
"Apa kamu adalah suaminya Rivera?"
Pertanyaan Tuan Okta membuat Arzan dan Allura mematung. Wajar saja jika Tuan Okta mengetahui Rivera karena desainer Rivera sering datang keperusahaannya untuk konsultasi serta melakukan kerja sama. Namun, Arzan masih tidak menyangka jika kakek dari kekasihnya akan menanyakan hal itu.
"Kenapa kamu tidak menjawabnya?" tanya Tuan Okta lagi saat Arzan masih sibuk untuk mencari jawaban yang tepat.
Arzan tidak mau memberikan kesan buruk pada pertemuan pertamanya dengan keluarga sesepuh sang kekasih. Meskipun Rivera adalah mantan istrinya, tapi Arzan tidak ingin dinilai sebagai laki-laki yang tidak bisa memimpin keluarganya.
"Benar, Tuan. Saya mantan suami Rivera," jawab Arzan sambil sedikit menundukkan kepalanya. Saat ini dia tengah dilanda gugup dan takut, Aran sangat khawatir jika Tuan Okta tidak merestui dia dengan Allura. Apalagi status yang sedang disandangnya kini, itu semakin membuatnya was-was.
Allura pun sama halnya dengan Arzan. Gadis itu tertunduk sambil memainkan jari-jari lentiknya yang berada diatas pangkuan.
Semoga Kakek tidak marah aku berhubungan dengan Mas Arzan. Jangan sampai kejadian Mama terulang kembali padaku, batin Allura.
"Mantan suami? Apa itu artinya kamu sudah bercerai dengan Rivera?" tanya Tuan Okta dengan menatap lekat Arzan.
"Benar, Tuan. Rivera menggugat cerai saya karena dia sudah tidak nyaman bersama saya. Dia lebih memilih untuk mengejar cita-citanya sebagai model internasional," jawab Arzan apa adanya.
"Oh, begitu. Syukurlah kamu sudah bercerai dengannya." Tuan Okta tersenyum lembut, sedangkan Allura dan Arzan hanya menatap bingung pada pria paruh baya itu.
"Kakek, kenapa berbicara seperti itu?" tanya Allura setelah dia tersadar dari kebingungannya.
"Rivera itu bukan gadis baik-baik. Sejak dulu, dia selalu menjadi incaran para pria hidung belang. Jadi, Kakek hanya bersyukur karena ternyata Arzan sudah lepas dari wanita itu," jawab Tuan Okta dengan ringan, seakan tanpa beban.
__ADS_1
"Maaf, apa Tu–"
"Panggil aku Kakek saja. Bukankah kamu kekasih cucuku?" tanya Tuan Okta yang langsung membuat Allura tersipu malu.
"Maaf, apa Kakek sudah mengetahui kejelekan Rivera dari awal?" tanya Arzan lagi setelah ia meralat panggilan untuk Tuan Okta.
"Tentu saja. Bahkan sejak dia masih baru, aku sudah mengetahuinya. Hanya saja aku tidak pernah ikut campur dalam urusan orang lain, termasuk antara kamu dan wanita itu. Tapi, kali ini akan sedikit berbeda karena kamu menjalin hubungan dengan cucuku," jawab Tuan Okta sambil terkekeh pelan.
Arzan dan Allura bisa bernapas lega setelah mendengar jawaban dari Tuan Okta. Padahal, tadinya mereka sudah sangat was-was jika Kakek Allura itu tidak akan memberikan restunya. Namun, ternyata perkiraan mereka salah karena nyatanya Tuan Okta cukup berbaik hati dan membiarkan hubungan mereka tetap terjalin.
"Tapi Kek ... ada suatu hal yang perlu Kakek waspadai," ucap Arzan dengan serius.
Tuan Okta menautkan kedua alisnya sambil menatap Arzan saat Arzan berbicara serius padanya.
"Apa maksudmu, Nak? Siapa yang harus aku waspadai?"
"Kakek, aku mengatakan semua ini bukan karena aku tidak menyukai Tuan Darion, tapi karena aku tidak ingin dia melakukan hal yang sama terhadapmu," ucap Arzan saat dia sudah selesai menceritakan semuanya tentang Tuan Darion.
