Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:76


__ADS_3


...(Pict by Pinterest)...


...🌼🌼🌼...


Termangu menatap awan dengan rintikan hujan yang runtuh deras. Clarissa sesekali menghindari percikan air yang semakin mengenai dirinya karena angin kencang. Dia merogoh ponsel didalam saku celananya, untuk memberikan kabar kepada teman-temannya kalau dia akan datang terlambat kerena hujan. Membiarkan mereka menikmati keindahan Vila lebih dulu.


Kepalanya mengitari area rumah sakit, setiap lorongnya sepi mungkin karena cuaca. Para perawat yang sudah bertugas memeriksa memilih diam didalam ruangan, tugas mereka sedikit ringan karena tidak perlu mengajak para pasien untuk berjalan-jalan mencari udara atau setidaknya berjemur dipagi hari.


Clarissa menoleh kaget ketika beberapa perawat dan Dokter berlari terburu-buru dengan ditengah-tengah mereka terdapat Meysa. Dahinya berkerut, apa yang sedang terjadi, rasa penasarannya membuatnya melangkah mengikuti arahan lari mereka.


Mereka menghilang dibalik pintu ruang VIP, dengan name tag 'Raka'. Clarissa tidak tahu ruangan siapa ini, tapi pintu terbuka dan muncul Meysa yang mengusap wajahnya gusar.


"M-meysa.."


Perempuan yang dipanggilnya menoleh. Tampak kaget, Meysa menghampiri Clarissa. "Cebol, ngapain lo disini?"


"Apa yang terjadi? kenapa lo sama Dokter lari-lari?" tanyanya penasaran.


Meysa tersenyum tipis. "Bokap gue kejang-kejang. Masih diperiksa."


Clarissa bergerak perlahan menatap kaca kecil yang terdapat dipintu, tidak ada yang bisa dia lihat dari celah sekecil ini. Hanya melihat beberapa perawat bergerak cepat didalam sana.


"Santai aja. Biasanya kejut bentar doang, gue cuma panik karena gak tahu harus gimana."


"Udah pernah gini?"


"Udah, setahun lalu mungkin." Menatap nanar pada pintu ruangan papanya. "Tapi setelah itu semakin gak gerak aja bokap gue."


"Sem-moga Om Raka cepet sembuh ya?"


Meysa menatap Clarissa datar. "Dari mana lo tahu nama bokap gue." Matanya menatap arahan telunjuk Clarissa. "Oohh, bisa-bisanya mereka ngasih papan nama kayak gitu."


Pintu terbuka, keluar beberapa perawat dan Dokter yang Clarissa lihat tadi tengah berlari-lari. Dokter itu tersenyum dan menatap Meysa. "Tidak apa-apa, hanya kejang biasa. Terima kasih sudah memanggil."


"Mey yang terima kasih Dokter, sudah mau membantu." Ucapnya tenang.


"Sudah tugas kami, biarkan papa kamu istirahat ya, kamu juga perlu istirahat."

__ADS_1


Meysa mengangguk. Clarissa turun menunduk kecil saat para perawat dan Dokter itu pergi meninggalkan depan ruangan. Tersisa satu perawat yang mengelus bahu Meysa. "Kamu sudah makan?"


"Apaan sih, gak usah sok perhatian deh."


"Hu sombong, mentang-mentang semalaman ditemenin Bintang."


"Mba apaan sih." Menatap tajam kepada perawat itu lalu melihat Clarissa yang menatapnya datar. "Gak kok, udah sana kerja."


"Ya... ya.. ya.. Kalau butuh temen makan bilang aja, nanti aku datang." Ucapnya berlalu dan tersenyum kecil pada Clarissa yang berdiri tidak jauh dari mereka mengobrol.


"Gu-gue pamit. Mau balik ke puncak lagi soalnya." Pamit Clarissa, tapi dihentikan oleh Meysa.


"Kenapa musti buru-buru? Masih hujan loh, lo mau kesana naik apa?" Melihat jam tangannya.


Dia menunjukkan room chat dengan Kanya pada Meysa. "Tadinya mau pakai taxi online, ternyata Kanya udah on the way dari pagi, sebentar lagi kemungkinan sampai."


"Ohh. Yaudah gue temenin ke depan sebelum dia sampai."


Clarissa menahan Meysa untuk mengikutinya sampai kedepan. Masalahnya, Meysa dan Kanya adalah musuh bebuyutan, tidak akan bisa bicara baik-baik jika melihat Meysa menemaninya untuk menunggu perempuan itu sampai di Jakarta untuk menjemputnya. "Gak usah. Gue sama lo gak pernah dekat sampai-sampai lo harus ngelakuin itu. G-gue juga gak mau kalau Kanya marah adanya lo dideket gue."


...🌼🌼🌼...


"Iya sayang. Maaf ya kalau membuat kamu khawatir." Ujar Dinda dengan senyum khasnya. "Titip Ica ya, jangan terburu-buru buat selesaiin liburannya. Dijalan jangan ngebut, hujan, pastu jalanan licin. Tante banyak yang jaga kok disini."


