Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 100


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak lamaran dadakan yang dilakukan oleh Arzan pada Allura. Gadis itu baru menyadari cincin yang ada di jari manisnya saat mandi sore hari. Saat itu reaksi Allura sungguh sangat terkejut, antara kesal dan terharu karena Arzan menyematkan cincin itu tanpa sepengetahuannya. Bahkan, Nyonya Fika dan Tuan Anderson sampai menggelengkan kepala mereka ketika Allura menceritakan bagaimana cara Arzan melamarnya di dalam mobil.


Hari ini Arzan berniat untuk menemani Allura yang akan melakukan tes DNA bersama Tuan Darion. Pria paruh baya itu menyetujui usulan dari Ibu Ani. Meskipun Allura menolak untuk bertemu, tetapi gadis itu tetap datang ke rumah sakit dengan ditemani oleh Arzan.


"Mas, apa kamu yakin di rumah sakit sudah tidak ada Tuan Darion?" tanya Allura saat mereka sudah berada di dalam mobil. Lagi-lagi Arzan memilih untuk mengendarai mobilnya sendiri tanpa menggunakan jasa Pak Ujang yang biasa menjadi sopir pribadinya.


"Tentu saja, sayang. Aku sudah menghubungi asisten pribadi Tuan Darion, hari ini mereka ada jadwal keluar kota. Jadi, pastinya mereka tidak akan berlama-lama di rumah sakit," jawab Arzan.


"Oh, baiklah." Allura pun kembali mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman.


Sebenarnya Arzan meminta Ibu Ani untuk menghubungi Tuan Darion dan menyampaikan rencana tes DNA yang akan mereka lakukan. Dia ingin segera menikahi Allura setelah maslah kekasihnya selesai. Lagi pula sekarang Arzan sudah benar-benar terlepas dari Rivera, mantan istrinya.


Waktu yang mereka lewati juga sudah cukup lama, tanpa terasa enam bulan telah berlalu semenjak Allura menjadi ibu susu Bintang. Arzan tak mau membuang-buang waktu lebih lama lagi, dia bertekad setelah hasil tes DNA Allura dan Tuan Darion keluar, Arzan akan memberikan kejutan untuk Allura.


Arzan juga sudah mendapatkan restu dari Ibu Ani dan Tuan Okta untuk meminang Allura. Jadi, sudah tidak ada penghalang lagi untuk hubungan mereka.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, Arzan dan Allura pun sampai di rumah sakit, mereka segara menghampiri ruangan dokter yang dipercayai untuk mengawasi proses tes DNA itu. Arzan melakukan itu semua untuk mencegah terjadinya kecurangan yang mungkin akan terjadi, dia tahu kelicikan Tuan Darion dan Arzan tidak mau mengambil resiko akan hal itu.


Kelicikan Tuan Darion bahkan sampai menghadirkan sosok lain yang harus menyamar sebagai anak mendian Pak Adnan. Sebelumnya Arzan tidak berpikir sampai sana, tapi setelah mendapat kabar dari Tuan Okta, barulah dia percaya. Arzan juga meminta kakek dari kekasihnya itu untuk ikut bersandiwara bagaimana semestinya.


"Mas, bukankah itu gadis yang diminta Tuan Darion untuk berpura-pura menjadi aku?" tanya Allura saat matanya tak sengaja melihat sosok gadis lain yang sedang memerhatikan keadaan sekitar.


"Iya, Ra. Kamu benar. Tapi, sedanga apa dia di sini? Bukankah Kakek sekarang sedang beristirahat?" Arzan juga malah balik bertanya pada Allura dengan terheran-heran.

__ADS_1


Di detik selanjutnya, tiba-tiba perasaan Allura mendadak risau dan tak menentu. Pikirannya tidak tenang dan terus mengingat sang kakek yang selalu sendirian di dalam ruang rawatnya, pria paruh baya itu selalu menolak untuk ditemani oleh siapa pun.