Aku benar-benar bingung. Apa anak ini berbicara yang sebenarnya padaku? Tapi, jika dia tidak mengatakan hal yang sebenarnya, untuk apa juga dia menjelekkan Dion. Ya Tuhan ... siapa yang harus aku percayai sekarang? batin Tuan Okta yang merasa bimbang seletah mendengar cerita dari Arzan.
Allura hanya terdiam, dia sendiri pun bingung harus berbuat apa karena kakeknya hanya diam saja saat Arzan telah selesai berbicara.
Semoga Kakek memercayai Mas Arzan, aku sangat takut jika Tuan Darion kembali menghasut Kakek, batin Allura.
__ADS_1
Setelah cukup lama ketiga orang itu tak saling berbicara, Dokter Nandi datang dan masuk ke ruang perawatan Tuan Okta untuk mengecek perkembangan kesehatannya. Arzan dan Allura pun mempersilakan Dokter Nandi melakukan tugasnya.
"Dokter, bagaimana perkembangan kesehatan Kakekku?" tanya Allura saat melihat Dokter Nandi yang sudah selesai dan menyimpan kembali stetoskopnya.
"Alhamdulillah, Nona. Keadaan beliau sudah lebih baik dari sebelumnya, tapi beliau juga belum diperbolehkan pulang," jawab Dokter Nandi sambil tersenyum ramah.
Namun, berbeda di mata Arzan, pria itu menyalahartikan senyuman ramah Dokter Nandi pada Allura. Arzan langsung menarik pinggang Allura dengan posesif dan melayangkan tatapan tajam untuk sahabatnya itu. Dokter Nandi hanya bisa meringis saat melihat Arzan yang sedang dalam mode garang.
Huh, lihatlah ... ternyata dia juga merupakan pria yang posesif terhadap pasangannya, batin Dokter Nandi sambil menyeringai tipis.
Tuan Okta yang melihat keposesifan Arzan pada Allura pun tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya samar-samar.
Semoga saja dia bisa menjaga cucuku dengan sepenuh hatinya. Meskipun dia pernah gagal dalam rumah tangga, tapi aku yakin sekarang dia tidak akan mengalaminya lagi. Alleira, kuharap kamu melihat semua ini dari atas sana. Sekarang aku sudah tenang karena ternyata cucu kita sama sekali tidak membenciku, batin Tuan Okta sambil menitikan air matanya.
Allura segera menghampiri kakeknya saat melihat mata Tuan Okta yang basah. Dia tidak tahu kenapa kakeknya tiba-tiba bersedih seperti itu.
"Kakek, apa Kakek baik-baik saja? Apa ada yang sakit? Bagian mana?" tanya Allura dengan khawatir.
Tuan Okta tersenyum saat melihat cucunya yang begitu menghawatirkan dia. "Tidak Lura. Kakek tidak apa-apa. Terima kasih karena kamu sudah mengkhawatirkanku," jawabnya.
"Sudah sepantasnya aku khawatir padamu, Kek," ucap Allura sambil memeluk Tuan Okta.
Ya Tuhan ... dia benar-benar mirip dengan Ani. Hatinya begitu lembut dan penuh kasih sayang, sangat bersih seperti Alleira. Tuan Okta begitu tersentuh dengan perhatian Allura, tak pernah dia pikirkan sebelumnya jika Allura akan sebegitu perhatian padanya.
__ADS_1
Setelah waktu hampir menunjukkan yang hari, Allura ada Arzan pun pamit pada Tuan Okta, ditambah pay*dara Allura yang membengkak karena dia sudah lebih dari dua jam meninggalkan Bintang.
Allura tidak mengatakan pada kakeknya tentang pekerjaan dia yang sebenarnya, hal itu tidak mungkin dia lakukan karena Allura merasa malu jika sampai ada orang lain yang mengetahui tentang profesinya saat ini. Pekerjaannya memang mulia di mata sebagian orang, tapi untuk sebagian lagi akan menilai Allura negatif.