
Allura masih terus terbayang wajah pria paruh baya yang ia temui tadi di lorong rumah sakit. Entah kenapa hatinya terus merasa penasaran dengan sosok itu. Allura merasa seperti pernah melihatnya tapi dia lupa di mana tempatnya.
Mungkin itu hanya perasaanku saja, bukankah di dunia ini ada tujuh orang yang bisa memiliki wajah yang sama? batin Allura, gadis itu terus melamun sampai-sampai ia tidak menyadari jika sang mama yang ada di sampingnya sudah memanggil dia beberapa kali.
"Ra?"
"Lura?"
"Allura Saputri!"
Ibu Ani menjadi sedikit kesal karena sang anak tak mendengar panggilannya, ia pun menepuk bahu Allura dengan cukup keras, sehingga membuat gadis itu terperanjat kaget.
"Mama, kenapa mengejutkanku seperti itu?" ocehnya pada sang mama.
"Kamu lupa, Ra? Kamu kemari dengan siapa?" tanya Ibu Ani.
Allura terdiam sesaat, sebelum kembali bertanya, "Memangnya kenapa, Ma?"
Ibu Ani menunjukkan Arzan dengan dagunya yang masih berdiri di ambang pintu, pria itu menatap lurus Allura tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
Kenapa Tuan Arzan berekspresi datar seperti itu lagi? tanya Allura dalam hatinya.
"Cepat antar dulu ke beliau ke lobby, Tuan Arzan harus kembali ke perusahaannya," perintah Ibu Ani pada anaknya.
Allura menatap Ibu Ani dengan alis yang tertaut hampir menyatu. Sedari tadi kedatangannya ke dalam ruangan, pikiran Allura sama sekali tidak fokus, sehingga ia tidak mengetahui apa saja yang sudah di dibicarakan oleh Arzan pada mamanya.
"Kenapa kamu malah diam saja?" tanya Ibu Ani lagi, saat melihat sang anak yang hanya diam dengan menatapnya.
"Kenapa aku harus melakukan itu, Ma?"
"Ck, dia 'kan atasanmu, Lura. Sudah sepantasnya kamu menghormatinya," jawab Bu Ani.
Arzan memalingkan pandangannya ke arah lain, untuk saat ini dia masih harus bersabar sebelum mengungkapkan niatnya yang ingin mempersunting Allura. Selain karena statusnya masih suami orang, Arzan dan Allura pun belum lama saling mengenal. Apalagi ia belum mengatakan tentang perjodohannya dengan Allura pada Bu Ani.
__ADS_1
Allura menghela napasnya sebentar. Ya, apa yang dikatakan mamanya benar, Arzan adalah majikannya dan dia harus menghormatinya.
"Mmmh, baiklah, Ma. Aku akan mengantarkan, Tuan Arzan dulu," ucapnya pada sang mama.
Arzan tersenyum samar saat melihat Allura yang mengalah dan menurut pada Ibu Ani. Setelah ia kembali berpamitan pada wanita paruh baya itu, barulah Arzan dan Allura melangkah keluar dari ruangan. Arzan sedikit penasaran dengan sikap Allura hari ini. Dia merasa jika Allura tengah memikirkan sesuatu. Bahkan saat tadi ia dan mamanya sedang berbincang pun, Allura sama sekali tak menanggapinya.
"Rara, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Arzan akhirnya. Tadinya ia berniat untuk mendiamkan Allura beberapa waktu, tapi dia tidak tega jika harus melihat Allura yang murung.
Allura tak menanggapi pertanyaan Arzan, gadis itu kembali asik dengan pikirannya yang masih melanglabuana memikirkan pria yang tadi sempat bertabrakan dengannya.
Arzan mengernyit heran saat Allura tak juga menanggapi pertanyaannya, ia pun mencoba untuk mengerjai gadis itu dengan berdiri tepat di depannya, hingga membuat Allura tak sengaja menabraknya. Untuk sesaat, keduanya saling terdiam dengan posisi Arzan memeluk tubuh Allura agar tak jatuh.
