
Cukup lama Allura, Nyonya Fika dan Edwin menunggu dokter itu keluar dari ruang rawat Arzan dan Tuan Anderson.
"Ma, Mas Arzan ...." Berbagai macam pikiran buruk hinggap di kepala Allura, ia begitu takut sesuatu terjadi pada Arzan.
"Sabar, Ra. Semoga saja Arzan baik-baik saja di dalam sana," ucap Nyonya Fika sambil memeluk menantu serta cucunya. Edwin sendiri hanya bisa diam sambil memperhatikan Allura dan Nyonya Fika.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya dokter yang memeriksa Arzan pun keluar. Tanpa menunggu lama, Allura segera menghampiri dokter itu dan menanyakan keadaan Arzan.
"Dokter, bagaimana kondisi suamiku?" tanya Allura begitu dokter itu menutup pintu ruang rawat.
"Saat ini kondisinya sudah kembali stabil. Tadi beliau sempat drop, tapi sekarang sudah kami tangani. Kita tinggal menunggu beberapa saat lagi sebelum obat biusnya habis, dia akan kembali sadar," jelas dokter itu.
Allura menarik napasnya lega, begitupun dengan Nyonya Fika. Kedua wanita itu kini bisa kembali tenang setelah mendengar penjelasan dokter.
"Lalu, bagaimana dengan keadaan suamiku? Kenapa dia belum bangun sampai sekarang?" tanya Nyonya Fika yang mempertanyakan kondisi Tuan Anderson.
"Beliau sekarang sudah siuman, Nyonya. Baru saja–" Belum sempat dokter itu menyelesaikan perkataannya, Nyonya Fika segera berlalu dan membuka pintu ruang rawat suami serta anaknya meninggalkan Allura bersama Edwin.
"Baiklah. Terima kasih atas penjelasannya, Dok." Allura menunduk sedikit, sebelum ia mempersilakan dokter itu kembali menjalankan tugasnya yang lain.
"Sama-sama, Nona. Anda tidak perlu mengkhawatirkan lagi suami Anda, insyaallah dia akan segera siuman," ucap dokter itu lagi sebelum berlalu dari hadapan Allura dan Edwin.
Setelah melihat kepergian dokter yang memeriksa Arzan, Allura dan Edwin pun segera menyusul Nyonya Fika yang sudah terlebih dulu masuk ke dalam ruang rawat.
__ADS_1
"Papa, bagaimana kondisinya saat ini? Apa yang Papa rasakan? Apa masih ada yang sakit?" tanya Allura bertubi-tubi.
Tuan Anderson menanggapi pertanyaan Allura dengan senyuman tipis. Dia bisa melihat dengan jelas jika menantunya itu saat ini begitu mengkhawatirkannya.
"Alhamdulillah, Ra. Sekarang Papa sudah baik-baik saja. Semoga Arzan cepat sadar dari pingsannya," jawab Tuan Anderson sembari mengusap lembut kepala menantunya.
"Amiin, Pa." Allura tersenyum di samping Nyonya Fika yang sedang duduk.
"Tuan, maaf karena saya sudah teledor dalam menjaga Tuan Arzan dan mengakibatkannya menjadi korban," ucap Edwin yang merasa sudah gagal tidak bisa melindungi kedua majikannya.
"Tidak apa-apa, Win. Ini semua sudah terjadi. Aku bersyukur karena sekarang Darda dan Ethan sudah berada di tempat yang semestinya. Setidaknya mereka harus bertanggung jawab atas perbuatan buruknya selama ini," jawab Tuan Anderson. Kini ia benar-benar bisa bernapas lega karena keluarganya sudah aman. Meskipun Arzan masih belum sadar, tapi penjahatnya sudah tertangkap.
Sebenarnya Tuan Anderson sedikit menyayangkan tindakan yang sudah dilakukan oleh Pak Darda. Padahal, selama mereka menjadi besan, hubungan keduanya begitu baik dan tenang. Namun, setelah perceraian Rivera dengan Arzan, pria itu mulai menggila.
Nyatanya harta bisa membuat hubungan semakin buruk. Gara-gara harta, nyawa jadi melayang. Gara-gara harta, seseorang bisa menjadi jahat, batin Tuan Anderson sambil menatap lurus dan menerawang jauh.
