Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 115


__ADS_3

Selesai menunaikan ibadah shalat, Arzan kembali menyuruh istrinya istirahat. Ia yakin jika Allura sangat kelelahan karena ulahnya tadi malam. Allura sendiri saat ini tengah menyusui Bintang. Bayi itu sudah kembali ke tangan orang tuanya sejak Allura dan Arzan selesai shalat.


Arzan mengulum senyumnya tak kala ia melihat anaknya yang begitu lahap menyantap nutrisi yang Allura salurkan padanya. Pria itu baru kali ini melihat secara langsung bagaimana cara Allura memperlakukan Bintang yang ada di pangkuannya.


"Ra, apa setiap hari kamu selalu seperti ini ketika menyusui Bintang?" tanya Arzan seraya menggoda anaknya.


"Tentu saja, Mas. Memangnya seperti apa lagi." Allura menyingkirkan tangan Arzan yang hendak menyentuh asetnya. "Jangan ganggu Bintang, Mas. Biarkan dia menyusu sampai kenyang!" sambungnya lagi untuk memperingatkan suaminya.


Arzan terkekeh saat mendengar Allura menggerutu karena sudah menggangu sang anak. "Apa kamu tidak lelah?" tanyanya.


"Tentu saja lelah, Mas. Tapi, semua ini aku lakukan karena aku menyayanginya," jawab Allura seraya mendaratkan kecupan ringan di kepala Bintang.


Arzan semakin dibuat terharu dengan kasih sayang yang dilimpahkan Allura terhadap putranya. Cerita yang selama ini selalu mamanya ucapkan tentang sang istri, itu semua bukan isapan jempol, kini Arzan benar-benar melihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Terima kasih karena kamu sudah menyayangi putraku, Ra. Ka–"


"Bintang itu putraku juga, Mas. Aku yang menyusuinya. Aku juga menyayanginya," sanggah Allura. Ia tidak menyukai ucapan Arzan yang mengklaim jika Bintang hanyalah putranya.


"Tentu sayang, tentu. Bintang putra sulung kita berdua," tanggap Arzan dengan haru. Di dalam lubuk hatinya, Arzan begitu bahagia. Bahkan, kebahagiaan yang saat ini ia rasakan, tidak bisa ia jabarkan.


Terima kasih, Tuhan. Engkau benar-benar mengabulkan semua keinginanku. Terima kasih karena engkau juga sudah mengirimkan bidadari tak bersayap dalam pelukanku. Semoga kebahagiaan ini selalu meliputi keluarga kecilku, batin Arzan.


Allura tidak kalah bahagianya dari Arzan. Kini ia tidak akan pernah kehilangan Bintang lagi. Bayi kecilnya akan tetap bersama dia.


Saak tiga orang itu sedang menikmati waktu mereka, tiba-tiba Nyonya Fika mengetuk kamar Arzan dan Allura. Wanita paruh baya itu tampak tergesa-gesa dengn wajah pucat, tidak seperti biasanya.

__ADS_1


"Ada apa, Ma?" tanya Arzan begitu ia membuka pintu kamarnya. Nyonya Fika masih terengah-engah karena ia berjalan cepat menaiki tangga.


"Zan, kamu harus segera turun ke bawah. Ini urgent sekali." Nyonya Fika masih mencoba berbicara cepat di tengah-tengah tarikan napasnya sehingga membuat Arzan semakin khawatir.


"Sebenarnya ada apa, Ma? Apa yang sudah terja–"


"Papamu, Zan .... Papa sedang bertengkar dengan Bapaknya Rivera," jawab Nyonya Fika yang menghentikan pertanyaan Arzan.


Sontak saja pria itu membulatkan matanya dengan rahang yang mulai mengeras. Ia tidak tahu ada angin apa mantan ayah mertuanya datang di waktu pagi seperti saat ini. Padahal, selama ini ia sudah mencoba untuk menghubungi pria paruh baya itu. Namun, tidak pernah ditanggapinya.


"Aku akan susul Papa, Ma," ucap Arzan sambil hendak menutup pintu kamar, tetapi di tahan oleh Allura.


"Tunggu, Mas! Ada apa?" tanya Allura saat melihat suaminya dalam keadaan emosi.


"Kamu tunggu di sini, Ra. Jangan keluar kamar dan tolong panggil scurity yang berjaga di luar!" perintah Aran sebelum ia meninggalkan Allura yang masih mematung kebingungan.


"Diminum dulu, Ma." Allura mengangsurkan gelas yang sudah ia isi.


