah jam yang lalu."


Kanya mengerutkan dahinya, lalu mengangguk karena mengingat Clarissa tidak pernah memanggil nama orang dengan singkat jika tidak akrab. "Damn, lo ninggalin cowok itu kedua kalinya."


Clarissa mengangguk. "Gue panik, makanya lari cari tumpangan buat kebandara."


"Okey. Kita simpan soal tangan cowok itu." Dagu Kanya terangkat. "Makan gih, gue mau nemuin kak Bintang."

__ADS_1


Kanya memang bermulut pedas, tapi dia selalu dapat diandalkan. Selalu memandang orang tidak suka bukan karena dia ketus atau jutek, tapi karena dia biasa memperhatikan orang. Semoga saja Kanya dapat menemukan laki-laki dengan ciri-ciri baru selain wangi parfum, sweater dan tinggi badan.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2