
Sesampai di kamar, Allura segera mengunci pintu dan membaringkan Bintang di box bayi sebentar, sementara ia membersihkan diri dan memompa ASI-nya terlebih dulu untuk mengurangi rasa sakit dan juga membuang ASI yang sudah tertimbun lama. Bayi itu sangat pintar, dia sama sekali tidak rewel saat Allura tengah memompa ASI-nya.
Saat tengah memompa ASI, tiba-tiba saja ada yang terlintas di pikirannya tentang sikap Tuan Anderson padanya. Allura tidak mengerti kenapa Tuan Anderson bisa bersikap seperti itu. Padahal, Allura merasa dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun pada keluarga ini sebelumnya.
Dadanya terasa sesak memikirkan hal itu, hingga membuat air matanya tiba-tiba jatuh tanpa terasa. Allura segera menyeka air matanya dan menghalau pemikiran buruk tentang Tuan Anderson. Walau bagaimanapun, keluarga pria paruh baya itu sudah membantu dia melewati masa-masa sulit. Allura yakin, kesalahpahaman ini akan segera berlalu dia hanya harus lebih kuat saja.
Setelah cukup lama memompa, gadis itu pun segera memberikan ASI-nya pada Bintang. Allura menatap mata Bintang yang tengah berada dalam dekapannya, seandainya saja waktu itu Allura tidak memberanikan diri untuk mengambil pekerjaan ini, mungkin sekarang Allura masih merasa kesulitan.
Sebuah ukiran senyum terbit dari bibir gadis itu, ternyata tidak semua hal buruk yang terjadi padanya. Allura sangat menikmati perannya sebagai ibu susu saat ini. Walaupun nanti dia akan terpisah dengan Bintang, tapi setidaknya untuk saat ini dia ingin menikmati setiap waktu singkat itu terlebih dulu
"Adek lapar ya, sayang? Ehm ... kasian. Maafkan Mbak, ya. Adek harus nunggu Mbak lama ...." celoteh Allura pada Bintang.
Seakan mengerti dengan ucapan Allura, bayi itu melepaskan pu*ing susunya dan gerakan bibirnya dengan lucu, sehingga membuat Allura terkekeh pelan karena aksinya.
"Sayangnya Mbak mau bicara apa?" tanya Allura lagi.
Tanpa diduga, Bintang mengeluarkan suara pertamanya sambil menatap lekat Allura, sehingga membuat gadis itu merasa terharu dengan apa yang dilakukan Bintang saat ini.
"Wah, Bintang sudah pintar, ya? Jangan cepat-cepat besar, ya, Nak. Mbak masih mau ngerawat kamu seperti ini," gumam Allura seraya mengecup kening bayi itu.
Setelah cukup lama bayi itu berceloteh dengan Allura, Bintang pun tertidur lelap. Allura segera membaringkannya di atas kasur, ia berniat untuk memejamkan matanya sesaat dan melepas rasa lelah yang ada di tubuhnya. Kurang tidur serta aktivitasnya hari ini yang cukup padat, membuat tubuh lalu rasakan remuk redam. Perlahan tapi pasti, mata Allura tertutup dan ikut tertidur bersama Bintang, ia bahkan melewatkan makan malamnya.
__ADS_1
***
Arzan dan Nyonya Fika merasa heran karena tidak melihat Allura di ruang makan, tidak biasanya gadis itu telat datang ke sana.
"Zan, coba tolong panggilkan Allura sebentar," pinta Nyonya Fika pada sang anak.
Arzan mengangguk dan kembali bangkit dari duduknya, Nyonya Fika dan Arzan bersikap biasa di depan Tuan Anderson dan Nira. Hanya saja, keduanya tak ada yang mau bersapa.
"Sudahlah, Ma. Mungkin gadis itu memang tidak mau makan malam bersama kita. Jadi, biarkan saja dia kelaparan. Toh nanti juga dia akan datang sendiri jika merasa perutnya lapar," ucap Tuan Anderson.
"Iya, Ma. Lagi pula, Allura bukan anak kecil yang harus dibujuk untuk bisa makan," timpal Nira tanpa tahu malu.
