
"Bukan Ethan. Tapi, anaknya Adnan," tanya Tuan Okta sambil menatap lekat mata Tuan Darion.
Tak pernah terpikirkan oleh Tuan Darion jika Tuan Okta akan menanyakan anak dari Adnan. Pria itu masih mematung tanpa menjawab apapun pertanyaan Tuan Okta, dia masih merasa heran karena selama ini tidak pernah ada yang memberitahukan pada Tuan Okta tentang anak dari Pak Adnan.
"Pa ... ma–maksud Papa apa? Anak Adnan yang mana?" tanya Tuan Darion dengan gugup. Hatinya sangat berdebar, dia takut sekarang posisinya akan tergantikan oleh Allura, anak Pak Adnan.
"Anaknya Adnan, Dion. Cucu kandungku. Beberapa hari lalu dia datang kemari," jawab Tuan Okta dengan yakin. Ya, dia yakin jika gadis yang waktu itu dia lihat adalah cucu kandungnya. Gadis itu juga mengatakan jika dia adalah anak dari Pak Adnan, hal itulah yang membuat dia tersadar dari komanya.
Tuan Darion semakin dibuat kebingungan saat mendengar jawaban papa angkatnya.
Dari mana Papa tahu tentang Allura? Kapan Allura datang kemari? Kenapa apa tidak mengetahuinya? Apa Ethan tahu tentang alura yang datang kemari? Tapi, kenapa dia tidak memberitahuku? batin Tuan Darion terus bertanya-tanya. Dia tidak mengetahui jika beberapa hari lalu Tuan Anderson mengajaknya bertemu dengan alasan bisnis itu hanya sebagai pengalihan saja.
__ADS_1
"Pa, cucu Papa hanya Ethan. Tidak ada yang lain. Mungkin ... Papa hanya salah dengar saja." Tuan Darion masih terus berusaha untuk menyembunyikan keberadaan Allura dari Tuan Okta. Dia tidak berniat untuk memberitahukannya karena bisa-bisa Allura yang akan menggantikan posisinya sebagai ahli waris yang hanya tinggal menunggu tanda tangan Tuan Okta saja.
Aku harus mendapatkan tanda tangan Papa untuk mengesahkan surat warisan itu. Begitulah tekad Tuan Darion. Semuanya karena harta dan perhatian, Tuan Darion tidak menyukai Tuan Okta yang perhatian pada Pak Adnan, dia juga tidak berniat untuk membagi harta Tuan Okta meskipun Allura adalah anak kandung Pak Adnan. Akan tetapi, jika Allura adalah putrinya, mungkin dia akan sedikit berbaik hati sampai Allura bisa dimanfaatkan olehnya.
"Tidak, Dion. Aku ingat, meskipun samar-samar dan sebentar, tapi aku yakin jika dia adalah putri Adnan, cucu kandungku," tegas Tuan Okta. Saat ini dirinya sedang tidak ingin berdebat dengan anak angkatnya, dia hanya ingin bertemu dengan cucu kandungnya saja.
"Pa, bisa sa–"
"Aku ... aku hanya ingin meminta maaf karena sudah menelantarkannya. Bahkan, aku juga sudah mencampakan menantuku sendiri dan membuat dia kesusahan. Apa aku salah jika aku ingin meminta maaf padanya? Dia cucuku, gadis itu cucuku, gadis itu putrinya Adnan. Aku yakin ...," racau Tuan Okta sambil terisak. Dia sudah menyesali sifatnya yang kasar di masa lampau, saat ini dia hanya ingin meminta maaf dan melepaskan semua beban yang selama ini ada dalam hatinya.
Tuan Darion tidak mampu mengatakan apa-apa. Lidahnya terasa kelu dan mendadak kaku, dia seakan merasa jika ucapan Tuan Okta diperuntukkan padanya juga. Namun, untuk saat ini dia belum berniat meminta maaf.
__ADS_1
"Tapi, aku bahkan belum mengetahui keberadaan mereka, Pa," dusta Tuan Darion. Sampai kapanpun dia tidak berniat untuk mempertemukan Allura dan Papa angkatnya. Tuan Darion akan bersikap seolah-olah Tuan Okta tidak pernah mengatakan jika dia ingin bertemu Allura.
"Kamu bisa menyuruh anak buahmu untuk mencari keberadaan mereka, Dion. Kumohon, carikan dia untukku," pinta Tuan Okta sambil menangkupkan kedua tangannya.
Tuan Darion terdiam sesaat, baru kali ini dia melihat Papa angkatnya memohon dengan sangat seperti itu.
Kenapa Papa bisa memohon padaku hanya untuk gadis itu? Padahal, selama ini aku yang sudah merawatnya, aku juga yang sudah menemani dia di masa tuanya. Tapi ... kenapa dia malah menginginkan orang lain dan berharap bertemu dengannya? batin Tuan Darion, dia merasa miris sendiri akan nasibnya. Namun, dia belum juga menyadari posisinya sendiri.
"Dion, Papa harap kamu mau mengabulkan keinginanku. Anggap saja ini adalah permintaan terakhirku," sambung Tuan Okta lagi.
"Tidak, Pa. Papa jangan berkata seperti itu. Baiklah, aku ... aku akan mencari keberadaannya untuk Papa. Tapi, Papa harus janji untuk segera sembuh," jawab Tuan Darion.
__ADS_1
Tuan Okta tersenyum dan menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia sangat berharap bisa bertemu dan meminta maaf pada cucu kandungnya. Lain halnya dengan Tuan Darion, dia tak bereaksi apapun. Pria itu hanya terdiam dan menatap dingin sang papa.