
Allura memandang botol-botol berisikan ASIP miliknya dengan sedih. Meskipun hanya satu malam ia tidak akan tidur bersama Bintang, tapi itu membuatnya resah. Andai Allura bisa menolak keinginan Nyonya Fika, pasti sudah ia lakukan.
Sudahlah, Ra. Toh hanya satu malam ini, batin Allura sambil mendekap satu botol ASIP yang terakhir.
Setelah kegiatannya selesai, Allura pun kembali keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang keluarga. Samar-samar ia mendengar suara tangisan Bintang, dengan langkah cepat, Allura segera menghampiri ruangan itu.
Di sana ada Nyonya Fika yang sedang membantu Arzan untuk menenangkan bayinya, Arzan juga sudah berusaha menghentikan tangisan Bintang dengan menimang. Namun, tangisan bayi itu tak kunjung berhenti.
"Nyonya, ada apa?" tanya Allura dengan tergopoh-gopoh menghampiri kedua orang dewasa itu.
"Ini, Lura. Bintang menangis sejak kamu pergi," jawab Nyonya Fika tanpa mengalihkan perhatiannya dari sang cucu.
"Ya Tuhan, coba saya yang gendong, Tuan," pinta Allura pada Arzan yang masih terus menimang bayinya.
Arzan memberikan Bintang pada Allura dengan perlahan, pria itu mendadak canggung tak kala Allura berada tepat di depannya. Sedangkan Allura sendiri bersikap cuek saat Arzan terlihat menahan napasnya.
"Sayang, Nak. Adek kenapa menangis?" sapa Allura pada bayi merah itu.
Allura menimang Bintang dengan pelan dan mendekapnya dengan hangat, serta penuh kasih sayang, hingga tak butuh waktu lama untuk gadis itu sampai bisa menenangkan Bintang dari tangisannya.
Semua gerak-gerik Allura terus di awasi oleh tiga pasang mata yang menatapnya dengan takjub. Bagaimana tidak, bayi yang tadi menangis histeris, kini seketika terdiam manis dalam dekapan gadis yang menyandang status sebagai ibu susunya.
Wah, dia benar-benar pintar menenangkan Bintang. Aku saja yang merupakan Ayah kandungnya cukup kesulitan. Tapi, dia yang tidak memiliki ikatan apapun dengan Bintang, bisa dengan mudahnya menenangkan anak itu, batin Arzan.
Begitupun dengan Nyonya Fika yang tersenyum lega karena melihat cucunya sudah berhenti menangis dalam dekapan Allura. Tanpa mereka ketahui, diam-diam Tuan Anderson pun ikut menyaksikan dan melihat, bagaimana cara Allura menenangkan cucunya yang sedang menangis tadi.
Rupanya dia cukup pintar mengambil hati seorang bayi, batin Tuan Anderson sambil menyunggingkan sebelah bibirnya.
Allura mulai menjauhi ruangan itu dan berniat kembali ke kamarnya. Namun, belum sempat ia membuka pintu kamarnya, tiba-tiba Arzan menegurnya.
"Hei, kamu mau membawa anakku ke mana?" tanya Arzan.
__ADS_1
Allura membalikan badannya dan menatap Arzan yang sedang berdiri bersama Nyonya Fika.
"Maaf, Nyonya, Tuan Arzan, saya mau menyusui Bintang dulu," jawab Allura sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Lho, kenapa tidak menyusuinya disini saja?" tanya Arzan dengan nada datarnya.
Allura langsung mematung dan terdiam mendengar pertanyaan Arzan, terkejut? Tentu saja. Gadis itu tidak mungkin mau mengumbar aset berharganya di depan orang lain, apalagi Arzan seorang pria dewasa. Meskipun saat ini Allura menyusui anaknya, tapi tetap saja, Arzan bukan siapa-siapanya. Akhirnya Allura pun harus tertunduk malu.
Lain halnya dengan Nyonya Fika yang langsung membulatkan mata saat mendengar pertanyaan sang anak.
Plak
Nyonya Fika segera memukul lengan atas Arzan hingga membuat laki-laki itu terkejut sekaligus sakit.
"Mama, kenapa memukulku seperti itu?" Arzan mengusap lengan atasnya yang terasa kebas karena pukulan Nyonya Fikri yang lumayan kencang.
"Apa niatmu meminta Allura untuk menyusui di sini?" tanya Nyonya Fika dengan nada sinis.
Ya Tuhan, aku sudah gila, batin Arzan sambil mengusap wajahnya dengan kasar, lalu ia pun hanya tersenyum kaku pada mamanya.
