
...CLARISSA FATIYAH ADAMS...
...(Pict by Pinterest)...
...πΌπΌπΌ...
"Papa......."
Doni tersentak, dia baru masuk ke rumah dan sudah di kejutkan oleh putrinya di belakangnya yang juga baru pulang. "Eihh, iya sayang...."
Clarissa tersenyum lebar. "Papa kok sudah pulang? katanya mau lembur?"
"Ada berkas yang tertinggal. Tapi papa juga mau sempatkan makan di rumah." Jawab Doni, mereka jalan beriringan masuk ke dalam rumah. "Makan siang bersama ya??"
"Okey. Ya udah, Ica ganti baju dulu ya Pa." Melihat Doni mengangguk, Clarissa langsung berlari menuju tangga dan dia sempatkan menyapa Bintang yang baru keluar dari dalam kamarnya. "Kakaaaakkk..."
"Astaga," kagetnya. "Iya dek, kok baru pulang?"
"Iya. Main dulu." Jawabnya sembari berlari menaiki anak tangga.
Bintang yang keluar membawa sebuah map berwarna merah langsung berjalan menghampiri papanya sembari memperhatikan langkah adiknya. "Ica kenapa Pa? kelihatan bahagia."
"Gak tahu, mungkin ada yang membahagiakan dari pewaris Adietama." Jawab Doni dan menaruh tasnya di sofa.
Bintang menghampiri papanya dan menaruh map yang dia bawa kehadapan papanya. "Putra? kenapa sama dia?"
"Papa masih tidak percaya dengan perkataan Dokter Gio, kalau Putra sepertinya memiliki rasa pada Ica." Ucapnya sembari menatap map yang dia terima. "Apa ini?"
"Surat persetujuan papa untuk Bintang magang di perusahaan." Laki-laki itu duduk di tangan sofa tempat papanya duduk. "Tapi, di lihat dari sisi mana pun, Putra memang terlihat seperti menyukai Ica, apa lagi perlakuan yang selalu dia berikan sama Ica dari pertama Bintang kenal dia."
Doni membuka map dan membacanya dengan teliti. "Kamu memperhatikan hal semacam itu?"
"Iya, tiba-tiba masuk ke otak Bintang aja sih."
Doni masih fokus pada mapnya, membaca dua lembar dengan sangat teliti. Dia ambil pena dari dalam saku kemejanya, masih dengan mata yang fokua pada setiap kata, Doni membuka penutup penanya. "Ini perusahaan besar di Jakarta kan?"
"Iya."
"Kenapa pilih disitu?"
"Rekomendasi dari Dosen Bintang, Pa." Bintang menatap kertasnya. "Setelah di cari tahu, sepertinya Bintang cocok magang di situ."
Doni mengangguk, lalu mencoret pada bagian tanda tangan di surat tersebut. "Apa mama tahu soal itu?"
__ADS_1
"Soal apa?" mereka sedang membahas dua masalah dalam satu waktu, Doni tidak menjawabnya dan otak Bintang langsung dapat menangkap. "Ahh, sepertinya tahu, bahkan pak Darmo juga pernah bercerita kalau Putra selalu merengek padanya, meminta bantuan beliau soal Ica."
"Pak Darmo?" Bintang mengangguk, "berarti hanya papa yang tidak paham soal itu," Doni menghela napasnya. "Papa terlalu sibuk dengan ke egoisan papa."
"Ternyata bersikap egois tidak enak ya pa?"
Doni melihat Bintang sinis. "Lama-lama mulutmu pedas ya kak?"
Bukannya menjawab, Bintang malah tersenyum dan mengambil mapnya lagi. "Terima kasih, Bintang magang mulai minggu depan."
"Selesaikan pendidikan dengan serius dan cepat. Lalu bawa Raisa kemari, kenalkan dia secara baik-baik, dan menikahlah." Doni berucap sembari menyandarkan dirinya. "Tidak baik jika membiarkan perutnya semakin besar tanpa adanya pernikahan. Jangan khawatirkan soal pekerjaan dan tanggung jawab, itu semua menjadi urusan papa."
"Setidaknya sikap bijak papa mampu membuang kebencian Bintang tentang papa." Ujarnya di sela mereka membicarakan hal ini, Bintang masih duduk diposisinya, memainkan mapnya. "Terima kasih tidak membenci Bintang setelah melakukan kesalahan."
"Orang tua mana yang tidak membenci atau marah saat anak yang dia banggakan malah mengecewakan." Kalimat itu membungkan Bintang. "Papa sempat marah, apa lagi mendengar hal itu dari mamamu, bukan dari kamu sendiri. Seharusnya papa meneriakimu karena sudah membuat keluarga kecewa dan malu, atau menamparmu karena sudah menghancurkan masa depan anak perempuan orang. Tapi, papa tidak bisa melakukan hal tersebut, papa terlalu rapuh untuk melakukannya."
"Maaf."
"Tidak perlu, seharusnya papa yang meminta maaf karena sudah memberikan kepercayaan begitu besar padamu."
