
...πΌπΌπΌ...
Pagi ini, Putra tidak ikut sarapan bersama. Dia sudah pergi lebih pagi dari bisanya. Clarissa tidak berani menanyakan kepada pelayan ataupun kepada papa dan mama Putra sendiri. Dia diam, menyantap sarapan yang sudah dipersiapkan oleh Chef Aldo.
"Nanti, Ica tante yang antarkan ya??" Clarissa mengangguk. Dia melihat kearah Gio yang menatapnya tersenyum.
"Om mau coba cek Rumah Sakit tempat mama kamu kerja, mau titip salam?"
Clarissa mengangguk. "Boleh? oh iya om-tante, sore nanti Ica boleh pergi ketempat mama? Ica kangen mama, nanti minggu sore Ica kesini lagi."
"Boleh." Jawab Anita. "Nanti diantar sama Pak Budi atau Deon ya??"
"Iya tante, terima kasih."
Setelah selesai sarapan, Clarissa dan Anita masuk kedalam mobil pribadi Anita. Sedangkan Gio sudah lebih dulu pergi menggunakan mobil pribadinya. Didalam perjalanan juga Anita tidak banyak mengajaknya bicara, secara garis besarnya juga dia tidak terlalu pandai dalam berbasa-basi.
"Ica,"
"Iya tante." Clarissa menatap Anita. Setelah lama saling membisu akhirnya Anita mengajaknya lebih dulu untuk mengobrol.
"Umm, Meysa masih suka ganggu kamu disekolah tidak?"
Clarissa menggeleng kecil. "Enggak tante,"
"Kalau dia melakukan kesalahan sedikit sama kamu, jangan lapor pada Putra atau om Gio ya?" Anita merah tangannya, mengelus dengan lembut. "Putra dan om sedikit sensitif kalau Meysa melakukan hal buruk padamu, dan mereka akan melakukan sesuatu yang bisa membuat Meysa lebih terluka. Makanya, tante mohon sama kamu, sekalipun tidak bisa menghindari kenakalan Meysa, setidaknya kamu jangan melaporkan pada Putra."
"Ica tidak pernah melaporkan apapun pada Putra." Clarissa menunduk, menarik tangannya. "Maaf kalau adanya Ica malah membuat semuanya kacau."
"Bukan seperti itu, Ica."
Clarissa meraih tasnya, dia bergerak memeluk Anita yang terdiam. "Selamat bekerja tante, Ica masuk dulu. Terima kasih atas tumpangannya."
"Ica..." Teriakan Anita tidak didengar oleh Clarissa, perempuan itu berlari masuk gerbang dan sudah berjalan beriringan dengan beberapa orang yang mungkin saja teman dekat Clarissa.
Saat hendak menutup kaca mobilnya, Anita mengurungkan ketika melihat Meysa keluar dari dalam mobil putih. Putrinya itu melambaikan tangan tinggi-tinggi kearah mobil, senyum merekahnya memudar ketika mobil itu melesat jauh tanpa memperdulikannya. Anita semakin bingung, dia sangat merindukan Meysa, tapi dia ingat akan janjinya kepada Gio Adietama, bahwa dia tidak bisa mendekati Meysa sesukanya jika ingin hidup putrinya bahagia dan mantan suaminya kembali sehat.
Anita tersenyum getir, bagaimana bisa dia memastikan Meysa bahagia? kalau dia saja tidak bisa menemui putrinya itu.
...πΌπΌπΌ...
"Halo ceboollll....." Mood Meysa tampak aneh, Clarissan menulikan panggilan perempuan yang selalu mengganggunya itu. Tapi seperti Meysa tengah sendirian, para antek-anteknya tidak terlihat. "Ehh coba tebak gue berangkat sekolah sama siapa?"
Clarissa yang sedang mencuci tangannya tidak memperdulikan Meysa. "Coba tebak...."
Bahkan Meysa mengejarnya sampai keluar toilet. "Coba tebak....."
Para siswi yang hendak masuk kedalam toilet berhenti dan menyingkir sejenak ketika Meysa berjalan dilorong mengikuti Clarissa yang masih membungkam mulutnya. "Cebol, tebak dong."
Meysa melambaikan tangan kepada siswi yang biasanya dia jadikan objek bully, hari ini mood Meysa sedang baik, jadi dia akan melepaskan adik kelasnya itu. Sepertinya mengganggu Clarissa adalah yang terbaik.
"Iyaa bener,,, gue berangkat sama Putra." Jawabnya sendiri sembari bertepuk tangan.
Langkah Clarissa berhenti mendadak, membuat Meysa berjalan dan berhenti didepannya. "Kenapa? kok kayak kaget gitu."
"Bi-biasa aja kok."
"Lo kapan mau keluar dari rumah Putra? dia cerita sama gue tadi pas dijalan, katanya ribet ada lo di rumah, semua orang perhatiannya ke lo aja sampai gak perduli sama dia, bahkan om Gio udah gak percaya sama ucapannya lagi." Clarissa menatap Meysa, perempuan itu sudah berkacak pinggang menatapnya sinis. "Jangan suka jadi benalu deh, gak capek?"
