
Allura pulang ke rumah utama saat Bintang mengantuk, ia berada di paviliun hanya sekitar tiga puluh menit saja. Saat masuk ke rumah, ternyata Nyonya Fika sudah pulang kembali dari supermarket. Beliau memang terkadang ikut bersama Bi Endah untuk berbelanja kebutuhan rumah bersama.
"Lura, kamu dari mana?" tanya Nyonya Fika saat melihat Allura yang masuk lewat pintu belakang.
Allura menghentikan langkahnya, gadis itu membawa Bintang untuk ikut mendekat pada Nyonya Fika.
"Saya hanya baru paviliun belakang, Nyonya," jawab Allura.
"Oh. Apa sekarang cucuku sudah mengantuk?" tanyanya lagi karena melihat Bintang yang terus mencoba untuk menggesek wajahnya.
"Benar, Nyonya. Bintang sudah bangun sejak tadi. Jadi, mungkin sekarang dia sudah mengantuk lagi," jawab Allura sambil mengangguk beberapa kali.
"Hmmm, apa dia masih suka terbangun malam hari?"
"Iya, Nyonya. Tapi hanya sebentar, tidak selama pas awal-awal datang kemari."
Kali ini giliran Nyonya Fika yang beberapa kali mengangguk. "Syukurlah ... mungkin dia sudah mulai merasa nyaman di sini. Ya sudah, ajak Bintang beristirahat sekarang. Setelah Bintang tertidur, kamu kemari lagi," perintahnya.
"Baik, Nyonya."
Allura pergi meninggalkan Nyonya Fika yang masih membantu Bi Endah untuk membesarkan barang belanjaannya, karena ini jam istirahat, jadi para pelayan sedang di paviliun belakang untuk sementara.
Sesampai di kamar, Allura segera meninabobokan Bintang. Allura sudah sangat mahir dalam mengurus bayi itu. Dari awal, menurut Allura mengurus bayi itu adalah hal yang paling menyenangkan. Meskipun nyatanya tidak semudah itu, tapi jika dijalani dengan hati yang lapang, maka akan terasa sangat berbeda.
Setelah Bintang terlelap, Allura diturunkannya dengan sangat perlahan dan hati-hati. Jika siang hari, Allura memilih untuk menidurkan Bintang di dalam box tidurnya. Sedangkan saat malam hari, Bintang akan tidur bersamanya di atas kasur. Semuanya Allura lakukan agar Bintang mempunyai jam tidur yang teratur dan ternyata metode itu benar-benar membantunya, Allura untuk bisa mengatur jam istirahat bayi itu.
Jangan tanyakan ia dapat ide itu dari mana, karena tentu saja Allura mendapatkannya dari google. Di tambah diam-diam Allura ikut grup khusus mengasuh bayi, jadi dia benar-benar menyiapkan dirinya untuk bisa mengurus Bintang.
Setelah selesai menidurkan Bintang, Allura pun kembali ke dapur untuk menghampiri Nyonya Fika yang ternyata masih di sana.
"Apa Bintang sudah tertidur?" tanya Nyonya Fika saat melihat Allura yang sudah berdiri di sampingnya.
"Sudah, Nyonya." Allura mendudukan dirinya di kursi kosong. "Apa ada yang bisa saya kerjakan?"
__ADS_1
"Tentu, aku butuh bantuanmu untuk menyiapkan makan siang. Hari ini aku ingin memasak, jadi aku memintamu untuk membantuku," jawab Nyonya Fika. Memang hari-hari biasanya Nyonya Fika tidak pernah langsung turun ke dapur untuk memasak.
"Tentu saja, Nyonya. Saya dengan senang hati akan membantu Anda," tanggap Allura dengan semangat.
Gadis itu memang paling senang berkutat di dapur, apalagi semenjak ia bekerja sebagai baby sitter, ia mempunyai banyak waktu luang untuk berada di dapur.
Dulu, sewaktu Ibu Ani masih sehat, ia dan Ibu Ani sering sekali memasak bersama, jadi Allura sangat merindukan saat-saat kebersamaannya dengan sang mama. Bahkan mereka sering ng menghabiskan waktu bersama di dapur, meskipun itu hanya sebatas mengobrol saja.
(Ada yang sama dengan Author? Sering ngerumpi di dapur sama Mamanya🤭🤭)
Setelah menyiapkan semua bahan-bahan yang akan mereka masak, barulah kegiatan menyenangkan itu mereka lakukan bersama. Nyonya Fika banyak bertanya tentang Allura yang pandai memasak, bahkan Arzan pun sampai menyukai masakan Allura.
"Lura, kamu belajar masak dari mana?" tanya Nyonya Fika sambil terus mengiris bawang di tangannya.
