Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 101


__ADS_3

Sesampai di ruang rawat Tuan Okta, Arzan dan Allura melihat Bi Erni dan Ibu Ani tengah berdiri di depan pintu ruangan itu dengan khawatir.


"Ma, apa yang terjadi?" tanya Allura pada sang mama.


"Mama juga tidak tahu, Ra. Setelah Nak Arzan menelpon tadi, Mama dan Bibimu langsung datang kemari. Dokter Nandi juga sejak tadi belum keluar," jawab Ibu Ani dengan cemas.


Ibu Ani dan Tuan Okta sudah pernah bertemu sebelumnya. Bahkan, Tuan Okta juga sudah meminta maaf padanya beberapa hari yang lalu yang datang bersama Allura beberapa hari lalu. Mereka datang sebelum Tuan Darion memperkenalkan gadis lain sebagai cucunya.


Suasana di lantai itu sangat tegang, sudah hampir satu setengah jam berlalu, tapi para dokter dan perawat yang ada di riangan itu masih belum menampakkan batang hidung mereka.


Allura, Ibu Ani dan Bi Erni saling berpelukan. Mereka sangat cemas dengan kondisi Tuan Okta di dalam sana. Meskipun dulu Tuan Okta pernah membenci Ibu Ani, tapi hal itu tetap tidak memudarkan rasa hormat Ibu Ani pada papa mertuanya.


Arzan dan Edwin sejak tadi sibuk untuk menghubungi Tuan Darion. Namun, Pria paruh baya itu tak kunjung datang. Padahal, selama ini dia yang paling perhatian pada Tuan Okta. Begitupun dengan Ethan, cucu tiri Tuan Okta itu menghilang tanpa jejak setelah menjadi buronan dan saat ini masih belum ada yang mengetahui keberadaannya.


"Mas, bagaimana dengan Tuan Darion, apa sudah ada kabar tentangnnya?" tanya Allura setelah dari tadi hanya terdiam.


"Belum, Ra. Aku dan Edwin masih sedang mencoba menghubungi asistennya, tapi mereka sama-sama tidak menjawab panggilanku," jawab Arzan sambil menggeleng lemah.


Allura menangkup wajah dengan kedua tangannya. Dia sangat khawatir terjadi sesuatu pada kakek yang baru ditemuinya.


Ya Tuhan ... aku mohon, selamatkan Kakek Okta. Jangan biarkan beliau pergi meninggalkan kami, batin Allura dengan sangat.


Setelah menunggu hampir dua jam lamanya, Dokter Nandi pun keluar dari ruang rawat Tuan Okta. Wajah pria ituterlihat sangat kusut, bahkan matanya juag tampak basah. Kehadiran Dokter Nandi langsung diberondong berbagai pertanyaan dari Ibu Ani dan Bibi Erni.

__ADS_1


"Dokter, bagaimana keadaan Tuan Okta di dalam?" tanya Ibu Ani begitu Dokter Nandi menutup pintu ruang rawah Tuan Okta.


Dokter Nandi tidak langsung menjawab pertanyaan Ibu Ani, dia terlihat sangat berat hati saat hendak menyampaikan pesan pada calon mertua sahabatnya itu.


"Maaf, Bu. Sepertinya orang yang sudah membuat beliau kritis itu tak hanya menyumbat selang oksigen, dia juga menyuntikkan semacam racun yang bisa melemahkan daya kerja jantung. Walaupun begitu, untuk saat ini beliau masih bisa terselamatkan. Tapi ... kemungkinan usianya tidak lama lagi," jawab Dokter Nandi dengan diiringi embusan napas berat.


Semua orang yang ada di sana begitu terkedut setelah mendengar panuturan Dokter Nandi. Allura sendiri begitu syok dan hampir jatuh, tapi untung saja bisa Arzan menahannya karena pria itu tak jauh dari sang kekasih.


"Ma–maksud Dokter apa? Kenapa Anda bisa memperkiran usia manusia seperti itu? Tidak bisakah Anda berusaha lebih lagi?" sergah Allura dengan emosi yang sudah meluap-luap.


Arzan langsung memeluk Allura agar gadis itu kembali tenang. Mereka sudah bisa menjenguk keadaan Tuan Okta meskipun hanya sesaat.


"Sudah, Ra. Sebaiknya kita temui Kakek dulu, siapa tahu ingin segera bertemu dengan kita," ucap Arzan tanpa melepaskan tangannya dari bahu Allura.


Arzan, Allura dan Ibu Ani pun masuk ke ruang perawatan Tuan Okta diikuti Dokter Nandi di belakangnya, sedangkan Bibi Erni diminta untuk menunggu di luar.


Allura melangkah perlahan menuju brankar Tuan Okta. Hatinya kembali sakit tak kala ia melihat berbagai macam selang dan kabel kembali terpasang di tubuh kurus kakeknya.


Ya Tuhan ... kenapa Kakek jadi seperti ini lagi? Siapa orang laknat yang sudah melakukan ini semua? Kakek, tenang saja, aku ... aku tidak akan tinggal diam. Aku dan Mas Arzan pasti akan menghukum orang yang sudah membuatmu seperti ini, gumam Allura dengan tangan terkepal.


"Kakek ...." sapa Allura dan Arzan tepat di samping brankar Tuan Okta.


"Al ... lu ... ra, cu ... cu ... ku." Tuan Okta masih dalam keadaan lemah. Bahkan, kata-katanya sampai terputus-putus.

__ADS_1


"Kakek jangan banyak berbicara dulu, Kakek masih lemah. Aku ... aku akan menemani Kakek di sini," ucap Allura sambil memegang tangan Tuan Okta yang kembali terasa dingin.


"Ti ... dak, Ra ...," jawab Tuan Okta sembari menggeleng lemah. Tuan Okta mengalihkan perhatiannya pada Arzan. "Nak Arzan ... apa kamu sungguh-sungguh mencintai cucuku?" tanyanya.


Tanpa menunggu lama, Arzan langsung menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Benar, Kek. Saya bersungguh-sungguh mencintai Allura," jawabnya.


Kak Okta tersenyum setelah mendengar jawaban Arzan. Kini, perhatiannya beralih pada Ibu Ani yang berdiri di samping Allura.


"Ani, aku tahu ... mungkin kamu akan kesal padaku jika meminta hal ini. Tapi, bisakah kamu mu mengabulkan keinginanku yang terakhir ini?" tanyanya dengan mata yang sudah sayu.


"Papa jangan berbicara seperti itu. Apa yang Papa mau? Katakan saja, Pa," jawab Ibu Ani.


"Ijinkan aku menikahkan Allura."


......❤️❤️❤️❤️❤️......


Wah, apa yang akan terjadi selanjutnya? Masih tunggu gak nih 🤭🤭🤭 Sambil tunggu, baca juga rekomendasi novel dariku 😁 Cerita'y gak kalah seru lho 😎👍


...Nah, ini dia 👇👇👇



...

__ADS_1


__ADS_2