
Arzan dan Tuan Anderson memutuskan untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan mereka. Rasa khawatir mereka pada Allura membuat Arzan tidak bisa berlama-lama meninggalkannya. Apalagi Arzan menerima kabar dari mamanya jika ada yang berniat mencelakai Allura, meskipun pada akhirnya orang itu salah sasaran dan malah melukai Viana, sahabat Allura. Hal itu tidak menutup kemungkinan kejadian serupa akan terulang kembali.
Setelah meeting selesai, Arzan segera kembali ke hotel tempat dia dan Tuan Anderson menginap, saat itu hari mulai petang. Tuan Anderson masih harus menghadiri acara lainnya, jadi dia tidak ikut pulang bersama Arzan.
Sesampai di kamar hotel, Arzan menyempatkan diri untuk membersihkan tubuh lelahnya dan memesan makanan. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, kini dia pun terlihat segar kembali. Duda satu anak itu segera menyambar ponsel yang ia letakkan di atas nakas dan menghubungi pujaan hatinya, Allura.
Deringan pertama tidak terjawab dari sebrang sana, Arzan pun kembali menghubunginya. Namun, lagi-lagi Arzan harus kecewa karena Allura tak kunjung menjawab panggilannya.
"Kemana Allura? Kenapa dia tidak menjawab panggilanku?" gumam Arzan sambil menatap layar ponsel yang kini sudah kembali menghitam. Tidak patah semangat, Arzan pun kembali menghubungi lewat ponsel mamanya, cukup lama Arzan menunggu hingga panggilan itu terjawab oleh Nyonya Fika.
"Assalamualaikum, Zan," sapa Nyonya Fika dari seberang sana.
"Wa'alaikum salam, Ma. Mama sedang apa?" tanya Arzan karena dia mendengar suara bising seperti dari tempat mamanya berada.
"Mama sedang ada acara di luar, Zan. Ada apa?" tanya Nyonya Fika.
"Tidak ada apa-apa, Ma. Tadi aku sempat menghubungi Rara, tapi dia tidak menjawab panggilanku. Kira-kira, apa Mama tahu penyebabnya?" Rasa khawatir sudah menyelimuti hati Arzan saat ini, tapi dia masih berusaha untuk tetap berpikir positif.
"Tidak, Zan. Mama baru berangkat setengah jam lalu ... dan Allura ada di rumah bersama Bintang. Coba kamu tanya Bi Endah, mungkin Allura lupa membawa ponselnya yang dia simpan di kamar," saran Nyonya Fika yang langsung diangguki oleh Arzan.
"Oh, baiklah, Ma. Mama hati-hati di sana."
"Iya, Zan. Kamu juga," sahut Nyonya Fika sebelum ia memutuskan panggilan anaknya.
Setelah panggilan dengan mamanya selesai, Arzan pun kembali menghubungi nomor ponsel Bi Endah untuk menanyakan kabar Allura. Seharian ini dirinya belum mendengar lagi suara gadis itu. Jadi, dia merasa rindu sekaligus cemas.
Arzan kembali menghubungi orang rumah sembari menunggu pesanan makanan datang. Tak berapa lama setelah panggilan itu tersambung, Bi Endah segera menerimanya.
"Assalamualaikum, Tuan." Terdengar suara televisi di seberang sana.
"Wa'alaikum salam, Bi. Bibi ada bersama Allura tidak? Dari tadi saya meneleponnya tapi tidak dijawab," ucap Arzan begitu dengan nada penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Oh, Nona Allura. Beliau ada di sini bersama den Bintang, Tuan. Apa Tuan mau berbicara dengannya?"
Arzan langsung menghela napas lega setelah mendengar Allura ada di rumah bersama Bi Endah.
Syukurlah Allura ada di rumah. Ya Tuhan ... aku sudah sangat cemas, tapi ternyata dia baik-baik saja, batin Arzan.
"Boleh, Bi. Tolong sebentar, ya ...."
"Baik, Tuan. Silakan."
Arzan bisa mendengar samar-samar Bi Endah yang berbicara dengan Allura. Suara lembut gadis itu selalu membuat dia merindukannya. Tak lama kemudian, Arzan pun mendengar suara Allura dari sebrang sana.
"Assalamualaikum, Mas." Allura menyapa Arzan dari sebrang sana.
Arzan langsung terdiam begitu dia mendengar suara yang sangat dirindukannya, rasa gugup dan juga bahagia begitu menyelimuti hatinya sehingga membuat dia mematung.