"Mas, aku khawatir terjadi sesuatu pada Kakek," ucap Allura dengan tatapan kosong dan mata yang terarah pada punggung gadis yang tadi dilihatnya.


"Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk pada beliau sayang," jawab Arzan mencoba untuk memenangkan Allura. "Sebaiknya kita temui Dokter Ferdi dulu. Setelah selesai, baru kita ke ruangan kakek," sarannya lagi.


Allura terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk dan menyetujui saran kekasihnya. "Baiklah," jawabnya.


Allura bergegas masuk ke dalam ruangan Dokter Ferdi, Arzan sendiri segera menghubungi Ibu Ani dan Dokter Nandi untuk segera mengecek kondisi Tuan Okta. Setelah selesai, pria itu pun segera menyusul Allura masuk ke ruangan Dokter Ferdi.


****


Hampir setengah satu jam berlalu, Arzan menemani Allura melakukan konsultasi. Ponselnya dari tadi sudah berdering, tetapi Arzan tidak menjawabnya karena dia menggunakan mode silent.


"Mas, ayo kita segera ke ruang rawat Kakek. Aku sudah sangat mengkhawatirkannya," ajak Allura sambil sedikit menarik tangan Arzan yang hendak mengambil ponselnya dari dalam saku celana.


"Iya sebentar, sayang."


Belum sempat Arzan mengambil ponselnya, tiba-tiba Edwin datang dengan napas yang terengah-engah. Bahkan, pria itu sampai mengeluarkan keringat yang mengucur deras di dahinya.


"Syukurlah saya bisa menemukan Anda, Tuan, Nona," ucap Edwin saat ia sudah berdiri dihadapan Arzan dan Allura.


"Ada apa, Win?" tanya Arzan dengan alis yang tertaut. Tidak biasanya dia melihat Edwin yang begitu kelelahan seperti saat ini.

__ADS_1


"Tu–tuan Okta ...."


"Tenangkan dulu, Win. Coba kamu jelaskan pelan-pelan," titah Arzan yang tidak tega ketika melihat asisten pribadinya berbicara sambil berburu napas.


"Ti–tidak ada waktu lagi, Tuan. Tuan Okta saat ini keadaannya sedang kritis," jawab Edwin sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.


"Apa?!" seru Arzan dan Allura secara bersamaan.


"Apa ... apa yang sebenarnya sudah terjadi, Tuan? Bukankah menurut laporan tadi pagi, Kakek dalam keadaan baik-baik saja?" tanya Allura dengan cemas. Bagaimana tidak, gadis itu baru saja merasakan kasih sayang dari kakeknya, tapi saat ini beliau kembali kritis.


"Maaf, Nona. Sepertinya ada seseorang yang sudah membuat beliau kritis. Memang tadi pagi pun beliau baik-baik saja," jawab Edwin yang membenarkan perkataan Allura.


Arzan sendiri masih terdiam, ia mencoba untuk mengingat sesuatu. Setelah beberapa saat kemudian, pria itu langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Segera cari gadis yang dibayar Tuan Darion untuk berpura-pura menjadi cucu Tuan Okta. Jangan biarkan dia kabur!" perintahnya pada orang itu.


"Mas, apa jangan-jangan gadis yang kita lihat tadi pelakunya? Apa ini semua rencana Tuan Darion?" tanya Allura. Gadis itu terlihat tampak marah dengan wajah yang mulai memerah karena menahan gejolak emosi dalam hatinya.


"Tenanglah, sayang. Aku sudah memerintahkan seseorang untuk segera menangkapnya," jawab Arzan. "Sebaiknya kita segera ke sana sekarang," sambungnya lagi.


Allura langsung mengangguk dan menyetujui ajakan Arzan, akhirnya ketiga orang itupun segera berlalu menuju ruang rawat Tuan Okta.


...❤️❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


Masih lanjut gak nih? 🤭🤭🤭


__ADS_2