"Kak Bintang mana?" tanyanya karena sejak kedatangannya, dia tidak melihat Bintang.


"Tanding basket, mungkin sore pulang." Dinda tersenyum tipis. "Sudah sana, nanti malah sampainya kemalaman, katanya letak Vilanya didalam kan? bahaya kalau hanya berdua berkeliaran dihutan."


"Jalannya bagus kok tante."


"Setidaknya untuk berjaga-jaga." Sebagus apapun jalanan, jika dilewati oleh dua perempuan dimalam hari tetaplah bahaya. "Hati-hati ya, have fun."


"Cepat sembuh tante."


"Terima kasih sayang." Melambaikan kedua tangannya kearah Clarissa dan Kanya yang berpamitan untuk pergi.


Kanya membantu membawakan beberapa tas berisi cemilan yang telah Clarissa beli. Matanya Kanya menatap tajam pada perempuan yang berdiri disebrang ruang Dinda. Tatapan mereka sama-sama mendelik tidak suka, bahkan tatapan perempuan itu mengikuti pergerakan langkah Clarissa dan Kanya.


"Lihat apa Nyak?" tanya Clarissa sampai dilobi dan membukakan payung untuk mereka berjalan menembus hujan.

__ADS_1


"Bokap Meysa masih dirawat disini ya Ca?"


Clarissa mengangguk samar, saat menarik Kanya untuk berteduh pada payung yang dia bentangkan. "Kenapa?"


"Berapa ya biaya perawatannya, udah lama banget loh. Hampir delapan tahunan mungkin." Ucap Kanya membuat Clarissa kaget, dia tidak tahu kalau kesakitan yang diderita papa Meysa telah berlangsung lama. "Banyak juga duit Meysa."


"Gak tahu gue."


"Ya ngapain juga lo tahu soal dia."


Clarissa tidak perlu menceritakan kedekatan mereka selama bertemu, mungkin Kanya tidak akan suka jika Clarissa memberikan ruang baik hatinya kepada sosok Meysa. Seharusnya Clarissa memberikan sikap yang sama seperti Bintang, ketus dan tidak perduli. Tapi, apa yang dia dengar tadi dari perawat terakhir, yang mengatakan bahwa semalaman Bintang menemani Meysa. Apa itu benar?


Itu akan dia tanyakan nanti jika bertemu dengan Bintang.


"Heh, kok bengong? ayo masuk. Makin deres aja ini hujan." Kanya mendorong pelan Clarissa untuk masuk kedalam mobil, sebelum dia memasukkan beberapa plastik jajan kedalam bangku belakang lalu dia memutari masuk pada bangku kemudi.


...🌼🌼🌼...


Terpaksa atau tidak. Kedua kubu berada satu ruangan menikmati hujan dengan sebuah api unggun kecil diruang tengah. Api unggun itu memang didesain khusus pada Vila yang mereka tempati sekarang. Kelompok Clarissa membakar sosis dan kelompok Putra sedang asik bernyanyi sembari membakar jagung.


Hanya Delisa dan Noel yang saling bercanda, selain kedua insan bahagia itu selebihnya hanya diam menikmati kedekatan dalam kelompok masing-masing. Menurut Noel, Daze tidak ikut saat ini karena sedang berlibur dinegara lain bersama Marisa, yap, hanya berdua.


Putra memberikan jagung bakarnya pada Clarissa, diterima dengan baik namun mendapatkan tatapan tidak suka dari Kanya.


"Mau juga lo?"


"GAK!!!" Delik Kanya, dia bangkit dan menjauh dari Putra.


"Kapan tante Dinda keluar dari perawatan?" Putra menncoba mencari topik disela Clarissa membakar sosis.


"Belum tahu," Clarissa menatap Putra. "Lo tahu sejak kapan nyokap gue sama kakek lo akrab? selama mama sakit, kakek lo selalu ada diruangan itu. Tadi sebelum gue sama Kanya pergipun, mobil kami papasan digerbang, kemungkinan kakek lo gak lihat gue."


"Kurang tahu." Jawabnya. "Tapi kakek emang selalu ngelakuin itu sama semua Dokter yang sudah bekerja lama di Rumah sakit itu."


Clarissa menatap jagung bakar yang baru diberikan oleh Putra, dia memakannya sedikit. Mengingat tatapan Darmo Sudrajat Adietama kepadanya dan kepada kakaknya bukanlah sekedar bentuk perhatian semata. Apalagi saat pria gagah itu menginginkan Clarissa dan Bintang untuk tinggal bersama dengannya selama mamanya berada dalam perawatan rumah sakit. Jengukan setiap harinya membuat Clarissa berpikir itu bukanlah bentuk perhatian dari rekan bisnis.


"Apa ada masalah? kakek emang seaneh itu kok, memberi perhatian emang seberlebihan itu."


Clarissa tersenyum. Ya. Anggap saja memang itu sebagai bentuk perhatian yang berlebihan.

__ADS_1


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2