Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 65


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu. Ibu Ani sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya. Namun, meskipun seperti itu, ia harus tetap menjalani pemeriksaan lanjutan untuk terus memantau kesehatannya.


Allura tetap meminta Bibi Erni agar mau menetap di sana untuk beberapa saat lagi, sampai mamanya benar-benar sembuh total. Beruntung, bibinya bersedia untuk menuruti keinginan Allura.


"Ra, kamu setiap hari ke rumah sakit seperti ini, apa majikan kamu tidak marah?" tanya Bibi Erni karena ia merasa heran pada Allura yang bisa dengan mudahnya setiap waktu mengunjungi rumah sakit.


"Mmmh, Alhamdulillah, Bi. Majikanku mengerti dan mereka mengijinkanku untuk terus menjenguk Mama sampai benar-benar sembuh," jawab Allura apa adanya.


Ya, yang dikatakan Allura memang benar. Nyonya Fika dan Tuan Anderson memberikan kebebasan untuk Allura menjenguk mamanya. Meskipun begitu, Allura juga tidak melupakan kewajibannya untuk mengurus Bintang.


Justru, Tuan Anderson dan Nyonya Fika sangat mendukung apa yang saat ini Allura lakukan. Bahkan, mereka juga tidak pernah telat untuk mewanti-wanti Allura agar bisa menjaga kesehatannya.


"Syukurlah, tadinya Bibi sangat khawatir jika mereka akan marah padamu dan membuat kamu dipecat dari pekerjaan saat ini," ujar Bibi Erni dengan napas yang lega.


"Alhamdulillah, tidak, Bi."


Setelah selesai yang membereskan barang-barang, Allura pun menuntun Ibu Ani untuk berjalan keluar ruangan. Ibu Ani memang sudah bisa berjalan sendiri, tapi Allura terlalu khawatir dan memilih untuk membantunya.


Namun, belum sempat mereka mencapai pintu, tiba-tiba ada seseorang yang membukanya.


"Rara, kenapa kamu tidak memberitahukan jika hari ini Mamamu akan pulang? Andai saja Mamaku tidak mengatakannya, maka aku tidak akan mengetahuinya," tegur Arzan sambil menghampiri Ibu Ani dan Bibi Erni.


Allura menautkan alisnya saat mendengar teguran Arzan padanya. Dia memang sengaja tak memberi tahukan pada Arzan karena tidak mau merepotkan pria itu. Namun, siapa sangka, ternyata Arzan mengetahuinya dari Nyonya Fika.


"Maaf, Tuan. Saya tidak memberitahukan hal ini karena saya tidak ingin merepotkan Anda. Lagi pula, bukankah Anda juga harus bekerja. Tapi, kenapa malah datang kemari?" tanya Allura saat pria itu sudah berdiri tegak didepannya.


"Kamu tenang saja, aku selalu mengusahakan meluangkan waktu untuk semua keperluanmu," jawab Arzan sambil mengusap kepala Allura. Padahal, aslinya dia menyuruh Edwin untuk menggantikan rapat yang harus ia hadiri siang ini.


Arzan sama sekali tidak merasa canggung saat mengusap kepala Allura di depan Ibu Ani dan Bibi Erni. Berbeda halnya dengan gadis itu yang sudah menunduk dalam saking malu pada mama dan bibinya.


Ibu Ani dan Bibi Erni tak ikut bersuara, mereka berdua terus memperhatikan gerak-gerik Allura dan Arzan sambil tersenyum kecil. Ada setitik rasa khawatir dalam Ibu Ani tentang Arzan dan Allura, ia sangat takut jika Arzan sampai mempunyai hati pada anaknya. Apalagi setelah kisahnya dulu bersama sang suami, ia tidak mau anaknya sampai menderita gara-gara perasaan yang mereka punya.


"Ehem." Ibu Ani berdehem untuk menyadarkan Arzan yang masih terus menatap anaknya. Beliau bisa menebak jika Arzan memang sudah mempunyai hati pada anaknya dan hal itulah yang ia takutkan.

__ADS_1


Ibu Ani sadar, perasaan memang tidak akan pernah bisa dipaksakan dan kita tidak tahu kepada siapa hati berlabuh. Namun, untuk kali ini ia berharap Allura tak mengikuti kata hatinya. Sungguh, tak ada seorangpun ibu di dunia ini yang menginginkan nasib buruk untuk anaknya.


Arzan seakan tersadar dari lamunannya, pria itu langsung mengalihkan perhatian dari Allura sambil mengusap pelan wajahnya.


Ya Tuhan, setiap kali aku sedang bersama Allura, aku selalu lupa diri, batinnya.


"Ma–maaf, Bu. Bisakah kita melanjutkan perjalanan?" tanya Arzan akhirnya pada ibu Ani.


Kedua wanita paruh baya itu pun mengangguk dan menyetujui pertanyaan Arzan. Setelah memastikan tak ada lagi barang yang tertinggal, mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya dengan perlahan-lahan. Arzan berinisiatif untuk mengambil kursi roda yang tersedia di pojok ruangan untuk dipakaikan pada Ibu Ani.


