Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 69


__ADS_3

"Sebenarnya ... sebenarnya saya menyukai Allura, Bu," ucap Arzan sambil menatap lekat wanita paruh baya yang sedang memandangnya intens.


"Tuan, Anda jangan mengada-ada. Allura hanya gadis dari kalangan bawah, orang seperti Anda tidak cocok dengan anak saya," tolak Ibu Ani sambil tersenyum samar.


Bukan dia tidak bahagia jika Allura ada yang menyayanginya dan menginginkannya. Namun, Ibu Ani takut jika Arzan hanya memanfaatkan kepolosan dan keluguan Allura. Apalagi dia pernah mengalami kejadian hal itu. Gara-gara kasta, pernikahannya tidak bahagia, gara-gara kasta, mereka tidak mendapatkan restu. Ibu Ani tidak ingin jika Allura sampai mengalami hal yang sama dengannya.


Arzan sendiri hanya bisa mematung saat mendengar tolakan Ibu Ani yang tidak tanggung-tanggung. Di saat keluarga-keluarga yang lain ingin menjodohkan dia dengan anak gadisnya, tapi Ibu Ani malah menolak dia saat itu juga tanpa berpikir panjang.


"Ta–tapi kenapa, Bu? Apa karena status saya?" tanya Arzan lagi.


Ibu Ani menggeleng saat mendengar pertanyaan Arzan. Ia tahu jika pria muda di hadapannya sebentar lagi akan menyandang status duda. Namun, bukan hal itu yang ia takutkan, melainkan keluarga Arzan sendiri. Ibu Ani takut jika keluarga Arzan tidak menerima Allura sebagai wanita yang dicintai oleh putranya. Bisa saja saat ini mereka bersikap baik pada Allura karena merupakan baby sitter cucunya, tapi siapa yang tahu jika Allura memiliki hubungan dengan anak majikannya, mereka akan berubah menjadi jahat dan malah menyudutkan Allura.


"Bukan itu, Tuan. Saya sebagai orang tua, pasti selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi, apa Tuan sendiri bisa membahagiakan dia? Apalagi Tuan anak tunggal, bagaimana dengan perasaan kedua orang tua Anda, tidakkah mereka malu jika sampai mempunyai menantu seperti Allura? Mohon pikirkan kembali kata-kata saya, Tuan." Ibu Ani membuang pandangannya ke arah lain.


Sedangkan Arzan sendiri hanya bisa menghela napas pelan, apalagi setelah melihat reaksi Ibu Ani seperti orang yang enggan untuk kembali meneruskan pembicaraan.


Sepertinya perjuanganku tidak akan mudah, batin Arzan.


Tak lama setelah pembicaraan Ibu Ani dan Arzan selesai, Allur datang menghampiri mereka. Ia sedikit merasa heran saat melihat ibu dan majikannya saling diam dan saling membuang pandangannya.


Ada apa ini? Kenapa suasananya canggung seperti ini? batin Allura bertanya-tanya.


"Ra, malam ini kamu menginap di sini, ya?" pinta Ibu Ani dengan tatapan memohon sat sang anak sudah duduk di sampingnya.


Sebelum menjawab pertanyaan mamanya, Allura melirik Arzan yang tengah memerhatikannya. Dia mencoba untuk bertanya melalui tatapan mata, Arzan mengetahui maksud tatapan Allura padanya dan dia pun mengangguk mengijinkan Allura untuk bermalam di rumah Ibu Ani.


Setelah melihat anggukan Arzan, barulah Allura menjawab permintaan sang mama.


"Baik, Ma. Allura akan menginap di sini. Tapi ... bolehkah Allura tidur bersama Bintang?" tanya Allura. Dia tidak bisa membiarkan bayi itu untuk pulang bersama Arzan karena di rumah tak ada Nyonya Fika.

__ADS_1


"Lho, memangnya Tuan Arzan akn mengijinkan kamu untuk membawa anaknya, Ra?"


"Tidak apa-apa, Bu. Saya akan mengijinkan Allura untuk membawa Bintang. Mama saya saat ini tengah keluar kota bersama Papa selepas dari pengadilan tadi," ujar Arzan yang langsung diangguki oleh Ibu Ani.


"Mama tenang saja, Bintang anak yang baik. Dia tidak akan rewel dan tidak akan mengganggu istirahat Mama serta Bibi," jelas Allura.


"Baiklah, Mama mengijinkan," jawab Ibu Ani akhirnya. Ya, meskipun dia sedikit heran karena Arzan mengijinkan Allura untuk membawa bayinya, tapi ia tak mau berburuk sangka.


Allura tersenyum senag karena mamanya sudah mengijinkan dia untuk menginap bersama Bintang. "Terima kasih, Ma."


