
Allura menatap sendu seorang bayi yang ada di atas brankar. Setelah beberapa saat yang lalu, wanita itu tak sedikit pun menjauh dari sana. Bagaimana tidak, hatinya begitu teriris saat melihat anak sambung yang begitu ia sayangi dalam keadaan kritis. Namun, Allura masih sedikit bersyukur karena dokter mengatakan jika keadaan Bintang sudah lebih baik dari saat ia datang tadi.
Allura bahkan tidak menghadiri acara pengajian sang kakek karena menunggu Bintang di rumah sakit. Meskipun begitu, ia tidak khawatir karena Arzan sudah hadir di sana. Allura juga belum siap bertemu dengan keluarga besar kakeknya. Maka dari itu, ia memilih untuk tidak menghadirinya dulu.
Ibu Ani sendiri merasa sedikit sedih ketika melihat Allura yang sedari tadi hanya terdiam. Kini ia tahu, jika anaknya itu benar-benar tulus menyayangi Bintang layaknya putra sendiri.
Setelah kedatangannya tadi ke kediaman keluarga Rafindra, Ibu Ani segera mendatangi rumah sakit saat tahu bahwa cucu sambungnya tengah kritis.
Ya Tuhan ... ternyata putriku benar-benar menyayangi putra sambungnya. Bahkan sepertinya ia lupa jika malam ini adalah malam pertamanya dengan Nak Arzan, batin Ibu Ani sambil menatap Allura yang masih anteng di samping brankar Bintang.
"Ra, ini sudah sangat larut. Apa tidak sebaiknya kamu istirahat dulu?" tanya Ibu Ani yang sudah bangkit dari duduknya.
"Aku belum mengantuk, Ma. Aku harus terus mengawasi Bintang. Aku tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi," jawab Allura tanpa mengalihkan perhatiannya dari bayi yang tengah terlelap itu.
"Tidak, Ra. Tidak akan ada lagi yang melukai Bintang. Rivera sudah di tahan oleh polisi. Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi," ucap Ibu Ani lagi. Sungguh, ia merasa sakit hati ketika melihat anaknya yang termenung tanpa semangat. Pasalnya, baru kali ini ia melihat sang anak yang bersikap seperti ini.
Allura tidak menjawab ucapan mamanya, wanita itu hanya menganggukan kepalanya sesaat tanpa menoleh sedikitpun. Ibu Ani hanya bisa menghela napas berat ketika melihat tanggapan anaknya. Allura saat ini terlihat sangat hancur hatinya.
Ternyata ikatan batin itu tidak hanya terbentuk oleh sebuah keturunan saja. Allura yang hanya sekedar ibu ASI pun punya ikatan batin yang kuat dengan bayi yang disusuinya, batin Ibu Ani lagi.
***
Selesai acara pengajian, Arzan dan Tuan Anderson pun pamit dari kediman keluarga besar Tuan Okta. Meskipun tadi mereka sempat terlambat datang, tapi hal itu tidak membuat Arzan dan Tuan Anderson mengurungkan niatnya untuk tetap hadir di sana.
__ADS_1
"Zan, Papa tidak akan ikut ke rumah sakit, ya. Sepertinya Papa terlalu kelelahan," ucap Tuan Anderson sat ia dan sang anak hendak menaiki kendaraannya.
"Apa Papa sedang sakit?" tanya Arzan sedikit khawatir.
"Tidak, Zan. Papa baik-baik saja. Kamu susul saja Allura dan Mamanya. Jangan lupa kabari Papa jika terjadi sesuatu."
"Hmmm, baiklah." Arzan pun mulai melajukan kendaraannya menuju rumah untuk mengantarkan papanya pulang. Setelah itu, barulah ia akan menemani Allura dan Ibu Ani di rumah sakit.
Tak ada percakapan dintara keduanya, mereka sama-sama sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Hingga beberapa saat kemudian, mobil yang Arzan kendarai sampai di depan rumah. Setelah Tuan Anderson turun dari mobil, Arzan segera melajukan kembali kendaraanya menuju rumah sakit, hatinya sudah sangat khawatir dengan keadan sang anak.