Pria itu benar-benar terpesona dengan mata bulat milik Allura, iris yang berwarna coklat cerah itu sungguh membuat dia tak mampu lagi untuk berpaling, semakin Arzan menatapnya, semakin ia terbuai dengan pesonanya. Begitupun dengan Allura, gadis itu merasa kagum, seakan ia terhipnotis saat menatap nerta tajam milik pria yang menjadi ayah dari bayi yang ia susui. Ini adalah kali pertamanya ia berjarak dekat dengan seorang pria. Bahkan, Allura seakan bisa merasakan suhu tubuhnya yang tiba-tiba saja naik.
Keduanya saling pandang hingga beberapa saat, ditambah suasana lorong saat itu sedang sepi. Jadi, membuat mereka nyaman dengan posisinya. Namun, keduanya segera tersadar ketika mendengar gaduh-gaduh di lorong yang mereka lewati.
"Teโterima kasih, Tuan," ucap Allura sambil menundukkan kepalanya. Dia merasa malu karena sudah lancang menatap atasannya seperti tadi. Ditambah saat ini jantungnya tiba-tiba saja berdetak dengan cepat, pipinya pun sudah mengeluarkan semburat warna kemerahan.
"Sama-sama," jawab Arzan sambil memalingkan wajahnya dari Allura. Ternyata tak hanya Allura saja yang menjadi malu dengan insiden itu, tapi Arzan juga merasakan apa yang saat ini Allura rasakan.
Lagi-lagi Allura melihat pria paruh baya itu melewatinya, tapi pri itu tak melihat keberadaan Allura karen dia sedang dalam keadaan panik seperti dokter dan perawat tadi.
"Tuan Darion," gumam Arzan tiba-tiba.
Allura menatap pria jangkung di sebelahnya dengan alis yang sedikit terangkat.
Apakan Tuan Arzan mengenalinya? batin Allura bertanya-tanya.
"Apakah sudah terjadi sesuatu yang buruk dengan Tuan Okta?" tanya Arzan lagi yang entah pada siapa.
Allura semakin dibuat penasaran dengan pria paruh baya yang ia temui tadi. Apalagi sepertinya Arzan pun mengenali mereka.
"Tuโtuan, maaf jika saya sudah lancang bertanya. Tapi, saya begitu penasaran."
__ADS_1
Arzan mengalihkan perhatiannya dari sekumpulan dokter dan perawat yang kini sudah memasuki ruangan VIP itu.
"Ada apa, Ra?" tanya Arzan sambil menatap gadis yang sedang berdiri di sampingnya.
"Apakah Tuan mengenali pria paruh baya tadi?" tanya Allura to the point.
Arzan sedikit memiringkan kepalanya. "Apa maksudmu Tuan Darion?"
Allura sedikit ragu untuk menjawabnya karena dia memang tidak mengetahui pria itu, mereka bertemu pun hanya tadi pagi.
"Saya tidak tahu namanya, Tuan," jawab Allura pelan sambil menunduk.
Arzan mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali sebelum kembali berkata, "Ya, aku mengenalnya. Dia salah satu rekan kerja Papa yang paling dekat, kenapa?"
Allura hanya berโohโria saja saat mendengar jawaban Arzan. "Tidak apa-apa," jawabnya sambil menggeleng.
Sepertinya hanya firasatku saja. Tapi ... kenapa wajahnya begitu mirip dengan Papa? Dan .... Tidak mungkin, lagi pula Papa sudah lama meninggal, batin Allura.
Allura menampik pemikirannya yang tiba-tiba mengatakan jika papanya masih hidup. Namun, setelah melihat tatapannya, Allura merasa jika pria paruh baya itu adalah papanya.
Sepertinya aku harus meminta bantuan Tuan Arzan untuk menyelidikinya. Aku yakin, saat ini ada yang tidak beres, batin Allura.
.
.
.
.
.
Halo kakak-kakak, jangan bosen baca karyaku ya ๐ค๐ค Sambil tunggu ini up, mampir juga ke karya temanku yang ini ๐๐๐ Ceritanya juga gx kalah seru lho ๐๐๐
__ADS_1