
Arzan dan Tuan Anderson mengobrol hingga pukul sembilan lebih. Para pria itu bahkan tidak menyadari jika istri-istrinya sudah tidak ada di sana.
"Lho, Zan, kapan Mama serta istrimu pergi dari sini?" tanya Tuan Anderson begitu ia menyadari ketiadaan istri, menantu dan cucunya.
"Entahlah, Pa. Sepertinya sudah dari tadi," jawab Arzan sambil membereskan beberapa berkas yang ada di tangannya.
"Ya sudahlah, sebaiknya kita kembali ke kamar. Lagi pula Papa sudah sangat mengantuk, mungkin karena cuaca dingin juga." Tuan Anderson bangkit dari duduknya dan berjalan lebih dulu meninggalkan Arzan.
"Baiklah," jawab pria itu lagi.
Setelah kepergian Tuan Anderson, Arzan pun segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera menyusul anak serta istrinya yang sudah ke kamar.
"Akh, lelahnya ...." Arzan merentangkan kedua tangannya ke atas untuk mengendurkan otot-otot yang terasa kaku. Setelahnya, pria itupun bangkit untuk menyusul istri dan putranya.
"Kenapa rasanya sepi sekali?" gumam pria itu saat ia mendapati lampu kamar yang sudah redup dan hanya terlihat samar-samar.
Arzan pun mengunci pintu kamarnya dan berbalik menuju ranjang. Namun langkahnya terhenti ketika netranya menangkap sesosok wanita cantik yang sedang berjalan cepat menuju pembaringan.
"Rara ...," panggil Arzan begitu ia menyadari jika wanita cantik itu adalah istrinya.
Tubuh Allura langsung mematung seketika kala mendengar sapaan suaminya. Gadis itu begitu terkejut karena kemunculan Arzan yang tiba-tiba. Jantungnya berdegup kencang, bulu-bulu kuduknya terasa meremang.
Arzan segera menghampiri wanita yang masih setia mematung sambil membelakanginya. Pria itu tidak menyangka jika Allura akan menyambutnya sedemikian rupa. Bahkan, saat tadi sore pun Allura masih bersikap biasa saja padanya.
"Kamu begitu cantik," ucap Arzan seraya memeluk tubuh Allura dari belakang.
Dingin hawa yang terasa malam itu langsung terganti dengan hangatnya dekapan yang Allura rasakan.
Mungkin sekarang sudah saatnya, batin Allura. Gadis itupun membalikkan tubuhnya untuk menatap sang suami. Pandangan keduanya saling beradu menyalurkan kerinduan di setiap detiknya. Arzan dan Allura begitu menikmati saat-saat itu.
"Malam ini aku milikmu sepenuhnya, Mas," bisik Allura yang terdengar sensual di telinga Arzan.
__ADS_1
"Tentu, sayang," jawab Arzan seraya mulai mendekatkan wajahnya.
Allura kini sudah benar-benar pasrah. Wanita itu tak lagi melawan atau menampik perlakuan Arzan padanya. Kedua insan manusia itupun akhirnya melakukan hal sudah sepantasnya mereka lakukan. Apalagi cuaca di luar begitu mendukung. Arzan pun memperlakukan Allura sebegitu lembutnya hingga membuat wanita itu melayang, mabuk kepayang. Keduanya baru berhenti ketika mereka sudah kelelahan dengan peluh membasahi tubuh mereka.
"Terima kasih, sayang," ucap Arzan seraya mengecup kening gadis yang kini sudah sepenuhnya menjadi seorang wanita.
"Sama-sama, Mas," jawab Allura yang semakin menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang suami.
"Tidurlah, kamu pasti merasa lelah." Arzan semakin mengeratkan pelukannya untuk membuat wanita itu hangat.
Allura tertidur dalam dekapan Arzan, keduanya saling berbagi kehangatan di bawah selimut yang sama. Arzan merasa menjadi pria yang paling beruntung karena bisa mendapatkan Allura sepenuhnya. Siapa sangka, ibu susu anaknya kini menjadi istrinya juga. Lengkap sudah kebahagiaan yang tengah di rasakan pria itu.