Nyonya Fika menggeleng melihat Arzan yang tersenyum kaku padanya, ia tahu saat ini Arzan sedang salah tingkah karena pertanyaannya sendiri.
"Allura, maafkan Arzan, ya. Mungkin dia kelepasan bertanya seperti itu," ucap Nyonya Fika pada Allura yang masih terdiam mematung di tempatnya berdiri tadi.
Allura yang sedari tadi hanya diam pun akhirnya mengerjapkan mata setelah mendengar ucapan Nyonya Fika.
"I–iya, Nyo–Nyonya," jawab Allura dengan gugup. Lantas, gadis itupun segera berbalik dan meneruskan langkahnya dengan cepat menuju kamar tempat ia dan Bintang beristirahat. Allura masih merasa malu dengan pertanyaan yang diajukan Arzan padanya tadi.
Diam-diam Arzan tersenyum tipis ketika melihat wajah Allura yang sedikit memerah karena pertanyaannya tadi. Jarak Allura yang belum terlalu jauh serta kulit putih terawatnya membuat rona merah itu sangat terlihat kentara di wajahnya.
Ternyata gadis itu bisa malu juga, imutnya. Arzan segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat guna menghalau pikiran terakhirnya yang mengatakan jika Allura 'Imut'. Kenapa aku bisa berfikiran seperti itu, sambung hatinya.
__ADS_1
Nyonya Fika merasa heran karena melihat Arzan menggeleng-gelengkan kepalanya, lagi-lagi wanita paruh baya itu memukul lengan atas anaknya.
Plak
"Awh, kenapa Mama memukulku lagi?" tanya arzan sambil mengusap tangannya yang baru saja dipukul oleh Nyonya Fika.
"Mama heran sama kamu, Zan. Tadi senyum-senyum, sekarang menggelengkan kepala kuat-kuat seperti itu. Sebenarnya kamu kenapa?"
Ternyata Nyonya Fika menyadari jika Arzan tadi tersenyum tipis saat melihat wajah Allura yang memerah, tapi ia tidak tahu penyebabnya.
"Aku ... aku tidak apa-apa, Ma. Sudahlah, aku kembali saja ke kamar. Panggil aku saat waktu makan malam tiba," ucap Arzan sebelum ia melangkah pergi meninggalkan Nyonya Fika sendirian.
Sepeninggalan Arzan dan Allura, Nyonya Fika kini duduk terdiam sendirian. Wanita paruh baya itu masih terbayang sesuatu tentang masa lalunya.
Andai saja Adnan masih ada, mungkin yang saat ini menjadi menantuku itu adalah putrinya, batin Nyonya Fika.
"Ma, kenapa melamun? Mana yang lain?" tanya Tuan Anderson pada sang istri yang otomatis langsung membuyarkan lamunan Nyonya Fika.
"Papa? Sejak kapan ada di sana?" tanya Nyonya Fika, ia merasa heran karena keberadaan suaminya yang datang secara tiba-tiba.
"Papa ada di lantai bawah sejak tadi. Hanya saja Papa tidak menggangu kalian saja," jawab Tuan Anderson seraya mendudukan tubuhnya di samping sang istri.
"Mama kenapa melamun tadi, hem?" tanya Tuan Anderson lagi karena ia belum mendapat jawaban dari sang istri.
"Mama masih penasaran, kemana Adnan membawa keluarga kecilnya, Pa." Nyonya Fika merebahkan kepalannya di lengan atas Tuan Anderson, jika sedang duduk berdua, mereka memang selalu bersikap romantis.
"Papa juga tidak tahu, Ma. Orang-orang yang Papa tugaskan untuk mencari istri dan anak perempuannya pun belum menemukan keberadaan mereka," jawab Tuan Anderson.
"Mudah-mudahan saja mereka segera menemukan titik terang keberadaan istri dan anaknya Adnan, Pa. Mama masih belum merasa tenang," ujar Nyonya Fika.
Dulu, kehidupan sepasang suami istri itu tidak seperti saat ini. Mereka hidup penuh dengan perjuangan, hingga mereka mengenal Adnan, pria yang menolong mereka dan memberikan modal untuk usaha Tuan Anderson. Namun, ketiganya hilang kontak saat Adnan dinyatakan pergi dari rumah orang tuanya karena menikahi wanita yang ia cintai.
__ADS_1
Mereka sempat bertemu sesaat pada waktu istri Adnan melahirkan, bahkan Adnan juga mengajak mereka berbesan. Akan tetapi, setelah hari itu sampai sekarang, mereka tidak bertemu lagi. Nyonya Fika pernah mendengar jika Adnan sudah meninggal dan saat ini Tuan Anderson kembali melakukan pencarian itu.