"Halo, Mas ... kamu masih di sana 'kan?" tanya Allura lagi saat dia tak kunjung mendengar jawaban Arzan.
"Wa'alaikum salam, Ra. Iβya ... iya, aku masih di sini," jawab Arzan. "Kenapa kamu tidak menjawab panggilanku lewat ponselmu tadi?" tanyanya lagi.
"Oh, itu ... anu ... ponselku ada di kamar dan dalam keadaan di- silent. Akan aku ambil dulu," jawab Allura.
Arzan tersenyum saat mendengar jawaban Allura. Tak berapa lama kemudian, Allura meminta dia untuk menutup teleponnya terlebih dulu dan kembali menelpon ke ponselnya agar bisa melakukan panggilan video. Lagi-lagi Arzan tersenyum dan mengikuti keinginan Allura untuk kembali menghubunginya. Kali ini tak perlu menunggu waktu lama, wajah gadis itu sudah terpampang jelas di layar ponselnya.
Arzan dan Allura melakukan panggilan video cukup lama, Arzan juga bisa melihat Bintang yang sedang bermain bersama Allura, sedangkan Bi Endah sudah kembali ke dapur.
"Ra, aku ingin cepat pulang ... aku merindukan kalian," ucap Arzan sebelum panggilan itu berakhir. Namun, Arzan tidak mengatakan jika dia akan pulang lebih awal pada Allura, dia ingin memberikan kejutan untuk gadis yang menjadi ibu susu Bintang itu.
"Sabar, Mas. Selesaikan saja dulu pekerjaanmu di sana. Mama dan Bintang akan selalu menunggu kedatanganmu," jawab Allura sambil menundukkan kepalanya.
"Hei, apa itu tandanya kamu sama sekali tidak merindukanku," tanggap Arzan saat Allura mengatakan jika hanya Bintang dan mamanya saja yang menunggu kedatangan dia.
__ADS_1
"Hah, aku?" tanya Allura sambil menunjuk dirinya.
"Iya, kamu, sayang," jawab Arzan.
Allura mengalihkan layar ponselnya agar Arzan tak melihat reaksinya saat ini.
"Hei, kenapa kamu malah bersembunyi?"
"Tiβtidah ada. Aku ... aku ...."
"Apa segitu susahnya kamu mengungkapkan perasaanmu padaku?" Arzan menghela nafas sesaat. Allura sampai saat ini masih belum mau mengakui perasaannya, tetapi Arzan tidak berniat mundur, dia akan terus membuat Allura mau mengakuinya.
***
Sementara itu, di sebuah rumah megah nan mewah, seorang pria paruh baya tengah dilanda kemurkaan yang amat sangat. Bagaimana tidak, anak buah yang dia perintahkan untuk melenyapkan putri adiknya ternyata salah sasaran. Bukan gadis itu yang dia lukai, melainkan hanya sahabatnya saja.
"Bagaimana bisa kamu sampai salah sasaran, hah?" tanya Tuan Darion dengan wajah yang sudah merah padam. Bahkan, pria itu sampai mencengkram erat kerah kemeja anak buahnya.
"Maβmaaf, Tuan. Kami kira gadis itu adah incaran kita. Dia ... dia memakai baju yang sama dan berada tidak jauh dari Ibu Ani. Jadi, kami pikir itu adalah dia. Kami ... kami tidak melihat wajahnya karena dia sedang membelakangi kami," jawab anak buah Tuan Darion dengan penuh ketakutan.
"Cih, alasan! Kamu memang tidak bisa kerja dengan be*us!" teriak Tuan Darion sebelum melabuhkan sebuah bogeman mentah tepat di pipi anak buahnya sehingga membuat sudut bibirnya berdarah.
Tuan Darion sudah merencanakan kejadian ini, dia sudah menggunakan waktu yang tepat untuk melenyapkan Allura, yaitu saat Arzan dan Tuan Darion tidak ada di samping Allura. Namun, karena kecerobohan anak buahnya, dia gagal melakukan itu.
"Akh! Si*l!" umpat Tuan Darion dengan penuh kekesalan. "Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan tetap berusaha melenyapkan gadis itu," sambungnya lagi.
...π»π»π»π»π»...
Halo Kakak-kakak ππ Maaf karena seharian kemarin gak up ππ Terima kasih doa-doa kakak-kakak semua ππ Semoga kalian selalu diberikan kesehatan, Amiin π€²π€² Terima kasih juga karena sudah mau nunggu cerita ini up π€π€π€ Sambil nunggu, mampir ke karya temanku yang satu ini, yu ....
...Nah, ini dia πππ...
__ADS_1