
Allura mengikuti langkah Arzan yang menuju pekarangan belakang rumahnya. Sebelum ke paviliun tempat penginapan pelayan, di sana terdapat sebuah meja serta kursi untuk bersantai dan saat ini mereka hendak pergi ke sana.
Arzan sudah menitipkan Bintang pada Bi Endah untuk menjaganya sebentar, sementara Allura makan malam dengannya.
"Tuan, apa tidak masalah jika saya makan malam hanya berdua dengan Anda?" tanya Allura sambil terus mengikuti langkah pria jangkung di depannya.
"Sudahlah, tidak ada yang melarang juga. Kamu tetap harus makan banyak karena Bintang masih memerlukan nutrisi lebih. Jadi, jangan sampai dia kekurangan nutrisinya. Kamu paham?" tanya Arzan.
Allura menganggukan kepalanya beberapa kali, gadis itu diam-diam tersenyum. Hatinya tiba-tiba merasa hangat saat menerima perhatian dari Arzan. Tidak dapat dipungkiri, jantungnya berdebar kencang karena merasa diperlakukan istimewa oleh pria itu.
Sesampai di meja taman, Arzan segera menyiapkan makanan yang tadi dipesan olehnya. Bahkan dia pun sudah menyiapkan air dalam kemasan untuk diminum nanti.
"Ini, cepat makanlah," ucap Arzan sambil memberikan box makanan untuk Allura.
"Terima kasih, Tuan." Allura menerima makanan yang sudah disediakan untuknya.
"Sama-sama."
Arzan dan Allura makan bersama di taman belakang rumah. Jika ada yang melihat, pasti mereka akan mengira sepasang sejoli itu tengah berpacaran.
Allura makan dengan lahap tanpa menutupi image–nya sama sekali. Dia tidak peduli tentang pemikiran Arzan terhadapnya. Arzan sendiri lebih menikmati pemandangan didepannya daripada makan yang sedang menunggu untuk disantapnya.
Benar-benar gadis yang menggemaskan, dia sama sekali tidak berusaha untuk mencari perhatianku, batin Arzan.
Allura segera menenggak minumnya setelah selesai makan. Kini, tatapan gadis itu beralih ke arah Arzan yang masih setia menatapnya dengan lekat. Bahkan makanannya masih terlihat utuh.
Allura balas menatap Arzan sama lekatnya, pria itu mulai memberanikan diri untuk menyentuh tangan Allura yang ada di atas meja.
"Lura, maafkan aku jika selama ini sikapku terkadang acuh padamu," ucap Arzan.
Allura menunduk sambil mengangguk. "Tidak apa-apa, Tuan. Saya tahu, saya bukanlah orang yang spesial di hati Tuan, sehingga bisa mendapatkan perhatian lebih," jawab Allura.
"Lura, bisakah jangan memanggilku dengan embel-embel 'Tuan'? Tidak bisakah kamu memanggilku dengan sebutan yang lain?"
Allura menengadah dan menatap manik mata Arzan langsung. "Memangnya Anda ingin saya panggil apa, Tuan?"
__ADS_1
"Bagaimana kalau 'Mas' saja?" tanya Arzan dengan antusias
"Mas?" tanya Allura sambil mengangkat alisnya.
Arzan mengangguk lagi. "Apa kamu keberatan?" tanyanya.
Allura menggeleng pelan. "Baiklah, Mas. Aku ... aku akan memanggilmu dengan panggilan itu."
Arzan tersenyum bahagia saat Allura tersipu malu karena panggilan baru mereka.
Semoga ini adalah langkah awal baik untukku, batin Arzan.
·
·
·
"Tuan ...." Allura mencoba untuk memanggil Arzan, Dia merasa sedikit heran pada pria itu. Sedari tadi tatapan Arzan tak juga beralih dari dirinya sehingga membuatnya sedikit risih.
"Tuan ...."
Kini Allura memanggilnya dengan nada yang cukup tinggi seraya mengguncang bahu Arzan. Pria itu seketika terkesiap dari lamunannya. Raut wajahnya sedikit menampakan rasa terkejut dan kekecewaan saat menyadari jika tadi hanya angannya saja.
Jadi, dari tadi aku hanya melamun saja? tanyanya dalam hati.
"Anda kenapa menatap saya seperti itu?" tanya Allura saat melihat Arzan yang sudah kembali dengan tatapan normal.