"Pa..."
"Seharusnya tidak papa berikan apartement sialan itu untuk hadiah ulang tahunmu." Doni menunduk, "papa dengar kamu dan teman-teman sering berpesta."
Bintang tidak bisa membuat Clarissa semakin kecewa, pada papanya dan juga padanya.
Laki-laki itu berdiri, menatap Doni yang masih tertunduk. "Maaf untuk semuanya, Bintang janji akan menjadi anak yang terbaik untuk papa, menjadi kakak yang selalu bisa menjaga Clarissa, dan membuat mama melihat Bintang dengan bangga dari sana."
Doni turut berdiri, menepuk bahu Bintang menguatkan. "Jangan. Jangan pernah berjanji soal apapun kak. Papa pernah melakukan hal itu, dan papa sendiri yang mengingkarinya, Papa tidak mau kakak menjadi pecundang seperti papa. Cukup buktikan tanpa perkataan."
Papanya mungkin pernah menyakiti Keluarga. Tapi saat seperti ini, Doni memang sangat bisa diandalkan. Hati kecil Bintang merasa bahagia karena sosok Doni masih berada disisinya.
"Panggil Ica, kita makan bersama, papa sudah hampir melewatkan jam izin."
...πΌπΌπΌ...
Pintu terketuk, Clarissa yang masih bersandar di pintu hanya diam tidak berpindah.
"Dek, sudah di tunggu papa di meja makan."
"Sebentar."
Mendengar langkah kepergian Bintang, Clarissa berjalan menghampiri cermin yang menampilkan seluruh tubuhnya, dia berjalan semakin dekat, dia buka rompi sekolahnya dan dia keluarkan sebuah kalung yang melingkar di lehernya. Senyumnya mengembang penuh.
"Inikan......"
__ADS_1
"Lo ingat?" Putra bertanya padanya. Suara Putra yang berada dekat di telinganya mampu menghipnotis dirinya sesaat, "gue sengaja ngajak lo milih kalung ini waktu itu, emang buat lo."
"Dan lo baru kasih sekarang?" tanyanya dengan tatapan hanya menatap kalung yang Putra biarkan menggelantung di hadapannya. Posisi Clarissa masih membelakangi Putra. "Bukannya lo bilang buat kasih hadiah seseorang."
"Iya, itu kalung yang satunya. Untuk Meysa, dia ulang tahun saat itu." Jawabnya membuat Clarissa mengingat, bahwa dulu Putra seperti sangat membenci Meysa di sekolah, dan ternyata Putra sangat perhatian di luar itu. "Ca, gue suka sama lo."
Clarissa berbalik, menatap Putra, dia mendorong Putra untuk mundur satu langkah. "Pegel harus dongak buat lihat lo."
"Ca...." Panggilnya lirih.
"Kenapa lo suka gue?"
"Emang gue gak boleh suka sama lo?"
"Alasannya apa?"
"To like someone, do you have to have a reason?" Clarissa menggeleng kecil, Putra maju dan meraih kedua tangannya. "I don't have many reasons, only one, the reason is only you, that's all. I don't need any other reason."
Clarrisa terdiam mendengar jawaban itu. Dia menelan salivanya ragu dan menatap ke arah lain, ayo Clarissa, apa lagi yang kamu butuhkan? Ternyata Putra memiliki perasaan yang sama denganmu.
"Gue,,,,, gue bukan siapa-siapa....."
"Lo Clarissa Fatiyah Adams." Potong Putra, laki-laki itu tampak kesal karena Clarissa tidak menerima kenyataan bahwa dia menyukainya. "Berhenti bilang kalau gue gak pantes suka sama lo, karena semua pertanyaan hanya ada satu jawabannya yaitu gue suka sama lo, Clarissa."
"Puttt...."
"I don't want to hear anything from you, other than to hear what feelings you have for me?" Potong Putra lagi. "Ca, lo cuma perlu jawab tentang perasaan lo ke gue, itu aja."
"Begoo lo."
Mata Putra melebar, bukan ini yang ingin dia dengar. "Maksud lo."
"Siapa sih yang gak suka sama lo."
"Jadi maksud lo??"
Clarissa melepaskan genggaman tangan Putra lalu dia maju dan memukul dada laki-laki itu sampai membuatnya meringis. "Gue suka sama lo dari SMP kelas 2 Put,"
"Don't be silly, Clarissa. Lo gak pernah tunjukin kalau lo suka sama gue."
Clarissa menutup wajahnya, dia buka dan memberikan tatapan kesal pada Putra. "Lo tahu kan gimana gilanya semua orang kalau gue deket sama lo. Gue gak mau sakit Put, Kanya selalu marah kalau gue sempet confess ke lo."
"Shiiit,,," Putra bergerak memeluk Clarissa, dia kecup puncak kepala Clarissa berulang kali. "Please, gue gak mau ada penolakan. Terima gue Ca, terima gue...."
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ
__ADS_1