"Benar, Ma. Tuhan masih melindungiku," tanggap Tuan Anderson yang langsung diangguki oleh Allah serta Nyonya Fika.
Saat keempat orang itu masih berbincang, seseorang mengetuk pintu ruangan. Di sana, mereka melihat Ibu Ani dan Bibi Erni yang sedang berdiri di luar. Allura segera membukakan pintu untuk mama serta bibinya.
Ibu Ani langsung memeluk putrinya, ia tahu jika saat ini Allura sedang bersedih. Apa yang sedang menimpa Arzan juga membuatnya sedih. Itulah sebabnya dia meminta Pak Ujang untuk menjemputnya kembali.
"Kamu yang sabar, Nak. Mudah-mudahan suamimu segera pulih kembali," ucap Ibu Ani di tengah-tengah pelukan mereka.
__ADS_1
Allura mengamini ucapan mamanya, ia pun sangat berharap saat ini juga Arzan kembali siuman. Akan tetapi, suaminya itu masih setia menutup mata. Allura segera mempersilahkan mamanya untuk masuk ke dalam dan bertemu dengan kedua mertuanya.
"Mbak, Mas," sapa Ibu Ani pada kedua mertua putrinya. "Bagaimana keadaannya saat ini?" tanyanya pada Tuan Anderson.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Ni. Tapi ... Arzan ...." Tuan Anderson tidak mampu meneruskan perkataannya sebab ia melihat wajah sayu Allura. Dia merasa sangat tidak tega ketika melihat menantunya tengah bersedih seperti saat ini.
"Iya, Mas. Saya mengerti, mudah-mudahan saja Arzan segera sadar," tanggap Ibu Ani saat Tuan Anderson tidak melanjutkan kata-katanya.
Allura berbalik dan menatap suaminya yang masih terpejam, hatinya begitu teriris tak kala wajah pucat Arzan yang ia lihat.
Mas, ayo bangun ... aku dan Bintang sangat merindukanmu. Jangan buat kami khawatir seperti ini, gumam hati Allura. Dia benar-benar merindukan senyuman sang suami. Meskipun terkadang Arzan begitu menyebalkan padanya, tapi jika melihat dia kesakitan, Allura juga ikut merasa sakit dan sedih.
"Bi, kita doakan Papa agar cepat siuman, ya," ucap Allura pada Bintang. Bayi itu sejak tadi berada di gendongan Allura, tak sedikitpun Allura melempaskan Bintang.
Ya Tuhan ... semoga tidak terjadi suatu hal yang buruk pada suamiku. Kumohon padamu, segerakanlah ia sadar agar bisa kembali berkumpul bersama kami, batin Allura. Tak terasa air matanya menetes begitu saja.
Nyonya Fika segera memeluk Allura ketika ia melihat menantunya mengusap wajahnya. Hatinya juga sedih karena harus melihat anak tunggalnya terluka dan tidak sadarkan diri, tetapi ia sendiri pun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Allura, kamu yang sabar, ya .... Mama juga sedih melihat Arzan seperti ini," ucap Nyonya Fika.
Allura tidak bisa lagi membendung kesedihannya, ia menangis di pelukan mertua Nyonya Fika. Wanita itu menumpahkan semua perasaan sedihnya di sana. Ibu Ani pun turut memeluk putrinya yang sedang menangis. Sungguh, tidak ada seorang ibu yang tega melihat putrinya menangis tersedu-sedu atas alasan apapun itu, begitu pula dengan Ibu Ani.
"Allura, kamu kuat, Nak. Kamu harus kuat demi Arzan dan Bintang. Anakmu akan sedih jika melihatmu seperti ini," ucap Ibu Ani.
__ADS_1
Allura mencoba untuk menenangkan hatinya, apa yang dikatakan oleh mamanya dirasa benar. Ya, aku harus kuat demi Bintang dan Mas Arzan. Aku tidak boleh bersedih seperti ini, Mas Arzan pasti akan segera pulih, batinnya. Ia pun melepaskan pelukannya dari Nyonya Fika dan Ibu Ani, ia juga segera menghapus sisa-sisa air matanya yang sudah membasahi wajah.
"Mama benar, aku harus kuat demi mereka," ucap Allura yang langsung diangguki oleh kedua wanita paruh baya itu. Mereka pun kembali tenang dan menunggu Arzan hingga pria itu siuman.