Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 112


__ADS_3

Hari menjelang sore. Nyonya Fika meminta beberapa pelayan untuk membantu Allura pindah ke kamar atas, lebih tepatnya ke kamar Arzan. Mereka juga menyiapkan kamar lain untuk ditempati oleh Bintang. Bahkan, Arzan sengaja membobol dinding kamarnya agar bisa terhubung dengan kamar yang akan diisi oleh sang anak.


"Mas, apa tidak sayang jika dinding kamarnya di pasangi pintu seperti ini?" tanya Allura sembari melihat beberapa pekerja yang sedang memasang pintu penghubung antara kamarnya dengan kamar Bintang.


"Kenapa memangnya, Ra? Bukankah itu bagus. Jadi, Bintang bisa latihan tidur sendiri," jawab Arzan tanpa bangun dari tempat tidurnya yang sedang bermain bersama Bintang.


"Tapi ... rasanya aku tidak tega membiarkan dia tidur sendirian. Lebih baik kita membiarkan dia tidur di dalam box saja," saran Allura yang langsung ditanggapi gelengan kepala oleh Arzan.


"Tidak, Ra. Aku tidak setuju."


Allura merosotkan bahunya setelah mendengar jawaban dari sang suami. Tentu saja ia mengerti kenapa Arzan berbuat sejauh ini, tapi menurutnya Bintang masih terlalu kecil jika harus tidur sendirian.


"Sayang, aku ingin melatih Bintang agar terbiasa mandiri sadari dini. Lagi pula kamar kita bersebelahan, pintunya pun bisa dibuka jika malam hari. Lalu, apa yang kamu khawatirkan?" tanya Arzan pada sang istri yang terlihat kecewa atas jawabannya tadi.


Allura terdiam dan merenungkan ucapan Arzan. Tidak ada salahnya juga sih. Toh Bintang tidak benar-benar sendirian di waktu malam. Allura membenarkan ucapan Arzan dalam hatinya, tetapi ia tidak mengucapkannya secara lisan.


"Bagaimana menurutmu, apa kita kosongkan saja kamarnya. Dan ... biarkan Bintang tidur bersama kita, bahkan mungkin sampai nanti dia besar karena sudah terbiasa tidur bersama orang tua," sambung Arzan lagi ketika melihat Allura yang tak kunjung menjawab ucapannya.


"Baiklah, baiklah. Terserah kamu saja, Mas. Toh itu juga demi kebaikan Bintang," jawab Allura seraya bangkit dari duduknya. Ia bermaksud untuk mengambil barangnya yang tertinggal di kamar bawah. Namun, Arzan mengira jika wanita itu marah karena merasa tidak puas terhadap jawabannya.


Kenapa Rara tiba-tiba pergi? Apa dia marah padaku? Tapi ... aku hanya melakukan apa yang sewajarnya aku lakukan saja, batin Arzan sambil menatap kepergian istrinya dari kamar.


"Sudahlah. Nanti aku akan meminta maaf padanya." Arzan bangkit dari tempat tidurnya sambil menggendong Bintang, ia berjalan menuju walk-in closet untuk mengambil sesuatu. Setelahnya, Arzan pun keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah untuk ikut bergabung bersama kedua orangtuanya.

__ADS_1


Sesampai di lantai bawah, Arzan hanya melihat Nyonya Fika dan Tuan Anderson, tak ada Allura di sana. Arzan pun ikut bergabung dengan kedua orang tuanya tanpa mencari Allura.


"Lho, Zan. Allura mana?" tanya Tuan Anderson yang menyadari kehadiran sang anak lebih dulu.


"Tadi Rara turun, Pa. Tapi, aku tidak tahu kemana dia sekarang," jawab Arzan seraya mendudukan tubuhnya di sofa sebrang papa dan mamanya.


"Oh, mungkin dia sedang di kamar lamanya," tanggap Nyonya Fika tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar televisi.


Arzan dan Tuan Anderson pun mengangguk anggukkan kepala saat mendengar tanggapan mamanya. "Mungkin."


"Ngomong-ngomong, Zan. Apa kamu sudah mempersiapkan bulan madu kalian?" tanya Nyonya Fika seraya menatap serius putra tunggalnya.


"Entahlah, Ma. Tadi aku membicarakannya dengan Rara, tapi dia menolaknya. Bahkan saat aku menyarankan Bintang untuk tidur terpisah pun sepertinya dia tidak suka."