__ADS_1
"Capek."
"Nah makanya pergi aja dari rumah Putra."
"Gue nanya lo?"
"Maksud lo?"
"Lo gak capek? lo mau berangkat sama Putra kek, gue mau jadi benalu kek, terserah gue dan gue gak perduli." Baru kali ini Meysa diam tanpa mengatakan hal lebih buruk atau menyerangnya, bahkan Clarissa bisa pergi dari sana dengan keadaan selamat.
Clarissa menoleh kebelakang takut kalau Meysa berlari mengejarnya atau lebih parahnya sampai menjambaknya. Namun langkahnya berhenti dan dia terjatuh.
"Ya ampun, Clarissa...." Seorang laki-laki berlutut dan membantunya berdiri. "Lo gak apa-apa? ada yang sakit enggak."
Sejenak Clarissa menulikan pertanyaan laki-laki itu, setelah membersihkan lututnya dia mendongak. Rinda. "Enggak apa-apa kok, makasih Rinda."
"Iya.. Iya.. Salah gue sih tadi asik main game gak lihat lo didepan."
"Gue juga salah kok karena lari-lari."
Rinda melepas earpone sebelahnya lagi. "Ya lo ngapain pakai lari-lari segala? kan belum bel masuk." Rinda mengikuti arah kepala Clarissa, terlihat Meysa tengah berdiri dan melambaikan tangannya. "Dih, so scary. Lo diganggu lagi sama dia."
Clarissa menggeleng cepat, bisa saja Rinda akan melaporkannya pada Putra atau Gio, padahal Meysa tidak melakukan apapun. "Enggak, kami sama-sama di toilet, karena takut diganggu makanya gue lari duluan."
"Pinter." Rinda mengelus puncak kepala Clarissa. "Ya udah gue anter ke kelas, biar dia gak berani deket."
Mereka jalan beriringan, rasanya ingin sekali dia menanyakan pada Rinda kebenaran soal Putra yang berangkat sekolah bersama Meysa.
"Ca."
"Ha?" Clarissa kaget dan langsung mendongak.
"Kapan-kapan, kalau ada waktu luang."
"Oke deh. Oh iya, denger-denger lo dapet ruang VIP pas konser Bad Omens? gila.." Clarissa sedikit tergeser karena bahunya disenggol oleh Rinda.
Mengelus kecil bahunya. "Iya, lo tahu Bad Omens?"
"Tahu lah, gue kesel waktu mereka dibilang mirip sama BMTH, padahal namanya juga band metal ya, pasti searah nadanya."
Clarissa manggut-manggut, diapun sempat tidak setuju tapi dia juga menyukai BMTH?
"Jangan bilang lo suka juga sama BMTH?"
"Juga? lo suka juga sama mereka."
Rinda tertawa keras. "Suka, gue suka banget sama Matt Kean, gilaa kalo lagi konser petcahh. Lo suka siapa? jangan bilang suka Putra ehhehe maksud gue suka Oliver Sykes."
"Apaan sih," Clarissa berdecak kecil. "Siapa yang gak suka Oliver, tapi gue lebih suka Matthew Nicholls."
"Oh, drumer mereka?" Rinda menatap Clarissa lagi. "Kalau di Bad Omens, siapa favorit lo?"
"Nick Folio."
"Lo suka Drum ya Ca?"
Clarissa mengangguk. "Gue punya Drum di rumah."
"Wihh, bisa main dong?"
__ADS_1
Clarissa mengangguk lagi. "Kalau lo? favorit siapa?"
"Jolly."
"Joakim Karlsoon?"
Rinda mengangguk. "Dia itu keren. Lo tau band Ultra-violence? itu Jolly yang memproduksi."
"Ultra-Violence? Gue baru tahu,"
"Lumayan enak lagunya, The End, Beyond."
"Nanti gue cari deh."
"Iya, gue juga dikasih tahunya sama Erlangga soal Ultra-violence."
Clarissa menoleh. "Erlangga?"
"Iya, nih gue kasih tahu rahasia ya?" Melihat Clarissa mengangguk, laki-laki itu bergerak mendekat. "Erlangga tergila-gila banget sama Noah Sebastian."
Mendengar itu Clarissa menjauhkan kepalanya. "Tergila-gila."
"Heh, bukan yang suka dalam hal lain. Erlangga masih normal kali Ca."
"Gue kira..."
"Ehh ICAAA...."
Rinda terbelalak kaget, namun dia lega dan mengelus dadanya. Hampir saja Clarissa tersungkur.
"Sorry gak sengaja."
Rinda dan Clarissa saling menatap, melihat Putra yang masuk ke dalam kelas setelah berhasil membantu Clarissa untuk berdiri tegap. "Apa-apaan penjegalan itu? lo gak apa-apa Ca?"
"Gak apa-apa kok."
"Lo sadar gak sih? aneh banget tingkahnya, itu tadi sengaja banget kakinya, biar lo jatoh."
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ
PUTRA ROZQI ADIETAMA
RINDA AGHA ABIAN
ERLANGGA DAVIN ANDERSON
DAZE HANENDRA
ARNOLD SANJAYA (NOEL)
__ADS_1