
...πΌπΌπΌ...
Putra panik, asma Clarissa kambuh dan ternyata perempuan itu membawa persediaan inhaler yang harus dibawanya kemana saja. Dengan cepat Putra menggendong dan langsung membawa Clarissa kembali masuk ke Rumah sakit. Hanya melihat wajah panik Putra saja sudah membuat tim medis berlari membantu laki-laki itu.
Langkahnya mundur ketika Dokter Vikri menawarkan diri untuk menggendong Clarissa. Dokter Vikri tampak bingung. "Biar saya saja Dokter,"
Sikap Putra dia tepiskan demi menyelamatkan Clarissa. Dokter Vikri meminta Putra untuk membawa Clarissa kedalam ruangannya dan mendudukkan perempuan itu diranjang. Buru-buru Dokter Vikri memasangkan alat bantu pernapasan untuk Clarissa. Cukup lama Clarissa menarik dan menghembuskan napasnya berulang kali, sampai dia merasakan napasnya kembali normal. Tidak sekalipun Putra meninggalkan Clarissa, tangannya terus kuat menggenggam tangan Clarissa.
Cukup tenang, dalam pikiran yang sudah jernih Clarissa menarik tangannya dari genggaman itu.
"Dok,,,," panggil Clarissa lirih, Dokter Vikri langsung berdiri, melepaskan alat bantu dan memeriksa keadaan Clarissa.
"Kenapa tidak bawa inhalernya?"
"Lupa."
"Masih suka kambuh asmanya???"
Putra berdehem. "Tangannya Dok.."
Dokter Vikri melihat Putra yang berdiri disampingnya, dia menurunkan tangannya dari kepala Clarissa.
"Masih suka kambuh?" tanyanya ulang.
Clarissa menggeleng kecil. "Kadang."
"Nanti biar saya laporkan pada Dokter Gio, biar lebih sering untuk mengingatkan kamu untuk check-up, sudah lama kan kita tidak mengobrol." Dokter Vikri menatap Putra, laki-laki itu menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat sembari bersidekap. "Sudah baikan? Clarissa boleh pulang."
"Terima kasih Dokter Vikri," ucapnya ketika sudah turun dari ranjang dan meraih tasnya yang diberikan oleh Putra. "Saya pamit."
"Hati-hati Clarissa, kabari saya kapan saja untuk konsultasi." Clarissa mengangguk dan tersenyum, Putra menatap Dokter Vikri dengan tidak suka.
...πΌπΌπΌ...
"Dokter Vikri itu dari kapan nangani asma lo?"
"Waktu SMP, pas Dokter Vikri baru magang." Jawabnya sembari memasang sabuk pengaman. "Tapi setahun Dokter Vikri lanjutin S2nya di London. Terus pas SMA, gue diambil alih Dokter Vikri lagi."
"Kenapa?"
Clarissa menatap Putra sebentar, lalu menatap kedepan. "Kenapa apanya?"
"Kenapa Dokter Vikri ngambil alih lo?" Pertanyaan Putra terdengar tidak senang. "Emang ada Dokter pilih-pilih pasien??"
"Enggak gitu. Gue udah nyaman aja sama Dokter Vikri, makanya pas tau gue nanyain dia terus kapan pulang ke indonesia, jadi pas ketemu lagi gue diminta konsultasi sama dia aja." Dahi Clarissa berkerut, mobil belum juga dinyalakan, dan Putra masih setia menghadapnya. "Emang ada yang salah?"
"Enggak sih," dia menatap kedepan dan mulai menyalakan mesin mobilnya.
...πΌπΌπΌ...
Tok... Tok... Tok...
Putra menatap kearah pintu, berdiri dan berjalan untuk membukanya. Salah satu serempuan yang bekerja dirumahnya menunduk kecil sembari tersenyum.
"Kenapa mba?"
__ADS_1
"Dipanggil bapak, dibawah."
