Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 58


__ADS_3

Nira memandang Allura yang sedang berdiri di depannya dengan tatapan tajam, ia merasa sangat marah dan benci pada sepupunya itu. Nira selalu merasa Allura paling unggul di antara dia dan sepupunya yang lain. Padahal, kenyataannya Allura–lah yang paling kurang beruntung di antara mereka semua. Bahkan, kematian ayahnya pun masih belum diketahui sampai sekarang, tapi berbeda dengan Nira yang mempunyai keluarga lengkap, meskipun dari segi ekonomi yang kurang, mereka semua sangat menyayangi Nira dan selalu ingin memberikan yang terbaik untuknya.


Berbeda dengan Allura, dia sudah tidak mempunyai keluarga lengkap. Allura juga sama sekali tidak mengenali keluarga dari pihak ayahnya. Disaat mamanya sakit pun, Allura berjuang sendiri dan memikirkan bagaimana cara mengobati mamanya. Namun, semua itu tak ada artinya di mata Nira. Dia tetap mengira Allura adalah gadis yang beruntung dibanding dirinya.


Kini, Nira pun kembali berpikiran seperti itu disaat ada orang lain yang berusaha melindungi Allura dari niatannya.


"Nir, kenapa kamu sampai berbuat seperti itu?" tanya Allura sambil melangkah mendekati Nira.


Allura sama sekali tak pernah mempermasalahkan semua perbuatan buruk Nira padanya. Dari dulu, ia selalu mengalah pada sepupunya itu. Namun, untuk kali ini Allura tidak mau mengalah lagi. Apalagi setelah Nira mengaku sebagai anak dari papahnya hanya untuk mendekati keluarga yang memiliki derajat saja.


"Kamu diam saja, Lura! Aku tidak butuh belas kasihan darimu!" teriak Nira sambil mencoba untuk melepaskan dirinya dari tali yang mengikat tubuhnya.


"Aku juga tidak mau mengasihi kamu, Nira. Aku hanya sedang memikirkan, kenapa kamu sampai tega berbuat seperti ini? Apa yang ada dalam pikiranmu? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Bude dan Pakde?" tanya Allura, dia belum mengetahui jika tindakan Nira kali ini adalah perintah dari ibunya.


"Cih, kamu kira ini semua keinginanku? Naif sekali pemikiranmu," ucap Nira sambil membuang pandangannya ke arah lain.


Allura tertegun setelah ia mendengar jawaban sepupunya

__ADS_1


"Apa maksudmu, Nira?"


"Tentu saja aku melakukan hal ini karena keinginan Ibu juga. Dia tidak mau aku menikah dengan orang yang biasa-biasa saja. Jadi, dia menyuruhku untuk ikut ke kota dan mengaku sebagai anaknya Paman Adnan," jawab Nira dengan napas yang menggebu-gebu.


Allura menggeleng pelan, dia tidak ingin mempercayai ucapan sepupunya. Meskipun kemungkinan ucapan Nira itu adalah kenyataan, tapi Allura tetap tidak membenarkan tindakan sepupunya.


"Kamu bisa menolak hal itu. Lalu, kenapa kamu tidak melakukannya?" tanya Allura dengan nada datar.


"Tentu saja aku tidak mau! Lagi pula, tak ada gadis yang mau menolak untuk menikah dengan orang kaya," jawab Nira ketus.


"Ya, kamu benar. Tapi, itu hanya berlaku untuk kamu saja," ucap Allura lagi.


"Bukan aku yang mengikatmu. Jadi, jangan menyuruhku untuk melepaskanmu," jawab Allura sambil melenggang pergi keluar dari kamar itu.


"Hei, si*lan kamu Allura! Aku tidak akan membiarkan kamu lolos begitu saja!" teriak Nira sambil memberontak saat Allura pergi meninggalkan dia dengan diikuti Arzan di belakangnya.


Sepeninggalan Allura dan Arzan, Nira kembali berteriak histeris di dalam kamar ruangan kamar itu. Dia tidak mau disekap terus-menerus di sana.

__ADS_1


"Allura Saputri! Aku tidak akan membiarkan kamu hidup tenang begitu saja!" teriak Nira lagi.


Di luar kamar, Allura langsung mengembuskan napas beratnya saat pintu kamar tamu itu tertutup. Dia masih tidak habis pikir terhadap bude dan sepupunya, padahal mereka keluarga Allura yang cukup dekat karena Ibunya Nira dan Ibu Ani itu adalah saudara kembar, tapi kenapa Ibunya Nira bisa sampai berpikiran jahat seperti itu padanya.


"Rara, apa yang selanjutnya akan kamu lakukan terhadap Nira?" tanya Arzan saat ia melihat gadis di depannya sudah bernapas lega.


"Entahlah, Tuan. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan terhadapnya. Dia sepupu saya, rasanya terlalu jahat jika sampai membawa dia ke jalur hukum," jawab Allura dengan tertunduk lesu.


Arzan sempat mengacak rambut Allura yang sedang menunduk lesu di depannya, ekspresi apapun yang Allura tunjukkan padanya, selalu membuat dia merasa gemas sendiri pada gadis itu.


Allura segera menyingkirkan tangan Arzan yang masih bertengger di kepalanya, ia pun kembali merapikan rambut panjangnya yang tidak terikat dan disisir menggunakan jari.


"Anda jangan terus bersikap seperti itu, Tuan. Bisa-bisa orang yang melihatnya akan berpikir yang tidak-tidak tentang kita," ucap Allura dengan sedikit mengerucutkan bibirnya.


Arzan terkekeh pelan saat mendengar ucapan Allura. Baginya, tidak masalah jika sekarang dia digosipkan dekat dengan Allura. Justru, itulah yang dia harapkan.


"Tidak masalah, toh kamu yang anaknya Paman Adnan. Berarti kamu juga yang akan menjadi calon istriku," jawab Arzan sambil mencubit pelan hidung Allura.

__ADS_1


Allura langsung membulatkan matanya begitu mendengar jawaban Arzan. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran calon duda itu. Lagi pula, untuk saat ini Allura masih fokus pada pekerjaannya dan juga pada pengobatan Ibu Ani. Dia tidak ingin cepat-cepat mempunyai pasangan, apalagi Allura tahu jika Arzan belum benar-benar bercerai dengan Rivera.


"Maaf, Tuan. Saya tidak berminat mengikuti saran perjodohan, meskipun itu dari orang tua saya sendiri," ucap Allura sambil berlalu meninggalkan Arzan yang masih terdiam mematung di tempatnya.


__ADS_2