"Saya hanya belajar dari Mama saja, Nyonya," jawab Allura.
Nyonya Fika cukup kagum dengan gadis itu, karena Allura sangat terampil dalam mengolah bumbu juga memainkan alat masak di dapurnya.
Hampir satu setengah jam berlalu, kini acara masak-masak itu pun sudah selesai. Bukan Allura yang membantu Nyonya Fika, tapi sebaliknya. Nyonya Fika hanya membantu Allura sesekali saja.
Allura memanfaatkan waktu itu untuk membersihkan badannya yang terasa lengket akibaat keringat, serta bau makanan yang menempel di tubuhnya. Untung Allura bukan tipe orang yang suka berlama-lama di kamar mandi, jadi gadis itu tak memerlukan waktu yang lama.
Saat Allura keluar dari kamar mandi, ia menengok Bintang yang sudah mulai membuka matanya kembali. Bintang beberapa kali mengerjapkan mata bulatnya dengan lucu, hingga membuat Allura gemas setiap kali melihatnya.
Ya Tuhan, Bintang sangat lucu, batin Allura.
Ia pun memindahkan Bintang ke kasur dan mengajak main di sana. Allura juga selalu mengajak bayi itu untuk berbicara dan membuat Bintang menggerak-gerakkan bibirnya hingga membuat tawa renyah Allura keluar dari bibir tipisnya.
***
Siang ini Nyonya Fika meminta anak serta suaminya untuk makan siang di rumah. Mereka di janjikan makan spesial kesukaan masing-masing, hingga membuat ayah dan anak itu bersemangat untuk pulang cepat.
"Zan, Papa ikut di mobilmu saja, ya?" pinta Tuan Anderson pada Arzan yang hendak masuk ke mobil yang di kendarai oleh Pak Ujang.
__ADS_1
"Kenapa, Pa? Tumben sekali?" tanya Arzan sambil membiarkan papanya untuk ikut bersamanya.
"Tidak ada, hanya Papa sedang ingin ikut bersamamu saja."
Arzan mangangguk mengerti. Mobil yang mereka tumpangi pun mulai melaju diantara padatnya lalulintas saat jam istirahat.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mobil itupun berhenti di pekarangan rumah mereka. Arzan dan Tuan Anderson turun dari mobil bersama-sama. Mereka melihat Nyonya Fika sudah menunggu kedatangannya di ruang keluarga.
"Assalamualaikum, Ma," sapa keduanya dengan kompak.
"Wa'alaikum salam," jawab Nyonya Fika. Wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu segera menghampiri anak dan suaminya.
"Tumben sekali Mama meminta kami untuk makan siang di rumah, ada apa?" tanya Arzan yang merasa sedikit heran. Lantaran hal itu tidak biasa, tapi entah kenapa hatinya juga sedikit berdebar, seakan ada sesuatu yang akan di bicarakan padanya.
"Tidak apa-apa, Zan. Papa yang meminta Mama untuk memasak siang ini," aku Tuan Anderson yang langsung diangguki oleh Nyonya Fika.
Semoga saja Papa tidak berniat untuk membicarakan hal serius yang menyangkut diriku, batin Arzan sambil berusaha tersenyum kecil di hadapan kedua orang tuanya.
"Ya sudah, ayo kita segera ke meja makan saja," ajak Nyonya Fika yang langsung membuyarkan lamunan Arzan.
Kedua pria berbeda generasi itupun mengangguk setuju, perut mereka juga sudah sangat lapar, apalagi saat mencium aroma masakan yang menguar saat memasuki ruang makan, itu semakin membuat keduanya hampir meneteskan air liur.
"Ma, apa Allura sudah makan?" tanya Arzan sebelum ia menyuapkan makanannya.
Pertanyaan Arzan seketika membuat Tuan Anderson mendengus kesal, ia tidak suka anaknya terlalu memperhatikan ibu susu cucunya. Arzan sendiri mengajukan dengusan sang papa, ia tidak mau terus-menerus mengikuti keinginan papanya.
"Zan, tidak bisakah kamu untuk mulai menjauhi Allura?" tanya Tuan Anderson secara tiba-tiba.
Kompak saja, Nyonya Fika dan Arzan langsung menoleh kearah pria paruh baya yang menjadi pemimpin keluarga itu.
"Kenapa seperti itu, Pa? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas hal ini?" tanya Nyonya Fika.
Pasalnya, tadi malam Tuan Anderson sendiri yang meminta maaf dan berjanji untuk tidak ikut campur urusan anaknya lagi. Namun sekarang, Tuan Anderson bersikap seperti ia seakan-akan sudah melupakan perkataannya sendiri.
__ADS_1
"Kali ini lain, Ma. Saat di kantor tadi, Papa menerima kabar jika anaknya Adnan sudah ditemukan."