"Oh, ya bentar," perempuan itu mengangguk dan berlalu pergi.
Putra menuruni tangga dan melihat papa serta mamanya duduk santai diruang keluarga, layar televisi nyala tapi kedua orang tuanya malah asik mengobrol dengan saling melempar canda. Putra duduk disofa single bersebrangan dengan kedua orang tuanya.
"Papa panggil Putra?"
"Iya,"
"Kenapa?"
Gio menatap istrinya sekilas. "Kata mama, tadi sempet ada ribut-ribut diruang wakil direktur pelayanan. Katanya ada salah satu pasien yang mengajukan petisi untuk Dokter Vikri."
Wajah Putra tampak berpikir. "Terus? apa papa butuh bantuan Putra?"
Gio menatap Anita lagi. "Setelah ditelusuri, akun yang mengatas namakan pasien itu adalah kamu."
Putra menunjuk dirinya sendiri. "Kok Putra?"
"Come on dude, kenapa kamu lakukan itu pada Dokter Vikri?"
Putra menggeleng kecil. "Untuk apa Putra lakukan itu?"
"Itu yang sedang kami tanyakan, sayang." Anita mulai angkat bicara saat Putra bersikap seakan-akan tidak tahu apapun. "Apa Dokter Vikri melakukan kesalahan? atau kamu sedang iseng saja? kamu tahu Dokter Jeno."
"Papanya Dokter Vikri kan ya?" Gio dan Anita mengangguk. "Kenapa dengan beliau."
"Sampai menelpon papa menanyakan hal itu, barusan." Putra hanya mengangkat bahu acuh. Gio menampilkan roomchat yang tidak Putra lihat dengan jelas. "Lihat nih, salah satu perawat yang papa kenal sampai menanyakan kebenaran perihal mutasi Dokter Vikri?"
Anita berdiri dan duduk pada tangan sofa yang Putra duduki. "Jelaskan pada kami apa yang terjadi."
"Tidak ada." Jawabnya acuh.
"Sayang, kamu harus jujur pada tindakan yang kamu lakukan, setidaknya beri kami alasan yang masuk akal agar semuanya jelas dan kami bisa memberi tindakan yang tegas pada Dokter Vikri." Tutur Anita lembut.
Putra tampak berpikir untuk mengatakan segala keresahannya. "Dokter itu,,, melakukan hal tidak senonoh pada Clarissa. Putra lihat." Ucapan Putra membuat Gio menegapkan tubuhnya.
"Tidak mungkin."
Putra bersandar ketika melihat respon papanya yang tidak mempercayai perkataannya, bahkan sang mama hanya mengerutkan dahinya. "Terserah kalau tidak percaya."
"Bu Andraa...." Suara Gio sedikit meninggi ketika memanggil kepala pelayan rumahnya. "Buu...."
"Iya pak." Bu Andra menunduk kecil lalu berjalan maju sedikit. "Bapak butuh bantuan saya?"
"Tolong panggilkan Clarissa, ajak dia bergabung bersama kami. Tapi kalau sudah tidur, jangan mengganggunya." Bu Andra mengangguk, lalu permisi pergi.
Beruntungnya Clarissa belum tidur malam ini, perempuan itu turun mengikuti bu Andra dan duduk disebelah Gio, dia tersenyum kecil menatap Anita.
"Om panggil Ica?"
Gio mengangguk, matanya masih menatap Putra yang seakan-akan menunjukkan bahwa ucapanya benar tentang Dokter Vikri, sedangkan Gio merasa ada yang tidak beres.
"Hari ini Ica ada bertemu Donter Vikri?"
Dahi Clarissa berkerut. "Dokter Vikri?? Ada om, tadi siang sewaktu asma Ica kambuh."
__ADS_1
"Kok Dokter Vikri gak bilang sama om?" Clarissa menggeleng tidak tahu. "Apa Dokter Vikri melakukan sesuatu yang tidak sopan sama Ica?"
