Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:22


__ADS_3


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Setelah selesai upacara bendera seperti biasa pada hari senin, semua kelas bubar dan langsung memasuki kelas masing-masing. Kecuali kelas dua belas IPA satu, setelah mendengar bu Eva selaku guru sejarah yang meminta izin tidak bisa mengajar hari ini, membuat seluruh anggota kelasnya senang bukan main. Seperti Clarissa dan ketiga temannya sedang asik duduk didepan kelas, Kanya mengipas lehernya dengan topi yang telah dia lepas sejak tadi.


"Gila,, ini hari panas banget, pengen pingsan gue." Cercanya sembari bersandar dibahu Clarissa.


Vina berdecak, "tinggal pingsan aja sih Nyak, kenapa pake kode-kodean segala..."


"Siapa tau ada yang mau langsung gendong gue..."


"Mana ada yang mau gendong lo, beban dosa lo terlalu berat."


Kanya mendelik mendengar ucapan Daze yang berlalu masuk kedalam kelas, Clarissa menahan tangan sahabatnya agar tidak mengejar Daze. "Pusing gue lihat dia," Clarissa tidak menanggapi ucapan Kanya, dia menepuk bahunya agar Kanya merebahkan kepalanya lagi.


"Gue juga pusing Ca..." Putra secara gamblang ikut merebahkan kepalanya pada bahu Clarissa yang kosong. "Panas yeh..."


Kanya mengangkat kepalanya. "Minggir njing..." Mendorong kepala Putra secara kasar lalu menepuk bahu Clarissa seperti sedang membersihkan. "Siapa lo, pergi jauh-jauh, dasar parasit." Memeluk Clarissa dengan posesif.


"Pelit lo....." Dia bangkit dan meninggalkan gerombolan perempuan yang tidak menyukainya itu.


Vina berdecak kagum. "Heran gue, Putra gimana aja kok bisa ganteng gitu sih."


Delisa mengangguk, dia ikut menopang dagu seperti Vina sembari menatap kepergian Putra hingga masuk kedalam kelas. "Nyokapnya ngidam apa sih dulu,"


"Rusak mata kalian, ganteng dari mana coba." Kanya tampak tidak terima dengan anugrah ketampanan Putra yang membuat mata betah menatapnya. "Gue sih No.."


"Itu lo Nyak, cewek yang gak bisa bedain mana ganteng sama burik.."


"Dan dia burik...." Jawab Kanya.


Setelah sekian lama menyadarkan diri dari lamunannya terhadap perlakuan Putra barusan, Clarissa menatap teman-temannya. "Burik apaan?"


Mereka menghela nafas bersamaan dan berdecak kesal, membuat Kanya terpaksa mengangkat kepalanya dan menatap Clarissa, "Menurut KBBI burik dapat diartikan sebagai bopeng atau bintik-bintik di wajah. Kata burik biasanya digunakan sebagai konotasi yang buruk oleh sebagian orang dalam menilai wajah seseorang."


"Putra gak burik..."


Mereka menghela nafas lagi, kali ini Delisa yang meraih kedua bahu Clarissa untuk menatap kearahnya, "ica, tadi Vina itu bilang kalau Kanya gak bisa bedain mana ganteng sama burik, bukan ngomongin Putra burik."


"Enggak Ca, gue emang ngomongin Putra burik kok, selain burik dia juga bagian dari sampah masyarakat.." Kanya melotot ketika mulutnya ditepuk oleh seseorang, namun dia menurunkan kadar kemarahannya ketika melihat siapa yang telah memukul mulutnya. "Bu Siska..."


"Siapa yang sampah masyarakat???" Keempatnya terdiam, "Kanya, jangan racuni teman-teman kamu yang suci ini sama mulut kamu yang kotor,"


"Bukan saya bu..."


"Bukan saya bukan saya, jelas-jelas saya dengar sendiri kamu berbicara dengan kata yang mengandung kotor barusan."


Kanya menunduk, "saya bu yang sampah masyarakat." Ucap Kanya agar tidak memperpanjang masalah, "maaf bu."


"Bukan ibu loh yang ngomong kamu sampah." Bu Siska berdiri ditengah-tengah mereka berempat, "bubar sekarang."


Hal itu membuat ketiganya berlari masuk kedalam kelas sedangkan Clarissa membantu bu Siska membawakan buku tugas mereka. "Clarissa tolong sekalian bagikan buku tugas kalian."