Ucapan Tuan Anderson dan juga Nira, membuat Nyonya Fika kesal, ia langsung mendelik tajam pada keduanya. Ingin rasanya Nyonya Fika membalas ucapan Tuan Anderson padanya, tapi dia tidak ingin ada keributan di meja makan. Jadi, Nyonya Fika pun hanya bisa mendiamkannya saja dan membiarkan kedua orang itu dengan pemikirannya masing-masing.
Nira pun sama sekali tidak mau menyentuh Bintang. Jangankan untuk memangkunya, menyapanya saja tidak. Hal itu membuat Nyonya Fika tidak menyukai Nira.
Setelah beberapa saat terjadi keheningan di meja makan, Arzan pun datang. Nyonya Fika mengerutkan keningnya, ia merasa sedikit aneh saat melihat sang anak yang hanya datang sendiri.
"Lho, Zan. Allura mana?" tanyanya.
"Arzan sudah mengantuk pintunya beberapa kali, Ma. Tapi, sepertinya Allura sedang tertidur lelap. Jadi, dia tidak mendengar ketukan pintu itu," jawab Arzan sambil mendudukkan dirinya di bangku sebelah Nyonya Fika.
__ADS_1
"Oh, ya, sudahlah biarkan saja. Mungkin dia benar-benar kelelahan saat ini, sebaiknya kita jangan ganggu dia dulu," ucap Nyonya Fika sambil tersenyum pada sang anak.
Diam-diam, Nira mencibir dalam hatinya. Dia merasa kesal karena Allura selalu menjadi prioritas orang-orang di sekelilingnya.
Allura lagi, Allura lagi, apa sih hebatnya dia? Kesel, deh. Allura selalu saja menjadi nomor satu di manapun dia berada. Akh, gadis menyebalkan, batin Nira.
Nira menatap kursi kosong di samping Arzan yang biasanya ditempati oleh Allura. Dia pun bangkit dan pindah duduk di sana, berharap untuk bisa mendapatkan sedikit perhatian Arzan. Harapan Nira sangat besar agar bisa menikah dengan pria kota. Sebut saja obsesi, tapi itulah kenyataannya.
Sedari dulu, Nira selalu ingin memiliki apa yang dimiliki oleh sepupunya, Allura. Nira juga selalu mencari perhatian Ayahnya Allura setiap kali keluarga Allura datang ke kampung. Ibu Nira dan Bu Ani adalah saudara kembar, tapi nasib mereka berbeda. Jika Ibu Ani menikah dengan pria kota, maka ibunya Nira hanya bisa menikah dengan pria kampung saja.
Nira selalu beranggapan jika kehidupan Allura sangat mudah dan menyenangkan. Dia tidak mengetahui betapa susah dan kesulitannya Allura saat ini. Bahkan, saat dia melihat Allura yang sedang duduk di depan ruang operasi pun, Nira masih menganggap Allura dan Ibu Ani hidup enak, sakit pun dirawat di rumah sakit. Nira tidak mengetahui penyakit yang sedang diderita Ibu Ani saat ini, dia juga tidak menanyakannya pada Allura.
Arzan mendelik saat melihat Nira yang sudah duduk di sampingnya. Tanpa merasa sungkan, Nira langsung menyiapkan makanan untuk Arzan.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Arzan dengan nada dingin saat Nira sudah mengambilkan Nasi beserta lauk pauknya.
"Tentu saja belajar melayani suami dengan baik," jawab Nira sambil tersenyum manis.
"Ambil!" perintah Arzan, ia tidak mau dilayani oleh Nira dan menyuruh gadis itu untuk mengambil piring miliknya yang sudah terisi makanan.
Nira terdiam, gadis itu tidak mengerti ucapan Arzan padanya.
__ADS_1
"Maksudnya ... apa ... Mas?" tanya Nira pelan.
"Camkan ini olehmu, jangan pernah bersikap manis padaku, jangan berpura-pura peduli padaku dan jangan berharap untuk menjadi istriku, ingat itu baik-baik!"