"Te–terima kasih, Ra," jawab Nyonya Fika sambil menerima gelas yang diberikan Allura padanya.


Setelah air dalam gelas itu tandas, Allura kembali melayangkan pertanyaan yang sama dengan Arzan.


"Ada apa, Ma? Kenapa Mama tadi tergesa-gesa?' tanya Allura begitu ia melihat mamanya sudah kembali tenang.


"Bapaknya Rivera, Ra. Dia ... dia tadi tiba-tiba datang. Mama dan Papa menyambutnya dengan baik karena dia datang baik-baik. Tapi, setelah masuk ke dalam rumah, dia mengamuk dan hampir melukai Mama. Beruntung Papa segera menghalanginya dan meminta Mama memanggil Arzan," terang Nyonya Fika seraya mengusap lelehan bening yang sudah membasahi pipinya.

__ADS_1


Allura jadi khawatir akan keselamatan Arzan dan Tuan Anderson, tetapi ia juga tidak bisa meninggalkan mama mertuanya sendirian dalam keadaan takut.


Ya Tuhan ... tolong lindungilah suami serta Papa mertuaku. Jangan biarkan mereka terluka sedikit pun, batin Allura sambil memeluk Nyonya Fika.


***


Sementara itu di lantai bawah sedang terjadi keributan, tiga orang pria sedang bersitengang. Tuan Anderson dan Arzan tengah berusaha menangkan Bapaknya Rivera.


"Pak, tolong tenang dulu! Coba jelaskan, kenapa Bapak tiba-tiba datang dan menyerang kedua orang tuaku?" tanya Arzan untuk yang ketiga kalinya.


"Ini semua gara-gara kamu," tunjuk Bapak Rivera pada Arzan. "Seandainya kamu menerima ajakn Rivera untuk rujuk, tidak mungkin dia mengakhiri hidupnya dengan gantung diri! Putriku malang karena dia sudah dibuang oleh suaminya," sabung Bapak kandung Rivera. Pria itu menangis tergugu karena ia mendapat kabar dari rumah sakit jiwa yang mengatakan jika Rivera dinyatakan meninggal akibat gantung diri.


Baik Arzan maupun Tuan Anderson seketika terdiam. Mereka tidak menyangka kalau Rivera akan mengakhiri hidupnya seperti itu.


"Lalu, kenapa Bapak menyalahkanku? Bukankan sejak awal Rivera sudah menolak menikah denganku?" tanya Arzan setelah ia sadar dari rasa terkejutnya.


"Oh, jelas saja ini salahmu! Kamu tidak menerima ajakan Rivera untuk kembali rujuk dan membuat dia depresi, tahu!" teriak pria paruh baya itu dengan suara yng menggema.


"Maaf, Pak. Semua yang Bapak tuduhkan padaku itu tidak benar! Aku memang tidak mau rujuk bersama Rivera karena dia memanfaatkan kekayaanku saja. Tapi, dia juga tidak menganggap Bintang sebagai anaknya. Dan ... perlu Bapak ketahui, Rivera hampir membunuh Bintang dengan memberikannya susu formula. Apa aku harus mempunyai istri seperti itu?" tanya Arzan yang tak kalah kesalnya. Ia tidak terima jika dirinya dicap sebagai penyebab meninggalnya Rivera.


"Alasan! Kamu mengatakan itu semua untuk menutupi kebusukanmu saja, 'kan? Kamu pikir aku tidak tahu jika keluarga ini menyimpan wanita murahan, hah?"


Arzan semakin dibuat berang oleh mantan papa mertuanya. Ia tidak terima perkataan pria paruh baya itu. Emosinya kan memuncak, wajahnya juga memerah akibat menahan gejolak amarah. Andai saja ia tidak menghargai pria paruh baya itu, sudah dipastikan Arzan akan langsung meninjunya.


"Pak, perlu Bapak ketahui, wanita yang Anda cp sebgai wanita murahan itu adalahistri sahku! Wanita yang begitu mencintai Bintang layaknya anak sendiri. Tentunya ia sangat bertolak belakan dengan putrimu yang malah membuang Bintang dan menganggap anaknya pembawa sial. Aku beruntung bisa terlepas dari jerat pernikahan bersamanya," jawab Arzan sebelum pria itu menyuruh para petugas keamanan d rumahnya untuk membawa Bapak Rivera keluar dari rumah.

__ADS_1


"Arzan, tunggu. Aku belum selesai berbicara!" pintanya lagi sambil terus meronta.


__ADS_2