Setelah melihat Clarissa menyelesaikan tugasnya membagikan buku kepemilik masing-masing, bu Siska berdiri ditengah-tengah memerintahkan agar seluruh meja disatukan menjadi lima bagian. Lalu dia berjalan kearah papan tulis, menulis nama-nama muridnya kedalam barisan secara acak. "Duduk sesuai kelompok yang sudah ibu tulis didepan."


Putra tersenyum kecil, dia disatukan dengan Clarissa. "Sudah...." Teriak bu Siksa.


"Sudah buu....."


"Bu Eva sedang ada keperluan, jadi kalian disuruh mengerjakan tugas secara berkelompok dengan kelompok yang sudah beliau buat sendiri." Ucapnya menjelaskan. Dia selaku wali kelas dua belas IPA satu harus tetap standby memantau kegiatan anak-anaknya. "Jadi, kerjakan tugasnya dengan tenang, bel istirahat kumpulkan."


"Seneng gue sekelompok sama ica," Clarissa hanya tersenyum kecil dan menepuk lembut lengan Delisa yang memeluknya.


"Gue juga seneng sekelompok sama Putra," dari arah depannya terlihat Putra tengah menggoyangkan tubuhnya karena dipeluk oleh Daze dan laki-laki itu mendapatkan tepukan dikepalanya. "Sakit Put."


"Otak lo juga sakit."


"Gue juga seneng duduk dibelakang ica," kelompok Clarissa melihat kebelakangnya, Kanya tengah menyandar dipunggung Clarissa.


"Hey... Sudah,, tenang semuanya..." Bu Siska mengangkat sebuah kertas. "Ini ada sepuluh soal yang tertulis, kerjakan dengan benar dan jangan ribut. Ibu mau ngajar dulu."


"Baik buuu....." Teriak mereka sembari menatap bu Siska berjalan keluar kelas lalu menutup pintu.


Setelah mendapat kertasnya, Clarissa menaruhnya ditengah-tengah meja.


"Kita ngapain Ca?"


Delisa berdecak, "ya ngerjain lah Ze, pertanyaan lo itu tidak mengandung kegunaan tau gak?"


"Ya mana tau ada sesuatu yang menarik dari Clarissa kan?" ucapnya. "Ya walaupun semua yang ada pada Clarissa menarik," keempat anggotanya menatap dirinya termasuk Clarissa. "Bagi pria yang dekat dengannya...."


Putra memukul kepala Daze lagi, "berhenti bacot atau lo gue keluarin dari dalam sini..."


"Jangan Put, entar gue bunting."

__ADS_1


Daze meringis lagi saat Putra memukul kepalanya. "Dalam kelompok sini bego."


"Omongan lo ngambang sih Put," Putra menatap Mira yang kini ikut berbicara setelah lama diam sebagai penyimak. "Gue gak salah ngomong kan?"


"Bisa kita mulai?"


"Sorry Ca,"


"Soalnya otak gue gak ngerti sama arah pembicaraan kalian." Jawabnya. "Jadi karena ada sepuluh soal, kita bagi satu orang jadi dapat dua soal, setelah siap kita bakal rundingin jawaban masing-masing."


"Gue setuju sama ica...." Delisa melirik tajam.


"Nyak, diem lo.." Kanya berbalik kembali menatap kelompoknya.


Kelas IPA satu mulai hening saat mengerjakan soal dengan serius, ada yang menggarukkan kepalanya karena kebingungan, ada yang dengan santai mengerjakannya, ada yang tidak perduli dan malah asik bermain ponsel atau mengobrol.


"Ya ampun, lo kenapa bego banget sih," Kanya menjambak kecil rambut seorang teman sekelompoknya yang duduk disampingnya. "Lihat dibuku dong pinter, kan ada, ini jawaban gue kenapa lo catet."


"Gue kan gak tau jawabannya."


"Cari nyet, cari,," menaruh buku didepannya. "Kita itu beda soal, ya pasti beda jawaban lah, lo kenapa pinter banget sih."


"Gue gak suka sejarah.. Gue gak senang mengingat masa lalu." Jawabnya


"Itu bukan urusan gue." Dia menggebrak meja. "Cari sekarang."


Clarissa yang merasa terganggu menatap kebelakang, "lo kan bisa nanya kalau gak tau jawabannya."


