Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 130


__ADS_3

Sepulang dari butik, Arzan, Nyonya Fika dan Allura serta Bintang yang kini tengah tertidur pun pulang ke rumah. Namun, di tengah jalan Allura meminta izin untuk mengunjungi rumah Ibu Ani. Dia mendapat kabar bahwa keluarganya yang dari kampung sudah datang ke kota dan mereka sangat ingin bertemu dengan Allura.


Keluarga besar Allura datang ke kota untuk menghadiri acara resepsi pernikahannya dengan Arzan. Mereka sangat antusias kala mendengar kabar jika Allura mendapatkan suami orang kota, sama seperti mamanya.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, akhirnya mereka pun sampai di halaman rumah Ibu Ani. Tampak dari luar rumah itu begitu banyak orang-orang, termasuk keluarga Nira, Ibu Ina dan suaminya Pak Pandu.


Kedatangan Allura, Nyonya Fika serta Arzan disambut hangat oleh mereka, tapi tentu saja Allura tahu jika semua itu hanya sandiwara. Mereka berlomba-lomba memberikan kesan baik terhadap keluarga suaminya, tak ada yang bersikap tulus padanya.


"Ya ampun, Allura .... Akhirnya kamu menikah dengan orang kota juga!" seru salah satu kerabat Allura.


"Iya, Paman," jawab Allura singkat. Sebenarnya ia merasa kesal pada keluarga besarnya itu. Di saat dia sedang membutuhkan pertolongan, tak ada satupun dari mereka yang bersedia membantunya. Namun, di saat seperti ini, merek saling berlomba-lomba mencari perhatiannya.


Setelah berbalas sapa dengan keluarganya yang ada di halaman, Allura membawa Arzan serta Nyonya Fika untuk masuk kedalam rumah Ibu Ani. Allura merasa beruntung karena Arzan sudah menyiapkan rumah yang cukup besar untuk mamanya. Jika tidak, maka mereka mungkin akan kembali menggunjingnya lagi.


"Assalamualaikum," sapa Allura, Arzan dan Nyonya Fika begitu mereka tiba di depan pintu yang terbuka lebar.


"Wa'alaikum salam ...," jawab Ibu Ani dari dalam rumah yang diikuti Ibu Ina serta Nira di belakang mereka.


Allura dan Arzan bisa melihat jika Nira masih memandangnya penuh emosi. Gadis itu masih saja menyimpan dendam pada sepupunya. Pasalnya, rencana dia untuk menjelek-jelekkan Allura di depan keluarga besarnya tidak berjalan lancar. Pak Pandu selaku Ayah Nira langsung menghentikan aksinya dan meminta dia untuk meminta maaf kepada Ibu Ani serta Allura.

__ADS_1


Ibu Ani mempersilakan besan serta menantunya untuk duduk di sofa ruang keluarga. Arzan benar-benar menyiapkan rumah yang besar dengan perabotan yang lengkap di dalamnya, mereka pun duduk bersama di sana. Diam-diam Nira masih memerhatikan Arzan, dia masih terobsesi dengan niatnya memiliki suami orang kota.


"Lura, Bibi minta maaf atas apa yang dilakukan Nira dan Bibi beberapa bulan lalu," ucap Ibu Ina setelah ia ikut duduk di sana.


"Tidak apa-apa, Bi. Toh itu sudah berlalu .... Sekarang aku dan Mas Arzan juga sudah menikah," jawab Allura sambil tersenyum tipis.


Nira mencibir jawaban Allura dalam hatinya. Harusnya aku yang menikah dengan Mas Arzan. Harusnya aku yang sedang berbahagia sekarang. Dia enak mau menikah dengan orang kota, sedangkan aku malah harus menikahi orang kampung lagi, batinnya.


Sebenarnya Nira sendiri sudah menikah saat ini, tapi ia enggan berdekatan dengan suaminya, apalagi di depan Arzan.


"Oh, ya ... Nira, mana suamimu?" tanya Ibu Ina, ia bermaksud memperkenalkan menantunya pada Arzan.


"Aku tidak tahu, Bu," jawabnya singkat sembari bangkit dan memilih untuk pergi dari sana. Hatinya terlalu panas karena harus melihat Arzan yang terus-menerus menggenggam tangan Allura.


"Maafkan Nira, Nyonya Fika, Tuan Arzan," ucap Ibu Ina.


"Tidak apa-apa."


Ibu Ani, Ibu Ina dan Nyonya Fika pun larut dalam obrolan mereka tentang acara yang akan mereka langsungkan, sementara Allura memilih undur diri dan masuk ke kamar yang memang disiapkan oleh Ibu Ani di rumah itu bersama Arzan dan Bintang.

__ADS_1


"Ra, kenapa kamu terlihat tidak akrab dengan keluargamu sendiri?" tanya Arzan saat mereka sedang berada di kamar.


"Tidak, Mas. Dari dulu, aku tidak pernah terlalu dekat dengan keluarga dari Mama," jawab Allura seraya membaringkan Bintang yang sudah terlelap.


Setelah Bintang tidur, Allura berniat keluar kamar karena dia belum sempat menyapa semua anggota keluarga besarnya.


"Kamu mau kemana, sayang?" tanya Arzan ketika ia melihat istrinya membuka pintu kamar.


"Aku mau keluar, Mas. Ada apa?" tanya Allura karena Arzan yang langsung memeluk pinggangnya.


"Tidak apa-apa," jawab pria itu sebelum ia mencuri ciuman dari istrinya. Semenjak penyerangan yang terjadi padanya, Arzan sama sekali belum menyentuh Allura lagi dan itu membuat dia sangat merindukan istrinya.


Allura tersipu ketika tautan diantara keduanya terlepas, dia juga sebenarnya sangat merindukan Arzan. Namun, untuk saat ini dia harus menahannya karena luka Arzan yang belum benar-benar kering.


"Sabar, Mas. Kamu harus benar-benar sembuh dulu, baru kita melakukannya lagi," ucap Allura seraya mengusap lembut pipi suaminya.


"Tapi, aku sudah sangat merindukanmu, sayang ...." Arzan menenggelamkan wajahnya di dada Allura dan membuat wanita itu kegelian.


"Mas, geli," gerutu Allura sambil mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Tapi ini sangat nyaman," jawab Arzan yang lagi-lagi mendusel-duselkan wajahnya.


Allura yang tadinya ingin keluar kamar, mengurungkan niatnya dan memilih menemani Arzan serta Bintang yang kini sedang terlelap diantara dirinya.


__ADS_2