Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 52


__ADS_3

Tuan Anderson kembali pulang lagi ke rumahnya setelah beberapa saat ia sampai di perusahaan, ada salah satu berkasnya yang tertinggal di kamarnya dan berniat untuk mengambilnya sendiri tanpa menyuruh asistennya. Namun, sesampainya di lantai atas, telinganya tak sengaja mendengar keributan di kamar calon menantunya, Nira.


Tuan Anderson pun dengan segera menghampiri kamar Nira, semakin ia mendekat, semakin terdengar pula keributan itu. Pria paruh baya itu melihat sang istri tengah memasukkan baju-baju Nira dengan asal ke dalam tas lusuh milik gadis itu.


"Berhenti, Ma. Apa yang sedang Mama lakukan?" tanya Tuan Anderson yang masuk begitu saja ke kamar Nira.


"Kenapa aku harus berhenti, Pa? Dia harus pergi dari rumah ini sekarang juga!" ucap Nyonya Fika tanpa menghentikan kegiatannya yang sedang memasukkan barang-barang Nira.


"Ma, jangan seperti ini. Katakan dulu, sebenarnya ada apa? Jangan mengusir orang sembarangan, apalagi Nira itu adalah calon menantu kita." Tuan Anderson masih terus menenangkan Nyonya Fika, agar sang istri kembali tenang dan mau berbicara secara baik-baik dengannya.


"Pa, dia–" Nyonya Fika menunjuk Nira yang sedang berdiri di dekat jendela. "Dia itu penipu. Dia bukan anaknya Adnan. Dia masih mempunyai orang tua lengkap di kampung. Papa jangan tertipu oleh ucapannya, dia pembohong, dia harus pergi dari sini," teriak Nyonya Fika dengan tertahan.


Nira semakin menundukkan kepalanya, ia takut jika Tuan Anderson pun akan mengusirnya pergi keluar dari rumah itu. Sedangkan saat ini di kampungnya, sang ibu sudah mengumbar berita, dia akan menjadi seorang menantu dari orang kaya di kota. Jika rencananya gagal, maka bukan hanya dia saja yang malu, tapi juga kedua orang tuanya pun ikut malu, akan banyak tetangga mereka yang mencibirnya di kampung.


"Ma, cukup! Papa sudah mencari tahu semuanya tentang Mira dan keluarganya. Nira itu adalah anaknya Adnan, anak buah Papa yang menemukannya. Tidak mungkin Jika mereka memberikan informasi palsu padaku. Jika Mama masih tidak percaya, baca dan lihat ini." Tuan Anderson memberikan ponselnya yang berisi email tentang semua data-data milik Nira yang pernah diterimanya dari anak buah dia.

__ADS_1


Nyonya Fika menolak untuk melihat data-data Nira, sudah jelas jika anak buah suaminya itu ada kekeliruan dalam memberikan data-data tentang orang yang dicarinya. Namun, saat ditelusuri oleh Arzan, semua data tentang Nira itu salah. Bahkan, anak buah Arzan memberikan foto tentang informasi lengkap data keluarganya Nira.


"Pa, anak buah Papa itu keliru. Dia memberikan data-data yang salah padamu," tanggap Nyonya Fika.


Tuan Anderson menampiknya dengan menggelengkan kepala, dia sudah sangat yakin jika Nira–lah yang menjadi putri dari Adnan.


"Ma, jika Mama memang tidak menyetujui Nira dengan Arzan, Mama tidak perlu sampai seperti ini pada Nira, kasihan dia ... Adnan juga juga pasti akan sedih jika tahu putrinya menderita seperti ini," ucap Tuan Anderson lagi. Pria paruh baya itu terus menerus membela Nira dan tetap dengan pendiriannya yang yakin, jika Nira adalah anak dari Adnan.


Nyonya Fika tidak bisa lagi berbicara apa-apa, dia sudah sangat lelah dengan sifat keras kepala suaminya. Terkadang, ia ingin menyerah karena tidak sanggup lagi menghadapi sifat keras Tuan Anderson. Namun, ia juga tidak sampai hati jika melakukan hal itu.


"Ma ... bukan seperti itu maksudku, Ma–" Tuan Anderson berusaha untuk mencegah istrinya pergi dari sana. Namun, tangannya seketika diempaskan oleh Nyonya Fika, saat Tuan Anderson berhasil menggenggam tangannya.


"Akh, si*l," umpatnya saat ia tidak dipedulikan oleh sang istri yang melewatinya begitu saja.


"Papa, maafkan aku. Sepertinya ... Mama memang tidak menyukaiku. Apa ... apa aku turuti saja keinginannya untuk pergi dari sini, agar kalian tidak terus-menerus ribut," ucap Nira sambil menundukkan kepalanya. Namun, dalam hatinya, dia sangat menolak jika harus pergi dari rumah besar dan mewah itu. Akan tetapi, untuk saat ini dia harus benar-benar bisa menunjukkan jika dirinya memang menyedihkan dan membuat Tuan Anderson semakin tidak tega mengusirnya.

__ADS_1


"Kamu jangan seperti itu, Nira. Mungkin saat ini Mama masih meragukanmu, tapi kamu tenang saja, Papa tidak akan pernah membiarkan Mama mengusir kamu lagi," jawab Tuan Anderson sambil mengelus puncak kepala Nira untuk menenangkan gadis itu


Diam-diam Nira menyeringai saat mendengar jawaban dari Tuan Anderson, ia merasa sangat senang karena sudah berhasil mempengaruhi pria paruh baya itu.


"Tapi, Pa ... bagaimana dengan Mama? Sepertinya beliau sangat tidak menyukaiku, Mas Arzan juga bersikap kasar dan dingin padaku. Sangat jauh berbeda jika dia sedang bersama Allura," adu Nira. Dia berharap Tuan Anderson mau menegur Allura secara langsung dan membuat gadis itu tahu diri, jika dia hanya pengasuh anak majikannya.


"Sudahlah, kamu tidak perlu menghawatirkan itu lagi, Nira. Fokuslah pada tujuan awalmu untuk menjadi calon istrinya Arzan," jawab Tuan Anderson sebelum dia keluar dari kamar Nira.


Sepeninggalan Tuan Anderson, Nira segera menutup pintu kamar serta menguncinya. Gadis itu pun meloncat-loncat kegirangan karena saking senangnya, dia sudah berhasil membujuk kepala rumah tangga itu untuk berada di pihaknya.


"Akhirnya ... tidak sia-sia usahaku selama ini," ucapnya sambil terkekeh pelan.


"Tinggal giliran Mas Arzan yang harus aku rebut hatinya. Tapi, bagaimana caranya? Sepertinya cukup sulit," gumam Nira sambil bermonolog. Hingga beberapa saat kemudian, ia terdiam sejenak karena sudah menemukan ide yang cukup gila untuk ia lakukan pada Arzan.


"Bagus, akan kulakukan itu. Semoga berhasil. Allura menjauh dan Mas Arzan akan menjadi milikku seutuhnya," ucap Nira sambil menyeringai licik.

__ADS_1


__ADS_2