"Nanya sama siapaa, Clarissaaaa...." Meremas rambutnya sendiri. "Nanya sama lo boleh?"


"Sama kelompok lo lah."


"Udah gue bilang, gue gak suka sejarah, kita kan anak IPA kenapa belajar sejarah juga." Dia mengetuk dagunya. "Dibandingkan itu, gue lebih suka sama lo deh, kenapa kita gak sekelompok aja sih."


Brak...


Mereka semua tersentak kaget ketika Putra menggebrakkan tangannya di meja. "Kurang ajar, gue salah nulis jawaban."


Kanya memukul mulut teman sekelompoknya itu karena sudah menggoda Clarissa didepan pawangnya. Ya dia tahu, sejak mereka menjadi teman sekelas, Azka sudah menaruh perhatian pada Clarissa. "Diem dan kerjain atau lo gue laporin ke bu Siska."


"Iya,, iya..."


Mereka kembali fokus mengerjakan tugas, Azka tetap merengek tidak bisa dan membuat Kanya serta teman yang lain membantunya. Lebih tepatnya, mereka yang mengerjakan, sedangkan Azka sendiri sibuk mengganggu Clariisa.


Azka menghentikan aksinya untuk mencubit pipi Clarissa, "Azka."


"Tangannya bisa diam? gue gak fokus ngerjain."


"Sorry..."


Clarissa kembali mengerjakan tugasnya yang hampir selesai, Delisa menyikutnya, "Ca bantuin gue cari jawaban yang ini."


"Buka buku yang ini," menyodorkan buku sejarah didepannya, "halaman 211, gue udah pernah baca soal itu disana."


"Yey, makasih Ca..."


"Hem..."


Putra mengetuk kepalanya dengan pena, menatap Clarissa lama, dia harus memikirkan cara agar bisa berinteraksi dengan Clarissa sekarang. Tapi bagaimana??? isi otaknya sendiri saja sudah diatas rata-rata, tidak mungkin dia bertanya pada Clarissa yang tingkatan kepintarannya masih dibawahnya. Karena untuk mendapatkan juara dikelas saja, Putra selalu menjadi nomer satu dan Clarissa nomer dua.


Dia mengurungkan niatnya, tapi matanya menangkap Azka tengah menjahili Clarissa membuatnya bangkit dan menyenggol bangku Delisa. "Pindah tempat gue,"


Delisa sih nurut saja, dan pertukaran bangku itu membuat Azka sedikit sinis menatapnya.


"Ca..." Setelah menahannya, akhirnya panggilan itu keluar dari mulutnya. Teman satu kelompoknya juga mendongak, mempertanyakan ada apa dengan Putra tiba-tiba memanggil dan meminta duduk didekat Clarissa. "Mau nanya dong."


"Lo nanya sama ica Put?" Clarissa hanya memandang datar melihat Putra yang mengangguk menjawab pertanyaan Mira dan dia kembali mengerjakan tugasnya. "Lah gue aja tadi nanya sama lo."


"Gue bukan gak tau jawabannya,"


"Terus? ??"


Putra tidak perlu menjawab pertanyaan Mira, dia menggeser bukunya, "jawaban gue yang nomer ini ada dua ca, mau minta pendapat lo dong. Lo lebih suka yang ini apa yang ini??" Tunjuknya pada Clarissa, namun permpuan itu malas sibuk menulis lagi.


"Ca..." Panggilnya lagi, "suka yang mana."


"Suka lo."


Pena Clarissa mengambang, dia menggigit bibir bawahnya pelan lalu mendongak menatap Putra yang tatapan matanya kosong, dan mematung. Dia menoleh kekanan dan kekikir hingga kebelakang, seluruh teman sekelasnya memandanginya, mereka mendengar Clarissa mengatakan suka pada Putra.


Clarissa berdehem, menetralkan kegugupannya. Menarik buku Putra dan mulai membacanya. Meremas dadanya karena tidak mau berhenti berdetak, teman sekelasnya masih memandangnya, mereka seakan akan membutuhkan jawaban darinya.


"Su-suka-suka lo mau jawaban yang mana, setelah gue baca sama aja sih, cuma lebih rinci yang kedua. Gue setuju yang itu." Melirik teman-temannya, mereka sudah kembali pada tugas masing-masing walau terdengar sayup sedang membicarakannya. "Ini...." Mendorong buku Putra.