"Bu, sebaiknya ibu pakai kursi roda saja. Supaya tubuh Ibu tidak terlalu lelah," saran Arzan sambil menyiapkan kursi roda itu di depan Ibu Ani.


Ibu Ani terlihat ragu untuk menaikinya. Namun, setelah melihat anggukan dari Allura, barulah ia mendudukan tubuhnya di kursi roda itu. Allura tersenyum dan mulai mendorong kursi roda Ibu Ani diikuti Bibi Erni yang berjalan disampingnya dan Arzan yang ada di sebelah kanannya sambil membawakan barang-barang milik Ibu Ani.


Saat keempat itu melewati salah satu lorong, mereka tak sengaja berpapasan dengan pria paruh baya yang beberapa saat lalu menambrak Allura.


Arzan menghentikan langkahnya dan menyapa Tuan Darion. Tak ada memperhatikan mimik wajah Ibu Ani yang langsung menegang ketika melihat pria paruh baya itu. Bagaimana tidak, meskipun sudah puluhan tahun ia tidak melihat pria itu, tapi ia masih terus mengingat bagaimana pria itu berkata kasar padanya.


Tuan Darion sempat melirik wanita yang sedang duduk di kursi roda, tapi ia tidak bisa mengenalinya karena wanita itu menutup sebagian wajahnya dan tertunduk dalam. Allura sendiri memilih untuk diam saja sambil memperhatikan Arzan dan pria paruh baya itu yang masih bersaparia.


"Bagaimana keadaan Tuan Okta saat ini?" tanya Arzan setelah ia selesai menjabat tangan Tuan Darion.


"Yah, masih sama seperti beberapa bulan yang lalu. Apalagi setelah mendengar kabar jika adikku meninggal, beliau sangat terpukul dan semakin menyiksa dirinya," jawab Tuan Darion.


Allura bisa melihat raut kesedihan yang terpancar dari wajah Tuan Darion. Namun, untuk saat ini ia masih belum mengerti arah pembicaraan mereka.


"Baiklah, saya pamit pulang dulu, Tuan. Semoga Tuan Okta segera pulih dan Anda bisa menemukan keluarga mendiang adik Anda," kata Arzan sebelum ia benar-benar pamit meninggalkan Tuan Darion dari sana.


"Terima kasih atas doanya, Arzan."


Arzan hanya mengangguk sesaat untuk menanggapi perkataan Tuan Darion. Begitupun dengan Allura, ia juga mengangguk samar sebelum kembali melanjutkan perjalanannya.


Kenapa rasanya aku sangat familiar dengan wajah dari gadis itu? Atau ... mungkinkah .... batin Tuan Darion sambil menatap punggung keempat orang yang mulai memasuki lift lantai itu.

__ADS_1


"Tidak mungkin. Aku yakin, itu bukan anak dari Adnan dan Ani. Mereka tidak akan bisa membayar rumah sakit dan mengambil lantai VIP seperti ini," gumam Tuan Darion yang mengingat sedikit bagaimana dulu adiknya pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang, hanya baju yang dipakainya saja. Jadi, ia beranggapan bahwa sampai saat ini keadaan ekonomi adik iparnya masih sama seperti dulu. Apalagi setelah kepergian suaminya, ia semakin yakin akan hal itu.


***


Arzan dan mengantarkan Ibu Ani dan Bibi Erni ke rumah kontrakan tempat mereka tinggal dulu. Meskipun rumah itu sudah beberapa minggu tidak dihuni, tapi suasananya masih bersih dan terawat. Viana selalu datang kesana untuk membantu Allura membereskan rumah itu.


Sesampai di sana, ternyata sahabat Allura itu sudah menunggu kedatangannya bersama beberapa warga dan menyambut Ibu Ani yang baru pulang dari rumah sakit.


"Allura, aku sangat merindukanmu!" seru Viana sambil menghampiri Allura dan menubruknya.


"Aku juga merindukanmu, Na. Terima kasih karena kamu sudah menyambut kedatanganku dan Mama," ucap Allura disela-sela pelukan mereka.


"Sama-sama, Ra. Aku senang bisa membantumu," jawab Viana.


Allura ngajak Ibu Ani serta Bibi Erni dan Arzan untuk masuk ke dalam rumah kontrakan sederhananya, diikuti oleh Viana yang berjalan di belakang mereka.


Para tetangga begitu antusias menyambut kedatangan Ibu Ani dan Allura yang sudah kembali dari rumah sakit. Mereka juga mengucapkan selamat serta bersyukur karena Ibu Ani sudah pulih meskipun belum sembuh total.


.


.


.


.


.


.


Hari ini aku up 3× ya 🤭🤭 semoga aja gx ada yang bosan nunggu 🤭🤭. Tapi, sambil tunggu ini up, mampir juga ke karya temanku, Author Fanita Ey. Dijamin ceritanya nggak kalah seru 👍👍


__ADS_1


__ADS_2