"Ti–tidak ada, aku tidak apa-apa," jawab Arzan sambil membuang pandangannya ke arah lain, ia juga mendesah kasar untuk menghalau rasa kesal yang tiba-tiba saja hinggap dalam hatinya.
Hah, kupikir tadi bukan khayalan. Tapi ternyata ....
Allura mengernyit heran saat mendengar embusan napas kasar pria didepannya, ia sama sekali tidak bisa menebak penyebab Arzan yang mendesah kasar seperti itu.
"Lalu, kenapa Anda tidak menghabiskan makanannya?" tanya Allura sambil melirik makanan Arzan yang masih utuh.
__ADS_1
Arzan mengikuti tilikan mata Allura. Lagi-lagi pria itu kembali menghembuskan napas berat. Namun, tak ayal ia mulai menyuapkan makanan itu karena perutnya yang terasa sangat lapar.
Kini giliran Allura yang memperhatikan Arzan yang tengah makan. Meskipun dirinya sudah selesai makan dari tadi, tapi Allura tidak berani untuk pamit terlebih dulu. Gadis itu memilih untuk menemani Arzan sampai pria itu menghabiskan makanannya.
Sesaat Allura kembali terpikirkan tentang mamanya yang kini sudah lebih baik, dokter memberikan pengobatan yang sangat bagus untuk beliau. Namun, sampai saat ini Allura masih belum mengetahui siapa orang yang sudah menolong untuk membiayai pengobatan Ibu Ani.
Ditambah saat ini Allura masih sangat penasaran dengan alasan bibinya dan Nira untuk berpura-pura menjadi anak ayahnya. Ya, karena yang sebenarnya anaknya itu adalah Allura. Sedangkan kedua orang tua Nira sendiri masih lengkap.
Arzan melirik Allura di sela-sela jawabannya, dia merasa heran karena gadis di depannya hanya terdiam sambil terus memperhatikan tangannya yang saling bertaut di atas meja.
"Hei, apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanya Arzan sambil melambaikan tangannya didepan wajah Allura.
"Aku sedang tidak melamun, Tuan," ucap Allura seraya menurunkan tangan Arzan yang ada di depan wajahnya.
"Oh, aku pikir kamu sedang melamun dan memperhatikan wajah tampanku," tanggap Arzan sambil menaik turunkan alisnya.
Allura balas menatap Arzan dengan pandangan memicing, baru kali ini dia melihat ayah dari bayi yang disusui bersikap seperti itu.
"Wah, ternyata Anda tidak hanya menyebalkan, Tuan. Tapi Anda juga terlalu percaya diri," balas Allura seraya melipat kedua tangan di depan dada dan membuang pandangannya ke arah lain.
Allura kembali merasa kesal pada pria didepannya. Terkadang ia pun merasa sedikit heran dengan hatinya, ada kala Allura tiba-tiba merasakan jantungnya yang berdebar kencang serta gugup dan perasaan kesal di saat bersamaan.
"Hei, bukan aku yang menyebalkan, justru kamu yang menyebalkan." Arzan tidak terima jika dirinya disebut menyebalkan oleh Allura. Sedangkan wanita itu sendiri menurutnya sama menyebalkan seperti dirinya.
"Aku tidak menyebalkan sepertimu!" tolak Allura dengan tegas.
"Sudah kukatakan, aku tidak menyebalkan Allura Saputri."
Allura langsung menatap garang Arzan, dia tidak terlalu suka jika ada orang lain yang menyebut nama lengkapnya. Tanpa menjawab ucapan Arzan, Allura langsung pergi meninggalkan pria itu sendirian. Dia pergi dengan napas kembang kempis saking kesalnya pada Arzan. Bahkan, gadis itu sesekali menendang rumput yang ia lalui untuk menyalurkan kekesalannya.
"Hei, rumput itu tidak bersalah! Kamu jangan sembarangan menendangnya!" teriak Arzan sambil terkikik geli karena berhasil menggoda ibu susu Bintang.
Allura mendengus kesal setelah mendengar teriakan Arzan. Andai saja Arzan bukan majikannya, mungkin saat ini Allura sudah menendang tulang kering pria itu saking kesalnya.
Lagi-lagi tingkah keduanya diperhatikan oleh seseorang yang sedang menatap kesal pada keduanya, bahkan tangan orang itu sudah mengapa diantara kedua sisi tubuhnya.
__ADS_1
"Allura ... kamu benar-benar keterlaluan! Sepertinya aku tidak bisa lagi bersikap halus padamu. Lihat saja, apa yang akan kulakukan padamu nanti."