"Thanks..."

__ADS_1


"Clarissa, kalau sama jawaban gue lo suka gak??" Clarissa menatap Azka yang berdiri memandanginya. "Hmm... "


"Kenapa lo nanya sama gue??"


"Karena gue suka sama lo."


Seluruh teman-temannya bersorak menggoda. Tapi tentu saja Clarissa tidak tergoda. "Apa??" tanyanya.


"Suka sama lo yang suka sama jawaban Putra."


Clarissa menggeleng kecil, "sorry, gak masuk diotak gue."


Azka bergerak mendekat dan berdiri didekat Clarissa. "Lo suka sama Putra eh maksud gue lo suka sama jawaban Putra, dan Putra suka sama lo eh maksud gue Putra suka pendapat lo soal jawaban dia. Dan gue, suka sama,,,,,, pembicaran kalian. Makanya gue suka.... Aw..." Azka meringis, menatap kearah seseorang yang menjewernya. "Sakit bu...."


"Sakit??? kamu sudah mengerjakan tugasmu???? "


Azka mengangguk cepat, "sudah bu.."


Bu Siska melepaskan pelintiran tangannya pada telinga Azka dan berjalan menuju meja guru. "Kalau sudah ada yang siap, kumpulkan dan kalian boleh istirahat.."


...🌼🌼🌼...


"Hoamm....." Kanya menguap lebar lalu bersandar pada Clarissa, dia sedang asik menyantap bakso tanpa mie. "Gue pusing banget satu kelompok sama anak yang namanya Azka itu??"


Clarissa menepuk kepala Kanya pelan.


"Ca????"


"Hm.."


Mengangkat kepalanya, dia menopang kepalanya dengan menatap Clarissa. "Lo gak ada niatan tertarik sama Azka? dia lumayan cakep juga sih?"


"Enggak...."


"Percuma juga Ca,,,, Putra sudah memasang foto cewek dia instagramnya." Bisiknya, lalu dia menjauh lagi dari Clarissa. "Lo nyerah aja sih. Ya walaupun gue ngerasa ngenalin sosok perempuan difoto itu, tapi ya lo tetep harus lupain dia."


"Nyak..."


"Hem..?"


Clarissa menggeleng. Dia tidak perlu mengatakan bahwa foto yang diunggah Putra adalah dirinya. "Huhh,,, gue gak bisa berkata-kata."


Terlihat Delisa dan Vina bergerak mendekat duduk didekat keduanya. "Gue setuju sama Kanya."


Kanya tampak kebingungan, telinga temannya itu tajam sekali. "Soalnya si Azka kan juga sudah naksir sama lo dari awal kelas tiga."


"Jangan Ca..." Vina mengguncangkan kedua tangannya, "gue lebih setuju sama kak Rehan."


"Azka lumayan juga loh Vin..."


Kanya mengangguk, "gue dukung keduanya."


"Dukung gue Nyak,,,,"


"Jangaan.... Dukung gue aja."


"Bisa diem, gue gak fokus makan dari tadi..." Mereka bertiga berdecak, masalahnya bakso Clarissa sudah habis, dari mana tidak fokusnya?? dia menatap Kanya tajam, dalam penerawangan Kanya, mata Clarissa mengatakan. "Lo kasih tau Delisa sama Vina, kalau gue suka sama Putra?"


Kanya nyengir. "Hehe, kita kan sahabat."


Delisa dan Vina saling bertatap mata, mempertanyakan pertanyaan apa yang telah Clarissa berikan dalam telepati mereka.


"Eh Ca... Gimana sama kak Rehan malam minggu kemarin??"


"Lumayan berjalan lancar."


Mereka tersipu malu dengan menggoda Clarissa, "senangnya, ngapain aja Ca."


"Nonton."


"Setelah nonton??"


"Pulang."


"Gak kemana-mana???"


"Enggak." Keduanya menatap Kanya, yang mereka tangkap sorotan mata Kanya mengatakan sesuatu semacam.


"Jangan tanya lebih lanjut, karena Clarissa gak suka sama Rehan." Keduanya mengangguk.


Vina mendorong mangkuknya, "ini Ca, kayaknya lo lagi kelaperan. Makan punya gue aja."


"Makasih..." Menarik mangkuk Vina dan langsung menyantapnya.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2