
"Anaknya Adnan sudah ditemukan," ucap Tuan Anderson dengan binar semangat dan bahagia.
Mendengar kabar itu, Nyonya Fika dan Arzan seketika bungkam. Tak ada dari mereka yang berani berkata-kata lagi. Nyonya Fika dalam hatinya bersyukur karena gadis itu sudah ditemukan. Namun, di sisi lain dia juga bimbang, entah kenapa hatinya masih tidak bisa membiarkan sang suami untuk tetap menjalankan keinginannya.
"Mas, aku senang dan bersyukur atas kabar ditemukannya keluarga Adnan. Tapi, aku mohon jangan paksa Arzan untuk menikah dengannya," tanggap Nyonya Fika sambil menyentuh tangan suaminya, ia sangat berharap Tuan Anderson mau membatalkan niatnya.
"Ma, keputusanku sudah bulat untuk menjodohkan Arzan dan putrinya Adnan. Papa juga sudah mengirimkan seseorang untuk menjemput mereka di kampung dan sore nanti mereka akan sampai di sini," terang Tuan Anderson.
Arzan mengelpakan tangannya kuat-kuat di atas meja makan, ia marah pada papanya karena masih berusaha untuk menjodohkannya dengan wanita pilihannya lagi.
"Pa, cukup! Tidak bisakah Papa menghargai keinginanku, membiarkanku memilih sendiri calon pendamping hidupku? Kenapa Papa terus-menerus berusaha untuk mengatur kehidupanku?" tanya Arzan dengan menatap kesal Tuan Anderson.
'Brak'
Tuan Anderson tiba-tiba menggebrak meja makan hingga membuat Arzan dan Nyonya Fika terkesiap seketika.
"Arzan, Papa hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu! Apa itu salah?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Papa, berhentilah menggunakan alasan itu! Aku sudah cukup dewasa, aku tahu mana yang terbaik untukku dan mana yang tidak!" balas Arzan lagi.
__ADS_1
Tuan Anderson menatap anak laki-lakinya dengan tajam, ia tidak terima Arzan kini sudah berani untuk menentangnya. Mata pria paruh baya itu kembali nyalang, saat Arzan membalas tatapan tajamnya.
"Apa karena wanita itu? Apa karena dia, kamu sampai berani-beraninya membantah Papa? JAWAB!"
Tuan Anderson kembali berteriak sambil menunjuk ke arah ruangan keluarga berada. Di sana memang tak ada siapa pun, tapi Arzan tahu siapa yang dimaksud oleh papanya.
"Bukan karena siapa-siapa, Pa. Mengertilah, aku sudah lelah menjalani hubungan yang diatur oleh kalian. Aku tidak ingin membuat kalian kecewa lagi, jika ternyata hubungan kami tidak bisa berlangsung lama." Arzan mencoba untuk sedikit meluluh, dia berharap papanya bisa kembali diajak berbicara baik-baik.
Tuan Anderson mendengus kesal. Arzan benar-benar keras kepala seperti dirinya. Jika dulu Arzan menerima perjodohannya dengan Rivera, maka kali ini ia ingin mencari wanita yang bisa menerima apa adanya. Dia pun kembali memikirkan Bintang, tidak mungkin dirinya sembarangan memilih calon ibu sambung untuk anaknya.
Nyonya Fika yang sedari tadi terdiam pun akhirnya angkat bicara setelah melihat suaminya yang sudah lebih tenang.
Lagi-lagi Tuan Anderson menarik napas panjangnya setelah mendengar ucapan sang istri. "Ya, kamu benar, sayang. Arzan memang belum sepenuhnya bercerai. Papa melupakan hal itu. Tapi tetap saja, apa tidak akan mengurungkan niat untuk menjodohkannya lagi."
"Terserah Papa saja, aku akan tetap teguh pada pendirianku," jawab Arzan dengan lantang.
Setelah mengatakan hal itu, Arzan pun bangkit dari duduknya dan berlalu menuju kamar tanpa menyentuh makan siangnya sama sekali. Selera makannya sudah hilang sejak tadi papanya memaksa dia untuk menerima perjodohan itu lagi.
"Arzan, kamu mau ke mana, Nak?" tanya Nyonya Fika saat melihat sang anak yang berdiri meninggalkan ruang makan.
__ADS_1
"Aku akan pergi ke kamarku, Ma. Mama dan Papa makan saja duluan. Aku sudah tidak berselera," jawab Arzan tanpa membalikan tubuhnya.
Nyonya Fika menatap kepergian Arzan dengan tatapan nanar, tadinya ia berharap makan siang kali ini akan menjadi makan siang spesial karena dia dan Allura yang memasak. Namun kini, harapannya sirna. Arzan menolak untuk meneruskan makannya.
Tuan Anderson merasa sedikit bersalah ketika melihat wajah sang istri yang tampak murung. Dia pun menggapai bahu Nyonya Fika untuk mengajaknya duduk lagi.
"Sebaiknya kita biarkan Arzan berpikir dulu, Ma. Dia pasti akan kembali lagi setelah pikirannya tenang," ucap Tuan Anderson.
"Tapi, Pa. Tadinya Mama berharap kita akan makan siang bersama," jawab Nyonya Fika dengan suara pelan.
Tuan Anderson tidak menanggapi jawaban Nyonya Fika, dia sendiri masih merasa kesal terhadap anaknya dan berakhir dengan membiarkan Arzan pergi dari sana.
***
Selepas pergi dari ruang makan, Arzan meneruskan langkah menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Namun, langkahnya terhenti saat melewati kamar yang dihuni oleh Bintang dan Allura.
Lagi-lagi pintu kamar itu tidak tertutup rapat, dia bisa mendengar jika Allura sedang membawa Bintang untuk berbicara. Bahkan Arzan juga bisa mendengar suara halus Bintang yang sedang berusaha untuk mengeluarkan suaranya. Melihat interaksi Allura dan Bintang yang begitu dekat, membuat pikiran Arzan seketika melayang dan membayangkan, jika yang ada di sana itu adalah Rivera dan bukan Allura.
Ya Tuhan, andai saja keluargaku masih utuh, pasti akan sangat membuatku bahagia, batinnya tanpa mengalihkan pandangan dari Allura dan Bintang.
__ADS_1