Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 32


__ADS_3

Allura cukup tersanjung saat melihat Arzan yang rela basah-basahan demi membeli keperluannya. Ia segera menghampiri pria itu dengan membawakan handuk bersih untuknya.


"Ini." Arzan menyerahkan sekantong plastik besar yang berisikan pembalut pada Allura.


"Tu–Tuan, kenapa ... kenapa Anda membelinya banyak sekali?" tanya Allura saat membuka kantong plastik besar itu.


"Aku tidak tahu merek yang biasa kamu pakai. Jadi aku membeli semuanya, kamu bisa membuangnya jika ada yang tidak terpakai," jawab Arzan sambil berlalu meninggalkan Allura yang masih mematung di depan pintu.


Gadis itu tersenyum diam-diam seraya menggeleng pelan, sebelum akhirnya ikut berlalu masuk ke rumah majikan.


"Terima kasih, Tuan," ucap Allura sebelum Arzan naik ke lantai atas.


Pria itu tidak menjawab ucapan terima kasih Allura, ia hanya mengangguk samar sambil membalikkan badannya.


Dasar wanita, gerutu Arzan dalam hatinya. Namun, bibirnya tersenyum tipis saat tadi ia sempat melihat senyuman Allura.


Arzan segera membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian basahnya dengan pakaian yang lebih kering. Meskipun tadi di mini market ia sempat dibuat kesal oleh salah satu pelayan, tapi setelah melihat senyuman ibu susu anaknya, perasaan kesal itupun menguap begitu saja dalam hatinya.


Lain halnya dengan Allura, gadis itu segera berlalu ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian Bintang pun datang kembali ke kamarnya bersama Bi Endah.


"Maaf lama, Bi," ucap Allura saat ia menerima Bintang di tangannya.


"Tidak apa-apa, Mbak. Namanya juga perempuan," jawab Bi Endah sambil tersenyum.


Allura melihat Bintang yang tengah berkedip lucu kearahnya. Mungkin Bintang merasa heran karena tidak biasa ibu susunya menitipkan dia ke orang lain, selain ke neneknya.

__ADS_1


"Apa, Dek? Mbak lama, ya?" tanya Allura pada bayi itu.


Bintang menanggapi pertanyaan Allura dengan sedikit menggerak-gerakkan bibirnya seperti yang hendak bicara. Hal itu sukses membuat Allura tertawa pelan dan membuat seseorang yang hendak pergi ke dapur mengurungkan niatnya.


"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" tanya Arzan pada Allura yang sedang bersama Bintang.


Sedangkan Bi Endah sudah kembali lagi ke kamarnya di belakang, itupun tanpa sepengetahuan Allura karena gadis itu terlalu sibuk dengan bayi yang digendongnya.


Allura menengadah dengan mengerutkan keningnya, ia merasa heran karena melihat Arzan yang kini tengah berdiri di depannya.


"Tuan, sejak kapan Anda di sana?"


Arzan menipiskan bibir seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Tadi aku yang bertanya padamu, apa yang kalian lakukan di sini malam-malam?" tegas Arzan.


"Bi Endah? Dia sudah kembali ke kamarnya sejak tadi," ujar Arzan yang membuat Allura kembali celingukan mencari jam dinding.


"Ya Tuhan, Dek. Ternyata ini sudah hampir larut malam," ucap Allura begitu ia melihat jam yang menunjukkan pukul jam 10.45.


"Iya, ini sudah sangat larut. Apa kamu berniat untuk mengajak Bintang bergadang bersamamu?"


"Ti–tidak, Tuan. Tapi ... tapi memang biasanya Bintang selalu terbangun jam segini," jawab Allura dengan cepat. Ya, kenyataannya memang Bintang dan Allura selalu bergadang.


Arzan memicingkan matanya sambil mencari kebohongan yang mungkin dikatakan oleh Allura tentang anaknya.


"Saya sedang tidak berbohong, Tuan," tambah Allura lagi saat ia melihat gelagat Arzan yang sedikit mengintimidasinya.

__ADS_1


"Benarkah?" tanyanya tidak yakin.


"Jika Tuan tidak percaya padaku, silakan malam ini Anda bergadang bersama Bintang dan saya akan senang hati beristirahat," ucap Allura sambil menyodorkan Bintang untuk digendong oleh papanya.


"Hei, kamu?!"


"Bukankah Anda tidak percaya, jika Bintang memang selalu bergadang setiap malam?" tantang Allura.


"Tidak, terima kasih. Kamu bisa bersamanya, besok aku harus kerja, jadi tidak bisa bergadang," tolak Arzan dengan cepat. "Tapi, kenapa kamu tidak pernah terlihat mengantuk jika sedang siang hari? Bukankah seharusnya jika memang kamu kurang tidur badanmu akan terlihat lelah?" tanyanya sambil menyunggingkan sebelah bibirnya.


Allura terdiam, ia memang merasa lelah saat harus siap siaga 24 jam mengurus Bintang. Namun, di sisi lain ia sangat menikmati perannya saat ini. Jadi, ia tidak mau ada seseorang yang mendengar keluhannya.


"Saya rasa ... bayaran yang saya terima cukup sepadan dengan pekerjaan saat ini. Jadi, saya sangat menikmatinya hingga saya melupakan rasa lelah itu," jawab Allura dengan cepat.


Tentu saja jawaban itu tidak hanya untuk menutupi keadaan dirinya yang sebenarnya, tapi Allura pikir jika ia menjawab dengan perkataan itu, Arzan tidak lagi bertanya tentang dirinya.


Mendengar jawaban Allura yang mengungkit-ngungkit tentang 'Bayaran', membuat Arzan sedikit kecewa. Entah kenapa Arzan sempat berpikir jika Allura memang benar-benar menyayangi Bintang, anaknya.


Meskipun tidak dapat dipungkiri, jika memang Allura bekerja di sana hanya karena untuk Bintang. Namun, tiba-tiba saja sudut hatinya tidak terima atas apa yang dikatakan oleh Allura.


"Benarkah? Jadi, jika aku memberikanmu uang yang lebih banyak, maka kamu akan tetap tinggal di sini dan mengurus Bintang?" tanya Arzan.


Allura mengernyitkan keningnya, ia tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Arzan. "Maksud Anda, Tuan?"


"Maksudku, apakah kamu menyayangi Bintang hanya karena uang yang kami berikan?"

__ADS_1


__ADS_2