Tuan Anderson menatap putranya dengan alis terangkat, ia sedikit merasa heran dengan pernyataan Arzan. Sangat jarang di zaman sekarang wanita menolak untuk pergi honey moon. Apalagi mereka pasangan baru menikah, biasanya sangat senang jika memiliki waktu luang bersama.


"Apa maksud Papa bertanya seperti itu?" tanya Nyonya Fika sambil menatap tajam suaminya.


"Papa tidak bermaksud apa-apa, Ma. Hanya saja ... di zaman sekarang sangat jarang sekali wanita yang menolak untuk melakukan honey moon atau tidur terpisah dengan anaknya. Apalagi Bintang yang hanya anak sambung. Tapi, berbeda dengan Allura yang memilih untuk tetap tidur bersama Bintang. Jadi, Papa sedikit ragu jika Allura mencintaimu," terang Tuan Anderson.


"Pa, jangan berburuk sangka lagi. Allura melakukan semua itu karena ia begitu mencintai Bintang. Apa Papa tidak ingat, dulu juga Papa yang memaksa Mama untuk tidur terpisah dengan Arzan waktu dia masih bayi. Jadi, Allura benar-benar mengkhawatirkan Bintang," tanggap Nyonya Fika setelah mendengar penjelasan dari sang suami.


Tuan Anderson kembali terdiam dan sedikit menimang ucapan istrinya, apa yang dikatakan oleh Nyonya Fika ada benarnya juga.

__ADS_1


"Maafkan Papa karena sudah berprasangka buruk pada menantu kita. Mudah-mudahan saja Allura tidak sakit hati saat mendengar pernyataan Papa tadi," ucap Tuan Anderson setelah ia sadar akan kesalahannya.


"Sudahlah, Pa, Ma. Aku tahu, pernikahan ini begitu mendadak untuknya. Jadi, wajar saja dia masih menjaga jarak denganku. Aku yakin, setelah kita pindah rumah nanti sikap Allura tidak akan malu-malu lagi seperti ini." Arzan menengahi ucapan kedua orang tuanya dengan keyakinan dia.


Mendengar kata 'pindah rumah', membuat Nyonya Fika terdiam. Ia tidak rela jika anak, menantu, serta cucunya harus keluar dari rumah itu. Sungguh, keinginan lainnya adalah semua anggota keluarga anaknya tinggal bersama di sana. Ia tidak mau jika rumah itu kembali sepi seperti sebelumnya, saat Arzan memilih untuk berpisah rumah ketika menikah dengan Rivera.


"Zan, tidak bisa kah jika kalian tetap tinggal di sini? Mama tidak mau berpisah dengan Bintang maupun Allura. Jadi, jangan pindah, ya .... Lagi pula rumah ini cukup luas untuk kita tempati bersama-sama," bujuk Nyonya Fika pada sang anak.


Arzan langsung menggeleng keras, keinginannya untuk berpindah rumah sudah sangat bulat dan ia tidak mau membatalkannya hanya karena keinginan sang mama.


"Ma, jika kami terus menumpang di sini, kapan aku dan Allura bisa hidup mandiri? Bukankah akan lebih baik suatu rumah hanya ditempati oleh satu raja dan satu ratu?" tanya Arzan lagi yang langsung membuat sang mama terdiam seribu bahasa.


"Putra kita benar, Ma. Lagi pula, kita masih bisa mengunjunginya kapanpun Mama mau." Tuan Anderson mengusap bahu istrinya yang tampak murung setelah mendengar perkataan sang anak.


Nyonya Fika pun hanya bisa menghela napas panjang setelah mendengar ucapan suaminya. Selain ia ingin Allura menjadi menantunya, ia ingin tetap bersama wanita muda itu untuk menemani hari-harinya yang selalu terasa membosankan. Semenjak kehadiran Allura di rumah itu, ia sudah tak pernah lagi merasa kesepian. Bahkan, Allura juga selalu menjadi tempatnya untuk bercerita. Jadi, ia sedikit sedih ketika sang anak berencana akan membawanya pergi dari rumah.


"Ya sudahlah. Tapi, kalian harus sering-sering main ke sini. Jangan sampai Mama kesepian karena merasa terabaikan oleh kalian," ucap Nyonya Fika akhirnya.


Arzan mengangguk dan menyetujui ucapan sang mama. "Tentu saja, Ma. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Rekomendasi Novel Kakak-kakak 🤗🤗🤗

__ADS_1


Jangan lupa mampir, ya 😁



__ADS_2