
...πΌπΌπΌ...
Hari ini ujian akhir semester berakhir. Semua murid kelas dua belas SMA Gemilang Cahaya berkumpul dilapangan sekolah untuk menunggu pengumuman. Pengumuman mengenai hasil ujian dan kelulusan.
Clarissa dan Kanya saling menggenggam tangan, bercerita random soal apapun. Mereka belum merencanakan akan berlibur kemana setelah ini, karena kesibukan mereka mencari university yang akan mereka tuju. Sepertinya Clarissa dan Kanya tidak akan berpisah, mereka memilih untuk masuk ke universitas ternama di ibu kota.
"Astaga, kalian gak bosen berdua terus?" Kanya melirik tidak senang pada Daze yang bertanya. Daze yang mendapat tatapan itu hanya menggeleng pelan. "Kayaknya kita bakal kepisah Ca,"
"Emang lo mau masuk kemana?" Tanya Clarissa yang berdiri disebelah Daze.
"Mama nyuruh lanjut di London sih, kalau papa nyuruh gue ngikut Marisa. Tapi masih galau." Jelasnya, mereka jarang bicara, tapi Daze tampak nyaman berbicara hal pribadi padanya.
"Nikah sekalian aja. Biar enak kemana-mana berdua. Lebay." Ejek Kanya yang ikut mendengar penjelasan Daze.
Clarissa tersenyum, meminta maaf pada Daze tanpa mengatakan apapun. "Saran gue, ikut Marisa aja."
"Niatnya gitu, tapi mungkin bakal satu kota aja. Gak bisa satu university karena di university yang Marisa pilih gak ada jurusan yang gue minati." Jelasnya lagi, laki-laki tersenyum sembari melambaikan tangannya pada Marisa yang tidak sengaja menatapnya. Sepertinya paham jika sedang dibicarakan.
"Enak ya, di prioritasin sama pacar." Nimbrung Delisa yang berdiri didepan Clarissa. "Gue sama Noel kayaknya bakal pisah, soalnya dia mau lanjut ngikut Putra."
"Ya lo ngintil lah." Timpal Kanya,
"Duit bokap gak sebanyak itu Nyak,"
"Tapi yang gue denger bokap Noel mau biayain semua keperluan lo loh."
Ungkapan itu membuat Kanya mengangkat kepalanya, dari bersandar dibahu Clarissa. "Hah? serius?"
Daze mengangguk. "Gue denger dari Rinda, ada makan malam semua perwira tinggi dirumah Rinda, om Bram naik pangkat makanya ngadain pesta. Terus disana om Firman bilang bakal bantu semua keperluan pacarnya Noel selagi Noel bahagia."
__ADS_1
"Widihhh, mau nikah lo sama Noel?" Ledek Kanya.
"Ngaco," Delisa menghadap kedepan, dia melirik kearah Noel yang tersenyum tipis padanya, mereka berbeda barisan karena Noel berada dikelas IPS. Laki-laki mengerucutkan bibirnya pada Delisa karena berdiri berjauhan. Tiba-tiba membuat jantung Delisa berdegub kencang.
"Ica juga katanya mau dibiayain om Gio biar bareng sama Putra." Kanya berucap, membuat Clarissa menyikut lengan sahabatnya.
"Ngasal,"
"Itu bener."
"Gue gak mau ninggalin bokap." Ucap Clarissa membuat Daze menutup mulutnya.
Semua hal gila menjadi nyata jika berurusan dengan anak yang memiliki orang tua hebat.
Semua bubar ketika kepala sekolah memberikan penjelasan bahwa sabtu depan adalah pilihan tepat untuk mereka mengadakan pengumuman kelulusan. Para anak kelas dua belas dibiarkan untuk beristirahat sebentar sebelum hari sabtu tiba. Semua murid bersorak gembira.
"Ca, nyusul ke kafe biasa ya." Teriak Kanya sembari mengeratkan pelukan dipinggang Edo yang mulai melajukan motor bebeknya. Kanya sudah terang-terangan mengenai hubungannya, Clarissa memberikan nasehat penuh untuk menerima Edo dengan sepenuh hati, maklumi saja, deretan mantan Kanya memiliki mobil dan baru Edo yang hanya orang biasa membawa motor bebek pula. Bukan sombong, tapi begitulah sifat para anak perempuan yang hybe abis.
