
Allura memutuskan untuk tidak kembali ke rumah sakit. Selain karena tidak bisa meninggalkan Bintang, Allura juga merasa tubuhnya sangat lelah dan Arzan pun menyuruhnya untuk beristirahat.
"Lura, ini air jahe yang aku buatkan untukmu. Nanti diminum, ya. Aku bingung jika harus memberikan obat saat ini. Jadi, kamu minum air jahe saja," ucap Nyonya Fika sambil membawakan nampan yang berisi gelas air jahe.
"Ya Tuhan, seharusnya Anda tidak perlu repot-repot seperti ini pada saya, Nyonya," ucap Allura yang merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan Nyonya Fika.
Nyonya Fika tersenyum ketika menanggapi ucapan Allura. "Kamu sama sekali tidak merepotkan kami, Lura," ucapnya.
Allura tersenyum kaku saat mendengar jawaban Nyonya Fika, dia tidak menyangka jika beliau akan memperhatikannya sampai seperti ini.
Alhamdulillah, ternyata aku mendapatkan majikan yang baik seperti Nyonya Fika, batin Allura.
Gadis itu pun meminum air jahe yang dibawakan oleh Nyonya Fika untuknya dengan perlahan. Aromanya yang khas, membuat indra penciuman Allura merasa sedikit lebih lega. Setelah meminum beberapa seruput, Allura pun menyimpan kembali gelas itu di atas nakas dekat tempat tidurnya.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu. Bintang akan tidur bersamaku malam ini. Daya tahan tubuhnya masih lemah, jadi aku sedikit khawatir dia akan tertular. Dan ... supaya istirahatmu juga lebih tenang," ucap Nyonya Fika sambil berjalan ke arah box bayi, hendak memangku Bintang yang sedang terlelap.
Allura tidak bisa menolak ucapan Nyonya Fika, dia juga tidak ingin membuat bayi mungil itu jatuh sakit karena tertular olehnya.
Saat Nyonya Fika hendak keluar kamar Allura, Arzan datang dengan membawa obat yang ia beli dari apotek. Arzan juga tidak ingin sembarangan memberikan Allura obat, jadi dia pun sempat berkonsultasi dulu dengan dokter yang saat itu merawat Bintang.
"Ini, minumlah obatnya supaya kamu cepat sembuh," ucapan Arzan sambil memberikan plastik obat itu pada Allura. Namun, belum sempat Allura menerima plastik obat itu, Arzan kembali menarik tangannya.
__ADS_1
"Lho, kenapa Anda mengambilnya lagi, Tuan?" tanya Allura merasa bingung.
Tanpa berkata-kata, Arzan lantas membukakan sachet obat itu dan memberikan isinya pada Allura agar diminum saat itu juga.
"Lekas minum sekarang!" perintahnya dengan tegas.
Allura sempat menatapnya sambil berkedip, ia cukup terkejut dengan perlakuan Arzan padanya.
"Kenapa hanya diam saja? Cepat ambil dan minum obat ini!" perintahnya lagi, saat Allura tak kunjung mengambil obat yang ada di tangannya.
Sebenarnya Allura merasa sedikit ragu untuk meminum obat itu. Bukan karena apa-apa, tapi dia semacam orang yang tidak bisa minum obat tablet. Jika itu bukan obat sirup, maka Allura harus menghancurkannya dulu di dalam air agar bisa dia minum.
"Cepat minum!" perintah Arzan untuk kesekian kalinya.
"Kenapa Lura?" tanya Nyonya Fika.
Allura mengalihkan perhatian dari Arzan saat mendengar Nyonya Fika yang bertanya padanya. Matanya bergerak gelisah saat hendak menjawab pertanyaan dari Nyonya Fika. Arzan menautkan alisnya, ia menatap lekat ibu susu Bintang seraya menunggu jawaban apa yang akan keluar dari gadis yang masih mematung di depannya.
"Sebenarnya ... saya ... sebenarnya saya tidak bisa meminum obat tablet, Tuan," jawab Allura dengan cepat, ia juga menundukkan kepalanya agar Arzan tidak melihat matanya langsung.
Tanpa rasa bersalah, seketika tawa Arzan meledak saat itu juga. Ia tidak menyangka, jika gadis menyebalkan yang menjadi ibu susu anaknya itu ternyata tidak bisa mengkonsumsi obat tablet.
__ADS_1
Nyonya Fika tertawa pelan saat mendengar jawaban Allura. Namun, ia segera menghentikan tawanya saat mendengar rengekan kecil keluar dari bayi yang ia gendong. Nyonya Fika juga menepuk pundak Arzan, agar pria itu menghentikan tawanya karena Bintang terganggu oleh tawa Arzan yang cukup nyaring di kamar Allura.
"Maaf, maaf, maaf ... aku tidak bermaksud untuk menertawakanmu. Hanya saja, aku baru mendengar jika ada seseorang yang tidak bisa meminum obat tablet," ucap Arzan sambil mengatupkan tangannya.
Allura mengerucutkan bibirnya seraya mendelik tajam kearah Arzan, sedangkan Nyonya Fika memilih keluar dari kamar Allura dan membawa Bintang bersamanya.
"Hei, jangan coba menggodaku dengan bibir mengerucut seperti itu! Atau ... kamu memang sedang berusaha menggodaku, ya?" tanya Arzan. Bukan Allura yang menggoda Arzan, justru dialah yang menggoda Allura.
Allura langsung melipat bibirnya kedalam setelah mendengar pertanyaan Arzan untuknya. "Dasar Tuan genit," gumam Allura sambil merebut obat yang tadi digenggam Arzan. Lantas gadis itupun bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar.
Arzan mengikuti langkah Allura, pria itu terus membuntutinya. "Hei, kamu sedang apa?" tanyanya saat Allura mengambil dua sendok dari dalam rak penyimpanan alat makan.
"Bukankah Anda meminta saya untuk meminum obat ini?" tanya Allura tanpa menatap Arzan, tangannya pun sibuk meremukkan obat yang ia selipkan diantara sendok.
"Iya, aku memang menyuruhmu untuk minum obat. Tapi, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Arzan lagi. Dia belum mengerti dengan apa yang sedang Allura lakukan.
"Ini, saya akan meminumnya sekarang." Allura menjawab sambil memperlihatkan obat yang sudah bubukkan dan hampir mirip seperti sirup.
Arzan menatapnya dengan pandangan mengernyit, baru kali ini dia melihat motode meminum obat seperti yang dilakukan oleh Allura.
"Benar-benar gadis aneh," gumamnya sambil menggeleng pelan.
__ADS_1
"Meskipun aneh, tetap saja obatnya sudah saya minum, Tuan," jawab Allura yang tidak peduli, jika dirinya sudah dikatai aneh oleh Arzan.
Arzan tertawa pelan mendengar jawaban Allura. Dia benar-benar menjadi pria yang berbeda saat bersama Allura dan bersama Nira.