
...πΌπΌπΌ...
Sesuai arahan google maps, Kanya menghentikan mobilnya tepat dihadapan gerbang besar tanpa penjaga. Kepala serta matanya berkeliar mencari seseorang yang bisa dia tanyakan. Tidak ada siapapun. Ketiga sahabatnya sudah terlelap dalam tidur karena mereka sampai pada pukul delapan malam. Kanya keluar dari mobil dengan perlahan, takut membangunkan ketiga sahabatnya.
Lampu mobil yang masih menyala menjadi penerangnya untuk mendekati gerbang besar itu, suasana Vila tampak sepi dan gelap. Tidak terlihat satu cahaya yang bisa menunjukkan kalau ada sebuah kehidupan didalam sana. Kanya mencari tombol bel atau apapun yang bisa dia jadikan sarana untuk memanggil seorang penjaga.
"Nona Clarissa ya?"
"BANGS*T!!!! ASTAGFIRULLOH!?!?!" Umpatnya kaget disertai istigfar karena mengucapkan kata kasar pada seseorang yang lebih tua. "Maaf pak, iya, saya Kanya, Clarissanya ada didalam mobil."
"Saya tunggu dari siang loh. Bapak sudah pesan kalau non Clarissa sama teman-temannya mau datang." Satpam itu berlari membukakan gerbang yang menjulang tinggi. "Maaf, saya tidak dengar soalnya sedang menonton TV didalam."
"Oh iya gak apa-apa pak."
"Langsung masuk saja non, ikuti jalannya. Nanti ada beberapa Vila dan ada penjaganya juga disana. Jadi langsung diarahkan kalau nona bilang pesanan nona Clarissa." Ujarnya dengan penuh keramahan, wajah sumringah terlihat jelas dari raut pria tua ini. "Silahkan nona."
Kanya mengangguk. "Baik pak, terima kasih. Maaf mengganggu."
Satpam itu tersenyum tipis dan menunduk kecil ketika Kanya sudah melajukan mobilnya melewati gerbang. Sekitar dua puluh menit Kanya mengendarai mobil, perasaannya semakin kacau, masih belum terlihat cahaya dari sebuah rumah kecil. "Ini beneran gak sih?"
"Kenapa Nyak?" Clarissa bangun, mengucek matanya dan menatap keseliling pemandangan yang tidak terlihat cahaya sedikitpun meski dari sinar rembulan. "Ini dimana?"
"Temen nyokap lo beneran kan Ca? gue udah masuk dari gerbang dua puluh menitan yang lalu tapi sama sekali gak kelihatan ada tanda-tanda kehidupan." Ucapnya sembari memelankan mobil, dia menekan sekali lagi pada tombol kunci untuk seluruh pintu mobil memastikan tidak melupakan keamanan satu itu. "Kita gak dijadikan tumbal kan?"
Delisa dan Vina yang sudah bangun juga menatap ngeri kesepanjang jalan.
"Tapi kata satpam didepan udah tinggal lurus aja, mana tadi beliau tahu nama lo lagi."
Clarissa membuka ponselnya, mencari nomer mamanya untuk dihubungi, tapi baru sekali deringan dalam ponsel Kanya berteriak. Menunjuk kedepan, menatap sebuah lampu-lampu yang terang, bahkan Kanya menekan pedal gas agar cepat sampai. Clarissa mematikan sambungan teleponnya, dia juga tersenyum senang menatap sahabat-sahabatnya.
Sebuah dua Vila berjejer yang mereka lihat, pemandangan begitu indah. Mereka disuguhkan sebuah pantung pancuran megah ditengah-tengah halaman. Kanya menghentikan mobil pada sebuah parkiran yang tersedia, ada dua mobil yang berjajar disana. Itu pertanda ada pengunjung selain mereka disini. Mereka turun dengan semangat, mengeluarkan tas serta koper masing-masing.
__ADS_1
"Selamat malam."
Keempatnya menoleh, melihat seorang wanita dengan pakaian setelan jas tersenyum hangat kepada mereka. "Dengan nona Clarissa."
"Iya saya." Clarissa maju.
"Mari saya antarkan ke Vila yang akan kalian tempati."
Mereka berjalan mengikuti wanita itu, Clarissa melangkah beriringan dengan wanita itu yang menjelaskan tentang Vila yang akan mereka tempati selama dua sampai tiga hari itu. Menjelaskan bahwa mereka sangat senang saat mendengar tamu special yang akan menginap.