"Tidak sopan? Contohnya?"
Anita berdiri dan duduk disamping Clarissa, merangkul dan mengelus bahu perempuan itu. "Seperti berbuat yang tidak senonoh sama kamu, kamu paham kan yang tante maksud?"
"Kenapa Dokter Vikri harus melakukan itu?" Dia malah balik bertanya, tidak paham arah yang dimaksud oleh sepasang suami istri ini. "Putra ada kok nemenin Ica tadi, kenapa om sama tante enggak tanya sama Putra aja."
Anita menatap Putra, sedangkan Gio mengelus dagunya dan menerawang pembicaraan mereka ini. "Papa tahu ma,"
Anita beralih menatap suaminya. "Tahu apa pa?"
"Bukan Dokter Vikri yang bermasalah, tapi putra kita."
"Maksud papa?"
"Begini." Gio memposisikan duduknya dengan lebih tegap. "Dokter vikri adalah orang yang berpendidikan, dan tidak mungkin Dokter Vikri melakukan hal yang senonoh pada Ica apalagi disana ada Putra..."
"Pa," Putra menyelah. "Memangnya orang berpendidikan tidak boleh melakukan hal buruk? apa penjahat tidak bisa berbuat baik juga?"
Kepala Clarissa berdenyut, dia memijat kecil. Perdebatan yang dilakukan oleh Gio dan Putra membuat Clarissa mual, rasanya terlalu berisik.
"Ica, tidak apa-apa sayang?" tegur Anita. Mungkin wanita itu melihat gerak-geriknya yang terlihat aneh. "Pusing? mereka berdua kalau lagi berdebat memang suka bikin sakit kepala?"
"Memangnya ini ada apa sih tante?"
"Ada laporan yang minta Dokter Vikri untuk dipindahkan atau dipecat dari rumah sakit,"
Mata Clarissa melebar. "Ke-kenapa?"
"Kamu tanya saja pada Putra?" Gio ikut mencampuri percakapan antara Clarissa dan istrinya. "Kamu pikir semudah itu memecat dan mempekerjakan orang? Dokter Vikri adalah orang yang berpendidikan tinggi dan memiliki skill yang bagus untuk Rumah Sakit kita, kamu cukup diam dan turuti saja apa yang papa minta padamu, Putra."
"Apa Putra tidak bisa menjaga milik Putra?"
"Milikmu?" Gio mendengus, "sejak kapan dia menjadi milikmu? hah? omong kosong kamu,"
"Pa,,," Anita menegur Gio agar tidak berkata lebih panjang. Lalu dia menatap Putra. "Inti dari pembicaraan ini, Dokter Vikri tidak akan pindah dan Clarissa berhak memilih ingin tetap ditangani oleh Dokter Vikri atau mencari penggantinya."
Clarissa semakin tidak mengerti. "Kenapa harus ganti? Dokter Vikri baik sama Ica kok om-tante, Dokter Vikri sendiri bilang kalau Ica sudah seperti adiknya sendiri. Lagian Ica juga tidak setiap hari konsultasi sama Dokter Vikri, kebetulan saja tadi Ica lupa bawa obat dan asma Ica kambuh."
"Dengar Putra...."
Tatapan Putra menajam kepadanya, dia terlihat tidak senang dengan kalimat panjang yang tidak pernah dia ucapkan. Laki-laki itu berdiri dan meninggalkan ruang keluarga, tanpa sekalipun permisi pada kedua orang tuanya.
"Putra kenapa om-tante?"
"Biasalah, inikan malam jum'at, sesajennya kurang." Ucapan Gio membuat Anita tertawa kecil, dan Clarissa hanya diam tidak menanggapi, matanya menatap punggung Putra yang sudah menghilang dari balik pintu.
πππππ ππ BERSAMBUNG πππππππ
PUTRA RIZQI ADIETAMA
CLARISSA FATYAH ADAMS
__ADS_1