Ya Tuhan ... mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yng buruk pada anakku. Kumohon lindungilah dia, batin Arzan sambil memacu kendaraannya lebih cepat. Setidaknya Arzan sedikit merasa tenang karena Rivera sudah berada di tempat yang semestinya.
Pria itu bahkan bersikap acuh saat mantan istrinya meminta dia untuk membantunya keluar dari jeratan hukum. Arzan sudah angkat tangan perihal Rivera. Dia memilih untuk meminta maaf pada orang tua wanita itu ketimbang harus membebaskannya dengan resiko kemungkinan Rivera akan berbuat ulah lagi.
Arzan segera memarkirkan kendaraannya dan melangkah cepat menuju ruangan Bintang berada. Lagi-lagi ia harus kembali ke tempat di mana orang pesakitan berkumpul. Padahal, dia sudah sangat enggan untuk berkunjung ke gedung itu lagi.
Sesampai di depan ruang rawat Bintang, Arzan dibuat tertegun ketika melihat Allura yang sedang tertidur sambil memegangi tangan kecil putranya. Tanpa ada keraguan lagi, Arzan sudah mengetahui jika Allura adalah wanita yang pantas menjadi ibu sambung Bintang.
Ternyata aku tidak salah pilih. Allura adalah wanita yang penuh kasih sayang dan bisa menerimaku apa adanya. Terima kasih, Tuhan. Engkau telah memberikan Bintang seorang ibu sambung yang sangat mencintainya melebihi ibu kandungnya sendiri, batin Arzan seraya mengusap sudut matanya yang sedikit berair karena terharu melihat sikap Allura pada Bintang.
Setelah beberapa saat hanya terdiam di depan pintu, Arzan pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruangan tersebut dan menghampiri Allura. Arzan juga sempat melihat ibu mertuanya yang sedang tertidur di atas tempat tidur tambahan yang ada di ruangan itu.
"Sayang ...." Arzan mencoba untuk membangunkan Allura, agar wanita itu pindah posisi tidurnya. Dia tidak tega jika harus melihat Allura yang merasa pegal akibat posisi tidurnya yang tidak nyaman.
__ADS_1
Namun, setelah beberapa saat membangunkan Allura, wanita itu tak kunjung sadar. Arzan baru ingat jika Allura adalah wanita yang sulit untuk dibangunkan ketika sedang tertidur. Lantas, Arzan pun berinisiatif untuk memindahkan Allura ke atas brankar Bintang dan membiarkannya untuk tidur di sana.
Sebelum beranjak dari brankar Bintang, Arzan tidak lupa untuk mengecup kening putranya lebih dulu dan bergantian dengan kening Allura.
"Selamat beristirahat keluarga kecilku," ucap Arzan pada keduanya.
Rasa lelah yang tadi sempat menderanya, kini seakan hilang seketika kala melihat dua orang yang ia cintai terlelap dalam mimpi damainya. Arzan tidak pernah menyangka jika dirinya akan jatuh dalam pesona kesederhanaan yang selalu Allura pancarkan. Wanita itu begitu berbeda dengan wanita-wanita lain yang pernah ditemuinya selama ini, di mana mereka akan berlomba untuk menarik perhatiannya lebih dulu dan mengabaikan putranya.
Tuhan, semoga engkau selalu melindungi keluarga kecil kami. Jauhkanlah keluargaku dari orang-orang yang berniat jahat pada kami, batin Arzan sambil menatap lekat wajah mungil Bintang yang kini sudah tidak semerah tadi.
Setelah merasa cukup memerhatikan Allura dan Bintang, Arzan pun menghampiri sofa panjang yang ada di ujung ruangan itu untuk merebahkan tubuh lelahnya. Tidak dapat ia pungkiri, nyatanya ia butuh beristirahat, walau sejenak.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Kalian juga jangan lupa istirahat, ya 🤗🤗
Sambil nunggu, baca juga rekomendasi novel hari ini 😊
...Nah, ini dia 👇👇👇
...
__ADS_1