Mereka sampai pada pintu bercat cokelat. Wanita itu membukanya yang ternyata sebuah pintu menuju satu rumah dengan desain megah. Wanita itu berhenti didepan pintu setelah membukanya. "Selamat beristirahat, jika ada yang dibutuhkan tinggal pakai telepon yang ada didalam dengan menekan tombil satu." Wanita itu tersenyum lagi. "Jam delapan sarapan pagi akan kami siapkan."
"Terima kasih,"
Mereka masuk kedalam Vila dengan perasaan senang, megah dan desain begitu modern.
"Gilaa ini desain favorite Ica banget." Ucap Vina melihat seluruh cat berwarna hitam kombinasi putih dengan peralatan berwarna senada dengan cokelat. "Cakep bangett, instagramable."
"Gaklah, ini beneran cuma temen mama."
"Lo bayar berapa Ca sebelum dibalikin uangnya?" Delisa mulai ikut penasaran dengan teman mamanya Clarissa ini.
"Gue DP lima terus dua hari sebelum berangkat gua kasih lima lagi." Jelasnya.
Vina menghela napas. "Lima apa Ca? ribu atau ratus."
"Juta."
"ANJIIRR!?!" Ketiganya kaget, menelan saliva dengan sangat kasar. "Itu seriusan."
"Iya." Jawab Clarissa tanpa melihat ketiganya, dia malah berjalan menyentuh semua bagian miniatur mobil dilemari kaca yang dia buka.
"Sudahlah." Kanya berdiri. "Kita lupakan soal siapa pemilik Vila ini, kita jadikan sebuah misteri siapa teman tante Dinda ini. Lebih baik kita istirahat, karena Vila gede, kamar sendiri-sendiri ajalah ya."
__ADS_1
...πΌπΌπΌ...
Pagi sekali, Clarissa sudah bangun lebih dulu dibandingkan yang lain. Dia keluar Vila menyusuri jalan setapak dengan earphone yang menancap pada telinganya. Melewati sebuah tangga panjang dengan sebuah danau disampingnya, tidak terlihat pengunjung lain mungkin karena masih terlalu pagi.
Tidak pernah sekalipun dia duga, bertemu dengan laki-laki yang juga tengah terdiam menatapnya, Clarissa mematung diatas anak tangga menuju bawah dan lak-laki itu berdiri tidak jauh pada anak tangga bawah. Harus menyapa atau pura-pura tidak lihat. Laki-laki itu melangkahkan kakinya dan berjalan melewatinya tanpa menyapa. Clarissa hanya menelan salivanya, untuk apa juga mereka saling menyapa.
Dia kembali melanjutkan langkahnya kebawah, melihat area danau dengan pagar pembatas mengelilingi, aman bukan? ada beberapa tempat yang bisa dijadikan spot foto, dia akan melaporkan pada sahabat-sahabatnya nanti.
"Nona Clarissa."
Clarissa menoleh, dia sedang asik memotret seluruh pemandangan disini menggunakan kamera yang dia bawa. Wanita yang semalam menyambutnya berdiri tidak jauh darinya, Clarissa membersihkan celananya bekas dia duduk dirumput.
"Iya."
"Sarapan sudah siap? teman-teman nona sudah menunggu diruang makan bersama."
Dahi Clarissa berkerut, apakah setiap penyewa Vila diperlakukan sedemikian? dicari kemanapun keberadaannya untuk sarapan bersama, bahkan disambut langsung ditempat parkiran.
"Iya, ini mau kembali ke Vila."
Wanita itu mengangguk, dia berjalan mendahului Clarissa. Sesekali melihat kebelakang, hanya untuk memastikan bahwa Clarissa tetap berjalan mengikutinya.
Tidak terasa memang dia berjalan sendiri menyusuri danau selama satu jam, mungkin kameranya sudah penuh dengan hasil jepretannya selama berjalan sendirian tadi.
Clarissa masuk dan langsung diarahkan menuju ruangan lain, sebuah gedung bernuansa cokelat. Pintu dibukakan, dan terlihat beberapa koki serta pegawai yang membantunya menata sajian mereka disebuah meja, dihadapan teman-temannya dan..... Teman-teman Putra?
"Clarissa." Noel melambaikan tangan kearahnya. "Kemana saja."
Wajah mereka tampak sumringah, hanya Kanya yang menatapnya datar dan tidak suka.
"Yuk duduk," Putra sudah berdiri didekatnya dan menariknya untuk duduk ditempat kosong. Clarissa tidak bisa berkata-kata, bagaimana bisa mereka semua berada ditempat liburan yang sama dan sarapan bersama.
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ
__ADS_1