Ini pertama kalinya Erlangga membawa mobil sportnya kesekolah, dan Clarissa yang duduk disini.
Padahal biasanya Erlangga selalu membawa mobil biasa, kenapa juga dia membawa mobil sport sekarang? saat mulai masuk, aroma black musk mulai menyeruak kedalam hidungnya, wangi.
Ckarissa duduk tenang dan memasang sabuk pengaman. Semua pengemudi benci jika penumpangnya tidak memakai sabuk pengaman terlebih dahulu.
"Ck," Erlangga berdecak, parkiran sudah penuh dan terpaksa dia mengambil jalan mutar untuk memarkirkan mobil disebrangnya.
Clarissa sudah turun lebih dulu, tapi dengan tau diri dia harus menunggu Erlangga. Laki-laki itu sudah keluar meninggalkan tasnya lalu berjalan pelan keaarah Clarissa. Mereka berjalan beriringan menuju zebra cross.
Melihat Kanya yang berlari keluar kafe, membuat Clarissa maju sedikit dan melambaikan kedua tangannya keatas, memberikan peringatan bahwa dia berada didepannya. Erlangga menarik Clarissa mundurnagar tidak terlalu berdiri dipinggir jalan. Kanya yang melihat itu juga ikut melambaikan tangannya.
"Ica cepetaaannnn..." Kanya berteriak.
__ADS_1
"Sabar elahhh.." Balas Clarissa, masalahnya sebrangnya masih ramai, jarak mereka terhalang dua rambu lalu lintas.
"Tunggu disituuu....." Teriak Clarissa kencang, Kanya hanya menjulurkan lidahnya dan mulutnya menggumam yang dapat Clarissa tangkap 'gue sayang lo' Clarissa menunduk melihat ponselnya bergetar ada pesan dari Kanya, Clarissa tertawa kecil sembari membukanya.
Kanya Dealova
Ada cerita besar,
lo harus denger ini.
Clarissa tidak membalas, dia menatap kedepan melihat hendak berlari menghampirinya, Clarissa hanya menggeleng melihat kekonyolan Kanya, dan......
BRAK....
Clarissa menutup matanya dan menutup kedua telinganya dengan kedua tangan sembari berjongkok kaget. Suara benturan keras membuatnya kaget secara mendadak. Suara klakson dimana-mana membuatnya perlahan membuka matanya, dia melihat samar Erlangga berlari kencang kearah sebrang, semua motor berhenti dan kemacetan terjadi..
Terlihat Edo yang berlari panik keluar kafe diikuti semua teman-temannya.
Air mata Clarissa terjatuh, dia terisak disebrang tanoa berani mendekat. Dari buramnya matanya karena dibanjiri air mata, Clarissa melihat Erlangga berlari kearah lain dengan mobil yang mendadak mengencangkan kecepatan.
"BANGSAAATTT!!!" Terdengar Erlangga berteriak, dia kembali berlari kerarah Kanya yang ada dipelukan Edo.
Erlangga mengeluarkan sapu tangan dari saku celana sekolahnya dan dia usap darah didahi Kanya. Satu tangannya bergerak menekan tombol panggilan darurat, Kanya menggenggam tangannya kuat.
"I-Ica,,,"
Erlangga menoleh pada Clarissa disebrang yang terisak menangis, perempuan mungil itu sesekali menekan dadanya dengan satu tangan yang menghisap alat bantu pernapasan dengan bantuan orang-orang disekitarnya.
"I-icaa,," Kanya berucap dengan sesenggukan. "Ica,,,, Ja-jagaa..."
"Sebentar Kanya.." Dada Edo berdegub kencang, dia langsung mengangkat tubuh Kanya saat ambukan datang, Erlangga juga berdiri karena tangannya masih digenggam kuat oleh Kanya sampai didalam ambulance.
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG ππππππππ