Terima kasih, Rara. Kehadiranmu benar-benar melengkapi kekosongan di hatiku. Kamu wanita yang paling istimewa untukku. Kamu bukan sekedar ibu susu Bintang, kamu adalah ratu yang sesungguhnya di hatiku, batin Arzan seraya melabuhkan kembali kecupan ringan di kening wanita yang sudah ia miliki sepenuhnya. Setelah puas memandangi wajah ayu Allura, Arzan pun mulai menutup matanya untuk menyusul sang istri yang sudah lebih dulu melanglang buana ke dunia mimpi.
***
Pagi menjelang, semilir angin dan sisa-sisa hujan semalam membuat udara semakin terasa kian dingin. Sepasang insan yang tadi malam selesai memadu kasih, kini memaksakan diri mereka untuk bangun dan melakukan ibadah bersama.
Tangan pria itu mulai terulur untuk mengusap surai hitam istrinya, ia membangunkan wanita itu secara perlahan.
"Sayang, bangun, yu ... sebentar lagi masuk waktu subuh. Kita shalat berjamaah dulu," ucap Arzan tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Allura.
Wanita itu mulai menggeliat dan membuka matanya. Arzan memberikan kecupan ringan di bibirnya. "Morning Kiss."
"Aku masih bau, Mas." Allura menutup wajahnya yang tiba-tiba memerah karena perlakuan manis Arzan padanya.
"Bagiku, kamu selalu tampak cantik dan wangi," jawab Arzan seraya mengusap rambut Allura.
Gadis itu makin tersipu malu mendengar ucapan suaminya. Ia hendak kembali bersembunyi dibalik selimut, tetapi Arzan langsung menahan tangannya.
"Mau apa? Ayo, cepat bersihkan tubuhmu. Sebentar lagi waktu adzan!" perintahnya.
__ADS_1
Allura hanya bisa tersenyum kikuk, ia terlalu terbawa suasana dan lupa dengan perintah suaminya tadi. Gadis itupun bangkit dengan perlahan, tubuhnya terasa remuk redam akibat permainan yang dilakukan oleh suaminya. Allura perlahan melangkahkan kakinya yang terasa perih, panas di bagian intinya. Sesekali ia juga mendesis untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Apa terasa sangat sakit?" tanya Arzan yang sedari tadi memerhatikan langkah kaki Allura yang terlihat aneh.
"Ini sakit sekali, Mas," jawab Allura dengan suara manja.
Tanpa menunggu lama, Arzan segera membantu Allura untuk ke kamar mandi. Ia menggendong wanita itu ala bridal style dan mendudukkannya di dalam bathtub. Ternyata di sana Arzan juga sudah menyiapkan air hangat yang ia tambahkan minyak aromaterapi untuk membantu Allura agar lebih rileks.
"Apa suhunya sudah cukup?" tanya Arzan sebelum pria itu berlalu keluar.
"Sudah, Mas. Terima kasih."
"You're welcome, honey. Is there anything else you need?"
"Tidak ada, Mas. Kamu bisa menunggu di luar," jawab Allura sambil menggeleng.
"Kamu yakin? Aku bisa membantumu untuk menggosok tubuh dan ...."
"Sudah cukup, Mas. Jangan mesum sekarang!" ucap Allura ketika ia menyadari godaan Arzan padanya.
"Kamu yakin?"
"Mas!" Allura mengusir pria itu dengan mengibas-ibaskan tangannya yang basah.
"Baiklah, baiklah .... Aku keluar sekarang," jawab Arzan akhirnya. Pria itupun tidak lagi mengganggu acara mandi istrinya.
Arzan segera melepas sprei yang semalam menjadi saksi bisu pergulatan mereka tadi malam. Ia juga tersenyum tak kala melihat bercak merah yang masih tercetak di sana.
"Terima kasih."
...❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
(Maaf klo banyak di skip 🙏 Demi lulus review) 😁