"Sama-sama, Lura. Mama tahu kamu sangat menyukai anak kecil, jadi Mama mengijinkanmu untuk menjaga Bintang," jawab Ibu Ani sambil memeluk anaknya.


"Oh, ya, Tuan. Maaf sebelumnya jika saya lancang, tapi ... bagaimana dengan Ibunya Nak Bintang? Apakah dia tidak akan marah jika putranya dibawa menginap pengasuhnya?" tanya Bibi Erni yang sedari tadi terdiam sambil memerhatikan Allura yang sedang bercanda dengan Bintang.


Arzan mematung seketika sat mendengar pertanyaan yang diajukan Bibi Erni padanya. Untuk sesaat, Arzan seakan terbawa kembali kebeberapa jam yang lalu, saat Allura berinisiatif untuk mempertemukan Bintang dengan Rivera, ibunya.


Allura turun dari mobil yang dibawa oleh Arzan bersama Nyonya Fika dan Tuan Anderson. Mereka melangkah bersama memasuki gedung pengadilan untuk melakukan sidang pertama perceraian Arzan dan Rivera.


Namun, Allura menghentikan langkah saat tatapannya tak sengaja melihat wanita yang berpenampilan elegan dengan tas mahal yang ia jinjing.


"Maaf, Tuan. Saya permisi sebentar," ucap Allura sebelum meninggalkan rombongannya.


"Lho, kamu mau kemana, Lura?" tanya Nyonya Fika saat melihat Allura yang melangkah sendirian menuju parkiran.


Allura tak terlalu mendengar pertanyaan Nyonya Fika, gadis itu terus melangkah menghampiri Rivera yang sedang berdiri di mobilnya.


"Assalamualaikum, Nyonya Vera. Apa kabar?" sapa Allura saat dia sudah berdiri di hadapan Rivera.


Rivera melepaskan kacamata hitam yang membingkai wajahnya, tatapannya langsung memindai Allura yang sedang menggendong bayi yang pernah ia lahirkan.

__ADS_1


"Ada perlu apa kamu menemuiku?" tanya Rivera dengan tatapan sinis, wanita itu sama sekali tidak melirik bayi yang sedang terlelap dalam gendongan Allura.


"Tidak ada apa-apa, Nyonya. Saya ... saya hanya berpikir jika Anda merindukan putra Anda, jadi saya membawakannya," jawab Allura sambil mencoba untuk memperlihatkan wajah imut bintang pada ibunya.


Namun, sungguh di luar dugaan reaksi yang Rivera berikan. Wanita itu langsung menjauhkan Bintang dari hadapannya dengan mendorong Allura yang di situ, hampir saja gadis itu tersungkur ke belakang, andai Arzan tak langsung menolongnya.


"Jauhkan bayi si*lan itu dariku!" teriak Rivera sambil terus mengibas-ngibaskan tangannya di depan Allura.


"Rivera, cukup! Dia adalah putramu, kenapa kamu bersikap berlebihan seperti itu?" tegur Arzan saat melihat anaknya yang begitu dibenci oleh wanita yang pernah mengandungnya.


"Singkirkan dia dariku! Atau ... aku sendiri yang akan menyingkirkannya dengan caraku!" ancam Rivera sambil mencoba berusaha untuk menggapai tubuh mungil Bintang dari dekapan Allura.


"Ti–tidak, Nyonya. Jangan sakiti Bintang. Baiklah, jika anda tidak menginginkan Bintang, maka aku sendiri yang akan menjaganya," ucap Allura sambil mendekap erat bayi yang ada di gendongannya.


"Cih, terserah saja, aku tidak peduli. Pergi dari hadapanku! Dasar bayi si*lan, mati saja sa–"


'Plak'


Belum sempat Rivera menyelesaikan perkataannya, Arzan sudah terlebih dulu menampar pipi mulus Rivera, hingga membuat wanita itu membulatkan matanya.


"Kamu ... kamu sudah berani melakukan ini padaku?" tanya Rivera dengan tatapan nyalang pada mantan suaminya. Dia tidak terima karena Arzan menampar wajahnya.


"Kenapa aku tidak berani? Kamu sudah keterlaluan, Vera. Bintang memang anakmu, tapi kamu bukan Ibu yang baik untuknya. Terima kasih karena sudah menunjukkan sisi sifat aslimu ini. Jadi, aku tidak akan ragu lagi untuk menjauhkan bintang darimu," ucap Arzan sambil menarik tangan Allura untuk pergi dari sana.


Arzan sempat menoleh ke belakang dan melihat Rivera yang masih mengepalkan tangan dengan menatap sinis dirinya.


Flashback off


"Dia ... dia sama sekali tidak menyayangi putranya, Bi. Dia tidak pernah menganggap Bintang sebagai anaknya," jawab Arzan sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2